Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Selasa, 25 September 2018

7 Sejarah negara pernah lakukan uji coba nuklir

bom nuklir

Senjata nuklir pada dasarnya merupakan masalah klasik dalam hubungan internasional. Sejak dimunculkan pertama kali oleh Amerika Serikat dalam Perang Dunia II dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki bulan Agustus 1945, senjata nuklir menjadi momok yang menakutkan bagi komunitas internasional. Setiap pembahasan mengenai kepemilikan pengayaan dan uji coba senjata nuklir selalu mengundang kontroversi di tingkat internasional karena merupakan ancaman terhadap perdamaian internasional. Masa depan komunitas internasional akan sangat dipengaruhi oleh interaksi antara negara pemilik senjata nuklir negara non pemilik senjata nuklir dan upaya internasional untuk melarang uji coba senjata nuklir.

Negara-negara pemilik senjata nuklir dan pernah melakukan uji coba

1. Amerika Serikat
Senjata nuklir yang dimiliki negara maju diawali oleh Amerika Serikat sejak diluncurkan pertama kali tahun 1945 Hingga tahun 1997 Amerika Serikat telah melakukan 22 kali uji coba nuklir di Nevada Test Side hingga yang terbaru tanggal 23 Februari 2006. Uji coba nuklir ini ditujukan untuk mempelajari perilaku plutonium ketika berada di bawah tekanan yang dibentuk melalui letusan. Amerika Serikat menyatakan bahwa uji coba nuklir ini tidak melanggar Traktat Pelarangan Uji Coba Komprehensif (Comprehensive Test Ban Treaty CTBT) karena uji coba ini tidak memproduksi reaksi berantai.

 Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama 1945
  • Uji coba terbaru 1992
  • Total uji coba: 1030 (815 di bawah tanah)
Keterangan:
  • Amerika Serikat telah melakukan uji coba senjata nuklir lebih banyak dari negara mana pun di dunia dan merupakan satu satunya negara yang menggunakan senjata nuklir saat perang.
  • Pemerintah AS telah menandatangani Traktat Pelarangan Uji Coba Komprehensif (Comprehensive Test Ban Treaty) tetapi belum meratifikasinya Artinya belum membahasnya dalam Pademen AS untuk sebuah persetujuan resmi dan final.
2. Inggris
Inggris selama ini melakukan uji coba nuklir di Nevada Test Side dan belum memiliki wilayah sendiri untuk melakukan uji coba nuklir. Uji coba nuklir yang pertama tahun 1952 dan terakhir tahun 1991. Inggris dan Prancis menjadi negara pertama dari lima negara utama yang memiliki senjata nuklir dan meratifikasi CTBT. Kedua negara ini juga menyumbangkan instrumen untuk meratifikasi CTBT kepada PBB tanggal 6 April 1998. Namun demikian Inggris dan Amerika Serikat masih melakukan uji coba nuklir parsial di Nevada Test Side tanggal 14 Februari 2002 dan 23 Februati 2006.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1952
  • Uji coba terakhir: 1991
  • Jumlah uji coba: 45 (24 di bawah tanah).
Keterangan:
  • Inggris melakukan uji coba senjata nuklir yang pertama di Kepulauan Monte Bello Australia Uji coba di udara terbuka dilakukan di kepulauan tersebut hingga tahun 1956 Inggris telah meratifikasi Traktat Pelarangan Uji Coba Kom rehensif.
3. Perancis
Prancis melalui Presiden Jacques Chirac mengumumkan bahwa negara ini melakukan delapan uji coba nuklir di Mururua Atoll di Pasifik Selatan yang dimulai tanggal 13 Juni 1995 hingga akhir Mei 1996. Kalangan militer Prancis menginginkan uji coba nuklir ini untuk menguji hulu ledak nuklir memvalidasi hulu ledak nuklir baru, dan membangun sistem komputer untuk mengalihkan uji coba nuklir menjadi lebih aman untuk lingkungan. Sayangnya banyak negara lain rengkritisi kebijakan kalangan militer Prancis ini Tanggal 10 Agustus 1995, Prancis menyatakan bahwa negara ini akan menghentikan semua uji coba nuklir setelah serangkaian uji coba nuklir telah selesai dilakukan dan meratifikasi CTBT yang melarang semua jenis uji coba senjata nuklir dengan menggunakan ledakan atau bentuk ledakan nuklir yang lain. Perancis telah melakukan uji coba nuklir sejak 5 September 1995 hingga 27 Januari 1996. Presiden Jacques Chirac mengumumkan penghentian uji coba nuklir Prancis tanggal 29 Januari 1996. Bahkan Prancis dan Inggris memberi kontribusi instrumen untuk meratifikasi CTBT kepada PBB.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1960
  • Uji coba terakhir: 1996
  • Total uji coba: 210 (160 di bawah tanah).
Keterangan:
  • Prancis melakukan 6 kali uji coba di Pasifik Selatan antara tahun 1995 1996 Setelah menghadapi kecaman keras dad komunitas internasional bulan Januari 1996 Prancis mengumumkan akan menghentikan uji coba nuklir.
4. Rusia
Di sisi lain media massa Rusia melaporkan bahwa negara ini telah melakukan uji coba senjata nuklir volume rendah di Novaya Zemla, Artic antara tahun 1996 hingga 1999 Catatan lain melaporkan bahwa Amerika Serikat telah meninjau ulang data data uji coba nuklir Rusia termasuk data gempa bumi yang terjadi di negara tersebut. Beberapa laporan tahun 1998 hingga 2000 menyatakan bahwa Rusia telah melakukan uji coba nuklir yang tidak tercantum dalam CTBT. Rusia sendiri meratifikasi CTBT tanggal 30 Juni 2000. Bahkan pada bulan September 2005, Rusia secara intensif dan berkelanjutan mengamati moratorium uji coba nuklir hingga CTBT. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk tekanan terhadap pihak pihak yang tidak mentaati uji coba nuklir dengan tujuan aman dan damai. Negara ini juga berharap bahwa negara negara lain segera meratifikasi CTBT sehingga bisa dijadikan sebagai instrumen penekan.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1949
  • Uji coba terakhir: 1990
  • Jumlah uji coba: 715 (496 di bawah tanah)
Keterangan:
  • Rusia adalah negara kedua di dunia yang melakukan uji coba nuklir terbanyak. Pada tahun 1961, Rusia melakukan uji coba senjata nuklir yang terbesar di tanah dunia, dengan daya ledakan mencapai 50 megaton, setara dengan 50 juta ton TNT, di Pulau Novaya Zemlya Arktik.
5. China
Sementara itu Cina tidak berpartisipasi dalam moratorium menuju CTBT. Cina telah melakukan uji coba nuklir tanggal 5 Desember 1993 walaupun dikecam oleh komunitas internasional. Pemerintah Cina menyatakan bahwa uji coba nuklir yang dilakukannya sebanyak 39 kali sebagaimana dilaporkan terhadap Sekretaris Jenderal PBB Boutros-Boutros Ghali. Cina menyatakan bahwa ketika CTBT telah diratifikasi oleh segenap anggota komunitas internasional dan menjadi kekuatan penekan yang efektif terhadap pelanggaran uji coba nuklir, maka Cina akan meratifikasi CTBT dan menghentikan uji coba nuklir yang selama ini dilakukannya.

