Live

Perjuangan hidup dan bertahan hidup harus semangat bagi umat manusia di dunia.

Arsip Info

Kamis, 18 Oktober 2018

Inilah cara pencegahan gigitan ular harus anda tahu

Gigitan ular
Ular tersebar secara luas di seluruh dunia, mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi, kecuali Antartika dan beberapa pulau kecil seperti Greenland, Hawaii, Islandia, Irlandia, dan Selandia Baru. Ular bersifat ektoterm dimana panas tubuh ular berasal dari lingkungannya. Untuk itu, saat siang hari ular seringkali ditemukan di tempat yang sejuk agar terlindung dari sinar matahari langsung, sementara pada malam hari, ular cenderung menghangatkan diri dibalik bebatuan atau benda lainnya. Sifat ular yang ektoterm ini juga yang membuat ular lebih nyaman berada di wilayah tropis, termasuk Indonesia.

Ular merupakan jenis hewan melata yang banyak terdapat di Indonesia Spesies ular dapat dibedakan atas ular berbisa dan ular tidak berbisa. Ular berbisa memiliki sepasang taring pada bagian rahang atas. Pada taring tersebut terdapat saluran bisa untuk menginjeksikan bisa ke dalam tubuh mangsanya secara subkutan atau intramuskular. Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri.

Gigitan ular merupakan suatu keadaan gawat darurat yang apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Resiko infeksi gigitan lebih besar dari luka biasa karena toksik / racun mengakibatkan infeksi yang lebih parah. Tidak semua ular berbisa tetapi karena hidup pasien tergantung ketepatan diagnosa maka pada keadaan yang meragukan ambil sikap menganggap semua gigitan ular berbisa.

Berikut ini adalah cara pencegahan dari gigitan ular yang harus anda ketahui:

1. Di dalam rumah
  • Jaga rumah dari tikus yang merupakan mangsa dari ular.
  • Jangan memelihara hewan ternak yang merupakan mangsa ular (misal: ayam) di dalam rumah.
  • Hindari membangun rumah dengan konstruksi yang akan memberikan tempat persembunyian untuk ular, misalnya jerami dengan atap terbuka, dinding jerami dengan celah yang besar, serta lantai yang tidak tertutup secara sempurna.
  • Hindari tidur di atas lantai. Jika memang tidak dapat dihindari, gunakanlah kelambu untuk menghindari gigitan ular.
2. Di area kebun atau halaman rumah
  • Bersihkan rongsokan material bangunan, gundukan sampah, atau sarang rayap karena dapat menjadi sarang ular.
  • Pangkaslah pohon agar tidak menjulur ke arah rumah dan potonglah rumput serta semak menjadi pendek.
  • Tempatkanlah lumbung padi jauh dari rumah agar tidak menjadi sarang ular.
  • Kolam atau kubangan air dapat mengundang katak yang menjadi mangsa ular.
  • Dengarkanlah binatang liar atau peliharaan, biasanya hewan lain akan berisik untuk memperingatkan kehadiran ular.
  • Gunakan alat pencahayaan misalnya senter saat berjalan keluar rumah, pergi ke WC saat
    malam hari atau bersantai di depan rumah.
3.  Di pedesaan
  • Hindari mengumpulkan kayu bakar pada malam hari. Gunakan sepatu boot karet dan celana
    panjang saat berjalan di kegelapan, semak atau saat panen. Ular banyak keluar saat musim
    hujan, waspadalah!
  • Jangan memasukkan tangan ke lubang apa pun di tanah.
  • Bawalah alat penerangan misalnya senter dan obor serta tongkat saat berjalan di malam hari. Berikan penerangan yang cukup di halaman rumah dan sekitar WC.
  • Jangan menyentuh ular mati.
4. Di jalan raya
  • Jangan melindas ular, karena dapat membahayakan pejalan kaki. Selain itu ular dapat terperangkap di dasar kendaraan dan akan keluar saat kendaraan di parkir.
5. Di sungai, muara atau laut
  • Jangan menyentuh ular laut yang terperangkap di jaring ikan. Gunakan tongkat sebagai alat bantu. Waspadalah karena kepala dan ekor ular kadang sukar dibedakan.
  • Waspadalah saat mandi atau mencuci pakaian di pinggir sungai, muara atau laut.
Waspadalah jika melihat ular di mana pun anda berada, karena gigitan ular berbisa sangat berbahaya dan dapat membunuh manusia.

Rabu, 17 Oktober 2018

Asal nama, klasifikasi, dan manfaat bunga sakura

Bunga sakura

Jepang sebagai salah satu negara kepulauan yang memiliki panorama alam yang sangat indah, contohnya pohon sakura. Sakura mulai mekar mulai dari wilayah selatan (Okinawa) sampai wilayah utara (Hokkaido). Sakura bisa dikatakan sebagai lambang musim semi di jepang, karena sekitar pertengahan bulan maret sampai akhir bulan april adalah musim hanami. Pada umumnya sakura dimulai Dari ranting-ranting pohon yang tak berdaun, kemudian muncul kuncup-kuncup bunga. Kuncup-kuncup bunga ini akan mekar secara hampir bersamaan. Bunga Sakura hanya dapat bertahan paling lama seminggu setelah mekar dengan sempurna, dan kemudian sedikit demi sedikit kelopak-kelopak bunganya akan berguguran, berganti munculnya daun-daun berwarna hijau.

Asal kata nama sakura

Sakura selalu diidentikkan dengan negara Jepang, meskipun sebenarnya sakura tidak hanya tumbuh di jepang. Di negara-negara lain seperti di amerika, korea, dan china, juga terdapat bunga sakura, bahkan di indonesia saat ini berhasil mengembangkan bunga sakura. Namun, bunga ini selalu menjadi icon negara jepang, dan mempunyai hubungan erat dengan masyarakat jepang. Kata "sakura" itu sendiri berasal dari kata "saku" dalam bahasa Jepang, yang artinya "mekar", ditambah akhiran yang menyatakan bentuk jamak "ra". Secara harafiah yang berarti, bunga-bunga mekar. Dalam bahasa Inggris, bunga sakura disebut cherry blossom.

Klasifikasi bunga sakura

Bunga sakura berasal dari Cina, namun, Karena bangsa jepang telah berhasil mengembangkannya, maka bunga ini lebih terkenal di jepang. Bangsa jepang menyilangkan satu jenis sakura dengan sakura jenis yang lain. Kalau dilihat sekilas semua jenis sakura, nampak sama. Tetapi sebenarnya setiap jenis sakura itu berbedaa. Karena setiap jenis sakura mempunyai karakteristik yang berbeda-beda:

Jumlah mahkota bunga
Sebagian besar bunga sakura, baik yang tumbuh liar maupun hasil persilangan mekar mempunyai lima mahkota bunga. namun ada beberapa spesies sakura yang mekar dengan sepuluh mahkota, dua puluh mahkota, hingga seratus mahkota.

