Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Kamis, 11 Januari 2018

8 Cara perawatan kehamilan oleh ibu hamil

Ibu hamil

Kehamilan dan pada hakekatnya kodrat alam yang harus dijalankan kaum wanita yang sekaligus dapat merupakan ancaman yang terhadap keselamatan jiwanya, agar hal tersebut tidak merupakan ancaman yang serius maka kehamilan perlu perawatan disertai pertolongan yang baik. Perawatan kehamilan sebagai suatu sub system pelayanan kesehatan sangat terkait dengan fungsi reproduksi wanita maka upaya tersebut sangat ditentukan oleh perilaku ibu sendiri.

Perawatan pada kehamilan merupakan salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang sehat salah satunya adalah dengan pemeriksaan kehamilan.Untuk menekan angka kematian Ibu akibat melahirkan kelak, sehingga kesejahteraan ibu betul-betul sudah diperhatikan sejak masa nifas.Kelainan kehamilan dapat diketahui secara dini sehingga bisa diantisipasi secara dini, kelainan-kelainan selama kehamilan. Boleh dikatakan pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil. 

Perawatan kehamilan atau pemeriksaan kehamilan ini penting karena berguna dalam mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, memonitor kesehatan ibu dan janin supaya persalinannya aman, agar tercapainya kesehatan bayi yang optimal, mendeteksi dan mengatasi dini komplikasi dan penyakit kehamilan yang mungkin dapat muncul misalnya: hipertensi dalam kehamilan diabetes dalam kehamilan (gestasional diabetes), anemia, janin dengan berat badan rendah, kehamilan anggur, plasenta previa (ari-ari menutup jalan lahir), infeksi dalam kehamilan misalnya keputihan atau imfeksi saluran kemih dan lain-lain.

Berikut ini adalah cara perawatan kehamilan, yaitu:

1. Makan makanan yang sehat dan bergizi empat sehat lima sempurna.
2. Hindari merokok minuman beralkohol, narkotika, obat terlarang.
3. Cukup istirahat dan hindari pekerjaan berat.
4. Menjaga kebersihan diri dan dan lingkungan.
5. Menjaga kebersihan gigi dan mulut.
6. Merawat payudara.
7. Memperoleh suntikan TT (Anti tetanus).
8. Memeriksa secara teratur ketempat pelayanan kesehatan (Bidan Praktek Swasta, Puskesmas, Dokter Praktek swasta) sedikitnya 4x selama kehamilan :
  • Tiga bulan pertama 1x.
  • Tiga bulan kedua 1x.
  • Tiga bulan ketiga 2x.
  • Apabila menderita penyakit harus memriksakan kedokter, tidak boleh minum obat tanpa sepengetahuan tenaga kesehatan.
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan).Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).

Asuapan makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi pada saat kehamilan sampai melahirkan. Status gizi ibu hamil dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan keadaan kesehatan ibu hamil selama kehamilan, berbagai resiko dapat terjadi jika ibu hamil mengalami kurang gizi yaitu abortus, bayi lahir mati, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan retardasi mental. Pada ibu hamil yang kekurangan gizi maka perlu pemberian kalori tambahan agar tubuh segera mengalami kondisi yang ideal, meskipun berbagai literatur menyebutkan bahwa ibu hamil kurang gizi, bisa melahirkan anak tanpa ada kelainan apapun. Akan tetapi risiko kehamilan serta saat melahirkan tentunya lebih tinggi dibandingkan ibu hamil dengan kondisi gizi yang sempurna.

Sabtu, 06 Januari 2018

4 Dampak negatif bahaya poligami pada anak

Bahaya poligami
Betapa bahagia dan indahnya apabila semua orang tua bisa mendidik anaknya dengan baik serta membentuknya menjadi pribadi yang shaleh, tentunya pertama kali yang mesti mereka terapkan adalah memperbaiki perilakunya sendiri dalam keluarganya. Jadi, jika seorang ayah tidak dapat menjamin akan dapat berlaku adil maka ia harus mengubur niatnya untuk berpoligami dan mulai memikirkan cara untuk memperbaiki keadaan keluarga dan perkembangan psikologi anak yang tak berdosa yang bisa menjadi korban dari kerusakan atau penyelewengan moral akibat tatanan keluarga yang tak utuh. Keadaan keluarga sangat mempengaruhi perjalanan hidup dan masa depan anak karena lingkungan keluarga merupakan arena dimana anak-anak mendapatkan pendidikan pertama, baik rohani maupun jasmani.

Sudah menjadi keharusan bagi orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya, karena anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang wajar dari orang tuanya akan menimbulkan kelemahan pada diri anak dalam perkembangan dan pertumbuhan psikologisnya. Kalau hal ini diasumsikan ke dalam keluarga yang berpoligami, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana hubungan antara anak dengan ayahnya. Seorang ayah yang berpoligami berarti ia harus menghadapi lebih dari satu keluarga yang harus diurus dan dipimpinnya. Dengan memimpin dua rumah tangga atau lebih, berarti ayah tidak selamanya berada dan menetap pada satu rumah tangga isterinya. 

Akan tetapi senantiasa berpindah-pindah dari rumah isteri yang satu ke rumah isteri yang lain dan seterusnya. Dengan keadaan seperti demikian itu, maka kesempatan seorang ayah untuk bertemu dengan dan bergaul dengan anak-anaknya sangatlah terbatas. Hal itu berarti terbatas pula waktu untuk bertemu dan bergaul dengan anak-anaknya secara continu. Kondisi rumah tangga dalam bentuk demikian menyebabkan banyak di antara anak-anak yang ayahnya berpoligami itu terlantar pendidikannya. Dan selanjutnya mempengaruhi perkembangannya, misalnya anak menjadi pemalas dan kehilangan semangat dan kemampuan belajarnya. Di samping itu tidak jarang menimbulkan terjadinya kenakalan-kenakalan dan traumatik bagi anak hingga mereka berkeluarga. 

Terjadinya tindakan-tindakan atau kasus-kasus tersebut merupakan akibat negatif dari keluarga yang berpoligami yang disebabkan karena hal-hal sebagai berikut:

Pertama, anak merasa kurang disayang. Salah satu dampak terjadinya poligami adalah anak kurang mendapatkan perhatian dan pegangan hidup dari orang tuanya, dalam arti mereka tidak mempunyai tempat dan perhatian sebagaimana layaknya anak-anak yang lain yang orang tuanya selalu kompak. Adanya keadaan demikian disebabkan karena ayahnya yang berpoligami, sehingga kurangnya waktu untuk bertemu antara ayah dan anak, maka anak merasa kurang dekat dengan ayahnya dan kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.

Kurangnya kasih sayang ayah kepada anaknya, berarti anak akan menderita karena kebutuhan psikisnya yang tidak terpenuhi. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan dari ayah kepada anak-anaknya akan menyebabkan anak tumbuh dan berkembang dengan bebas. Dalam kebebasan ini anak tidak jarang mengalami dekadensi moral karena dalam pergaulannya dengan orang lain yang terpengaruh kepada hal-hal yang kurang wajar.

Kedua, tertanamnya kebencian pada diri anak. Pada dasarnya tidak ada anak yang benci kepada orang tuanya, begitu pula orang tua terhadap anaknya. Akan tetapi perubahan sifat tersebut mulai muncul ketika anak merasa dirinya dan ibunya ”ternodai” karena ayahnya berpoligami. Walaupun mereka sangat memahami bahwa poligami dibolehkan (sebagaimana dalam QS An-Nisa ayat 3) tapi mereka tidak mau menerima hal tersebut karena sangat menyakitkan. Apalagi ditambah dengan orang tua yang akhirnya tidak adil, maka lengkaplah kebencian anak kepada ayahnya.

Kekecewaan seorang anak karena merasa dikhianati akan cintanya dengan ibunya oleh sang ayah akan menyebabkan anak tidak simpati dan tidak menghormati ayah kandungnya.

Ketiga, tumbuhnya ketidak percayaan pada diri anak. Persoalan yang kemudian muncul sebagai dampak dari poligami adalah adanya krisis kepercayaan dari keluarga, anak, dan istri. Apalagi bila poligami tersebut dilakukan secara sembunyi dari keluarga yang ada, tentu ibarat memendam bom waktu, suatu saat lebih dahsyat reaksi yang ada. Sesungguhnya poligami bukan sesuatu yang harus dirahasiakan tapi sesuatu yang sejatinya harus didiskusikan, jadi jangan ada dusta di antara suami, istri, dan anak. Komunikasi dan diskusi tersebut tidak dilakukan oleh suami karena seorang suami ingin melakukan poligami dikarenakan alasan seks semata.

Keempat, timbulnya traumatik bagi anak. Dengan adanya tindakan poligami seorang ayah maka akan memicu ketidak harmonisan dalam keluarga dan membuat keluarga berantakan. Walaupun tidak sampai cerai tetapi kemudian akan timbul efek negatif, yaitu anak-anak menjadi agak trauma terhadap perkawinan. 

Berangkat dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup dan pendidikan adalah orang tua (keluarga). Akan tetapi dalam hal ini dimana orang tua memikul tanggung jawab dalam kaitannya dengan pendidikan anak-anak, karena apabila orang tua kurang memperhatikan dan memberikan motivasi terhadap pendidikan anak-anaknya maka lambat laun anak-anaknya pun kurang memperhatikan sekolahnya dan bahkan akan putus sekolah.