Cina masih melakukan uji coba nuklir dari tanggal 10 Juni hingga 7 Oktober 1994, 15 Mei hingga 17 Agustus 1995, dan 8 Juni hingga 29 Juli 1996. Cina pernah menyatakan bahwa uji coba nuklir bulan Juli 1996 merupakan uji coba yang terakhir yang akan mengawali moratorium tanggal 30 Juli 1996. Pemerintah Cina mengusulkan kesepakatan CTBT kepada National People's Congress untuk diratifikasi tanggal 29 Februari 2000. Dalam buku putih kebijakan Pemerintah Cina yang dikeluarkan bulan Desember 2004, Cina menyatakan komitmennya terhadap ratifikasi CTBT hingga moratorium. Sayangnya hingga bulan April 2006, Cina tidak kunjung meratifikasi CTBT ini.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1964
  • Uji coba terakhir:  1996
  • Total uji coba: 43 (22 di bawah tanah)
Keterangan:
  • Semua uji coba nuklir dilakukan di Lop Nur, Xinjiang, Cina Barat.
6. India
India melalui Perdana Menteri Atal Behari Vajpayee menyatakan bahwa negara ini telah melakukan tiga kali uji coba nuklir tanggal 11 Mei 1998. Hal ini diperkuat oleh Pemerintah India yang menyatakan bahwa uji coba nuklir yang dilakukan menggunakan komponen yang terpisah, volume rendah, dan peralatan termonuklir. Kesemua uji coba nuklir yang dilakukan menunjukkan bahwa India telah menunjukkan kemampuannya sebagai negara pemilik senjata nuklir India juga mengumumkan melakukan uji coba nuklir tanggal 13 Mei 1998. Berdasarkan data seismik yang dilakukan oleh Kelompok Studi Pemerintah India, India dan Pakistan melaporkan lebih besar dari volume uji coba nuklir yang sebenarnya. Bahkan India tidak melakukan uji coba nuklir sejak bulan Mei 1998. Namun demikian, Sekretaris Luar Negeri Pemerintah India, Lalit Mansingh, menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak mengharapkan India untuk menandatangani CTBT yang bagi Amerika Serikat sendiri merupakan hal yang sulit dilakukan. Pernyataan dua negara India dan Pakistan tanggal 20 Juni 2004 menyatakan bahwa kedua negara melakukan konfirmasi ulang atas moratorium yang dalam pembahasan mengenai uji coba nuklir menggunakan ledakan untuk menghentikan pengaruh pengaruh dari luar mengenai uji coba tersebut. Menteri Luar Negeri India, Shri Rao Inderjit Singh, menyatakan bahwa India tidak akan menunjukkan tanda-tanda akan meratifikasi CTBT tersebut pada tangga1 22 Desember 2005. Hingga bulan April 2006, India tidak kunjung meratifikasi CTBT ini.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1974
  • Uji coba terakhir: 1998
  • Total uji coba: 6
Keterangan:
  • Tahun 1966, India menyatakan akan menghasilkan senjata nuklir dalam 18 bulan Delapan tahun kemudian, India menguji coba sebuah alat sehingga berkekuatan 15 kilo ton dan menyebutkan sebagai sebuah "ledakan nuklir bertujuan damai". Tahun 1998, India mengagetkan dunia dengan melakukan uji coba di bawah tanah di Pokharan, Negara Bagian Rajasthan, dan menyatakan diri sebagai sebuah negara bagian nuklir.
7. Pakistan
Pakistan mengumumkan bahwa negara ini telah melakukan lima kali uji coba nuklir pada 28 Mei 1998 dan keenam kalinya pada tanggal 30 Mei 1998. Uji coba nuklir yang dilakukan menggunakan peralatan berbobot terendah mulai dari nol hingga beberapa kilo ton dan bobot tertinggi mulai dari dua hingga empat puluh lima kilo ton. Namun demikian, uji coba nuklir yang dilakukan Pakistan tidak dibarengi dengan pencatatan data seismik yang merekam getaran bumi akibat uji coba nuklir tersebut. Pakistan tidak melaporkan penggunakan peralatan gabungan untuk uji coba nuklir yang dilakukannya. Program persenjataan militer Pakistan dilengkapi dengan teknologi asing yang memiliki senjata dengan hulu ledak nuklir namun tidak dipergunakan dalam uji coba nuklir. Hulu ledak nuklir ini juga terdapat dalam Rudal Ghauri yang merupakan senjata nuklir bervolume rendah berdaya jangkau 900 mil.

Uji coba nuklir:
  • Uji coba pertama: 1998
  • Uji coba terakhir: 1998
  • Total uji coba: 6
Keterangan:
  • Tahun 1972, setelah perang ketiga dengan India, Pakistan memulai sebuah program nuklir rahasia untuk mengimbangi kemampuan India. Pakistan membalas uji coba nuklir India tahun 1998 dengan meledakkan enam alat di bawah tanah di wilayah Baluchistan, dekat perbatasan Afghanistan.
Sebagai respons atas uji coba nuklir yang dilakukan India dan Pakistan, Amerika Serikat memberlakukan sanksi ekonomi terhadap kedua negara ini. Pada bulan November 1999, Menteri Luar Negeri Pakistan Abdul Sattar menyatakan bahwa Pakistan tidak akan meratifikasi CTBT kecuali sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika Serikat telah dicabut. Abdul Satar pun menambahkan bahwa Pakistan tidak akan menjadi negara pertama yang menghentikan uji coba nuklir yang selama ini telah dilakukannya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Presiden Pakistan Persev Musharraf yang menyatakan bahwa saat tersebut Agustus 2000 bukan merupakan momentum untuk meratifikasi CTBT karena dengan menandatangani traktat tersebut akan menimbulkan ketidakstabilan di Pakistan.Hingga bulan April 2006 Pakistan tidak kunjung meratifikasi CTBT.


Referensi:
Medalia, Jonathan. 2006. "Nuclear Weapon: Comprehensive Test Ban Treaty". CRS Issue Brieffor Congress, Order Code I1392099, 21 Juni 2006.
Barston, R. P. 1988. Modern Diplomacy, Longman House. United Kingdom: Harlow.

Senin, 24 September 2018

Inilah jenis-jenis hantu di tanah sunda

Hantu di indonesia

Hantu didefinisikan dengan ‘roh jahat (yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu)’. Hantu juga dapat didefinisikan dengan ‘sesuatu yang menakutkan, menyeramkan, dan berbahaya’. Tiap jenis dari hantu-hantu yang ada memiliki bentuk dan karakteristik yang berbeda, sesuai dengan modus kemunculannya. Hantu atau sejenisnya merupakan makhluk yang keberadaannya diakui oleh sebagian besar masyarakat dunia.Banyak nama yang muncul berkaitan dengan makhluk tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak nama untuk berbagai jenis hantu. Nama-nama seperti kuntilanak, wewe gombel, pocong, genderuwo, tuyul, dan babingepet, merupakan nama-nama yang muncul untuk jenis hantu yang dipercaya keberadaannya oleh sebagian besar masyarakat.

Di tanah Sunda, khususnya daerah Majalengka, ditemukan beberapa leksikon untuk nama hantu, baik yang dipercaya berjenis kelamin perempuan maupun yang berjenis kelamin laki-laki. Jenis hantu tersebut terbagi dalam tiga pengklasifikasian, yaitu jelmaan jejaden, jurig, dan setan, dengan ciri dan bentuk yang berbeda.

1. Jelmaan Jajaden
Jenis hantu ini dipercaya sebagai jelmaan manusia yang berwujud makhluk lain. Ia menyembah atau mengabdikan dirinya pada jin atau makhluk halus lainnya untuk memperoleh kebahagiaan duniawi, seperti kekayaan, kecantikan, dan kesejahteraan hidup. Para penyembah jin tersebut rela melakukan apapun demi mencapai keinginannya. Persembahan tumbal, membunuh, bahkan meminum darah manusia menjadi syarat-syarat yang harus dijalani untuk memperoleh keinginannya tersebut. Jenis jelmaan jejaden ini dapat berupa monyet dan babi jadi-jadian, iprit,peri, dan kuntilanak.

a. Monyet dan babi jadi-jadian
Jenis hantu ini merupakan jenis hantu jelmaan manusia yang berwujud binatang. Ia bekerja sama dengan jin atau setan untuk memperoleh kekayaan. Konsep ini hampir sama dengan konsep makhluk jejadian yang ada di Jawa, yaitu babi ngepet. Perbedaan antara monyet jadi-jadian dan babi jadi-jadian terletak pada tingkat keganasannya. Babi jadi-jadian dipercaya lebih ganas dibandingkan dengan monyet jadi-jadian. Hampir setiap malam bulan purnama ia harus menyerahkan seorang anak usia 10 tahun sebagai tumbal.

b. Iprit
Hampir serupa dengan jenis jelmaan sebelumnya, iprit juga merupakan jelmaan manusia, khususnya wanita, yang berwujud binatang. Dipercaya bahwa ia menjelma menjadi seekor ular sebagai bentuk pengabdian pada jin. Ketahanan duduk dan suara yang bagus menjadi satu impian yang didambakannya. Pada umumnya, hal ini dilakukan oleh para sinden yang ingin tampil sebaik mungkin di setiap penampilan. Kemunculannya tidak terbatas pada satu waktu tertentu. Kapan pun ia ingin tampil dengan paras cantik dan suara bagus, serta dapat duduk dalam waktu yang lama, ia akan mencari seorang gadis yang masih perawan sebagai tumbal untuk dipersembahkan pada jin sesembahannya.

c. Peri
Hampir sama dengan iprit,peri juga merupakan bentuk jelmaan manusia yang berwujud ular. Perbedaannya adalah bahwa manusia yang menjelma menjadi peri tidak terbatas pada wanita, tetapi juga laki-laki. Selain itu, tujuan dari penjelamaan ini juga bukanlah untuk memperoleh suara merdu dan ketahan duduk, tetapi berupa keinginan duniawi seperti kekayaan yang melimpah, serupa dengan babi dan monyet jadi-jadian.

d. Setan Maung
Jelmaan jejaden yang selanjutnya adalah setan maung. Hantu jenis ini merupakan jelmaan seorang laki-laki berwujud seekor macan. Kemunculannya tidak terbatas pada satu waktu tertentu. Penjelmaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan kekuatan ilmu sihir yang dimilikinya dan kekebalan terhadap senjatan tajam. Pada umumnya, laki-laki tersebut akan mencuri tali pocong orang mati setelah sebelumnya berubah manjadi seekor macan.

e. Kuntilanak
Tidak jauh berbeda dengan monyet dan babi jadi-jadian, serta peri, kuntilanak juga merupakan hantu jelmaan manusia. Serupa juga dengan iprit, kuntilanak merupakan jelmaan seorang wanita. Perbedaannya adalah bahwa kuntilanak tidak menjelma menjadi binatang, tetapi menjadi sosok hantu wanita yang menyeramkan dan gemar meminum darah perawan atau perjaka sebagai tumbalnya. Menurut kepercayaan, ia akan berparas cantik, awet muda, dan ilmu sihir yang ia miliki akan bertambah dengan meminum darah perawan atau perjaka. Jika ia ingin menjadi kaya, ia juga harus menyerahkan seorang anak berusia 10 tahun. Biasanya, ia bersembunyi di sekitar makam, pohon-pohon yang berdaun rindang, dan tempat-tempat lembab, seperti sungai. Selain perawan dan perjaka, ia juga meminum darah bayi di bawah satu tahun pada waktu sarepna, yaitu mulai menjelang maghrib sampai hilangnya mega merah.