Warna bunga
Warna bunga sakura umumnya berwarna pink cerah dan putih, tetapi ada beberapa jenis sakura yang mekar dengan warna pink gelap dan putih kekuning-kuningan, ada juga beberapa jenis bunga sakura yang berubah warnanya ketika sedang mekar, pada awal mekar bunga berwarna putih dan beberapa hari kemudian bunga akan berubah menjadi pink.

Daun
Bagi pohon yang bunganya mekar lebih awal, biasanya daun tidak akan muncul sampai bunga mekar sepenuhnya. Hal ini menjadikan pohon bunga sakura sangat menarik untuk dilihat dengan warna cerah yang dominan dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran. Sedangkan bagi pohon yang bunganya mekar setelah daunnya, menjadikan pohon sakura juga nampak cantik dengan perpaduan antara warna sakura yang mekar dan daunnya yang hijau atau kecoklatan.

Masa mekar
Pada umumnya Sakura mekar pada pertengahan bulan Maret sampai akhir bulan Mei, di saat musim semi, karena pada musim ini suhu udara di Jepang sejuk, berkisar belasan derajad celcius.

Bentuk Pohon
Sakura tumbuh dengan berbagai macam bentuk. Diantaranya adalah “sakazukijou” bunga dan rantingnya menghadap ke atas, berbentuk seperti huruf V, “kasajou” bunga dan rantingnya menghadap ke atas, berbentuk seperti segitiga atau seperti sebuah payung. Dan “itaboujo “bunga dan rantingnya menghadap ke bawah seperti sedang berjatuhan.

Bunga sakura dalam kehidupan masyarakat  jepang dan manfaatnya

Bunga sakura dalam kehidupan di jepang
Kuroda Momoko, seorang penulis Haiku (syair) mengatakan bahwa bunga Sakura sebagai simbol dari negara Jepang. Dalam salah satu bait syairnya di sebutkan, “Di seluruh kepulauan Jepang, jantung berdetak lebih cepat ketika kuncup bunga mulai mekar. Masa penantian terasa berlangsung tanpa akhir”. Bagi orang Jepang hal ini merupakan momen dan pengalaman yang menyenangkan ketika melihat bunga sakura pertama mekar. Namun bagi mereka, sakura tidak hanya untuk di nikmati keindahannya saja, tetapi bunga ini juga memiliki simbol penting dalam kehidupan mereka. Bahkan menurut budaya Jepang, bunga sakura mempunyai nilai sakral.

Pada musim semi merupakan awal dari kehidupan sosial, kehidupan baru yang indah serta penuh harapan, dan merupakan awal tahun bagi para pengusaha dan dunia pendidikan, karena tahun ajaran baru di sekolah dimulai pada awal April.

Waktu mekar sakura sangat pendek, dari mekar sampai layu hanya memerlukan waktu 7 hari, dan keseluruhan mekar sampai gugur hanya kurang lebih 2-3 minggu. Oleh karena itu, bagi orang Jepang sakura merupakan gambaran kehidupan yang tidak kekal atau fana (mujoukan).

Selain bunganya bagus sakura juga menggambarkan sosok makhluk pekerja keras, jarang orang yang memperhatikan sakura mempersiapkan dirinya, memahami penderitaanya di tengah musim gugur, kemudian saat musim semi tiba sakura tampil memperlihatkan daya tariknya. Sakura melewati semua tantangan dan kesulitan sendiri untuk memepersembahkan karya yang indah dan menarik. Pada saat sakura bersemi orang jepang biasanya mengadakan tradisi acara ritual keagamaan. Yaitu dengan diadakan upacara doa sebelum musim tanam, dengan harapan para petani mendapat sukses besar pada musim panen raya nanti.

Bunga sakura melambangkan perempuan, Keindahan dan kecantikan dari bunga Sakura sering diumpamakan bagi wanita Jepang yang mempunyai wajah yang cantik, putih, mulus, sehat dan segar. Selain itu, bunga sakura juga sering tercetak di dalam perkakas yang digunakan sehari-hari, seperti kimono, alat tulis, peralatan dapur, lukisan dan sebagainya.

Karena Sakura digunakan untuk mengekspresikan banyak hal, maka banyak penyair-penyair yang menceritakan bunga Sakura dalam syair-syair maupun puisi yang mereka ciptakan. Bahkan keistimewaan dan keindahan sakura juga tertuang dalam lirik-lirik lagu sejak dahulu kala hingga sekarang. Salah satunya adalah lagu yang berjudul “Sakura” merupakan lagu yang sangat terkenal di masyarakat dunia, walaupun lagu ini telah mengalami beberapa kali perubahan dalam melodinya, akan tetapi lagu ini tetap mempunyai keistimewaan bagi orang Jepang. Pada umumnya lagu ini dikumandangkan pada saat ada acara-acara pertemuan Negara-negara internasional di Jepang.

Manfaat bunga sakura bagi masyarakat jepang
Selain keindahan bunga Sakura yang diperlihatkan dalam beraneka ragam barang-barang konsumen termasuk kimono, alat-alat tulis, peralatan dapur dan lukisan-lukisan. Tidak banyak orang yang tahu bahwa selain keindahan dari bunga Sakura, ternyata kayu, kulit kayu, atau serat kayu dari pohon sakura dapat digunakan untuk pembuatan koto (alat musik tradisional Jepang) dan berbagai alat mainan, bahkan bisa juga di jadikan untuk balok bangunan dan alat musik piano dan lain-lain karena kayu dari pohon Sakura mempunyai serat yang bagus, kuat, dan dapat bertahan hingga bertahun-tahun.

Daun dan bunga sakura juga dapat dimanfaatkan sebagai makanan, pewangi, atau lainnya. Daun dan bunga yang sudah direndam di dalam air garam biasanya dimanfaatkan untuk berbagai bahan makanan. Contohnya, bahan es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Ada juga Sakura mochi, atau kue mochi sakura, karena kue mochi ini dibungkus dengan daun sakura, selain itu Ranting dan kuncup bunga sakura juga digunakan sebagai bahan pewarna alami, ada juga teh bunga sakura, yang umumnya diminum pada kesempatan istimewa seperti pesta pernikahan.

Pohon sakura menghasilkan buah yang dikenal sebagai buah ceri (bahasa Jepang: sakuranbo). Buah ceri yang masih muda berwarna hijau dan buah yang sudah masak berwarna merah sampai merah tua hingga ungu. Walaupun bentuknya hampir serupa dengan buah ceri kemasan kaleng, buah ceri yang dihasilkan pohon sakura ukurannya kecil-kecil dan rasanya tidak enak sehingga tidak dikonsumsi.

Namun di jepang, ada juga buah ceri yang bisa di makan, yaitu buah ceri jenis sato nishiki yang letaknya hanya di kebun Prefektur Yamagata, karena harganya sangat mahal. Biasanya hanya dibeli untuk dihadiahkan pada kesempatan istimewa. Oleh karena itu, Buah ceri yang banyak dikonsumsi masyarakat di Jepang adalah buah ceri yang diimpor dari negara bagian Washington dan di Amerika Serikat.