5 Dampak poligami ayah terhadap anak

Poligami

Untuk mengembangkan potensi anak, peranan orang tua sangatlah penting, karena berhasil atau tidaknya pendidikan anak tergantung dari bagaimana perhatian orang tua terhadap anaknya dan pendidikan dalam keluarga merupakan tanggungjawab orang tua, karena itu orang tua hendaknya selalu menanamkan nilai-nilai yang baik sejak dini terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak itu nantinya akan menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa serta agama sesuai dengan tujuan perkawinan dan pendidikan. 

Kenyataan yang masih terlihat dalam dunia poligami adalah ketika sang ayah melakukan poligami, sang ayah cenderung tidak menghiraukan pendapat anak, maka bisa saja akan berdampak negatif pada proses tumbuh kembangnya dan akan mengganggu emosi anak. Poligami tidak hanya berdampak pada psikologis anak akan tetapi bisa juga berpengaruh pada fisik dan minat belajarnya.

Dampak pada anak-anak tergantung pada tingkat usia anak apakah masih anak-anak remaja atau sudah dewasa dan cara orang tua menangani anaknya. Penting juga pengetahuan yang dimiliki anak tentang peristiwa tersebut. Anak-anak perlu informasi jujur sesuai umur dari orangtuanya. Bila anak melihat ayah mencaci ibunya dengan kata-kata keji, perlahan-lahan ia terbiasa dengan kebencian dan rasa kasih sayangnya akan hilang. Krisis dalam keluarga akan menimbulkan sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan dan kurang belas kasih pada sesama.

Komunikasi yang negatif juga mempengaruhi perkembangan otaknya. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks, pusat logika. Bagian ini hanya bisa dijalankan kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila anak tertekan karena terus-menerus terperangkap dalam situasi yang kacau, penganiayaan, pengabaian, maka input hanya sampai ke batang otak. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu.

Pengaruh yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana yang tidak harmonis akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif, anak yang dibesarkan dalam suasana seperti itu tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.

Anak bisa berperilaku agresif, melukai diri atau bunuh diri. Perilaku ini dapat muncul tiba-tiba tanpa berfikir. Bisa juga karena anak putus asa terhadap situasi krisis yang memuncak. 

Dampak negatif dari kehidupan keluarga di atas tidak akan hilang walaupun anak sudah hidup berumah tangga. Karena pengalaman psikis dan persepsi tentang keluarga menjadi buruk, maka dapat berpengaruh kepada kecemasannya ketika menikah di kemudian hari.

Berdasarkan uraian di atas, dampak poligami ayah terhadap anak sebagai berikut:

1. Perkembangan psikis anak dapat terhambat, dia akan menjadi anak yang bermasalah.
2. Memungkinkan terjadinya konflik loyalitas, anak-anak sering bereaksi dengan mencoba melindungi secara berlebihan salah satu orang tua dengan mengabaikan kebutuhan sendiri untuk menyenangkan mereka.
3. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu. Seperti tindakan bermusuhan.
4. Perhatian seorang ayah terhadap anak-anaknya menjadi terbelah. Sehingga anak merasa diabaikan dan tidak dihargai lagi sebagai anak.
5. Anak akan menjadi rendah diri, pendiam, dan tidak dapat bergaul dengan teman-temannya.

Apabila dapat memilih, maka setiap anak di dunia ini akan memilih dilahirkan di keluarga yang harmonis, hangat, dan penuh kasih sayang. Keluarga yang demikian adalah dambaan dari setiap anak di dunia. Tapi sayangnya, anak tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya. Saat mereka lahir, mereka harus menerima siapapun yang menjadi orangtua mereka. Termasuk saat mereka memiliki orangtua yang melakukan praktek poligami.

Selasa, 02 Januari 2018

Misteri fenomena teknologi teleportasi

teleportasi

Teleportasi
Teleportasi adalah semacam sesaat "tanpa tubuh" transportasi. Dalam film-film yang bertemakan masa depan seringkali perpindahan manusia dilakukan dengan cara teleportasi sehingga dalam sekejap saja manusia dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya seberapa pun jauhnya jarak antar lokasinya. Teleportasi adalah pengallihan materi dari satu titik ke titik lain, kurang lebih instan. Saat ini para ilmuwan sedang bekerja dalam metode teleportasi. Teleportasi melibatkan dematerialisasi suatu objek, dan mengirimkannya dalam bentuk detail susunan atom-atom ke lokasi lain yang menjadi tujuan.

Hal ini berarti waktu dan ruang dapat dieliminasi dari suatu perjalanan sehingga kita dapat dipindahkan ke lokasi mana saja secara instan, tanpa melintasi jarak secara fisik. Untuk mentransportasikan satu orang, mesin harus dapat menentukan dan menganalisa secara tepat seluruh atom yang menyusun tubuh manusia. Mesin ini harus dapat mengirimkan informasi ini ke lokasi lain dimana tubuh orang tersebut akan direkonstruksi dengan sangat akurat.

Molekul atom tidak boleh bergeser meskipun hanya satu millimeter, sebab jika tidak, maka objek akan tiba dengan kerusakan neurologi dan fisiologi yang hebat. Sebenarnya konsep dari teleportasi mirip dengan konsep yang terjadi pada mesin faks. Namun lain halnya dengan teleportasi manusia, di mana manusia memiliki nyawa. Teleportasi mungkin untuk memindahkan partikel atom namun bagaimana dengan nyawa? Hal ini masih menjadi misteri sampai saat ini.

Teleportasi dalam agama islam
Transformasi atau perubahan energi menjadi materi atau sebaliknya dapat terjadi karena antara energi dan materi bersifat setara dan komplementer. Materi dapat diubah menjadi energi dan sebaliknya energi dapat diubah menjadi materi. 

Kesetaraan materi dan energi merupakan fenomena yang terjadi secara nyata dan digunakan dalam menghitung energi nuklir yang dapat dihasilkan oleh massa inti dalam sebuah reaksi inti. Perhitungan energi bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika di Nagasaki dan Hiroshima didasarkan atas persamaan yang dikemukakan oleh Einstein tersebut. Jadi, dengan menggunakan sejumlah massa atom, para ahli dapat menghitung energi ledak yang dapat dihasilkan oleh sebuah bom atom. Perlu dipahami bahwa transformasi antara energi menjadi materi juga diterangkan dalam Alquran, yaitu ketika menerangkan bahwa Malaikat Jibril yang merupakan makhluk cahaya (dengan energi cahaya) menampakkan dirinya (bertransformasi menjadi makhluk yang memiliki massa).

Beberapa mengemukakan fenomena yang sama ketika menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Rasulullah, yakni transformasi wujud rasul dari makhluk yang memiliki massa menjadi makhluk cahaya sebagai suatu bentuk energi. Fenomena tersebut diajukan untuk memenuhi .teori, Relativitas, di mana sesuatu yang bergerak dengan kecepatan cahaya  atau mendekati kecepatan cahaya akan bertambah massanya. Massa suatu benda atau makhluk akan menjadi tidak terhingga jika berubah dari keadaan diam menjadi bergerak dengan kecepatan cahaya.

Kondisi ini tidak mungkin terjadi pada benda atau makhluk biasa yang memiliki massa, namun dapat terjadi untuk makhluk cahaya. Saya menambahkan sebuah penjelasan sebagai berikut: massa benda atau makhluk akan berubah jika kecepatannya berubah. Nah, jika kecepatannya memang sudah setara dengan cahaya, massanya tidak akan berubah ketika wujudnya bertransformasi dari cahaya menjadi massa. Artinya, sebuah benda atau makhluk dapat memiliki kecepatan setara dengan kecepatan cahaya jika pada saat awal memang sudah bergerak setara kecepatan cahaya.


Suatu makhluk cahaya yang sedang bergerak dengan kecepatan cahaya kemudian bertransformasi menjadi makhluk yang memiliki massa, maka kecepatan tetap setara kecepatan cahaya. Jadi, suatu sunnatullah jika Rasulullah menjalani peristiwa Isra' dan Mi'raj dengan badannya.

Pertanyaan lain yang muncul sebagai berikut, "Kendaraan apa yang memiliki gerakan setara kecepatan cahaya yang dapat mencapai ujung alam semesta dengan cepat ?" Untuk mencapai galaksi Andromeda saja, manusia membutuhkan waktu dalam hitungan tahun cahaya. Bagaimana Rasulullah dapat mencapai Sidratil Muntaha dalam waktu singkat? Sebuah fenomena lain perlu diterapkan dalam menjelaskan hal ini, yakni teleportasi. Fenomena perpindahan lokasi jarak jauh secara spontan atau teleportasi mungkin belum ditemukan secara ilmiah pada saat ini.

Peristiwa teleportasi yang diceritakan dalam kejadian tersebut terjadi ketika Nabi Sulaiman meminta kepada para pembesar di kerajaannya untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke hadapannya. Ilmu dan teknologi pada masa tersebut sudah sangat tinggi dan penjelasan mengenai penggunaan teknologi pada masa Nabi Sulaiman juga diterangkan dalam ayat yang lain. Teknologi transportasi pada masa Nabi Sulaiman telah memanfaatkan angin atau udara yang bergerak seperti layaknya pesawat terbang.