2. Jurig
Jurig berbeda dengan jelmaan jajaden. Jenis ini dipercaya berwujud hantu yang sangat menyeramkan dan kemunculannya tidak terbatas pada waktu tertentu. Hanya orang-orang yang dapat merasakan hal-hal magis atau ghaib, yang dapat melihatnya. Namun, menurut kepercayaan masyarakat, jika seseorang ingin melihat wujud hantu tersebut, ia harus membaca Qur’an Surat Yassin sebanyak 33 kali. Salah satu penampakan dari jenis jurig ini adalah sekelebat bayangan hitam dan tinggi besar.

3. Setan
Dibandingkan dengan hantu lain, bentuk-bentuk setan ini paling banyak ditemui. Sebagian besar dari jenis ini sering muncul untuk mendapatkan tumbal, baik berupa perawan, perjaka, maupun anak-anak berusia 10 tahun ke bawah, untuk dibunuh, dimakan, dijadikan mainan,atau dijadikan gundik. Nama-nama hantu yang termasuk dalam jenis ini adalah sandekala,kalong,sigururung, genderuwo, gerandong, dan aden-aden.

a. Sandekala
Jenis hantu ini dipercaya muncul pada waktu sarepna dan orang-orang yang keluar pada saat itu dapat dirasukinya. Mengenai wujudnya, masyarakat tidak dapat menjelaskan dengan pasti. Mereka hanya tahu bahwa sandekala dapat berwujud laki-laki atau wanita.Diciptakannya penamaan hantu tersebut dan kepercayaan masyarakat terhadapnya disebabkan oleh adanya larangan orang tua pada anak-anaknya untuk tidak keluar rumah di malam hari. Kepercayaan masyarakat mengenai kegemarannya menculik anak-anak,menjadikannya sebagai bentuk peringatan yang efektif untuk lebih dipatuhi.

b. Kalong
Kalong merupakan satu jenis hantu yang pada umumnya keluar pada waktu tengah poe atau tengah hari. Konsep kalong ini hampir sama dengan wewe gombel di tanah Jawa. Ia dipercaya gemar menculik anak usia 10 tahun yang keluar rumah pada waktu tersebut untuk dijadikan ‘mainan’ di dunianya. Itulah sebabnya anak-anak pada usia tersebut dilarang bermain di luar rumah pada tengah hari. 

c. Sigururung
Kemunculan jenis hantu ini tidak hanya pada waktu sarepna, tetapi juga pada waktu tengah poe yang terik. Menurut kepercayaan, sigururung merupakan anak dari kalong. Penampakannya berwujud anak kecil yang gemar menggoda bayi dan anak-anak yang berada di luar rumah untuk dijadikan teman bermain. Menurut kepercayaan masyarakat, jika ada anak yang tergoda olehnya, anak-anak tersebut akan menghilang dan dijadikan gundik oleh ibunya, yaitu wewe gombel. Oleh karena itu, orang tua hendaknya menjaga anak-anaknya agar terhindar dari godaan hantu tersebut, terutama pada siang hari dan ketika sarepna tiba.

d. Genderuwo
Jenis genderuwo ini sering menampakkan diri dalam wujud bayangan hitam dan tinggi besar. Dengan menggunakan kabut, ia akan menggulung tumbal yang ia dapatkan dan dibawa pergi. Meskipun hanya berupa bayangan, wujudnya sangat menyeramkan. Menurut kepercayaan masyarakat, genderuwo ini merupakan ayah dari sigururung. Ia sering muncul di pohon-pohon besar seperti pohon beringin dan pohon kiara yang pada umumnya tumbuh di atas sumber air.

e. Gerandong
Gerandong merupakan jenis hantu berwujud wanita penyembah ilmu pelet yang gemar minum darah perawan dan perjaka. Selain untuk memperoleh paras yang cantik, hal ini dilakukannya untuk memperoleh ilmu hitam yang luar biasa. Sebutan lain untuk hantu ini adalah drakula wanita. Serupa dengan sandekaladan sigururung,gerandong ini juga muncul pada waktu sarepna. Jika suatu ketika ia tidak memperoleh perawan atau perjaka sebagai tumbal yang ia hisap darahnya, ia akan berubah menjadi sosok wanita tua yang menyeramkan, dengan wajah keriput dan pucat menyerupai mayat, yang pada akhirnya mati.

f. Aden-aden
Jenis hantu aden-aden ini merupakan jenis setan berwujud wanita tua dan membawa ceting atau sejenis tempat nasi dari anyaman bambu. Ia sering muncul di waktu tengah poe dan hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu. Menurut kepercayaan masyarakat,hantu ini gemar menculik anak-anak berumur 10 tahun ke bawah untuk dijadikan budak atau gundik.

Dari beberapa paparan tersebut, tampak bahwa hampir semua tumbal yang dicari oleh hantu-hantu tersebut merupakan manusia-manusia yang dipandang masih terjaga kesuciannya.

Perawan dan perjaka dipandang sebagai manusia yang masih segar, suci, dan belum ‘ternoda’. Demikian pula dengan bayi dan anak-anak usia 10 tahun ke bawah, yang dipandang sebagai manusia yang masih bersih dari dosa. Kesucian manusia-manusia tersebut merupakan syarat mutlak dari tumbal yang diperoleh,yang sangat berkhasiat bagi para penyembah setan untuk mendapatkan impian dan permintaan mereka.

Minggu, 23 September 2018

Penemuan kerangka manusia purba di jawa tengah

Situs Semedo merupakan sebuah situs baru yang ditemukan pada tahun 2005. Situs Semedo mulai dikenal sejak adanya temuan penduduk berupa beberapa fragmen tulang binatang vertebrata yang telah mengalami fosilisasi. Temuan tersebut berupa tulang panjang, tanduk, dan gigi binatang. Temuan-temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Dinas Kebudayaan Tegal dan saat ini sebagian telah tersimpan di Museum Sekolah Slawi, Tegal.

Secara geologis, situs ini merupakan bagian dari Jajaran Pegunungan Serayu Utara yang terdorong ke atas oleh gerakan geosinklinal Pulau Jawa bagian utara. Wilayah Semedo kemungkinan besar merupakan batas Pulau Jawa bagian timur pada akhir Kala Pliosen ketika Jawa Tengah dan Jawa Barat masih berada di bawah muka laut pada sekitar 2-2,4 juta tahun yang lalu.

Situs Semedo menunjukkan posisi situs paleontologis yang cukup tua. Jajaran Kedung banteng Bumiayu-dan Ajibarang merupakan daerah tertua setelah Cisaat atau pun Cijulang (yang berdasarkan temuan Fauna Satir dan Cisaat, merupakan fauna yang sangat tua, mencapai setidaknya 1,5 juta tahun). Dengan potensi faunal Kala Plestosen yang demikian tersebut, sudah pasti bahwa Situs Semedo mewakili salah satu situs yang paling tua di Jawa Tengah.

Selain fauna yang cukup tua, Situs Semedo juga memiliki potensi temuan alat batu. Sejauh ini telah ditemukan 114 buah alat-alat batu, yang dibuat dari jenis batu rijang (chert) batu gamping kersikan, umumnya berwarna coklat kekuningan dan ada pula yang berbahan kalsedon. Alat-alat tersebut berupa alat-alat masif (misalnya kapak penetak) dan alat-alat non-masif (serpih dan serut). Adanya temuan alat-alat batu di diantara temuan fosil binatang vertebrata menunjukkan arti penting Situs Semedo sebagai sebuah tempat yang pernah dihuni oleh manusia purba.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Januari 2011 di sekitar Situs Semedo, tepatnya di Bukit Semedo, telah ditemukan rangka manusia. Temuan tersebut telah menimbulkan pertanyaan bagi masyarakat dan penentu kebijakan di lingkungan Kabupaten Tegal. Mengingat begitu tinggi potensi data ekofak maupun artefak yang ada di situs ini maka data tentang temuan ini sangat penting artinya bagi perkerangkaan dan penanganan situs.

Ada dua masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu apakah jenis manusia yang rangkanya ditemukan di Situs Semedo? dan Bagaimana hubungan temuan rangka manusia dengan temuan fosil fauna dan alat batu di situs ini?

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jenis manusia serta keterkaitan antara temuan rangka manusia dengan Situs Semedo sebagai salah satu tempat yang memiliki temuan fauna dan alat batu yang berasal dari kala Plestosen.

Manusia purba adalah jenis manusia yang hidup pada kala plestosen dan merupakan spesies dari homo erectus. Di Indonesia hingga kini telah ditemukan 76 individu homo erectus. Species ini hidup sejak 1,8 hingga 0,3 juta tahun yang lalu. Secara anatomis spesies homo erectus memiliki ciri bentuk tengkorak yang masif, terutama pada bagian sisi kanan dan kiri tengkorak. Tulang kening (torus supra orbitalis) sangat menonjol. Bentuk atap tengkorak pendek dan memanjang ke belakang, dan lebar maksimal tengkorak terletak pada bagian dasar tengkorak. Tulang tengkorak tebal terutama pada bagian atap tengkorak. Bagian frontal (dahi) miring ke belakang. Pada bagian occipital (bagian belakang tengkorak) membentuk sudut, kapasitas otak 700-1100 cc. Pada bagian alat kunyah sangat kuat terlihat dari besarnya rahang. Geraham ke-2 merupakan gigi yang paling besar. Dengan kondisi tengkorak seperti ini, tampak samping tengkorak terlihat prognatisem (tonggos). Tampak belakang, tengkorak terlihat membentuk kontur segilima. Pada bagian infra cranial (tulang bagian anggota badan) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan homo sapiens.