Referensi:
Purnama, Shandy. 2010. Sekilas Tentang Bunga Sakura, Ikyu The First, Jakarta

Selasa, 16 Oktober 2018

Sejarah dan jenis-jenis bunga sakura yang terkenal

bunga sakura jepang

Sejarah bunga sakura
Sakura pertama kali muncul dalam karya sastra Jepang yaitu Kojikidan Nihon-Shoki lewat tokoh Kono Hana Sakuya Hime, yaitu putri Dewa Gunung. Dikisahkan dalam Nihon-Shoki bahwa putrid Kono Hana Sakuya Hime naik ke atas kabut dan terbang ke atas langit gunung Fuji, dari atas gunung Fuji dia menaburkan benih bunga. Bunga yang disebarkan itu diberi Sakura (diambil dari nama Sakuya dan menjadi nama Sakura). Adapun di dalam Kojiki dikisahkan bahwa putrid tersebut turun dari langit lewat sebuah gunung api, yang letaknya diperbatasan daerah Miyazaki dan Kagoshima, lalu menjadi istri Ninigi no Mikoto (cucu dewa matahari), dalam kojiki disebut bahwa Sakuya berarti bunga Sakura itu sendiri.

Pada zaman kuno, bunga sakura yang umum ditemukan adalah bunga sakura yang mekar di gunung yang disebut Yamasakura, namun pada masa Edo berkembang sakura jenis Someiyoshino yang menyebar ke setiap daerah di Jepang.

Menurut sejarah, kebiasaan hanami dipengaruhi oleh raja-raja Cina yang gemar menanam pohon plum yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan “Ume” di sekitar istana mereka. Kemudian kebiasaan ini ditiru oleh Kaisar, Shogun dan para bangsawan di Jepang juga mulai menikmati bunga Ume (plum) ini. Namun pada abad ke-8 atau awal periode Heian, obyek bunga yang dinikmati bergeser ke bunga sakura.

Di masa pemerintahan Kaisar Saga pada jaman Edo, gemar menyelenggarakan pesta hanami di taman Shinsenen di Kyoto. Para bangsawan pun menikmati hanami di sekitar istana mereka, sedangkan para petani masa itu melakukannya dengan mendaki gunung terdekat di awal musim semi untuk menikmati bunga sakura yang tumbuh di sana sambil membawa bekal untuk makan siang. Hingga sekarang hanami menjadi kebiasaan di seluruh masyarakat Jepang. Bahkan telah di terima sebagai salah satu kekhasan kebiasaan bangsanya.

Bunga ini hanya berbunga 1 kali dalam 1 tahun, oleh karena itu masyarakat Jepang tidak mau melewatkan kesempatan baik untuk menikmati indahnya bunga sakura. Selama musim ini media massa di Jepang juga ramai melaporkan sakura zensen, yaitu ramalan munculnya bunga sakura di berbagai tempat di jepang, yang bisanya di mulai dari dari wilayah Jepang bagian selatan pada pertengahan maret, kemudian terus menjalar ke bagian wilayah utara pada pertengahan april hingga akhir april.

Jenis-jenis bunga sakura
Bunga Sakura memiliki berbagai varian jenis pohon. Sebagian besar jenis pohon sakura merupakan hasil persilangan, misalnya jenis someiyoshino yang tersebar di seluruh Jepang sejak zaman Meiji adalah hasil persilangan pohon sakura di akhir zaman Edo. Sakura jenis someiyoshino inilah yang banyak tersebar luas, sehingga kebanyakan orang hanya mengenal someiyoshino (yang merupakan salah satu jenis sakura) sebagai sakura. Sakura jenis someiyoshino memiliki ciri khas sendiri dibandingkan dengan bunga sakura yang lain yaitu, bunganya yang lebih dahulu mekar sebelum daun-daunnya mulai keluar, dan bunganya mulai mekar secara serentak dan rontok satu per satu pada saat yang hampir bersamaan.

Bunga sakura jenis someiyoshino ini hanya dapat bertahan kurang lebih 7 sampai 10 hari dihitung mulai dari kuncup bunga terbuka hingga bunga mulai rontok. Rontoknya bunga sakura tergantung pada keadaan cuaca dan biasanya dipercepat oleh hujan lebat dan angin kencang. Beberapa jenis burung dikenal suka memakan bagian bunga ini yang berasa manis, sedangkan burung merpati memakan seluruh bagian bunga.

Pada zaman dulu sebelum ada jenis someiyoshino, orang Jepang mengenal bunga sakura yang mekar di pegunungan dengan nama yamazakura dan yaezaki no sakura sebagai sakura. Di saat mekarnya bunga sakura, ribuan batang pohon Yamazakura yang tumbuh di Pegunungan Yoshino (Prefektur Nara) menciptakan pemandangan menakjubkan warna putih, hijau muda, dan merah jambu. Tidak mengherankan jika bunga sakura disanjung banyak orang tidak hanya oleh masyarakat Jepang namun juga wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang karena keindahannya.

Adapun beberapa jenis dari bunga sakura adalah sebagai berikut:

1. Yamazakura
Yamazakura adalah bunga yang pertama kali dan tumbuh liar di jepang. Dahulu sebelum ada sakura persilangan, orang jepang hanya mengenal sakura yang tumbuh liar. Yamazakura tumbuh pada akhir bulan maret sampai awal april. Warna bunganya pink dan bermahkota 5.
2. Somei yoshino
Bunga ini di kembangkan pada jaman edo. Jumlah mahkotanya 5, bunganya berwarna putih dan rantingnya berwarna pink. Bunganya terlebih dahulu mekar sebelum daunnya muncul.
3. Shidarezakura
Sidarezakura bunga dan rantingnya menghadap kebawah seperti sedang berjatuhan. Dalam bahasa inggris di sebut “ weeping cherry trees” . sama halnya dengan yamazakura, shidarezakura tumbuh pada akhir maret sampai awal april. Biasanya mahkota berjumlah lima atau lebih dari 5.
4. Kikuzakura
Bunga ini mekar pada akhir april sampai dengan awal mei, berrmahkota 100. Dan sebelum daunnya muncul bunganya mekar terlebih dahulu. Bunganya berwarna pink. Dalam bahasa jepang disebut “chrysanthemum cherry”
5. Hikanzakura
Bunga sakura ini banyak tumbuh di daerah Okinawa dan pulau Honshu. Di Okinawa, kuncup bunga hikanzakura mulai terbuka sekitar bulan Januari atau Februari. Adapun di Pulau Honshu, hikanzakura banyak ditanam mulai dari wilayah Kanto sampai ke Kyushu dan biasanya mulai mekar sekitar bulan Februari atau Maret dan lain-lain.

Periode mekarnya bunga sakura sangat pendek, hanya kurang lebih 1 minggu. Di jepang masa mekar bunga sakura ini dikenal dengan suatu kata kiasan yakni “7 hari bunga sakura”, yang artinya bahwa sejak sakura mulai mekar sampai gugur waktunya kurang lebih 7 hari. , dan keseluruhan pohon sakura sejak bunga pertama mulai mekar hingga seluruh bunganya gugur kurang lebih memakan waktu 2 minggu. Namun, terkadang lamanya bunga sakura dapat bertahan mekar juga dipengaruhi oleh faktor cuaca. Apabila cuaca terlalu hangat, maka bunganya akan cepat gugur. Hujan deras dan angin kencang membuat kelopak-kelopak bunga ini cepat sekali rontok. 