Jika teleportasi tercipta, maka akan membantu umat manusia di bumi dengan mudah. Tapi, ada sisi negatifnya jika disalahgunakan teknologi canggih tersebut untuk kejahatan. Menurut informasi dari berbagai sumber, teleportasi sudah ada sejak zaman dulu atau sejak zaman perang dunia, penemuan teleportasi tersebut pada zaman perang dunia secara tidak sengaja dengan cara melilitkan kawat tembaga tiba-tiba menghilang. Mungkin pihak-pihak tertentu menutupi penemuan tersebut demi keamanan.

Rabu, 20 Desember 2017

6 Fase rawan dalam pernikahan

Masa rawan pada Suami dan istri

Pernikahan merupakan hal yang umumnya akan dilalui dalam kehidupan ini. Sebagian besar manusia dewasa, akan menghadapi kehidupan pernikahan. Sebelum memasuki kehidupan pernikahan, individu mengalami proses yang meliputi perkenalan (ada perasaan ketertarikan), berpacaran, bertunangan dan menikah. Proses tersebut diawali dengan, adanya suatu ketertarikan yang dilandasi perasaan suka, cinta. Saat memasuki kehidupan pernikahan, suami dan istri saling menyesuaikan diri agar kehidupan pernikahan mereka harmonis.

Pasangan suami istri mengikatkan diri dalam ikatan pernikahan karena adanya perasaan cinta di antara mereka. Saat menjalani kehidupan pernikahan, ada gangguan-gangguan yang mereka hadapi seperti masalah penyesuaian diri. Saat kehidupan pernikahan yang mereka hadapi tidak seperti yang mereka harapkan, sering kali suami atau istri berusaha mencari kepuasan dari individu lain yang dianggap lebih dapat mengerti dirinya sehingga hal tersebut memicu munculnya pihak ketiga dalam pernikahan. Suami atau istri merasakan tidak ada lagi cinta dalam kehidupan pernikahan mereka.

Dalam rangka penyesuaian diri, seringkali terjadi perselisihan di antara pasangan karena dalam pernikahan terjadi penyatuan dua pribadi yang memiliki perbedaan dalam kebiasaan, sifat dan pola berpikir. Pada pasangan yang mampu mengatasi perselisihan yang ada, mereka mampu mempertahankan pernikahan mereka. Tetapi pada pasangan yang tidak mampu melewati permasalahan dalam pernikahan mereka, tak jarang mereka memutuskan untuk berpisah atau bercerai.

Pada masa-masa rawan dalam pernikahan bisa dihitung secara matematis. Krisis pertama muncul setelah tiga tahun perkawinan, kemudian muncul di tahun ke lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, hingga dua puluh lima tahun. Perhitungan matematis ini dibuat berdasarkan usia pelaku dan usia pernikahan secara umum. sepanjang perkawinan, masa rawan terbagi menjadi 6 fase. Masing-masing fase memunculkan masalah yang berbeda. 

Fase pertama merupakan fase adaptasi antara suami dan istri. Pasangan yang berhasil melalui tahap ini pada umumnya mampu bertoleransi terhadap sifat dan sikap pasangan.

Fase kedua terjadi setelah 5 tahun menikah. Ancaman yang terjadi pada fase ini berawal dari masalah ekonomi pasangan yang belum mapan. Pada fase ini, umumnya suami dan istri bisa sepakat berbagi peran. 

Fase ketiga adalah fase 10 tahun pernikahan. Pada fase ini, suami sudah mulai mapan secara ekonomi. Sementara itu, istri yang sudah memiliki anak usia sekolah dasar makin menikmati perannya sebagai seorang ibu dan istri. Masa rawan di usia pernikahan ini adalah masuknya orang ketiga (pria idaman lain atau pun wanita idaman lain).

Fase keempat setelah 15 tahun pernikahan, suami atau istri mengalami masalah eksistensi diri. 

Fase kelima adalah fase rawan setelah menikah selama 20 tahun. Masa-masa ini merupakan masa refleksi bagi suami dan istri. 

Fase keenam adalah fase 25 tahun hingga tahun-tahun selanjutnya. Pada usia ini, berbagai penyakit degeneratif mulai muncul sehingga menimbulkan gangguan yang berarti. Pada masa ini, ketergantungan terhadap pasangan semakin kuat.

Komunikasi merupakan faktor yang paling penting dalam menjaga suatu hubungan. Saat komunikasi mulai memburuk maka akan menyebabkan kelemahan pada keseluruhan hubungan, dan hasilnya adalah terputusnya hubungan. Saat suami/istri memiliki kepedulian terhadap pasangannya dan memiliki suatu komunikasi yang baik diantara mereka maka kesuksesan yang mereka peroleh dalam kehidupan pernikahan mereka juga tinggi (commitment), demikian pula dengan intimacy dan ketertarikan dengan pasangan (passion).

Rabu, 13 Desember 2017

11 Kriteria wanita idaman pria yang baik untuk dinikahi

Kriteria wanita idaman untuk pria harus dipilih jika ingin menikah

Kriteria wanita idaman pria

Manusia diciptakan dengan berbagai macam kelebihan dari pada makhluk lain ciptaan-Nya, manusia mempunyai akal dan budi yang baik bukan hanya sekedar insting belaka. Juga manusia diciptakan berpasang-pasangan, tujuan dari berpasangan tersebut adalah untuk melestarikan keturunannya. Wanita dapat diumpamakan sebagai tempat penyemai biji, maka harus memilih wanita yang baik. Hal itu adalah kiasan saja, yang dimaksud tempat penyemai biji adalah wanita sebagai penerus atau penyambung keturunan.

Mendengar penyataan tersebut, tergambar dalam benak bahwa banyak pertimbangan yang harus dipikirkan untuk memilih wanita sebagai pasangan yang baik. Seorang laki-laki haruslah pintar dalam memilih pasangan hidup, karena wanita merupakan tonggak keluarga yang sangat penting, selain wanita merupakan pasangan dari laki-laki, dalam keluarga wanita juga mengatur keuangan, tata rumah, masak-memasak, dan lain-lain yang tidak dapat dilaksanakan oleh laki-laki. Inilah beberapa kriteria wanita yang dimaksudkan:

1. Berbakti
Salah satu sifat wanita dalam rumah tangga adalah berbakti, seorang istri haruslah mampu membahagiakan suaminya. Bahwa tugas seorang wanita ibarat jari tangan yang lima, yaitu jempol, panuduh, panunggul, manis, dan jejenthik. Kelima watak wanita itu sering dinamakan panca susila. Panca (lima) dan Susila (tindakan yang baik). Panca susila adalah lima tindakan yang bagus. Jempol sebagai lambang dari Tuhan lambang kebaikan, mempunyai makna agar hati wanita selalu jempol, dan baik dalam menghadapi kehendak dan keinginan suami. Panuduh mempunyai petunjuk (panuduh) suami. Segala apa yang ditunjukkan oleh suami hendaklah dilaksanakan.

Panunggul mengisyaratkan bahwa jika suami memberikan sesuatu agar diunggulkan dan dihargai meskipun pemberian itu hanya sedikit. Istri wajib menghargai hak milik suami. Sementara itu, manis mempunyai arti agar istri harus selalu bersifat manis dalam bertutur kata tatkala mengahdapi kemauan suami, sebaiknya istri dilarang menggerutu, berkata dengan marah, dan tidak menyenangkan hati. Adapun jejenthik mengandung makna agar istri melaksanakan dengan semua kemauan suami tidak terlalu cepat (ngoso) yang tidak didasari sikap kerelaan.

Ciri-ciri calon bidadari syurga adalah istri yang selalu menyenangkan hati suaminya, karena istri yang baik tidak akan pernah menyusahkan suaminya, selalu berusaha untuk menghilangkan kesusahan suami dan ikut serta membantu menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Sebagai contoh, seorang suami yang bekerja di kantor. Ketika dia terbangun dan menatap dunia di pagi hari, dia melihat senyuman istrinya membangunkan dia di pagi hari, terlebih apabila disertai dengan kecupan mesra. Ini akan membuat pagi yang menyenangkan batin sang suami. Ketika berangkat ke kantor sarapan pagi sudah tersedia rapi di meja makan dan istri dengan setia menemaninya makan, mengambilkan yang diinginkan suami. Maka, suami berangkat ke kantor dengan perasaan senang dan gembira dan siap mengerjakan tugas kantor dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Ketika sore hari suami pulang rumah sudah dalam keadaan bersih seperti ketika meninggalkan rumah di pagi hari. Saat suami mengetuk pintu rumah balasan lembut dari istri terdengar lembut dan melegakan. Kemudian dengan keadaan istri sudah rapi, berdiri manis dengan senyuman yang khas dan menyambut suaminya dengan rasa rindu dan kasih sayang dan melayani kebutuhan suami setelah lelah seharian bekerja. Apabila hal tersebut dilakukan dengan baik dan senang hati, seorang suami akan menjadi semakin cinta kepada istrinya dan lebih bersemangat dalam mencari nafkah untuk keluarga. Hal itu akan membantu suami untuk masuk surga.

2. Setia
Sebagai pendamping suami yang baik, seorang istri yang setia berarti mampu memegang teguh kepada kesucian perkawinnnya dan menjaga hati agar tidak beralih kelain hati. Banyak godaan-godaan yang membuat goyah sebuah perkawinan akan tetapi seorang istri yang baik harus kuat dalam menjalaninya salah satunya dengan cara setia kepada suami. Kesetiaan merupakan penyejuk dan penentram hati bagi keluarganya khususnya hati suaminya. Kesetiannya dapat membuat hubungan batin atar keduanya menjadi lebih dekat dan harmonis. Disamping itu hubungan tali perkawinan akan tetap utuh karena dilandasi kesetiaan dan saling percaya.