Homo erectus di Jawa hidup pada kala plestosen bawah hingga plestosen atas. Temuan fosil homo erectus kadang tidak disertai dengan temuan alat. Hal ini kemudian menjadi pertanyaan, apakah homo erectus belum mengenal pembuatan alat batu dan hanya menggunakan alat yang terbuat dari bambu dan kayu. Temuan yang ada di situs Sangiran menunjukkan bukti bahwa fosil homo erectus ditemukan pada layer yang sama dengan temuan alat batu dengan ciri teknologis paleolitik. Temuan alat serpih dan kapak perimbas-penetak di Sangiran telah menegaskan bahwa alat-alat ini telah dibuat oleh homo erectus sejak 0,8 hingga 0,32 juta tahun yang lalu.

Manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan membutuhkan sarana untuk menaklukkan lingkungannya. Salah satu bentuk adaptasi adalah dengan mengeksploitasi apa yang tersedia dalam lingkungan tersebut dan membuat alat untuk mempermudah proses adaptasinya. Adaptasi penguasaan lingkungan dengan menghasilkan alat dengan bahan batu, kayu dan tulang yang kemudian digunakan untuk berburu hewan dan mengumpulkan makanan. Kedua konsep ini mendasari adanya kemungkinan hubungan antara temuan rangka manusia yang ada di Situs Semedo dengan potensi temuan fosil dan alat batu.

Penelitian
Data arkeologi adalah informasi yang diperoleh peneliti dari hasil pengamatan dan analisisnya atas tinggalan arkeologi yang bersifat fisik. Tinggalan arkeologi dapat berujud artefak (benda alam yang diubah manusia sebagian atau seluruhnya), fitur (artefak yang tidak dapat diangkat dari konteksnya), dan ekofak (benda alam yang dimanfaatkan manusia masa lalu atau tulang manusia itu sendiri). Dalam penelitian ini untuk memperoleh data utama dilakukan dengan cara observasi atau pengamatan langsung ke lapangan. Dalam hal ini data lapangan yang akan dicari adalah data tentang temuan rangka manusia dan lingkungan tempat temuan rangka tersebut.

Observasi lapangan dilakukan penulis pada tanggal 7-8 April 2011 bersama Drs. Priyatno Hadi Sulistiyarto, M.Hum dan Ngadimin. Untuk mendapatkan data pendukung dilakukan dengan cara studi literatur dengan mengumpulkan artikel, tulisan dan laporan penelitian yang pernah dilakukan di Situs Semedo. Selain itu juga untuk mengetahui ciri-ciri manusia purba sebagai salah satu species yang diyakini pernah menghuni dan menghasilkan alat batu di situs ini. Dari hasil studi pustaka diperoleh dua data tentang Situs Semedo, yaitu data yang berkaitan dengan fauna dan lingkungan situs serta data tentang temuan alat batu di Situs Semedo.

Fauna dan Rekonstruksi Lingkungan Situs Semedo
Beberapa temuan fosil tulang vertebrata telah diteliti oleh Fitriawati. Dalam skripsinya ia melakukan identifikasi taksonomis dan latar belakang lingkungan tempat hidup fauna-fauna tersebut. Dari penelitiannya diperolah kesimpulan bahwa fosil binatang yang ditemukan di situs ini berasal dari jenis familia bovidae (kerbau, sapi, banteng), cervidae (kijang, rusa), cheloniidae (kura-kura), hippopotamidae (kuda nil), proboscidae (gajah purba), rhinocerotidae (badak), dan suidae (babi). Selain itu, juga ditemukan binatang dari kelas chondrichtyes (hiu) dan ordo crododilian (buaya). Jenis-jenis binatang tersebut telah dapat memberi gambaran lingkungan masa lalu di Situs Semedo yang secara garis besar terdiri atas tiga macam, yaitu lingkungan hutan terbuka atau sabana, lingkungan sungai, dan lingkungan perairan pantai.

Analisis terhadap kondisi fisik temuan tulang menunjukkan bahwa temuan fosil di Situs Semedo mengalami fosilisasi tidak jauh dari tempat binatang tersebut mati pendapat ini didasari oleh jenis temuan tulang yang beragam, dominasi temuan tulang panjang, dan kondisi tulang yang masih memiliki bentuk-bentuk menyudut. Ditemukannya fosil binatang laut seperti penyu dan ikan hiu mengindikasikan bahwa lingkungan Situs Semedo sebelumnya merupakan lingkungan laut. Kondisi Pulau Jawa seperti ini terjadi pada 2,4-2 juta tahun yang lalu. Temuan species mastodon memiliki kesamaan dengan kelompok fauna Satir yang berumur 2-1,5 juta tahun yang lalu. Temuan species stegodon diduga memiliki kesamaan dengan species stegodon trigonosepalus yang merupakan anggota dari kelompok fauna Cisaat yang berumur 1,2-1 juta tahun yang lalu. Temuan species elepas memiliki kesamaan dengan kelompok fauna Kedung Brubus yang berusia 0,8-0,7 juta tahun yang lalu. Dari beberapa data ini diketahui rentang waktu usia fauna Situs Semedo, yaitu antara 2,-0,7 juta tahun yang lalu.

Temuan Alat Batu Dari penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta telah diperoleh setidaknya 114 temuan alat batu. Temuan tersebut terdiri dari alat masif dan nonmasif yang terbuat dari bahan batu rijang dan gamping kersikan. Temuan alat masif berupa kapak penetak atau Chopping tools serta batu inti berjumlah lebih sedikit dibandingkan dengan temuan alat nonmasif seperti serut (scapper) dan serpih (flake).

Artefak-artefak tersebut ditemukan di permukaan tanah yang berada di sekitar endapan teras sungai maupun di lahan tegalan. Letak temuan yang berada di permukaan dan endapan teras yang bukan merupakan endapan primernya membuat penetuan umur relatif dari temuan tersebut sulit dilakukan. Berdasarkan perbandingan dengan temuan alat batu di situs Sangiran, temuan alat di Situs Semedo memiliki kesamaan teknologi dan tipologi dengan alat batu Sangiran. Di situs Sangiran alat-alat batu seperti ini dihasilkan oleh species manusia homo erectus.

Temuan Rangka Manusia

Kondisi rangka yang sudah rapuh

Humerus yang sudah terlepas dari
rangka dan matriksnya.

Temuan rangka manusia pertama kali dilaporkan oleh penduduk di punggungan Bukit Semedo. Bagian rangka yang pertama kali terlihat adalah bagian humerus (tulang lengan tangan). Temuan tersebut berada dalam tanah yang tersingkap oleh erosi pada kedalaman 20 cm sampai 50 cm. Secara umum kondisi rangka terutama bagian cranium (tengkorak) dalam keadaan utuh dan masih terselimuti matriks. Tulang berada dalam kondisi rapuh dan belum terlihat adanya proses fosilisasi, seluruh bagian tulang masih tersusun atas unsur organik. Matriks yang ada pada temuan ini berupa tanah berjenis lempung pasiran yang bertekstur agak halus. Beberapa tulang sudah hancur, bahkan costra (tulang rusuk) dan pelvis (tulang panggul) sudah tidak terlihat. Beberapa tulang yang sudah terlepas dari rangka adalah bagian phalang (tulang jari), humerus (tulang lengan), dan gigi. Dari kondisi gigi (incisor, canine, promolar) yang terlepas dapat diketahui bahwa kondisi sisi oclusall atau permukaan kunyah terlihat masih baik dan belum mengalami keausan.

Posisi rangka berada dalam keadaan miring dengan tangan terlipat (kedua pergelangan terletak di bawah dagu). Rangka berorientasi barat-timur dan menghadap ke selatan. Tidak ada temuan berupa bekal kubur maupun artefak lainnya.

Deskripsi Detail Tengkorak

Kondisi tengkorak tampak atas

Kondisi tengkorak tampak depan

tengkorak tampak samping

 Dalam evolusi manusia, bagian yang paling banyak mengalami perubahan adalah bagian kepala. Jika dilihat dari atas, kondisi tengkorak menunjukkan bahwa bagian terlebar terletak pada bagian parietal (bagian atap tengkorak). Selain itu, suture sagitale (tautan antar tulang atap tengkorak) dan sutura coronalis (tautan antara tulang dahi dengan atap tengkorak) masih terlihat jelas. Kondisi tengkorak dari arah depan menunjukkan adanya kemiringan pada os frontal (tulang dahi). Demikian juga pada bagian mandibulla (rahang bawah) terlihat lebih menjorok ke depan atau prognathisem. Bagian Os nasal (tulang hidung) terlihat panjang. Bentuk orbit mata oval, dan pada bagian atas orbit tidak menunjukkan adanya torus supra orbitalis (tonjolan tulang kening), sedangkan atap tengkorak berbentuk oval. Kondisi tengkorak jika dilihat dari samping menunjukkan kondisi yang pendek. Bagian malar (tulang pipi) patah dan melesak ke arah dalam.