Bagi orang Jepang, bunga Sakura merupakan simbol penting yang sering diasosiasikan dengan perempuan, kehidupan, kematian, sehingga bunga Sakura dapat ditemukan di mana saja di Jepang.9 Sakura diasosiasikan sebagai perempuan karena perempuan laksana bunga yang yang cantik nan indah dipandang bagaikan bunga sakura yang mekar membawa ketenangan dan kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bahwa sakura adalah bunga penting dalam kehidupan orang Jepang, dimana semua orang memujanya saat mekar, setelah mereka (masyarakat Jepang) melewati musim dingin yang berat. 

Jika sakura dilambangkan dengan kematian karena tumbuh dan mekarnya bunga sakura yang indah hanya sebentar kira-kira seminggu sampai 10 hari saja. kemudian bunga sakura akan layu berguguran tertiup angin, mati lalu hilang. Hal ini melambangkan bahwa kehidupan manusia itu seperti bunga sakura yang begitu singkat, yaitu mekar (lahir) , hidup lalu mati. 


Referensi:
Tanaka, Yukio. 1985. Nihon no Tateyoko, Tokyo Gakken
Takeuchi, Misae.1992. Tanoshiku Yomeru Nihon no Kurashi Juunikageto, Apurikatto

Senin, 15 Oktober 2018

Tahapan pelamaran, persiapan, dan pernikahan adat jawa

pernikahan adat jawa

Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa mempunyai bermacam-macam upacara pernikahan, sehingga kesulitan untuk menentukan ciri rupa atau wajah orang Indonesia. Hal ini menunjukkan oleh berbagai macam alat perlengkapan yang menyertai dalam suatu upacara pernikahan adat. Adat pernikahan yang bermacam-macam menunjukkan latar belakang hukum pernikahan adat yang berbeda-beda dilaksanakan masyarakat bangsa Indonesia.

Kenyataan kehidupan serta alam Indonesia dengan sendirinya membuat bangsa Indonesia untuk saling berbeda selera, kebiasaan atau perselisian budaya, adat serta tradisi. Cara pandang umat Islam Indonesia antara satu daerah dengan daerah yang lain juga saling berbeda. Kondisi ini juga berbaur dengan norma-norma ajaran Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari. Salah satu dari perbedaan implikasi tersebut adalah masalah pelaksanaan upacara pernikahan.

Keberagaman suku bangsa di Indonesia juga berpengaruh terhadap sistem perkawinan dalam masyarakat. Upacara pernikahan misalnya, merupakan suatu sistem nilai budaya yang memberi arah dan pandangan untuk mempertahankan nilai-nilai hidup, terutama dalam hal mempertahankan dan melestarikan keturunan. Dalam Islam, pernikahan merupakan sunnah Rasulullah Saw, yang bertujuan untuk melanjutkan keturunan dan menjaga manusia agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan keji yang sama sekali tidak diinginkan oleh agama.

Pernikahan adalah peristiwa yang sangat penting dalam kehidupan seseorang dan upacara-upacara yang dilaksanakan di dalam pernikahan merupakan adat dan tradisi yang perlu dilestarikan, misalnya adat istiadat di pulau jawa.

Inilah tahapan-tahapan pelamaran, persiapan, sebelum dan saat pernikahan

Pelamaran

Secara adat pelamaran terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1 Nontoni: Nontoni adalah langkah pertama untuk pernikahan, seseorang pria dengan orang tuanya pergj ke rumah gadis untuk melihat dan memutuskan kalau dia mau melamar gadis itu.
2 Nglamar: Saudara pria disuruh untuk menyampaikan pelamaran secara lisan atau tertulis.
3 Srah-srahan: Kalau gadis tersebut setuju untuk menikah, upacara srah-srahan diadakan. Peningset, bermacam-macam hadiah, diberikan oleh pria kepada gadis untuk menentukan tunangan. Hadiahnya biasanya termasuk pakaian, perhiasan, alat-alat rumah tangga, uang dan lain-lain, tergantung pada kemampuan keluarga pengantin pria.

Kini, karena orang tua makin jarang menjodohkan anaknya dan kebanyakan orang muda berpacaran terlebih dahulu, upacara nontoni tidak dilakukan lagi. Walaupun orang muda memutuskan untuk menikah sendiri, calon pengantin laki-laki biasanya masih melamar secara resmi dengan upacara nglamar.

Persiapan

Sesudah pelamaran seorang pria diterima oleh seorang wanita, perencanaan upacara pernikahan dimulai. Upacara pernikahan merupakan tanggung-jawab orangtua pengantin putri, dan upacara-upacara biasanya diselenggarakan di rumahnya. Hariyang paling baik untuk pernikahan ditentukan secara adat, bulan yang baik untuk pernikahan dipilih menurut bulan Jawa, kalau cocok, dan tanggal lahir kedua pengantin dihitung untuk menentukan hari upacara.

a. Tarub
Secara fungsi, tarub adalah bangunan sementara untuk tamu di depan rumah, tetapi kepentingannya lebih dari yang fisik saja. Tuwuhan, daun-daun dan buah-buahan yang digantung di kiri dan kanan gerbang, atau pintu masuk, mempunyai arti sendiri-sendiri. Upacara pernikahan dimulai dengan pemasangan bleketepe, anyaman janur kecil yang digantung di tengah gerbang, untuk mengusir roh-roh jahat.

b. Sesaii
Tentu saja ada banyak hal yang harus diurus sebelum upacara dimulai, salah satunya adalah sesaji atau sajen. Kehendak orang yang menyajikan sajen adalah agar upacara-upacara selamat dan sejahtera, sehingga upacara lancar dan selamat, dan tidak ada kekurangan. Sesaji terdiri dari berbagai jenis makanan, buah-buahan, minuman, bunga-bunga dan bahan-bahan lain. Ada beberapa sesaji yang disediakan khusus untuk upacara-upacara pernikahan, dan campuran bahan-bahan untuk setiap sesaji tergantung pada maksud dan maknanya.

c. Tata Rias Pengantin
Untuk setiap upacara pengantin putri harus kelihatan cantik, seharusnya kulitnya kelihatan halus, kekuning-kuningan dan bercahaya. Tata rias pernikahan bermaksud supaya pengantin putri kelihatan seperti putri raja, yang mandi memakai lulur dan jarang keluar dicahaya matahari sehingga kulitnya halus dan kuning. Pengantin pria juga memakai sedikit rias untuk upacara panggih.

d. Paes
Di Jawa Tengah rambut di dahi pengantin putri dipotong dan dicukur membuat bentuk/wes sesudah upacara siraman supaya siap untuk dirias dengan warna hitam pada pagi sebelum akad nikah. Bentuk pares mi terdiri dari beberapa bagian yang harus diukur dan digambar dengan hati-hati supaya mengikuti bentuk yang benar. Simbolisme paes mi adalah untuk mempercantik pengantin putri, atau lebih spesifik, untuk membuang pikiran atau perilaku yang tidak baik supaya dia bisa menjadi orang yang baik dan matang.