3. Bertaqwa
Selain setia wanita Jawa juga dituntut untuk bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, sebab tanpa dilandasi dengan ketaqwaan sebuah keluarga akan menjadi sepi. Sepi disini mengandung artian anggota keluarga tidak pernah mengaji atau menuntut ilmu agama. Seorang wanita yang bertaqwa dapat membukakan pintu surga kepada setiap anggota keluarganya. Sifat taqwa ini dapat dikembangkan dengan mengajarkan ilmu agama kepada anggota keluarganya dan saling mengingatkan satu sama lain agar tidak pernah meninggalkan ibadah, karena ibadah merupakan tiang kehidupan.

Seorang istri haruslah bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Suci dengan cara berbakti kepada suami, saling mengingatkan dengan suami maupun anggota keluarga lainnya agar tetap beribadah. Cara ini ditempuh agar kelak sekeluarga dapat terhindar dari api neraka dan mendapat ridho Tuhan untuk mendapatka nikmat surga. Maka beruntunglah bila mendapat seorang istri yang bertaqwa dan mampu mendampingi suami dan anggota keluarga untuk mencapai rahmat-Nya.

4. Penurut
Seorang wanita dalam hidup berumah tangga, harus menurut kepada suaminya. Hal itu dilakukan agar kehidupan keluarganya menjadi harmonis. Pada umumnya seorang wanita mempunyai pekerjaan di luar rumah, hal itu tidak menutup kemungkinan istri juga menjadi tulang punggung keluarga oleh karena alasan tertentu. Kodrat seorang istri adalah menurut kepada suaminya dan menjadi pendamping suami sebagai penyeimbang rumah tangga. Istri juga wajib melakukan segala yang diperintahkan oleh suaminya dan tidak boleh membantah perkatan suami, juga harus mengingat-ingat yang menjadi larangan dari suami dan jangan sekali-kali sampai tidak menuruti apa keinginan suami, sangatlah berdosa bila seorang istri berani membantah bahkan tidak melakukan perintah suami.

5. Menerima dan Ikhlas
Seorang wanita khususnya wanita Jawa, mempunyai sikap menerima, yaitu merasa puas dengan nasib, tidak memberontak dan menerima segala yang telah diberikan oleh suami dengan penuh rasa syukur. Sikap menerima menekankan apa yang ada, menerima segala sesuatu yang masuk ke dalam hidup kita baik sesuatu yang bersifat materiil maupun kewajiban atau beban seorang istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.

Sebagai seorang istri haruslah dapat meninggikan derajat suami sebagai seorang kepala keluarga sekaligus tulang punggung keluarga, walau suami hanya memberi sedikit nafkah setelah berkerja seharian penuh, sebagai istri yang baik haruslah menerima dengan ikhlas dan menghargai apa yang telah diberikan suami. Sikap istri yang seperti itu membuat suami akan tambah bersemangat dalam bekerja.

wanita yang baik tidak akan membiarkan sang suami melayani dirinya sendiri, sementara ia sendiri duduk berpangku tangan menyaksikan apa yang dilakukan oleh suami. Sebagai seorang isteri yang baik akan merasa enggan bila sang suami sampai tersibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah, seperti memasak, merapikan tempat tidur, mencuci, dan sebagainya. Istri yang baik menyibukkan diri melalui hari-harinya dengan memberikan pelayanan terhadap suaminya, mulai dari menyiapkan tempat tidurnya, makan dan minumnya, pakaiannya, dan kebutuhan suami lainnya. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan, kerelaan dan kelapangan hati disertai niat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh ini merupakan bentuk perbuatan ikhlas seorang wanita sholihah kepada sang suami yang diharapkan darinya ia akan memperoleh kebaikan.

6. Bersikap Manis
Sikap seorang istri yang membahagiakan suami adalah bersikap manis dihadapan suami. Secara psikologis sikap manis dapat dilakukan melayani kehendak suami dengan kata-kata yang manis, dan muka yang menyenangkan. Jangan sampai seorang istri berkata kasar, cemberut, walaupun hatinya sedang tidak menentu rasanya, meskipun begitu jangan pernah sekali-kali diperlihatkan di depan suami. Jika hati suami menjadi senang sehingga menambah kasih sayangnya kepada istrinya.

Sikap manis seorang istri terhadap suaminya akan memberikan ketentraman dalam keluarga, jauh dari pertengkaran serta percekcokan yang kerap menuju kepada sikap kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini harus dihindari, mengingat negara kita merupakan negara hukum. Barang siapa melakukan tindakan kekerasan terhadap seseorang akan mendapatkan imbalannya. Sikap manis perlu dilandaskan kepada istri bahkan kepada suami agar terbina keluarga yang tentram dan nyaman.

7. Sopan Santun
Wanita Jawa dituntut untuk mengangkat derajat laki-laki sebagai suaminya dengan berperilaku sopan dan santun di depan suaminya maupun khalayak publik. Sebab sedikit saja melanggar aturan atau sopan santun, maka mala petaka pasti akan datang, misalnya sedikit saja aurat wanita terbuka, pasti akan menimbulkan mala petaka bagi dirinya maupun orang lain. Memang menjadi kewajiban seorang wanita dalam kehidupan harus menerapkan sopan santun baik tingkah laku dan tutur kata.

Sikap sopan merupakan landasan bagi seseorang untuk menjaga harga dirinya, sebab bila ingin dihargai oleh seseorang maka harus belajar menghargai diri sendiri. Sebagai seorang wanita yang baik, seharusnya dapat menghargai dirinya sendiri dengan cara mengenakan pakaian yang baik dan sopan pula. Berjalan dengan kepala tertunduk, pandangan tidak kemana-mana dan ketika duduk merapatkan kedua tumitnya, serta tutur kata yang manis. Cara itu menunjukkan bahwa ia merupakan wanita yang baik dan banyak orang yang akan kagum dan memberikan rasa hormat kepada dirinya. Sikap sopan perlu ditanamkan sejak dini sehingga terbentuklah pribadi yang baik, khususnya kepada seorang wanita yang dalam hal ini sebagai pertimbangan sebagai pendamping suami.

8. Rela Berkorban
Rela berkorban dalam artian mampu menerima apa yang suami inginkan dengan hati yang lapang dan ikhlas. Seorang istri haruslah menurut apa yang dinginkan oleh seorang suami, sebaliknya seorang suami juga harus menghormati seorang istri sebagai pendamping hidupnya. Rela berkorban demi suami merupakan hal yang paling besar pahalanya, seorang istri haruslah setia tulus ikhlas bila ditinggal suami meninggal dunia dan tidak berpaling kepada yang lainnya.

Sikap rela berkorban seorang istri pada suaminya dapat dinyatakan dengan cara memberikan peluang dan semangat kepada suaminya untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang akan suami jalankan. Hal itu menjadikan hati suami canggung dan berat hati ketika melakukan pekerjaan. Banyak kecelakaan kerja yang disebabkan seorang pekerja sedang mengalami banyak pikiran. Rasa ikhlas dan ridho seorang istri kepada suaminya sangat penting, selain akan membuat suami giat bekerja keras untuk menafkahi keluarganya juga terhindar dari kecelakaan kerja.

9. Jujur
Orang yang arif bijaksana dalam sepak terjang kehidupannya selalu menggunakan pertimbangan masak. Mereka tidak bertindak grusa-grusu (tanpa perhitungan), melainkan segala sesuatunya, termasuk risiko yang mungkin terjadi telah diantisipasi terlebih dahulu. Kearifan juga berpengaruh pada sesorang untuk bertindak jujur. Sebab, ada pepatah yen ora jujur ajur, artinya jika tidak jujur bakal hancur nasibnya. Kejujuran juga dapat terjadi dalam hidup berkeluarga. Kejujuran anak terhadap orang tua, suami pada istri, serta istri pada suaminya. Kejujuran merupakan modal untuk menjadi keluarga yang tentram tanpa ada rasa curiga.

Sebagai wanita yang baik dituntut harus jujur dalam setiap perilakunya, wanita kerap kali selalu menyisihkan uang untuk sesuatu hal tertentu yang diinginkannya. Sebaiknya seorang wanita berbicara pada suami tentang keinginannya tersebut, tidak dengan cara sembunyi-sembunyi dan memotong anggaran belanja keluarga. Suami yang baik seharusnya tanggap terhadap kemauan isteri dengan bekerja lebih tekun demi tercapainya keinginan tersebut.

10. Setiti dan Hemat
Wanita harus dituntut untuk setiti dan hemat, setiti berarti memelihara segala sesuatu yang berada di rumah, misalnya setiti dalam memelihara perkakas rumah tangga, membersihkannya setiap kali sehabis dipakai, menata tata ruang rumah dan mengaturnya sehingga sedap dipandang mata. Selain setiti juga harus dapat hemat sehingga anggaran keluarga tidak membengkak, adapun caranya dengan membuat daftar anggaran keluarga, sehingga uang yang masuk dan keluar dapat diketahui dan dikendalikan.