Maxilla (rahang atas) sudah terlepas dan pada bagian ujungnya telah patah. Pada bagian ocipital (bagian belakang tengkorak) terdapat sudut, namun tidak terlalu tajam.

Dalam evolusi manusia, bagian yang paling signifikan mengalami perubahan adalah bagian tengkorak. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perkembangan otak yang berimplikasi pada perkembangan bentuk tengkorak.8 Hasil identifikasi terhadap fisik rangka, terutama bagian tengkorak jika dibandingkan dengan ciri fisik homo erectus yang disampaikan dalam kerangka konsep menunjukkan adanya beberapa ciri yang tidak sesuai. Secara keseluruhan bentuk atap tengkorak yang ditemukan sudah membundar dan tulang tengkorak tipis. Pada bagian rahang tidak menunjukkan alat mastikasi (alat kunyah) yang masif, hal ini terlihat dari bentuk dan ukuran rahang yang tipis dan tidak kekar. Pada bagian depan tengkorak terlihat tidak terdapat torus supra orbitalis (tonjolan tulang kening/ diatas lobang mata).

Adanya beberapa ciri yang mengaju ke fisik homo erectus seperti bentuk tengkorak yang pendek dan tonggos disebabkan karena lokasi temuan yang berada di bawah jalan. Keletakan yang berada dibawah jalan ini telah menyebabkan terjadinya depresi terhadap rangka yang mengakibatkan kondisi tengkorak pendek dan bagian frontal terdapat kemiringan sehingga tengkorak tampak seperti prognathisem (tonggos). Hasil identifikasi keseluruhan menunjukkan bahwa rangka manusia ini merupakan species homo sapiens. Bila dikaitkan dengan kerangka konsep bahwa jenis manusia yang hidup pada kala plestosen dan menghasilkan alat batu paleolitik adalah species homo erectus maka temuan ini tidak memiliki kaitan langsung dengan Situs Semedo.

Kondisi temuan rangka secara umum masih utuh dan kondisi tulang rapuh. Seluruh tulang masih tersusun oleh unsur organik, beberapa tulang sudah hancur. Hal ini menunjukkan bahwa tulang belum mengalami fosilisasi. Belum memfosilnya sebuah rangka dapat disebabkan oleh dua hal. Yang pertama adalah lokasi pengendapan dan yang kedua adalah masa atau waktu. Lokasi pengendapan unsur organik yang mendukung proses fosilisasi adalah lingkungan endapan vulkanik atau lingkungan kapur. Sementara itu, waktu yang dibutuhkan untuk proses fosilisasi adalah minimal 7000 tahun.

Kondisi lingkungan temuan rangka, yaitu Bukit Semedo, merupakan lahan vulkanis yang memiliki mineral yang cukup mendukung proses fosilisasi. Belum memfosilnya temuan rangka tersebut diyakini karena rangka tersebut masih baru atau kurang dari 7000 tahun. Berdasarkan informasi dari LSM Gerbang Mataram yang diperoleh dari hasil wawancara pada saat observasi ke Situs Semedo, menunjukkan bahwa lokasi temuan rangka manusia tersebut merupakan jalan yang digunakan warga Desa Semedo selama kurang-lebih 50 tahun sehingga kemungkinan individu yang meninggal dan rangkanya ditemukan di tempat tersebut telah terdeposit selama lebih dari 50 tahun. Dari hasil identifikasi dapat diperkirakan bahwa umur individu tersebut masih muda. Hal ini terlihat dari pertautan suture coronela (tautan antara tulang dahi dengan atap tengkorak) dan suture sagitale (tautan antara tulang tengkorak sisi kanan dan sisi kiri) yang masih terlihat jelas. Selain itu, perkiraan umur individu juga diperoleh dari kondisi sisi occlusal (permukaan kunyah) yang masih bagus dan belum mengalami keausan.


Referensi:
Widianto, H. dan M. Hidayat. 2007. Semedo, Situs baru Kehidupan Manusia Purba Pada Kala Plestosen. Berita Penelitian Arkeologi: 1–15.
Bemellen, R.W. V.1949. The Geology of Indonesia:General Geology of Indonesia And Adjacent Archipelagoes (1A)
Widianto, H. 2007. Pemanfaatan Dan Evaluasi Pelaksanaan Program Pengembangan Budaya Situs
Semedo dan Candi Bulus. Laporan Penelitian Arkelogi. Yogyakarta: Balai Arkeologi.
Widianto, H. 2009. Kehidupan Manusia Purba di Indonesia. Belum diterbitkan.
Widianto, H. 2000. Teknik Analisis Sisa Manusia. Berkala Arkeologi, (XX): 15–25. Simanjuntak, Truman, dkk. 2008. Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional.
Soejono, R.P., dan R.Z. Leirissa. 2007. Sejarah Nasional Indonesia I: Zaman Presejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Jumat, 21 September 2018

Waspada, penelitian bahaya penggunaan obat nyamuk

 Dampak penggunaan obat nyamuk bagi kesehatan

Obat nyamuk

Indonesia merupakan daerah yang beriklim tropis. Hal tersebut sesuai dengan habitat bagi nyamuk untuk berkembang biak. Di Indonesia ada berbagai species nyamuk, diantaranya adalah Aedes aegypti dan Culex quinquefasciatus yang seringkali menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat. Keduanya merupakan vektor (pembawa dan penyebar) penyakit. Aedes aegypti merupakan vektor penyakit demam berdarah, sedangkan Culex quinquefasciatus merupakan vektor penyakit encephalatis (sleeping sickness/penyakit tidur).

Indonesia mayoritas menggunakan obat nyamuk untuk membasmi nyamuk di dalam ruangan. Obat nyamuk memiliki berbagai jenis, diantaranya obat ati nyamuk liquid, bakar atau coil, aerosol dan, vaporizer (mat, liquid elektrik, lotion). Di setiap jenis obat nyamuk tersebut terkandung bahan aktif yang berbeda-beda tergantung merk dan jenisnya. Misalnya pada obat nyamuk bakar coil antara Baygon dan Tigaroda berbeda, yaitu masing-masing berturut-turut 0,1%% dan 0,25%. Sedangkan pada merk yang sama yaitu Baygon liquid dan aerosol masing-masing mengandung sipermetrin 0,4 g/l dan 0,10%. Kebanyakan masyarakat tidak memperhatikan zat aktif yang terkandung dalam obat nyamuk yang digunakan. Padahal asap yang dihasilkan dari pembakaran mengandung zat karsinogen (pemicu kanker). Berbagai penelitian pun mengungkapkan bahwa paparan asap-asap tersebut dalam jangka lama dapat menyebabkan terjadinya penyakit pada saluran pernapasan dan juga meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Juhryyah (2008:32) menunjukkan bahwa pemberian formulasi insektisida yang mengandung bahan aktif metofluthrin, d-phenothrin dan d-allethrin menyebabkan perubahan histopatologi pada organ hati dan ginjal.

Cara promosi produk obat nyamuk juga mempengaruhi meningkatnya pemakaian obat nyamuk oleh masyarakat. Iklan yang beredar dikemas secara menarik sehingga timbul anggapan masyarakat bahwa obat nyamuk tersebut tidak berbahaya sama sekali bagi manusia. Zat aktif dalam obat nyamuk bila digunakan secara rutin lambat laun dapat mempengaruhi dan menyebabkan kelainan pada organ tubuh manusia. Zat aktif dalam obat nyamuk masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan kulit lalu akan beredar bersama darah, masuk ke sel-sel dan organ tubuh.

Darah merupakan cairan yang sangat penting bagi manusia karena memiliki fungsi yang sangat vital bagi tubuh. Darah bertugas mengedarkan berbagai macam zat dan oksigen serta sari-sari makanan yang sangat dibutuhkan tubuh. Sehingga tubuh dapat menjalankan berbagai aktivitas dengan baik. Adanya gangguan suplay darah terhadap jaringan di seluruh tubuh akan mengakibatkan gangguan kesehatan dan lebih parah lagi dapat menyebabkan kematian. Dengan demikian, timbul gagasan dengan mengangkat tema paparan obat nyamuk ini, agar nantinya masyarakat yang membaca atau menerima berita dari hasil penelitian ini dapat mengetahui dan mengerti bahaya obat nyamuk. Dengan demikian masyarakat sadar dan mencari cara agar dapat menghindari pemakaian obat nyamuk secara terus menerus.

Penelitian tentang pengaruh paparan obat nyamuk sebelumnya pernah dilakukan oleh Retno Aryani yang menguji sel darah mencit yang terparan obat nyamuk elektrik dengan bahan aktif d-allethrin. Penelitian ini dilakukan selama 30 hari dengan 3 (tiga) kelompok perlakuan yaitu dengan paparan 4 jam/hari, 8jam/hari, dan 12jam/hari. Dari penelitian tersebut Aryani (2011) menyatakan bahwa obat nyamuk elektrik berbahan aktif d-allethrin berpengaruh terhadap sel darah yaitu dapat meningkatkan jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobin di dalam darah.