e. Rambut Pengantin
Sesudah muka dan dahi dirias rambut dibuat dalam bentuk sanggul. Bagian depan rambut disasak dan dibentuk menjadi sunggar, sedikit rambut di atas teriepas untuk digelung menjadi lungsen. Cemara, atau rambut bagian belakang, diikat dan digelung menjadi sanggul. Sesudah sanggul dirapikan selanjutnya perhiasan dipasang.

f. Busana
Ada beberapa gaya busana yang bisa dipakai untuk upacara pernikahan Jawa tetapi ada dua gaya busana yang utama, yaitu busana basahan dan busana putri. Busana gaya putri pada dasarnya adalah baju panjang bludiran, kain padan dan selop bludiran. Ada beberapa macam busana basahan tetapi pada dasarnya semuanya sama. Busana basahan terdiri dari beberapa jenis kain saja, gaya dodotan, yaitu tidak memakai baju atasan, dan selop bludiran. Pengantin putra memakai topi kuluk yang berwarna biru muda.

g. Perhiasan
Perhiasan kebanyakan mengikuti gaya raja di kraton, maksudnya pengantin sebagai raja sehari. Banyak perhiasan dipakai supaya pengantin kelihatan cantik dan mewah. Bermacam-macam kalung, gelang, cincin dan anting keemas-emasan dipakai oleh calon pasangan suami-isteri, dengan makna sendiri-sendiri.

Upacara Sebelum Pernikahan

a. Siraman
Upacara pertama, yang dilaksanakan pada siang hari sebelum pernikahan, adalah siraman. Upacara ini adalah acara memandikan pengantin supaya dia bersih dan suci untuk malam midodareni dan untuk pernikahan pada hari berikutnya. Kedua pengantin dimandikan dirumah sendiri dalam upacara berbeda, biasanya dilakukan di kamar mandi atau di kebun. Sebagian air dari mangkuk siraman putri dioleskan kepada kendhi untuk dibawa ke rumah pengantin putra untuk upacara siraman dia.

Ibu pengantin putri memulai upacara dengan mengoleskan bubuk sabun kepada tangan dan kaki putrinya. Kemudian tujuh orang, atau lebih asalkan ganjil, menuangkan tiga gayung air bunga kepada kepala dan badan pengantin. Selain dari Ibu dan Bapak pengantin, Ibu-Ibu yang terhormat dan dianggap berakhlak tinggi diminta untuk ikut upacara ini. Tetapi tidak boleh Ibu yang sudah bercerai, janda, yang belum mempunyai anak atau yang tidak bisa mempunyai anak. Maksudnya supaya pengantin diberi berkat seperti Ibu-Ibu ini, agar mudah dan cepat punya anak.

b. Pemecahan Kendhi
Sesudah acara siraman diselesaikan Ibu pengantin menjatuhkan dan memecahkan kendhi. Pemecahan ini adalah simbol pengantin sudah dewasa dan siap untuk meninggalkan keluarga untuk mulai keluarga sendiri, orang tuanya tidak mempunyai tanggung-jawab lagi.

c. Memotong Rambut
Upacara berikutnya juga melambangkan akhir dari masa kecil dan permulaan masa dewasa untuk pengantin. Sedikit dari ujung rambutnya dipotong, maksudnya untuk membuang sangkal atau kotoran dari masa kecil. Kotoran ini dianggap sebagai halangan dan harus dibuang supaya tidak ada halangan lagi untuk kehidupan baru. Rambut pengantin putra juga dipotong dan dibawa ke rumah putri untuk ditanam bersama-sama di kebun. Kemudian pengantin putri digendong masuk kamar oleh Bapak untuk kasih sayang yang terakhir kali sebagai anak dan sebagai lambang ayah membawa anaknya kepada hidup mandiri untuk mulai keluarga sendiri.

d. Peniualan Dawet
Sesudah pengantin putri masuk kamar untuk dirias upacara menjual dawet, sejenis minuman cendol, dilaksanakan. Pecahan dari kendhi diberikan kepada tamu untuk 'membeli1 dawet dari Ibu pengantin putri yang memakai barang-barang penjual dawet. Pecahan kendhi diberikan kepada Ayah yang membawa payung dan dia memberi kembalian. Pendapatan (pecahan kendhi) dari penjualan dawet dimasukkan ke dalam kantong dan disimpan. Upacara penjualan dawet ini bermaksud untuk membuat upacara ramai, seperti minuman ini,dan supaya nanti pendapatan pengantin banyak.

e. Meratus Rambut
Sambil upacara penjualan dawet dijalankan di luar, di dalam kamar pengantin perias sedang menjemur dan meratus rambut pengantin putri. Dalam acara meratus, bubuk ratus dan gula pasir dipanaskan dengan api dan asapnya diarahkan kepada rambut pengantin putri supaya baunya wangi. Lalu rambutnya digelung, muka dan lehernya dicuci, dan dirias dengan hati-hati.

f. Upacara Ngerik
Sesudah upacara meratus rambut, upacara ngerik dilangsungkan. Upacara ngerik merupakan persiapan untuk tata rias yang akan dipakai untuk upacara pernikahan pada hari berikutnya. Anak rambut di dahi gadis dihilangkan dan bagian-bagian dicukur dalam bentuk paes. Sekarang pengantin putri sudah siap untuk malam midodareni.

g. Malam Midodareni
Malam sebelum hari pernikahan merupakan malam terakhir pengantin putri sebagai remaja atau gadis, malam ini dianggap suci dan diberi nama malam midodareni. Dari jam enam sampai jam 12 malam pengantin putri tidak boleh keluar dari kamar, waktu ini dimaksudkan untuk berkenalan dengan keluarga pengantin putra dan untuk menerima nasihat tentang kehidupan sesudah menikah. Selama waktu ini pengantin putri diberi makanan oleh orang tuanya untuk terakhir kali.

Upacara Pernikahan

a. Akad Nikah
Kira-kira jam sembilan pagi pada hari berikutnya upacara Akad Nikah diselenggarakan. Akad Nikah merupakan pernikahan secara agama dan secara resmi. Menurut pemerintah cuma acara akad nikah yang perlu dilaksanakan untuk menikah secara hukum. Upacara ini bisa dilakukan di gereja untuk orang Kristen, di masjid untuk orang Islam atau di rumah saja. Pertama Bapak Penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) atau kyai membaca syarat-syarat pernikahan. Pengantin putra harus menyetujui untuk memenuhi semua syarat-syarat ini dan bersumpah untuk menjaga dan melindungi isterinya. Lalu Bapak pengantin putri menyerahkan putrinya kepada pengantin putra. Sesudah kedua pihak setuju untuk menikah kedua pengantin dan kedua saksi menandatangani surat nikah. Ke dua saksi ini dihadirkan untuk menentukan bahwa ke dua pengantin menikah atas keinginan sendiri, tidak ada yang memaksa.

b. Upacara Panggih
Pada siang hari sesudah akad nikah, upacara pernikahan adat dilaksanakan, yaitu upacara panggih.