Sikap hemat merupakan hal yang sangat penting dalam keluarga, ketika suatu keluarga dihadapkan dengan urusan keuangan. Peran istri sebagai pengendali laju keuangan keluarga harus pintar-pintar menyimpan uang dan menjalankan perekonomian keluarganya. Menghemat pengeluaran dan membuat anggaran rumah tangga merupakan salah satu jalan keluar dalam masalah finansial. Walau seorang suami memberi nafkah sedikit, seorang istri harus mampu mengolah dan menggunakan hasil kerja keras suami dengan bijaksana sehingga kebutuhan keluarga tercukupi. Hal tersebut menjadikan seorang suami bertambah cinta dan sayang terhadap istrinya.

11. Teliti dan Terampil
Sifat teliti dan terampil juga harus ditanamkan pada setiap wanita, sebab kalau tidak teliti dan terampil maka segala sesuatu kan menjadi kacau. Setiap pria menginginkan wanita yang teliti dan terampil dalam bekerja, oleh sebab itu setiap pekerjaan harus dilaksanakan dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih.  Sifat tanpa pamrih yakni alasan dasar manusia agar bekerja dengan motif yang bersih. Manusia yang mau rajin bekerja untuk dirinya dan keluarganya sudah cukup baik. Tetapi, orang baru dapat dikatakan sudah memenuhi tugasnya sebagai manusia jika ia banyak berbuat kebaikan bagi orang lain tanpa pamrih. Balasan amal hanya diharapkan datang dari Tuhan semata. Bukan semata-mata mengharapkan balas budi orang lain.

Mengacu kepada penjelasan di atas telah digambarkan berbagai tipe wanita idaman laki-laki. Banyak mengatakan bahwa wanita harus mempunyai kepribadian yang baik untuk menunjang kelangsungan berumah tangga, selain itu wanita juga harus pintar dalam berbagai hal.

Selasa, 12 Desember 2017

19 Ciri wanita bentuk fisik dan sifat pada pasangan

Gambaran bentuk fisik dari beberapa jenis wanita Jawa dan sifat terhadap pasangannya

Wanita jawa


Dalam Serat Centhini jilid 2 pupuh Lonthang menyebutkan tentang ciri-ciri wanita menurut bentuk fisik dan bagaimana sifat sehari-hari juga sikap terhadap pasangan, berikut pernyataan yang dimaksudkan.

1. Bongoh (katon becik nyenengake)
Mempunyai ciri-ciri berbadan gemuk, berseri dan kuat, wanita seperti ini biasanya mempunyai karakter bijaksana dalam memberi atau membuat keputusan bersama pasangannya yang memperistrinya akan merasa puas, karena sikapnya yang membuat hati pasangan menjadi merasa ringan dalam menentukan suatu keputusan. Wanita yang seperti ini biasanya dapat membuka asmaragama. Maksudnya sebelum melakukan hubungan seksual kedua pasangan tersebut melakukan puasa, jadi bila semakin lama ditahan nafsu seks maka lebih dahsyat ketika keduanya bertemu dan bermain olah asmara.

2. Sengoh (katon blengah-blengah/kuning nyenengake)
Wanita ini berkulit kuning, banyak senyum agak gemuk sehingga sedap dipandang. Wanita seperti ini dapat membangkitkan keinginan untuk asmaratantra. Maksudnya ketika akan melakukan hubungan seksual dimulai dengan mencium daerah tertentu. Bagian-bagian yang dicium merupakan titik yang membangkitkan nafsu seks. Seperti mencium bibir, dahi, pipi, mata, atau bagian tubuh lainnya. Oleh sebab itu harus pintar-pintar mempelajari tekhnik berciuman, maksudnya berciuman yang membawa kenikmatan bagi keduanya.

3. Plongeh (eseme kadya paite madu)
Wanita seperti ini mempunyai senyum di galir matanya, mempunyai karakter setia dan rela berkorban untuk suaminya. Rela berkorban dalam artian mampu menerima apa yang suami inginkan dengan hati yang lapang dan ikhlas. Yaitu wanita yang dapat membuat pasangannnya mabuk kepayang ibarat terkena sihir cinta yang meluluhkan jiwa.

4. Ndemenaken (ora rewel ora nakal)
Wanita seperti ini mempunyai sinar muka, sinar mata dan tutur katanya memabukkan dan mengenakkan hati pasangannya. Penampilannya dapat membangkitkan asmaranala. Maksudnya perasaan birahi yang timbul dari hati ke hati, jadi hubungan seksual yang dijalankan harus dengan keikhlasan hati kedua belah pihak untuk mencapai kepuasan bersama. Laki-laki yang memperistrinya akan merasa beruntung, karena sikapnya yang tidak rewel dan tidak meminta yang aneh-aneh.

5. Sumeh (manis semu ngguyu)
Wanita ini mempunyai pancaran wajah yang menampakkan bahwa ia mempunyai hati yang sabar sehingga pasangnnya mempunyai ketertarikan untuk merayunya. Wanita ini dapat membuka asmaranada, yaitu ketika akan melakukan hubungan seksual dimulai dengan merayu melalui gandrung atau lagu-lagu cinta, sehingga akan hati pasangan menjadi luluh dan merasa terangsang.

6. Manis (becik ngresepake)
Wanita ini mempunyai ciri manis air mukanya, murah senyum, kontak matanya yang membuat orang terpesona karena mempunyai daya yang mengandung perbawa yaitu kekuatan yang timbul dari kelebihannya dalam berbagai hal. Wanita seperti ini mampu membuka asmaratura, yaitu untuk membuka birahi dengan mengerlingkan mata dengan tatapan hangat dan penuh kasih sayang. Karena mata merupakan pancaran suasana hati, jika ketika melakukan hubungan seksual mata kita mempunyai tatapan hangat penuh kasih sayang dan penuh gairah, maka nikmatlah hubungan seks tersebut.

7. Mrakati (manis nyenengake)
Tipe wanita seperti ini mempunyai ciri menarik hati dengan pandangan mata dan lafal bicaranya yang mampu menyejukkan hati pasangannya. Cahaya mata yang membuat hati luluh terkena sihir cinta berupa asmaraturida, yaitu yaitu ketika melakukan hubungan seksual selalu diringi nyanyian atau lagu-lagu bernuansa kasih sayang. Untuk mencapai kepusan bersama perlu rayuan-rayuan yang syahdu yang membuat hati terlena dan desahan-desahan yang membuat mabuk kepayang keduanya. Laki-laki yang memperistrinya akan beruntung sekali, karena untuk mendapatkannya membutuhkan usaha yang sangat keras untuk meluluhkan hatinya.

8. Jatmika (tangsah nganggo tata-trapsila)
Wanita ini mempunyai sifat yang sopan santun, sehingga yang memperistrinya akan mendapatkan ketenangan pikiran dan dapat membuka jalan penalaran yang benar. Untuk membuka birahi harus dengan pendekatan hati yang membuat jiwa bergetar. Yaitu cahaya mata yang mempunyai daya meluluhkan hati pasangan.

9. Susila (becik bebudine)
Wanita seperti ini mampunyai budi yang baik, hati yang narima dan legawa yang menjadi kelebihannya yaitu bisa menyatu dengan cahaya hati pasangannya. Sebagai wanita yang baik dan pengertian serta menjunjung tinggi tatakrama sebagai landasan menjalani kehidupan banyak lelaki yang mencari tipe wanita seperti ini. Sehingga lelaki yang memperistrinya akan mendapat suatu anugrah yang besar dari Tuhan.

10. Kewes (tarampil wicara)
Tipe wanita seperti ini mempunyai roman muka manis, cara berpakaian yang serba pas, tidak macam-mecam, sikap tegas, tajam pandangannya, membuat pasangannya tertarik untuk mengajak bicara. Bagi yang memperistrinya akan sangat beruntung, karena ia merupakan tipe ideal.

11. Luwes (ora wagu, gampang diatur)
Wanita ini mempunyai daya tarik terhadap pasangannya dengan cara bicara yang fasih dan lemah-lembut gerak-gerik anggota tubuhnya wanita seperti ini mampu menyenangkan pasangannya. Sehingga yang memperistrinya akan menjadi senang dan tentram hati saat memandangnya.

12. Gandes (luwes, kewes)
Hampir sama dengan tipe wanita luwes, tetapi wanita ini juga mempunyai tutur kata manis dan perilakunya menarik hati. Sehingga yang memperistrinya akan merasa sangat beruntung mendapatkan wanita dengan tipe ini, dengan memandangnya saja hati berdegup kencang.

13. Dhemes (sarta pas)
Wanita ini mempunyai ciri sikap yang tenang dengan tutur kata yang kalem dan sopan tingkah lakunya. Wanita ini dapat membuat hati pasangannya menjadi senang dan tentram melihat tingkahlakunya.

14. Sadhet (lincah)
Wanita ini mempunyai ciri sadhet atau tubuhnya berbentuk sedang bersifat cekatan dan tidak suka menyela saat ada yang berbicara. Dengan kelebihannya sebagai wanita yang cekatan, maka segala urusan rumah tangga cepat terselesaikan dan tentunya membuat pasangannya merasa puas dengan pelayanannya.

15. Bentrok (padet awake)
Wanita ini mempunyai ciri tubuh yang besar, tinggi, dan bersisi sehingga seimbang bentuk tubuhnya. Wanita ini mempunyai sifat yang sembada, yaitu selalu merasa cocok terhadap segala apapun. Dalam mengerjakan pekerjaan dengan teliti dan hati-hati sehingga pekerjaannya selesai dengan sempurna.