Selain itu pada penelitian menguji sel darah putih dan trombosit mencit yang terpapar d-alletrin, menunjukkan bahwa d-allethrin berpengaruh terhadap sel darah putih mencit. Jumlah sel darah putih bertambah namun jumlah trombosit tidak terpengaruh sama sekali oleh d-allethrin. Oleh karena itu, bermula dari hasil penelitian tersebut, maka penulis tertarik untuk penelitian lebih lanjut pada obat nyamuk inhalasi golongan pyrethroid dengan penambahan jenis yaitu jenis transfluthrin. Pada penelitian yang telah ada, penelitian dilakukan selama 30 hari, dan sudah menampakkan pengaruh pada jumlah sel darah mencit. Maka dari itu penulis tertarik ingin mengurangi lama pemaparan yaitu selama 20 hari. Apakah paparan obat nyamuk yang mengandung salah satu maupun kedua jenis bahan aktif tersebut dalam waktu 20 hari dapat mempengaruhi jumlah sel darah mencit.

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh paparan obat nyamuk bakar maupun elektrik terhadap sel darah (Mus musculus, L.). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada guru, peneliti selanjutnya, masyarakat dan pembaca lain tentang pengaruh paparan obat nyamuk bakar (coil) dan mat elektrik terhadap jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, dan kadar hemoglobin, sehingga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Penelitian dampak penggunaan obat nyamuk
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi, Program Studi Pendidikan Biologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian dilakukan selama satu semester dimulai pada bulan Mei tahun 2015. Subjek penelitian yang diteliti adalah mencit (Mus musculus), sedangkan objek penelitian yang diteliti adalah sel darah mencit yang meliputi jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, dan kadar hemoglobin.

Alat yang digunakan untuk perlakuan adalah kandang dengan ukuran 30cm x 30cm x 30 cm dan perlengkapannya yaitu tempat makan dan minum mencit, alas kandang, dan ruang buatan yang terbuat dari karton dengan ukuran 70cm x 70cm x 60cm, selain itu juga digunakan seperangkat alat obat nyamuk mat elektrik dan coil. Alat untuk menghitung sel darah dan kadar hemoglobin meliputi timbangan digital, counter, seperangkat alat bedah, spuit, eppendorf, Haemocytometer, Haemometer, mikroskop, pipet dan tabung reaksi. Bahan yang digunakan untuk perlakuan adalah obat nyamuk coil, mat elektrik, dan Mencit (Mus musculus, L.) jantan galur Swiss Webster (memiliki berat badan 25 sampai 35 gram dan umur 1 sampai 2 buan), pakan berupa pelet Par-g yang diproduksi oleh Japfa Comfeed, air diambil dari kran di laboratorium. Bahan yang digunakan untuk menghitung sel darah dan kadar hemoglobin yaitu antioagulan EDTA, alkohol 70%, larutan Hayem, larutan Turk, HCl 0,1 N, dan aquadest.

Sebelum perlakuan mencit diaklimasi didalam kandang selama 3 hari. Kemudian dilakukan penimbangan berat badan awal mencit. Selama penelitian mencit diberi makan dan minum secara ad libitum. Pada saat perlakuan obat nyamuk coil maupun mat diletakkan didekat kandang mencit. Desain penelitian Rancangan Acak Lengakap (RAL) dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Mencit dibagi atas 6 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol, perlakuan yang diberikan adalah variasi dosis/waktu yaitu A1 (coil, 4 jam/hari), A2 (coil, 8 jam/hari), A3 (coil, 12 jam/hari), A4 (mat, 4 jam/hari), A5 (mat, 8 jam/hari) A6 (mat, 12 jam/hari) selama 20 hari. Pada hari terakhir dilakukan pembedahan untuk mengambil darah dari organ jantung pada semua mencit, selanjutnya diambil dengan spuit dan ditampung di dalam eppendorf yang telah diberi antikoagulan EDTA, kemudian dilakukan penghitungan jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih dan kadar hemoglobin mencit (Mus musculus, L.).

Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah eritrosit, leukosit dan kadar hemoglobin mencit (Mus musculus, L.) setelah diberi perlakuan mengalami peningkatan. Jumlah eritrosit yang terendah ada pada kelompok 0 jam (8.94 juta/mm3) sedangkan yang tertinggi ada pada kelompok 12 jam (9.7 juta/mm3). Jumlah leukosit yang terendah ada pada kelompok 0 jam (6.03 ribu/mm3) sedangkan yang tertinggi ada pada kelompok 12 jam (12.13 ribu/mm3). Kadar hemoglobin yang terendah ada pada kelompok 0 jam (11,6g/100ml) sedangkan yang terendah ada pada kelompok 12 jam (9.77 g/100ml).

Berdasarkan hasil uji normalitas menunjukkan bahwa semua data perlakuan menunjukkan nilai sig (signifikansi) > 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Berdasarkan hasil uji homogenitas menunjukkan keseluruhan data memiliki nilai sig (signifikansi) > 0.05. Maka dapat disimpulkan bahwa sel darah berdasarkan perlakuan mempunyai varian yang sama (homogen). Berdasarkan hasil uji One Way ANOVA di atas menunjukkan sig (0.003) < 0.05 ini dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antaran paparan obat nyamuk coil dan mat elektrik terhadap sel darah pada mencit (Mus musculus, L.). Berdasarkan hasil Uji Lanjut LSD ditunjukkan bahwa perlakuan mat elektrik dengan waktu perlakuan selama 4, 8, dan 12 jam adalah yang paling berpengaruh terhadap sel darah (p-value < 0.05) sehingga dapat disimpulkan perlakuan mat elektik dengan durasi waktu 4, 8, dan 12 jam sangat berpengaruh terhadap sel darah.

Obat nyamuk merupakan salah satu jenis pestisida pembunuh serangga (insektisida). Salah satu bahan aktif yang terkandung dalam obat nyamuk adalah allethrin. Pemberian formulasi insektisida yang mengandung bahan aktif matofluthrin, d-phenothrin dan d-allethrin menyebabkan perubahan histopatologi pada organ hati dan ginjal. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan aktif tersebut sangat berbahaya. Obat nyamuk coil (mosquito coil) dengan Merk Baygon memiliki kandungan bahan aktif d-allethrin dan transflutrin yang masing-masing sebesar 0.1% dan 0.028%. Obat nyamuk mat elektrik (vaporizing mat) dengan merk Baygon mengandung bahan aktif d-allethrin sebanyak 40mg⁄21g atau sebesar 0.19% dan transflutrin sebanyak 3mg⁄21g atau sebesar 0.014%. Kedua bahan aktif tersebut termasuk pada golongan Synthetic Pyrethroid.

Darah adalah suatu cairan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang berwarna merah. Warna merah pada darah disebabkan karena adanya zat warna darah yang disebut hemoglobin. Sel darah merah merupakan cakram bikonkaf dengan diamater sekitar 8,6 μm. Fungsi utama sel darah merah adalah sebagai kendaraan hemoglobin dalam memngangkut oksigen. Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang menyebabkan warna merah pada darah Hemoglobin adalah suatu pigmen berwarna kuning, tetapi efek keseluruhan hemoglobin menyebabkan warna merah pada darah. Sel darah putih adalah bagian dari darah yang berwarna putih dan merupakan unit yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh terhadap infeksi. Sel darah putih darah perifer normal terdiri dari tiga jenis yaitu granulosit, limfosit, dan monosit. Granulosit terdiri dari tiga jenis yaitu neutrofil, eosinofil, dan basofil. Sel darah putih dibedakan dari sel darah merah oleh adanya inti sel.

Terjadinya kenaikan jumlah sel darah merah diakibatkan karena hipoksia yang dialami oleh mencit selama diberi perlakuan. Hipoksia adalah kekurangan oksigen di jaringan tubuh. Hipoksia disebabkan karena kadar oksigen dalam udara sekitar ruangan mencit menurun akibat adanya asap obat nyamuk bakar maupun elektrik. Asap obat nyamuk dikategorikan sebagai salah satu sumber polusi udara di dalam ruangan. Obat nyamuk bakar jika dinyalakan akan menghasilkan polutan berupa karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), NO, NO2, dan NH3. Karbonmonoksida adalah salah satu polutan gas terbanyak yang dihasilkan dari pembakaran obat nyamuk bakar (The Hongkong Polytechnic University dalam Arifa, 2010). CO mampu berikatan dengan Hemoglobin (Hb) darah sebesar 250 kali lebih cepat dibandingkan O2, yang mana dari ikatan tersebut akan membentuk CarboxyHemoglobin (COHb) yang berakibat menghalangi fungsi Hb dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh sel tubuh. Akibatnya jaringan tubuh tidak mendapat suplay oksigen yang cukup. Kandungan bahan aktif dalam obat nyamuk yaitu d-allethrin diduga dapat mengikat O2 sehingga kadar O2 didalam udara semakin berkurang.

Setiap keadaan yang menyebabkan penurunan transportasi jumlah oksigen ke jaringan, akan diikuti dengan peningkatan kecepatan produksi sel darah merah. Saat kekurangan oksigen, tekanan oksigen dalam pertibulus ginjal kecil sehingga akan merangsang produksi hormon eritropoietin. Hormon eritropioetin akan merangsang pembentukan sel darah merah dan membantu mematangkan eritroblas menjadi sel darah merah.