Upacara Panggih terdiri-dari beberapa bagian, sebagai berikut:

1. Temu pengantin.
Pengantin putra masuk pintu depan dipayungi dua pendamping dan kedua pengantin menukar kembar mayang yang dilempar ke atas tarub.
2. Sawat-sawatan atau galangan gantal sirih.
Pengantin putra-putri saling melempar daun sirih. Artinya bertemunya dua perasaan, untuk melempar hari, dan dianggap sebagai waktu yang menyenangkan.
3. Wiji dadi.
Pengantin putra menempelkan telur ayam kampung kepada dahi sendiri dan dahi pengantin putri dan lalu melempar telur ini supaya pecah. Kaki mempelai pria dibasuh dengan air bunga setaman dan dibersihkan oleh pengantin putri yang duduk di depannya.
4. Sindur Binqyang.
Kedua mempelai bersalaman, berpegangan tangan dengan jari kelingking, dan Ibu putri menutup bahu keduanya dengan kain selendang yang berwarna merah dan putih dan pengantin diantar oleh Bapak ke kursi pelaminan.
5. Timbang.
Di pelaminan kedua pengantin duduk di pangkuan Bapak putri, putri di kaki kiri, dan putra di kaki kanan. Ibu putri bertanya kepada Bapak siapa yang lebih berat dan dia menjawab bahwa mereka sama saja.
6. Kacar-kucur.
Pengantin pria memberi beras, kacang, dan uang receh dibungkus dalam kain berwarna merah dan putih kepada wanita dan dia memberikannya kepada orangtuanya.
7. Saling menyuap.
Pengantin putra memberi makanan kepada isterinya dan lalu pengantin putri memberi makanan kepada suaminya, dan terus menyuap bersama.
8. Minta doa restu.

c. Resepsi
Pada sore atau malam sesudah upacara pernikahan, resepsi diselenggarakan untuk merayakan pernikahan. Pasangan suami-isteri masuk ruangan yang disediakan untuk resepsi dengan upacara kirab. Para tamu yang diundang memberi salam dan selamat kepada pasangan suami-isteri baru. Akhirnya upacara pernikahan selesai dan pasangan suami-isteri pulang untuk mulai kehidupan baru bersama.

Upacara pernikahan adat di pulau Jawa begitu rumit; persiapan, upacara-upacara dan bahan-bahan semua bermakna khusus untuk keselamatan dan kesejahteraan pasangan pengantin dan keluarganya. Dan makna ini yang membuat upacara pernikahan penting, kalau tidak ada makna pasti tidak akan ada maksud. Semoga upacara pernikahan adat tidak hilang seiring perkembangan zaman. Jadi ini merupakan tugas untuk semua orang untuk menjaga dan melestarikannya.


Referensi:
Bratawidjadja, Thomas Wiyasa. 1985. Upacara Perkawinan Adat Jawa. Jakarta: PT Midas Surya Grafindo.
Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978/1979. Adatdan Upacara Perkawinan Jawa Barat.
Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1978/1979. Adat dan Upacara Perkawinan Jawa Tengah.

Jumat, 12 Oktober 2018

Fenomena fashion populer jepang di Indonesia

gaya berpakaian (fashion) jepang

Jumlah pelaku fashion Jepang di Indonesia semakin bertambah, begitu pula dengan pelaku pola hidup konsumerisme. Salah satu faktor pendorong melonjaknya tingkat konsumerisme adalah berkembangnya fashion, tidak terkecuali fashion Jepang. 

Merambahnya fashion Jepang di kalangan masyarakat Indonesia mencakup seluruh tingkatan usia. Mewabahnya fashion Jepang juga tidak lepas dari pop culture Jepang yang paling menonjol, yaitu anime, manga dan dorama. Melalui pakaian-pakaian yang digambar dan direfleksikan dalam tokoh-tokoh anime, manga, dan dorama, masyarakat mengetahui jenis-jenis pakaian dan dandanan yang populer di kalangan masyarakat Jepang. Selain melalui hal di atas, fashion Jepang juga terlihat dari video-video musik dan konser Jepang.

Pecinta fashion Jepang di Indonesia berbeda dengan yang ada di Jepang sendiri. Apabila para pecinta fashion Jepang yang ada di Jepang biasanya berkumpul di tempat-tempat umum milik publik dengan membawa peralatan pendukung fashion mereka sendiri; misalnya di jalanan Akihabara, Shibuya, dan Harajuku; maka pecinta fashion Jepang di Indonesia biasa berkumpul di acara-acara berunsur Jepang yang diselenggarakan di kota masing-masing. Bahkan ada di antara mereka yang rela pergi ke kota atau negara lain untuk memamerkan pakaian, aksesoris, dan dandanan mereka; yang tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. 

Selain itu, ada juga yang membentuk komunitas khusus pecinta fashion Jepang dan sesekali mengadakan gathering atau kumpul-kumpul anggota dengan mengenakan pakaian kebangaan mereka masing-masing. Kemudian ada yang melakukan photo session amatir untuk berbagai keperluan (misalnya untuk kartu ucapan event Halloween, Natal, atau Tahun Baru yang akan dikirim secara cuma-cuma kepada orang lain) dengan membayar fotografer-fotografer dan menyewa tempat khusus untuk melakukan photo session. Dan selama tiga tahun terakhir ini stasiun-stasiun televisi Indonesia mulai menyorot dan menampilkan pecinta fashion Jepang di Indonesia di televisi, yang dulu belum pernah terjadi.

Para pecinta fashion Jepang di Indonesia memiliki banyak cara untuk memperoleh pakaian-pakaian atau kostum-kostum berbau fashion Jepang yang akan mereka kenakan, contohnya dengan menjahit pakaian mereka sendiri. Ada pula yang memesan melalui penjahit-penjahit khusus baju-baju fashion Jepang, dan juga yang sengaja memesan dari agen-agen baju fashion Jepang yang berada di luar negeri menggunakan kartu kredit yang notabene jauh lebih mahal dibanding membeli di dalam negeri. Meskipun dikatakan bahwa membeli jauh lebih mahal dibanding membuat sendiri, biaya yang dikeluarkan untuk membuat sendiri juga tidak sedikit.

Pecinta fashion Jepang yang membuat sendiri pakaian dan aksesorisnya juga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli peralatan, bahan-bahan pakaian dan aksesoris yang akan dibuat, ongkos pembelian bahan; belum lagi soal skill yang harus dikeluarkan dalam proses pembuatannya. Karena itu, menganut aliran fashion Jepang ini juga dikatakan dapat mengasah kemampuan pelakunya dalam hal kreativitas dan ketrampilan tangan seperti menjahit, membuat aksesoris, make-up, dan sebagainya. Konsumerisme saat ini sedang menjadi gaya hidup yang menonjol di kalangan masyarakat modern. Gaya hidup ini ditandai dengan kegiatan konsumsi yang berlebihan, misalnya kecanduan membeli barang bermerek luar negeri, atau mengoleksi benda yang bahkan tidak digunakan dalam hidup sehari- hari seperti action figure. Gaya hidup konsumerisme ini sudah merebak di seluruh dunia, dan tak terkecuali di Indonesia.