16. Lencir (duwur pawakane)
Wanita seperti ini berciri-ciri mempunyai postur tinggi semampai dan anggota tubuhnya berbentuk bulat berisi. Sehingga yang menatapnya akan terpesona dan ingin mengajak dia berasmaragama. Maksudnya sebelum melakukan hubungan seksual kedua pasangan tersebut melakukan puasa, jadi bila semakin lama ditahan nafsu seks maka lebih dahsyat ketika keduanya bermain olah asmara.

17. Sarenteg (cendik lan lemu)
Wanita ini mempunyai ciri sarenteg, artinya tinggi tubuhnya kurang tinggi, anggota tubuhnya bulat gemuk, dan buah dadanya gemuk. Wanita ini mempunyai sifat yang welas-asih terhadap pasangannya, akan tetapi bila pasangannya melakukan kesalahan maka kesalahan tersebut akan diingat-ingat seumur hidup dengan kata lain mempunyai hati pendendam. Jadi hati-hati bila menemui wanita seperti ini, harus pintar-pintar menjaga hati.

18. Lejag (polahe jag-jagan)
Wanita seperti ini patut dipertimbangkan untuk dijadikan pasangan hidup, sebab ia mempunyai kepribadian kurang dan tidak sedap tingkah lakunya. Biasanya wanita ini mempunyai ciri bertubuh agak kecil namun tinggi. Wanita seperti ini mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu sifat serik, iri,
dan dengki.

19. Rangkung (pawakan lencir cilik)
Wanita rangkung, berarti wanita yang mempunyai tubuh agak krempeng dengan anggota tubuhnya bulat besar dan posturnya kurang tinggi. Biasanya wanita tipe ini mempunyai sifat yang perhatian yang besar terhadap pasangannya, tetapi dibailk sifat perhatiannya ia juga mempunyai sifat iri, dengki, selalu berfikiran yang negatif. Bagi yang telah memperistrinya diharapkan dapat menjaga hati sehingga dapat meminimalisir sifat jeleknya.

Kebanyakan wanita memang tidak mengacu pada penjelasan di atas, namun kerap kali merupakan akumulasi kompleks dari tipe-tipe wanita tersebut, jadi untuk memilih pasangan yang baik harus melewati banyak pertimbangan demi mendapatkan pasangan yang baik. Mempertimbangkan bibit, bebet, dan bobotnya. Menegaskan pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa tipe wanita terdiri dari beberapa macam dan kesatuan yang membuat seorang wanita tersebut sempurna dilihat oleh lawan jenisnya.

Sedikit banyak masukan dari uraian diatas merupakan gambaran dari beberapa jenis wanita Jawa khususnya yang merupakan tipe ideal yang diharapkan seorang laki-laki. Namun dengan bijaksana menyikapi hal tersebut wanita dengan menjadi diri sendiri serta percaya dengan kemampuan sendiri itu lebih baik.


Referensi:
Kamajaya. 1985. Serat Centhini. Yogyakarta: CV. Surya Gading.
Kamajaya. 1985. Serat Centhini Latin. Yogyakarta: Yayasan Centhini.
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Senin, 11 Desember 2017

Mitos jawa memilih waktu yang tepat untuk bercinta

Mitos Orang Jawa dalam Memilih Waktu yang Tepat untuk Bercinta

Pasangan bercinta


kehidupan orang Jawa banyak dipengaruhi mitos, hal ini tampaknya berkaitan dengan paham kejawen yang mereka anut. Mitos di Jawa erat kaitannya dengan keyakinan atau kepercayaan. Banyak ragam mitos orang Jawa, misalnya mitos larangan, mitos tentang dewa-dewa, mitos ajisaka, mitos semar dan lainnya.

Seperti ajaran tentang seks dalam masyarakat Jawa juga melewati sastra baik sastra lisan maupun sastra tulis, yaitu karya sastra. Sebagai contoh, sastra lisan unen-unen yang berbunyi witing tresno, jalaran saka kulina. Tidak banyak orang yang tahu arti dari unen-unen tersebut, dibalik itu semua terdapat arti yang sangat mendalam dalam kehidupan manusia, karena tiada cinta tanpa mengenal siapa dan bagaimana orang yang dekat, dengan kata lain cinta tumbuh dengan sendirinya karena suatu kebiasaan. Secara sadar atau tidak sadar, hubungan persahabatan atau lainnya, antara laki-laki dan perempuan pasti melibatkan emosi atau perasaan, maka semakin dekat hubungan mereka maka semakin dekat pula hubungan emosi di antara keduanya.

Masyarakat Jawa juga mempercayai bahwa bercinta pada malam tertentu akan bertuah baik dan tidak baik. Mitos tersebut telah dipercayai secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. Hal diperkuat oleh sabda Kanjeng Nabi Muhammad dalam Ensiklopedi Serat Centhini ketika menasehati Dewi Fatimah dan Sayid Ali mengenai menunaikan kewajiban suami istri adalah sebagai berikut, “Wahai Ali, nasihatku, jangan engkau bercinta pada tanggal satu atau akhir bulan, keduanya tidak baik. Jika jadi anaknya kecil, lagi pula jangan bercinta tanpa lampu penerangan. Jika kelak menjadi anak, maka anakmu bodoh dan kurang berbudi. 

Jangan pula bercinta pada hari Ahad dan malamnya. Jika jadi anak, maka anaknya menjadi penjahat. Juga jangan bercinta pada hari Rabu dan malamnya, itu tidak baik sebab bila jadi anak maka anaknya akan celaka. Jangan bercinta pada waktu fajar, itu juga tidak baik. Jika jadi anak, maka anaknya akan kelewat hina. Jangan pula ditengah hari, jika jadi anak, dia akan menjadi tukang jampi. Begitu pula jangan bercinta pada malam menjelang hari raya, sebab jika jadi anak, akan menjadi durhaka pada ayah ibunya. Jangan pula bercinta pada saat menjelang hari raya besar, kemungkinan bila jadi anak, akan menjadi siwil adatnya.

Jangan bercinta di tempat yang terkena sinar matahari, sebab anaknya kelak akan menjadi anak yang jauh rezeki. Lagi pula jangan bercinta sambil berdiri sebab anaknya kelak akan menjadi anak yang mempunyai sakit beser, sedikit-sedikit kencing. Jangan pula bercinta pada hari Sabtu juga malamnya, sebab anaknya akan celaka dengan air, bisa tenggelam dalam kolam atau terkena musibah banjir. Jangan pula bercinta dengan mengusap vagina dan penis dengan kain jarik atau pakaian, tetapi lebih baik diusap dengan kain yang tidak dipakai anggota tubuh, sebab anaknya akan menjadi kurang baik budinya.

Jangan bercinta sambil berbicara dan menggunjing, sebab anaknya kelak akan menjadi suka menganiaya. Jangan bercinta dengan melihat vagina, anaknya akan menjadi biadab, jangan bercinta dibawah pepohonan, anaknya suka menganiaya. Juga jangan bercinta menjelang malam Barahat, sebab anaknya kelak akan mempunyai penyakit yang tak kunjung sembuh. Janganlah bercinta di penginapan, kelak anaknya akan celaka sekali. Jangan bercinta pula saat istri datang bulan, sebab bila jadi anaknya akan menderita penyakit kusta. Bila wanita sedang haid jangan menggodanya, lebih baik mencari pelampiasan lain.

Jangan pula bercinta pada Sabtu Legi, anaknya jelek juga gila. Jangan bercinta pada malam 3 grebeg Maulud, Puasa, Besar, itu tidak baik, anaknya akan menderita penyakit ayan. Hindarilah bercinta Sabtu Legi dan malam 3 Maulid tersebut, alangkah lebih baik tahanlah rasa syahwat tersebut. Karena larangan orang tua itu bila dilanggar, akan mendapat mara bahaya.

Baiknya bercinta pada malam Senin, anaknya akan rajin mengaji. Bercintalah pada hari Selasa menuju siang, anaknya banyak yang suka. Bercintalah pada hari Kamis, anaknya banyak rejeki. Bercintalah pada malam Jum’at, anaknya akan pandai. Serta bercinta pada hari Jum’at dan Kamis, anaknya akan menjadi penghulu. Saat bercinta mulailah dengan berdoa, membaca basmalah dan taawud. Bila tidak anaknya akan kurang berbudi.

Bercinta setelah Duha itu juga baik, kerena anaknya akan menjadi ulama dan banyak rejekinya. Itu semua adalah perkataan para orang tua, bila dilaksankan akan mendapatkan kebaikan dan jauh dari mara bahaya, untuk menghindari naas atau kejelekan alangkah baiknya menghindari bercinta padaa tanggal-tanggal tertentu, seperti menghindari naas para Nabi. Pada tanggal 13 Asyura Nabi Ibrahim dibakar, tanggal 3 Maulid Nabi Adam turun ke bumi. Tanggal 16 Robiul akhir Nabi Yusuf diamsukkan sumur, tanggal 5 Jumadil Nabi Nuh tenggelam beserta kaumnya yang ingkar, awal Puasa Nabi Musa terjun ke laut.