Karbonmonoksia dapat mengganggu hemoglobin dalam membawa oksigen ke organ-organ vital dan jaringan seperti jantung, otak dan otot yang menyebabkan timbulnya stress terhadap organ-organ tersebut. Rendahnya kadar oksigen pada udara sekitar ruangan mencit dapat menyebabkan peningkatan kadar hemoglobin dalam darah. Peningkatan ini terjadi karena reflek dari penyesuaian tubuh terhadap rendahnya kadar oksigen yang berikatan dengan hemoglobin akibat digeser oleh karbon monoksida yang mempunyai afinitas terhadap hemoglobin yang lebih kuat. Akibat dari rendahnya kadar oksigen didalam tubuh, maka tubuh akan meningkatkan produksi hemoglobin. Mekanisme peningkatan kadar hamoglobin yaitu karena karbonmonoksida menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurukan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh. Karbonmonoksida menggantikan tempat oksigen dihemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat pengapuran atau penebalan dinding pembuluh darah. Dengan demikian, karbonmonoksida menurunkan kapasitas, meningkatkan viskositas darah, mempermudah penggumpalan darah, sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar haemoglobin darah.

Paparan asap obat nyamuk juga dapat meningkatkan jumlah sel darah putih. Hal ini disebabkan karena radikal bebas. Kandungan zat kimia dalam obat nyamuk bakar maupun elektrik jika terakumulasi di dalam tubuh dapat menyebabkan radikal bebas. Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia, baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya. Atom terdiri dari nukles, proton, dan elektron. Jumlah proton dalam nukleus menentukan jumlah elektron yang mengelilingi atom tersebut. Elektron berperan dalam reaksi kimia dan merupakan bahan yang menggabungkan atom-atom untuk membentuk suatu molekul.

Elektron mengelilingi suatu atom dalam satu lapisan atau lebih. Jika lapisan pertama penuh, elektron akan mengisi lapisan kedua. Lapisan kedua akan penuh jika terisi delapan elektron. Suatu molekul yang memiliki elektron penuh di lapisan terluarnya, tidak akan menimbulkan suatu reaksi kimia. Atom-atom berusaha untuk mencapai keadaan stabilitas maksimum, sebuah atom akan selalu mencoba untuk melengkapi lapisan luarnya dengan dua cara. Yang pertama menambah atau mengurangi elektron untuk mengisi maupun mengosongkan lapisan luarnya. Yang kedua membagi elektron-elektronnya dengan cara bergabung bersama atom yang lain dalam rangka melengkapi lapisan luarnya. Atom sering kali melengkap lapisan luarnya dengan cara membagi elektron-elektron bersama atom yang lain. Dengan membagi elektron, atom-atom tersebut bergabung bersama dan mencapai kondisi stabiltas maksimum untuk membentuk molekul. Oleh karena radikal bebas sangat reaktif sehingga dapat bereaksi dengan berbagai molekul lain, seperti protein, lemak, karbohidrat, dan DNA.

Dalam rangka mendapatkan stabilitas kimia, radikal bebas segera berikatan dengan molekul stabil terdekatnya. Radikal bebas akan mengambil elektron dari molekul yang diikat. Molekul yang kehilangan elektron, selanjutnya akan menjadi radikal bebas sehingga akan memulai reaksi berantai, yang akhirnya akan merusak suatu sel. Kerusakan yang sering ditimbulkan oleh radikal bebas adalah kerusakan oksidatif akibat reaksi oksidasi. Padahal dalam sebuah sel reaksi oksidasi dapat terjadi 10.000 (sepuluh ribu) kali setiap 24 jam.

Di dalam tubuh memiliki mekanisme untuk menetralkan kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas. Mekanisme tersebut diperankan oleh jaringan antioksidan. Antioksidan akan mendaur ulang antioksidan lain agar dapat bersama-sama melawan senyawa-senyawa oksigen reaktif. Pada dasarnya radikal bebas merupakan bahan kimia yang secara alami terdapat didalam tubuh yang berfungsi mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh, bakteri, virus, maupun bahan lain. Namun produksi antioksidan secara berlebihan dapat menyerang sel tubuh itu sendiri. Hal tersebut akan memicu tubuh untuk menanggapinya. Tubuh akan merespon bahan aktif dalam obat nyamuk yang menyebabkan radikal bebas sebagai benda asing. Akibatnya, tubuh akan memproduksi sel darah putih lebih banyak di bagian yang membutuhkan. Peningkatan jumlah sel darah putih dalam darah disebut lekositosis.

Penggunaan obat nyamuk coil maupun mat elektrik dilakukan selama 20 hari. Life-span mencit yang dikembangbiakkan di laboratorium diperkirakan sekitar 1,5 hingga 3,3 tahun, sedangkan life expectancy atau harapan hidup manusia di Indonesia pada tahun 2010 hingga 2015 diperkirakan sekitar 70.1 tahun (BPS, 2015). Dapat disimpulkan bahwa dalam 20 hari perlakuan pada mencit setara dengan 424,8 hari pada manusia atau ± 1 tahun 2 bulan. 


Referensi:
Arifa, Y. A. 2010. ”Perbedaan Persentase Nilai Arus Puncak Ekspirasi (APE) Pada Wanita Yang Terpapar dan Tidak Terpapar Asap Obat Nyamuk Bakar di Bekonang Sukoharjo”. Skripsi. Surakarta: Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.
Aryani R., R. Kurniati, dan S. Rahmawati. 2011. Pengaruh Pemakaian Obat nyamuk Elektrik Berbahan Aktif D-Allethrin Terhadap Sel Darah Mencit (Mus
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Baradero, M., W. Dayrit, dan Y. Siswadi. 2008. Klien Gangguan Kardiovaskular: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC Madical Publisher.
Cutler R. G., Henry R. 2003. Critical Review of Oxidative Strees and Aging: Advances in Basic Science, Diagnosis and Intervention. Singapore: World Scientific Publishing.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nomor 1022/MENKES/SK/XI/2008.
Foster, W. A., E. D Walker. 2002. Medical and Veterinary Entomology. Terjemahan oleh Gary M. Dan Lanced. London: Academic Press.
Haws, P. S. 2008. Asuhan Neonatus: Rujukan Cepat. Terjemahan oleh dr. H. Y. Kuncara. 2003. Jakarta: EGC Medical Publisher.
Joharina, A. S., dan S. Alfiah. 2014. Anlisis Deskriptif Insektisida Rumah Tangga Yang Beredar Di Masyarakat. Jurnal Vektora 4 (1): 23-32.
 

Kamis, 20 September 2018

7 Cerita rakyat berkaitan dengan mitos ibu

Mitos Ibu dalam Cerita Rakyat Indonesia

Mitos Ibu dalam Cerita Rakyat Indonesia

Di indonesia, mitologi tentang keberadaan sosok ibu bahkan tersebar di seluruh daerah dengan versi yang berbeda-beda. Misalnya, masyarakat Suku Dayak Iban Sui Utik di Kalimantan, Indonesia, yang menganggap ibu sebagai perempuan dengan kekuatan yang besar dalam hubungannya dengan tanah tempat manusia hidup. Tanah to indai kitai, demikian mereka biasa mengenal istilahnya, yang artinya “tanah adalah ibu kita”.

Duli uhe, pali ara, demikian ungkapannya dalam bahasa Ende di Nusa Tenggara Timur. Artinya, “tanah itu ibu, emas adalah penopangnya“. Masyarakat Ende percaya bahwa tak seorang pun boleh merusak tanah, seperti menggali untuk mengambil kandungan tanah berupa tambang, karena dipercaya akan merusak kehidupan. Demikian pula halnya berlaku pada kepercayaan masyarakat Papua, tanah dianggap seperti ibu yang memberi kehidupan dan tidak boleh disakiti atau dirusak.

Versi lain mengenai gambaran hubungan antara ibu dengan alam ditemukan di Jawa Barat, tepatnya pada sungai yang bernama Cikapundung, dieja ci-ka-pun-indung. Dari sudut kebahasaan, kata cikapundung terbangun dari akar kata indung, yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata “ibu”. Bagi masyarakat Sunda, kata cikapundung memiliki arti “kepada ibu cahaya yang terhormat”. Pengertian lebih luasnya, orang Sunda mengungkapkan sosok ibu dalam bentuk cahaya dan menjadi sumber kekuatan yang harus dihormati.

Dari beberapa versi cerita mitologi sosok ibu yang tersebar di beberapa etnik di Indonesia, dapat dilihat bahwa pola matrilineal merupakan kunci pada masa lalu masyarakat tradisi. Untuk lebih memperkaya fakta, berikut ini peneliti cantumkan beberapa cuplikan singkat dari cerita-cerita rakyat dahulu yang tersebar di Indonesia:

1. Malin Kundang
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Padang ini isinya menceritakan tentang perjalanan hidup seorang anak laki-laki yang berasal dari keluarga miskin, lalu membulatkan tekad hendak merantau demi satu tujuan: untuk memperbaiki nasib. Takdir membawa anak laki-laki itu pada kesuksesan di tanah rantau. Berubahlah perangainya, yang paling buruk adalah anak laki-laki itu dihinggapi rasa malu untuk mengakui ibunya yang sudah tua renta dan masih melarat. Karena terlewat sakit hati, jatuhlah sumpah serapah dari mulut ibu untuk anaknya itu, yaitu kutukan menjadi batu.

Mengenai sosok ibu, cerita rakyat Malin Kundang ini menggambarkannya sebagai manusia yang penuh kasih sayang, terutama dalam merawat dan membesarkan anaknya. Pada bagian akhir cerita, tampak betapa sosok ibu memiliki dominasi yang besar atas kehidupan anaknya. Hal tersebut ditunjukkan melalui kekuatan doanya (koneksitasnya dengan kekuatan Pencipta) yang mampu mengutuk anaknya dan mengubahnya menjadi batu. Dengan demikian, pola matrilineal tampak dominan dalam cerita legenda ini.