Ragam budaya populer Jepang yang kini ’populer’ di Indonesia meliputi banyak bentuk mulai dari Film, Musik, anime, manga/komik, hingga fashion atau lebih tepatnya adalah gaya pakaian kaum muda Jepang. J-fashion yang merebak dikalangan kaum muda kelas menengah perkotaan Indonesia,, khususnya Bandung dan Jakarta, lebih mewujudkan dirinya dalam bentuk costum playing atau semacam permainan kostum yang dikenakan pada berbagai event cosplay atau penampilan busana bersama di suatu tempat berkumpul (dalam istilah mereka disebut tempat mejeng).

Para Costum Player ini umumnya bukan pelaku individual melainkan anggota komunitas cosplay tertentu. Oleh karena gaya pakaian mereka yang sangat unik, para costum player ini seringkali menjadi pusat perhatian sekaligus pusat pertanyaan masyarakat tentang apa, siapa dan bagaimana mereka sampai bergaya pakaian unik seperti itu.

Fenomena gaya berpakaian (fashion) populer jepang di indonesia

Budaya adalah konsep pokok dalam kajian antropologi. Konsep ini biasanya mencakup aspek-aspek seperti pengetahuan, teknologi, nilai, keyakinan, kebiasaan, dan perilaku yang umum bagi manusia. Menurut Marshall (1998) pada masyarakat yang sederhana biasanya hanya terdapat satu bentuk budaya utuh (integrated culture) yang diusung oleh semua anggota masyarakat. Sedangkan pada masyarakat yang kompleks entitas budaya ini memiliki lapisan yang banyak meliputi budaya dominan dan beragam sub-subbudaya.

Salah satu pembedaan terpenting dalam masyarakat yang kompleks adalah perbedaan antara budaya populer (popular Culture) dan budaya tinggi (High culture). Budaya tinggi biasanya meliputi musik klasik, syair, tarian, lukisan hingga novel-novel serius, dan berbagai produk budaya lainnya yang diapresiasi oleh sejumlah kecil orang terdidik atau berstatus sosial tinggi. Disisi lain budaya populer (seringkali disamakan dengan budaya massa) jauh lebih menyebar dan mudah diakses oleh semua orang. Kepentingan pokok dari budaya populer ini adalah untuk hiburan dan wujudnya didominasi oleh musik rekaman, komik, film, olah raga dan gaya berpakaian (fashion). Menurut Sullivan, dkk (1996) segala produk budaya yang secara sengaja dibuat sesuai selera orang kebanyakan dapat disebut sebagai budaya populer. Oleh karena itu secara sederhana Sullivan mengartikan budaya populer sebagai bentuk budaya yang disukai orang banyak.

Di Jepang istilah budaya populer sulit dicari padanannya. Menurut Hidetoshi Kato (Powers & Kato, 1989) istilah ini dapat disamakan dengan terminologi Taishu Bunka. Namun penyamaan ini juga bukannya tanpa masalah karena pengertian Taishu Bunka sendiri adalah budaya massa (Mass culture). Terlebih konsep Taishu bunka sendiri bersifat egaliter dan tidak membedakan antara entitas massa dan elite atau antara orang berstatus sosial tinggi dan rendah. Penulis tidak ingin memperpanjang perdebatan tentang kedua konsep tesebut, karena fokus makalah ini bukan pada persamaan kedua kata diatas melainkan pada konsep diri kaum muda indonesia yang menjadi pencinta budaya populer jepang.

Budaya populer Jepang atau selanjutnya disingkat J-pop umumnya meliputi pertunjukan televisi, Film, comic/manga, anime, musik, dan fashion2. Dari semua ini yang paling populer di indonesia adalah anime, manga, dan fashion atau gaya pakaian anak muda Jepang. Para pengguna gaya pakaian Jepang ini dalam istilah ekspresifnya sering disebut sebagai costum player (Cosplay). Penggunaan istilah ini mengindikasikan bahwa pemakaian kostum tersebut lebih cenderung bukan sebagai pakaian sehari-hari tapi lebih pada event pertunjukan atau penampilan bersama.

Costume Player di Jepang awalnya berasal dari gaya para tokoh-tokoh komik yang sepertinya tidak mungkin ditiru. Namun anak- anak muda Jepang berinisiatif untuk mencoba gaya-gaya di komik tersebut. Dari sanalah gaya anak muda Jepang berkembang dan mulai berbeda-beda sesuai keinginan masing-masing individu. Anak-anak muda yang menganut gaya ini dapat dijumpai di daerah Shibuya dan Harajuku.

Mereka tak hanya bergaya ala tokoh kartun seperti Hello Kitty, tapi juga Marlyn Manson, Hip Hopers, dan gaya-gaya lain yang tidak kalah unik untuk dilihat. Tidak jarang mereka memodifikasi baju seragam; berlengan pendek seperti mini skirt, rok yang mini, dan kaos kaki gombrong dari pangkal betis sampai kemata kaki. Mereka biasanya mangkal di Shibuya sehingga disebut Kogal. Ada lagi yang lebih ekstrim yang disebut Gals atau Gyaru. Gals adalah komunitas yang sadar fesyen, selalu mengikuti perkembangan, sering pergi ke salon untuk mengubah penampilan mulai dari mengecat rambut, tindik anting, bahkan tanning (proses penghitaman kulit).

Terdapat berbagai macam aliran cosplay di antaranya Cosplay Japanese Star atau Cosplay J-Star yang terbagi menjadi dua aliran, yaitu J-pop dan J-rock. Cosplay Anime yang pakaiannya terinspirasi dari tokoh animasi. Cross Play dimana perempuan berdandan seperti lelaki dan lelaki berdandan seperti perempuan. Cosplay Original, yaitu pengguna kostum ala Jepang yang desainnya sudah dimodifikasi dengan imajinasi sendiri, tetapi tetap membawa ciri utama dari gaya aliran tertentu misalnya, membuat kostum samurai digabungkan dengan obi atau sabuk kimono, gothic, dan Harajuku style. Ada juga aliran Tokusatsu yang menggunakan kostum superhero Jepang seperti Power Ranger, dan aliran Ganguro yang mengadopsi rias wajah tokoh pop Jepang, biasanya mereka mencoklati wajah mereka yang pias (tanning) dan menggunakan riasan dengan warna-warna yang kontras dengan kulit mereka seperti lipstik dan perona mata putih.

J-fashion dalam wujud Cosplay muncul di Indonesia pada awal tahun 2004. mula-mula di Jakarta, lalu menyebar ke berbagai kota besar di Indoensia. Sebelum Cosplay populer, Anime dan Manga telah terlebih dahulu menjadi trend Budaya populer Jepang yang diminati kaum muda perkotaan Indonesia sepanjang mulai paruh kedua tahun 1990-an hingga tahun 2000.