Tanggal 24 Puasa Nabi Yunus dimakan ikan paus, tanggal 25 Besar Nabi Muhammad dilempar batu hingga tanggal 2 giginya. Juga menghindari tanggal 3, 5, 13, 16, 24, 25 disetiap bulan karena tidak baik. Juga bulan Puasa, Syawal, Dulkaidah pantangan untuk bercinta adalah pada hari Jumat. Bulan Besar, Sura, Sapar pantangan untuk bercinta jatuh pada hari Sabtu dan Ahad. Bulan Maulid, Rabingulakir, Jumadil awal pantangan untuk bercinta terdapat pada hari Senin dan Selasa. Bulan Jumadil akir, Rajab, Ruwah pantangan untuk bercinta adalah pada hari Rabu dan Kamis.

Melihat pandangan di atas, masyarakat Jawa sangat mempercayai akan hal tersebut karena sifat masyarakat Jawa sangat menghargai petuah atau ajaran leluhurnya. Mitos-mitos tentang mempercayai hari-hari tertentu untuk melakukan hubungan seksual dan tidak melakukan hubungan seksual sangat lekat pada masyarakat Jawa. Memang banyak yang tidak percaya terhadap mitos-mitos tersebut, tetapi banyak pula yang telah membuktikan kebenaran mitos tersebut.

Menyikapi hal tersebut alangkah bijaksana kita bisa mengambil hikmah dibalik mitos tersebut dan menjalankannya untuk mendapatkan keturunan yang baik dan berguna bagi orang tua, masyarakat, dan nusa bangsa. Sikap bijaksana juga dijalankan dalam menyikapi pernyataan di atas, dengan mendekatkan diri kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah zat yang Maha Mengetahui dan Maha Berkehendak.

Penjelasan di atas mengacu pada Serat Centhini (1985: 90-99) I jilid pupuh Sinom dan Asmaradana. Dalam pupuh tersebut dijelaskan tentang berbagai macam hari baik dan buruk untuk melakukan hubungan suami istri. Ditegaskan pula bagaimana pantangan terhadap hari-hari yang disebutkan, ada pula nasehat-nasehat bagi pasangan yang baru menikah untuk melakukan hubungan badan. Pemilihan hari yang baik demi mendapatkan keturunan yang baik. Seperti telah dijelaskan bahwa melakukan hubungan seks pada malam Senin, anaknya akan menjadi anak yang rajin mengaji, hari Selasa menuju siang, anaknya akan banyak yang suka dan menjadi idola bagi orang-orang, hari Kamis anaknya akan banyak rejeki merupakan pengharapan menjadi orang yang sukses dalam bidangnya kelak, bercinta pada malam Jum’at, anaknya akan pandai kaya ilmu dunia dan akhirat (agama). Bercinta pada hari Jum’at dan Kamis, anaknya akan menjadi penghulu dan banyak memberi pertolongan bagi sesamanya.

Ada pula hari yang pantang untuk melakukan hubungan seks, yaitu hari saat naas nabi-nabi juga hari-hari berikut yaitu pada hari Sabtu Legi, anaknya jelek juga gila, menjadi aib keluarga kebanyakan penyakit gila yang menjadi bawaan lahir. Jangan bercinta pada malam 3 grebeg Maulud, Puasa, Besar, anaknya akan menderita penyakit ayan dan kunjung tiada obatnya. Juga jangan bercinta saat wanita haid, anaknya akan mempunyai penyakit kusta. Jadi secara garis besar nasehat-nasehat itu menjadikan suatu pegangan dan petuah sendiri untuk melakukan hubungan seks demi mendapatkan keturunan yang baik secara jasmani dan rohani.


Referensi:
Kamajaya. 1985. Serat Centhini. Yogyakarta: CV. Surya Gading.
Koentjaraningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Dwiyanto, Djoko. 2008. Ensiklopedi Serat Centhini. Yogyakarta: Panji Pustaka.

Rabu, 06 Desember 2017

9 Faktor permasalahan hutang kartu kredit

Kartu kredit

Kartu kredit adalah salah satu bentuk produk keuangan sebagai alat pembayaran. Sistem pembayaran elektronik memiliki tingkat efisiensi yang lebih tinggi, cepat, mudah, aman, nyaman, oleh karena itu keberadaan kartu kredit membuat semakin praktisnya pembayaran, karena pengguna kartu kredit tidak perlu memegang uang tunai. Prinsip kartu kredit adalah “buy first pay later”, yaitu para pengguna kartu kredit dapat bertransaksi terlebih dahulu tanpa perlu memikirkan uang tunai yang mereka miliki saat itu. Prinsip ini berguna ketika kartu kredit sebagai jaminan atau uang muka, seperti pembelian mobil, rumah, atau pembayaran rumah sakit.

Dari pengalaman-pengalaman negara Hongkong SAR, Korea Selatan, Taiwan, Amerika, dan Indonesia dapat diambil beberapa faktor-faktor yang mengubah hutang kartu kredit menjadi sebuah masalah bagi industri perbankan dan negara, sebagai berikut:

1. Keadaan Ekonomi Makro yang Tidak Stabil
Keadaan makroekonomi yang tidak stabil penyebab pertama terjadinya krisis perbankan. Dari negara-negara yang digunakan dalam penelitian ini, peningkatan penggunaan dan hutang kartu kredit yang cepat diakibatkan oleh peralihan pemerintah ke sektor konsumsi karena menurunnya sektor investasi dan ekspor. Hutang rumah tangga melalui hutang kartu kredit dapat mendorong pertumbuhan ekonomi negara melalui pertumbuhan sektor rumah tangga, seperti yang terjadi di Korea Selatan, Hongkong SAR, dan Taiwan. Pemerintah negara tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi yang telah mengalami resesi akibat krisis Asia tahun 1997.

Selanjutnya negara Amerika juga mengalami permasalahan hutang kartu kredit yang juga dipengaruhi oleh keadaan makro ekonomi yang tidak stabil akibat krisis Global 2008. Krisis ini meningkatkan tingkat pengangguran di Amerika dan membuat pengguna kartu kredit mengalami kesulitan membayar hutangnya. Akibatnya, hutang kartu kredit menjadi ketakutan krisis selanjutnya bagi Amerika karena kartu kredit sudah menjadi gaya hidup transaksi mayoritas bagian dan masyarakat Amerika.

2. Gelembung Hutang Kartu Kredit (Credit Bubble)
Asset price bubbles atau credit booms – bust atau credit crunch memicu krisis keuangan. Credit bubble adalah menggelembungnya hutang kartu kredit dan meledak. Menggelembungnya hutang kartu kredit terlihat dari semakin besarnya hutang kartu kredit yang dimiliki negara hingga mulai terganggu fungsi intermediasinya karena tidak ada kewajiban hutang yang terbayarkan.

Hutang kartu kredit meledak ketika perbankan dan lembaga kartu kredit menggunakan wewenangnya untuk meningkatkan tingkat bunga, biaya yang wajib dibayar per bulan, dan biaya pinalti keterlembatan untuk menghindari gagal bayar. Bukan terhindarnya gagal bayar, tetapi semakin besarnya pengguna yang gagal bayar dan mengajukan kebangkrutan pribadi. Pemotongan pendapatan dan penghilangan hak hutang dari penerbit kepada pemegang kartu kredit membuat pemegang kartu kredit semakin tidak mampu membayar hutang mereka di sisi lain mereka memiliki kehidupan yang perlu dibayar. Kebijakan penghentian hak hutang pemegang kartu kredit dari kesepakatan terdahulu ditetapkan agar jumlah hutang tidak semakin besar, baik untuk penerbit kartu kredit tetapi bagi pemegang kartu kredit yang tidak lagi memiliki pendapatan dan aset yang cukup untuk menutup hutang mereka menjadi tombak karena gali lubang tutup lubang tidak bisa digunakan.

3. Ketidaksiapan Penerbit Kartu Kredit dan Pemerintah Menghadapi Liberalisasi Keuangan
Liberalisasi keuangan adalah membuat semakin efisienya sistem pembayaran dan transaksi dalam sistem keuangan. Industri kartu kredit adalah salah satu bentuk liberalisi keuangan. Ketidaksiapan dalam liberalisasi keuangan dalam industri kartu kredit menjebak penerbit kartu kredit, pemegang kartu kredit, dan pemerintah.

Ketidaksiapan liberalisasi keuangan terlihat dari kurangnya pengetahuan dan pengalaman pelaku kartu kredit baru ataupun lama di industri kartu kredit. Bentuk ketidaksiapan adalah proses penyaringan peminjam dan standar peminjaman (underwriting standard) yang dianggap ringan hingga standarnya diturunkan untuk mendapatkan pemegang kartu kredit, seperti apakah memiliki pendapatan, kemampuan membayar kewajiban, dan riwayat pinjaman calon pemegang kartu kredit. Bentuk ketidaksiapan yang lain adalah terbatasnya infrastruktur pelaporan dan saling berbagi informasi tentang kredit, seperti riwayat pemegang kartu kredit yang baik atau buruk, siapa yang memiliki kartu kredit di suatu penerbit, dan seberapa besar kewajiban pengguna tersebut. Meskipun terbatasnya infrastruktur pelaporan kredit, beberapa lembaga penerbit dan perbankan sengaja menyembunyikan informasi sebagai bentuk monopolisitik industri kartu kredit bagi perusahaan mereka.