1. Sangkuriang
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Sunda ini, alkisah menceritakan tentang nilai moral dan sosial. Nilai moral dapat dinukil dari adegan dimana Dayang Sumbi, sebagai seorang perempuan, begitu keras sikapnya dalam memegang teguh janji, betapa pun ia mengetahui akan pahitnya akibat yang mesti ditanggung. Sementara nilai sosial ditunjukkan melalui gambaran Dayang Sumbi sebagai seorang ibu. Ia menegaskan bahwa incest (percintaan atau pernikahan antara ibu dengan anak, dalam konteks ini dengan Sangkuriang) adalah perbuatan yang terlarang.

Pada cerita Sangkuriang ini, sisi dominan dari pola matrilineal adalah ketika sosok ibu ditampilkan sebagai makhluk yang cantik, menarik, teguh memegang janji, dan berupaya untuk menjaga kehormatan. Sementara menganai gambarang Sangkuriang, ia cenderung pemarah dan bermental rapuh.

3. Asal-Muasal Danau Toba
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Batak ini juga mencerminkan nilai moral, baik untuk laki-laki sebagai suami dan ayah, maupun mengenai kekuatan perempuan sebagai istri dan ibu. Bagi laki-laki, cerita ini menonjolkan nilai moral bahwa suami jangan pernah melanggar sumpah terhadap istri, karena akan berakibat sangat fatal bagi kehidupannya. Sedangkan bagi perempuan, sebagi ibu, cerita ini menggambarkan betapa protektifnya sosok ibu dalam melindungi anak, bahkan melebihi sikapnya terhadap suami. Bagian yang terakhir ini sekaligus menunjukan titik tekan adanya pola matrilineal yang sangat dominan dalam cerita rakyat bagi etnik Batak.

4. Legenda Gunung Batu Bangkai
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kalimantan Selatan ini memiliki sisi kesamaan dengan cerita Malin Kundang dari etnik Padang, yaitu tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Konon, setelah si anak meraih keberhasilan material, lantas lupa terhadap seluruh kasih sayang ibunya. Lebih parahnya lagi, si anak sampai berani menghina ibunya di hadapan banyak orang. Seperti ibunya Malin Kundang, ibu dalam cerita ini juga kemudian mengeluarkan kata-kata kutukan. Si anak pun berubah wujud menjadi batu berbentuk bangkai manusia.

Pada cerita ini, di satu sisi ibu tampil sebagai sosok yang penyayang dan lemah lembut. Namun, di sisi lain, ibu juga memiliki kekuatan sangat besar (dalam kesatuannya dengan alam), terlebih apabila hatinya tersakiti oleh anaknya (laki-laki), terbukti dari kemampuannya dalam menghancurkan hidup anaknya. Pada cerita ini, pola matrilineal tampak begitu dominan, sebab osok ayah bahkan tidak dimunculkan sama sekali dan sosok anak (laki-laki) tampil sebagai manusia yang berhati lemah, mudah terlena oleh kesenangan duniawi, dan lupa pada jati dirinya.

5. Asal-Usul Ikan Patin
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kalimantan Tengah ini, sebagaimana yang tersebar di tengah-tengah masyarakat lokal di sana, mengisahkan tentang seorang suami yang mengingkari janji dan menyakiti hati istrinya. Tak tahan menahan derita, sang istri kemudian minggat, meninggalkan suami dan anaknya. Beberapa saat kemudian, sang istri kembali dengan wujud yang berbeda, yakni menyerupai ikan patin, yang sekarang orang-orang sering lihat.

Paling tidak, beberapa nilai moral yang pantas untuk diresapi oleh pembaca, atau pendengar, bahwa dari cerita rakyat tersebut adalah jangan sekali-kali seorang suami melanggar sumpahnya terhadap istri. Sebab, selain tidak ada maafnya, juga dapat menimbulkan akibat buruk di kemudian hari. Sementara nilai moral bagi perempuan yang telah berperan sebagi ibu, sumpah terhadap harga dirinya sendiri lebih utama daripada perannya sebagai ibu yang harus melindungi anaknya. Dalam kata lain, pola matrilineal pada kisah ini bahkan mengalahkan nilai keibuannya sendiri.

6. Nyai Balau Kehilangan Anak
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Dayak di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah ini, didalam keutuhan ceritanya tergambar kebesaran hati seorang ibu yang mampu memaafkan pembunuh anaknya sendiri. Tentang sosok Nyai Balau sendiri digambarkan sebagai perempuan yang sakti mandraguna dan bijaksana dalam memimpin serta menjaga rakyatnya.

Dengan demikian, nilai keibuan Nyai Balau yang masuk hingga ke ruang publik menunjukkan bahwa pada masyarakat Dayak di Kabupaten Kapuas, pola matrilineal tampak sedemikian dominan. Dalam redaksi lain, masyarakat Dayak telah memiliki tradisi yang membagi proporsi hak dan kewajiban perempuan dengan laki-laki di ruang publik. Demikianlah, pola genealogis parental (kesetaraan garis keturunan ayah dan ibu) dalam aspek sosial (domestik dan publik), religious, dan kedudukannya dalam adat masyarakat Dayak di Kalimantan.

7. Batu Belah
Cerita rakyat dari masyarakat etnik Manado di Sulawesi Utara ini mengisahkan tentang kehidupan seorang istri, yang hanya mengharapkan materi dari suaminya. Sedangkan sebagai ibu, ia hanya memberi printah kepada anaknya, tanpa memperhatikan kondisi kedua anaknya. Lama-kelamaan, sang anak tak lagi mau patuh pada perintah ibunya, karena itulah kemudian sang ibu memilih untuk meninggalkan keluarganya. Secara sekilas pun gambaran tentang sosok ibu dalam cerita tersebut sudah tampak, yakni sebagi tokoh yang egonya lebih besar daripada rasa keibuannya. Faktor itulah yang menunjukan bahwa pola matrilineal terlihat sangat dominan.

Pendapat Bachofen, sebagaimana dikutip oleh Abdul Aziz Rasjid (2008), dalam penemuannya atas hak ibu (mother right) serta analisisnya terhadap mitos-mitos dan simbol-simbol bangsa Romawi, Yunani, dan Mesir, berkesimpulan bahwa struktur patriarkal dalam masyarakat yang kita kenal melalui sejarah peradaban dunia didahului sebelumnya oleh status kultural yang menempatkan sosok ibu dalam peran yang sangat penting, misalnya sebagai kepala keluarga, kepala pemerintahan, dan Dewi Agung (cf Rasjid, 2008; Daly, 2009; dan Watts, 2013).

Karena ibu lebih mungkin untuk memainkan peran utama didalam kegiatan keterikatan, berbagi, dan berpartisipasi harmonis dengan alam, yang kesemuanya berorienatasi kepada kelangsungan hidup. Alam adalah teman; dan sebagai penjaga kelangsungan hidup alam dan pemangku reproduksi kehidupan, perempuan juga adalah teman.

French, sebagaimana dikutip oleh R. Putnam Tong (2004), juga berspekulasi bahwa dengan bertambahnya populasi manusia, makanan menjadi langka dan manusia merasakan alam bukan sebagai ibu yang baik hati, sehingga mengatasinya dengan mengembangkan berbagai teknik (membuat sumur, menggali tanah) untuk membebaskan diri dari keinginan dan mememperoleh kekayaan yang disembunyikan oleh alam, yang mana “alam” adalah representasi dari perempuan.

Konseptualisasi identitas sebagai proses sosial memungkinkan kita untuk memahami pentingnya rasa dihargai bagi perempuan dalam hubungan interpersonal tertentu, dan memungkinkan kita untuk melihat ini sebagai karakteristik dalam memelihara, peduli, dan tanggung jawab, yang terkait dengan perempuan secara sosial. Konseptualisasi identitas diri yang “merawat” dan “peduli”.

Cinta ibu kepada anaknya sering dianggap sebagai bentuk kemurnian cinta di alam semesta, yang dianggap memiliki kekuatan untuk mempertahankan tantanan moral dan keberlangsungan alam semesta yang mampu melindungi. Ada beberapa tipe penggambaran ibu dalam mitos: menjadi simbol kehidupan (sumber abadi) dengan perannya sebagai pemelihara kehidupan, kelahiran, kesuburan, siklus pertumbuhan, bumi; simbol kekuatan dengan perannya sebagai pelindung dan pembela; serta juga menjadi individu sebagai bagian dari sebuah siklus dalam hubungan dengan pasangannya (dewi Yunani dan Romawi).

Akhirnya, ibu yang pada awalnya memiliki peran yang sangat penting, kemudian menjadi relatif kurang penting. Walau bagaimanapun, representasi ibu dari berbagai cerita rakyat di daerah-daerah Indonesia tersebut menjelaskan tentang kebesaran, sekaligus kompleksitas, mengenai ibu dari masa ke masa.


Referensi:
Susanto, Budi [ed]. (2003): Politik dan Postkolonialitas di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Thurer, Shari L. (1994). The Myths of Motherhood: How Culture Reinvents the Good Mother. USA [United Sates of America]: Houfghton Mifflin.

Junus, Umar. (2001). “Malin Kundang dan Dunia Kini” dalam Journal Sari. Bangi: UKM [Universiti Kebangsaan Malaysia], hlm.69-83.