4. Manajemen Hutang Pemegang Kartu Kredit yang Buruk
Hutang kartu kredit macet yang besar ketika tidak dimanajemen dengan baik akan membawa penggunanya bukan sebagai pengguna gagal bayar, tetapi menjadi personal bankruptcy. Besarnya hutang diakibatkan oleh beberapa faktor, yaitu pertama pengguna kartu kredit ingin memenuhi standar hidup tinggi yang tidak bisa mereka capai tanpa kartu kredit, karena alasan status dan ingin kehadirannya dihormati.

Kedua, penggunaan kartu kredit yang tidak semestinya seperti perjudian dan menggunakannya untuk mayoritas konsumsinya tanpa melihat apakah dia mampu melunasi atau tidak. Ketiga, ekspektasi pengguna bahwa pendapatan mereka akan bertambah di masa yang akan datang dan pemikiran bahwa dia besok akan mendapatkan pekerjaan. Pemikiran ini mendorong penggunanya untuk melakukan konsumsi di atas kemampuan rata-ratanya karena berpikir besok akan bisa melunasinya. Tetapi ketika ekspektasi tersebut tidak terjadi, yang terjadi adalah penumpukan hutang yang belum terbayarkan dan pengeluaran yang berlebihan hingga melebihi pendapatan (over budget).

Ketika pengguna kartu kredit dihadapkan pada hutang yang menumpuk dan relatif besar, mereka seharusnya tidak lagi menggunakan hutang-hutangnya dan mulai mencari pendapatan untuk segera melunasi hutang. Tetapi khususnya revolvers yang mengalami kecanduan akan kartu kredit akan terus menggunakan hutangnya hingga mulai sadar sudah mencapai batas limit kreditnya, sehingga hutang semakin besar dan menjadi beban hidup mereka.

5. Informasi Asimetris
Informasi asimetris merupakan faktor utama terciptanya pemegang kartu kredit bermasalah dan pemegang kartu kredit yang gagal bayar. Informasi asimetris diwakili dengan kurangnya informasi pokok tentang pemegang kartu kredit kartu kredit dan informasi tentang industri kartu kredit. Informasi asimetris disebabkan oleh turunnya standar pinjaman akibat kompetisi antar pembuat kartu kredit, kurangnya pengalaman dan pengetahuan para pelaku industri kartu kredit, dan penerbit kartu kredit yang tidak transparan.

Salah satu standar peminjaman adalah penyaringan pemegang kartu kredit yang sesuai (screening) seperti apakah memiliki pendapatan yang sesuai, mampu membayar kewajiban, dan riwayat kredit calon maupun pemegang kartu kredit. Karena turunnya standar peminjaman untuk mendapatkan pengguna yang banyak, terdapat pengguna yang tidak memiliki pendapatan bisa memperoleh kartu kredit hingga yang memiliki pendapatan rendahpun dapat memiliki kartu kredit dengan limit yang diminta pengguna. Dampak informasi asimetris mengenai pengguna berdampak pada pemberian proporsisi hutang yang tidak sesuai seperti lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dan tabungan aktual mereka.

Informasi asimetris tidak hanya dari pengguna tetapi juga dalam bentuk tidak transparannya penerbit kartu kredit kepada calon atau pemegang kartu kredit mengenai dampak negatif dari kartu kredit, seperti wewenang penerbit untuk mengubah tingkat bunga, batas minimum pembayaran perbulan dan biaya pinalti keterlambatan, kemudian memanfaatkan minimnya pengetahuan pengguna mengenai fungsi tingkat bunga yang bersifat eksponen bukan aritmatika.

6. Penipuan Manajemen oleh Penerbit Kartu Kredit
Penipuan manajemen adalah ketika penerbit kartu kredit atau oknum tertentu menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Penipuan yang sering terjadi adalah pemberian informasi tentang industri kartu kredit yang kurang transparan dari lembaga penerbit kepada pengguna kartu kredit, khususnya dampak-dampak apa yang akan terjadi jika pengguna kartu kredit telat dan/atau gagal bayar, perhitungan tingkat bunga, charge, dan fee.

Penerbit kartu kredit sering menawarkan kartu kredit hanya dengan informasi tingkat bunga rendah hingga 1 persen, reward, bonus, dan kemudahan. Ketika pengguna kartu kredit terlambat membayar, banyak penerbit kartu kredit menerapkan universal default, yaitu penggandaan tingkat bunga dan biaya pinalti yang tak diketahui dengan pasti batas besarannya oleh pemegang kartu kredit. Hal-hal inilah yang membebani pemegang kartu kredit untuk membayar tagihan hingga terjadi kredit macet. Sebagai contoh kasus di Indonesia, terdapat pemegang kartu kredit yang memiliki hutang kartu kredit sebesar Rp 17 juta dengan limit kartu kredit Rp 4 juta. Pemegang kartu kredit tidak lagi menggunakan kartu kredit karena telah mengalami kebangkrutan. Namun, setelah 10 tahun berlangsung tidak memakai kartu kredit, keluarga dekat pemegang kartu kredit tersebut mendapatkan telepon yang mengagetkan dari salah satu penerbit kartu kredit terkait, yaitu hutang kartu kredit yang harus dibayar pemegang kartu kredit tersebut telah mencapai Rp 107 juta.

7. Kurangnya Manajemen Resiko Kredit yang Diterapkan Penerbit Kartu Kredit
Kompetisi intensif antar penerbit kartu kredit untuk mendapatkan keuntungan tinggi membuat mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pemegang kartu kredit yang baru. Pelonggaran standar pinjaman yang meningkatkan resiko pengguna yang gagal bayar dan masalah likuiditas bagi perbankan dan lembaga penerbit.

Pelonggaran standar pinjaman menunjukkan bahwa manajemen resiko yang dilakukan perbankan dan lembaga penerbit tidak tepat. Ketidaktepatan ini memperbesar hubungan antara pelonggaran standar pinjaman dengan pengajuan personal bankruptcy karena kurangnya informasi akan kemampuan para pemegang kartu kredit membayar kewajibanya.

8. Kesalahpahaman Penerbit Kartu Kredit dan Hyperbolic Discounters Tentang Keberadaan Kartu Kredit
Kesalahan utama bagi pemegang kartu kredit adalah menganggap kartu kredit sebagai sumber pendapatan selain pendapatan dan tabungan aktual yang mereka miliki terutama pengguna yang masuk dalam kategori revolvers atau hyperbolic discounters. Kesalahan yang kedua adalah menyalahgunakan kartu kredit bukan untuk kebutuhan mereka tetapi lebih kepada keinginan dan kesenangan seperti perjudian. Dalam kasus ini, ibaratnya memberi gula kepada pasien diabetes.

Kemudian, kesalahpahaman penerbit kartu kredit adalah menganggap kartu kredit menjadi obligasi, yaitu mendapatkan profit tetap dari tingkat bunga personal loan yang tinggi karena resiko kredit macet yang tinggi. Selain itu, mereka juga menjadikan kredit konsumsi menjadi aktifa produktif untuk mendapatkan penerimaan yang berkelanjutan dengan mengubah sudut pandang keuntungan terbesar bukan berasal dari orang yang melunasi hutang mereka, tetapi pemegang kartu kredit yang konstan berhutang kepada penerbit kartu kredit. 

Bank-bank memosisikan revolvers atau hyperbolic discounters menjadi sasaran empuk dan tidak memikirkan dampak negatif dari resiko kredit macet para revolvers atau hyperbolic discounter terutama ketika mereka mendominasi pengguna industri kartu kredit penerbit tersebut. Akibatnya, ketika terjadi kredit macet, pemegang kartu kredit berhadapan pada beban hutang yang besar dan debt collector, kemudian penerbit kartu kredit berhadapan pada NPL yang dapat terus meningkat hingga mengarahkan mereka ke dalam masalah likuiditas.

9. Kesalahan Penetapan Kebijakan Oleh Pemerintah
Pertumbuhan ekonomi merupakan hal penting yang mencerminkan kekuatan ekonomi negara. Ketika kartu kredit dapat menyeimbangkan perekonomian pemerintah menetapkan kebijakan untuk menyuburkan pertumbuhuan kartu kredit dengan menciptakan kondisi yang mudah bagi para pelaku industri kartu kredit.

Kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah adalah bergantung pada sektor konsumsi yang beresiko bubble dan melakukan ekspansi kredit yang pesat. Ketika ratio household loan to disposable income lebih dari 50 persen, hal ini menunjukkan bahwa terdapat banyak pemegang kartu kredit yang memiliki proporsisi hutang lebih besar dibanding pendapatan aktual. Dari inilah gelembung hutang mulai meledak dan dapat mengganggu sistem perbankan dan sistem keuangan.

Pembuat kebijakan seharusnya meminimalkan resiko hutang dan memperlambat pertumbuhan kredit karena resikonya yang besar, bukan menampilkan kekuatan ekonomi bubble yang akhirnya menciptakan resesi dan pengeluaran fiskal yang besar karena terjadinya krisis perbankan.


Referensi:
Mansfield, Phylis M., Mary Beth Pinto, dan Cliff A. Robb. 2013. Consumers and Credit Cards: A Review of The Empirical Literature. Journal of Management and Marketing Research.
Vodová, Pavla. 2003. Credit Risk as A Cause of Banking Crises. Silesian University, School of Business Administration, Department of Finance, Czech Republic.
Ogilvie, Don. 2009. Crisis in The Credit Card Industry – Navigating The Perfect Storm. Deloitte Center for Banking Solutions.