Popularitas J-fashion di Indonesia dikembangkan lewat berbagai saluran komunikasi yang ada, mulai saluran personal yang melibatkan tokoh-tokoh selebriti seperti Agnes Monica, Indra Bekti, Duo Ratu (Maia Ahmad dan Mulan Kwok), dan personil Band J-Rock, hingga saluran elektronik (terutama televisi) dan pertemuan publik seperti yang digalang oleh The Japan Foundation lewat festival Ikiteru Harajuku pada bulan september 2006 yang lalu. Lewat saluran ini pengaruh J-style merembes ke dalam kehidupan kaum muda kelas menengah perkotaan Indonesia.

Menurut laporan Kompas (24/9/06) dan H.U. Pikiran Rakyat (16/3/04), pada saat ini komunitas pencinta J-fashion telah muncul diberbagai kota besar Indonesia khususnya Bandung dan Jakarta. Di Kota Bandung sendiri jumlah komunitas yang muncul diperkirakan lebih dari dua puluh dengan jumlah anggota yang mencapai ratusan orang6. Diantara komunitas tersebut adalah Cosplay party, Ulets, dan Kansai. Cosplay party merupakan komunitas yang paling dikenal diantara berbagai komuitas yang ada. Hal ini karena seringnya anggota komunitas ini tampil di media cetak sebagai reperesentasi cosplay di Bandung. Di luar itu, aktivitas komunitas ini juga tergolong padat karena partisipasi anggota-anggotanya yang tinggi dalam berbagai event cosplay yang diselenggarakan di Bandung dan Jakarta.


Referensi:
Alfitri. 2007. Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan. Empirika, Volume XI, No : 01, 1-9. Palembang : Universitas Sriwijaya
Marshall, Gordon. 1998. Dictionary of Sociology. Oxford: Oxford University Press.
Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reprosukdi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Barker, Chris. 2004. Cultural Studies Teori dan Praktek. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Kamis, 11 Oktober 2018

Pakaian khas dan nama makanan terkenal di jepang

baju khas jepang

Jepang dikenal sebagai salah satu negara maju di dunia. Kemajuan Jepang dalam bidang teknologi menjadikannya sebagai sebuah negara yang cukup disegani tidak hanya di kawasan Asia saja, namun juga oleh negara-negara di wilayah Amerika dan Eropa. Kerja keras dan usaha yang dilakukan masyarakat Jepang pasca kekalahannya di Perang Dunia II, telah menjadikan mereka sebagai masyarakat modern yang hidup dengan kecanggihan teknologi. 

Keberadaan mereka pada saat ini tentu tidak lepas dari pengaruh-pengaruh yang mereka dapatkan dari kehidupan masyarakat Jepang zaman dahulu. Meskipun gaya hidup dan tatanan masyarakat Jepang sekarang ini sudah sangat berbeda dengan kehidupan masyarakat sebelumnya,namun beberapa prinsip hidup dan unsur-unsur budaya yang mereka anut sedikit banyak masih merupakan warisan utuh dari kehidupan masyarakat sebelumnya.

Dalam kehidupan di jepang terdapat beberapa ciri khas, contohnya adalah pakaian dan makanan bagi gaya hidup di negara jepang.

Kimono
Pakaian khas Jepang adalah kimono. Kimono dipakai oleh orang Jepang hanya pada waktu tertentu saja. Misalnya pada waktu “sejin shiki” (hari kedewasaan), “kekkon shiki” (hari pernikahan), “nyugaku shiki” (hari penerimaan murid baru). Pada saat itu banyak wanita yang memakai kimono.

Kimono sudah ada sejak zaman edo (1600-1868). Pada zaman Meiji (1868-1912) pria dan wanita Jepang baru mengenal pakaian ala Barat. Di masa itu banyak pria dan wanita Jepang memakai pakaian Eropa/Barat, sehingga kimono digunakan hanya pada kesempatan formal saja, sampai sekarang juga bagi anak muda baik laki-laki maupun perempuan lebih populer memakai jens.

Berkaiatan dengan pakaian barat (yofuku), maka kimono disebut juga “wafuku” (pakaian ala Jepang). Kimono terbuat dari sutra yang di jahit. Kimono digunakan bagi orang yang tinggi, pendek, kurus, dan gemuk dengan ukuran yang sama. Kimono yang dipakai pada waktu seijin shiki dan perkawinan harganya sangat mahal, kira-kira 100 ribu yen.

Kimono yang paling murah dipakai yaitu yukata. Yukata adalah kimono yang dipakai ketika musim panas dan terbuat dari katun. Yukata harganya murah dan mudah dicuci. Pada waktu bon odori (tarian musim panas) anak-anak Jepang banyak yang memakai yukata. Pada waktu memakai kimono sandal yang dipakainya disebut “geta”

Pada tahun 50-an geta pada umumnya dipakai oleh orang Jepang. Di kota ada yang disebut geyata-san, maksudnya orang yang membuat geta. Sekarang ini getaya san itu hampir punah. Kebudayaan Jepang tradisional lambat laun akan hilang, kalau tidak bisa mempertahankannya. Peranan pakaian adalah untuk penyesuaian suasana alam dan untuk melindungi badan dari panas, dingin, cahaya, lembab, dan angin.

Furisode kimono merupakan kimono yang sifatnya formal yang dikenakan oleh wanita yang belum menikah, corak dan warnanya meriah dan terang bahannya terbuat dari kualitas sutera yang baik. Satu hal yang membedakan furisode kimono ini dengan kimono lainnya adalah furisode memiliki lengan yang panjang yang hampir menyentuh tanah. Pada umumnya harga seperangkat furisode beserta seluruh perlengkapannya sekitar $ 15000, itu pun tergantung kualitas bahan ,desain dan pembuatannya.

Banyak orang tua membelikan kimono untuk putrinya dalam rangka menghadiri upacara yang cukup penting bagi kehidupan wanita muda Jepang selama hidupnya. Karena secara tidak langsung, saat seorang wanita memakai kimono, hal ini menunjukkan bahwa ia telah siap untuk menikah dan berkeluarga. Selain itu furisode kimono juga digunakan pada saat menghadiri upacara perkawinan atau upacara minum teh ,selama wanita itu belum menikah.

Yukata adalah jenis kimono nonformal Jepang yang dibuat dari bahan kain katun tipis tanpa pelapis yang dipakai untuk kesempatan santai di musim panas. Yukata dibuat dari bahan katun yang mudah dilewati angin, agar badan menjadi sejuk disore hari atau sesudah mandi malam dengan air panas di Jepang.

Orang Jepang mempunyai tradisi untuk mandi dengan air panas sebelum tidur, oleh karena itu Yukata juga dikenakan sebagai pakaian tidur. Di setiap kamar hotel, penginapan ala Jepang (ryokan) dan pemandian air panas (Onsen), umumnya disediakan Yukata.

Yukata umumnya dibuat dari kain katun walaupun sekarang banyak yang dibuat dari bahan campuran, misalnya katun bercampur polyester. Yukata untuk laki-laki biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar gelap (seperti hitam, biru tua, ungu tua) dengan corak garis-garis warna gelap. Sedangkan Yukata untuk wanita biasanya terbuat dari bahan dengan warna dasar cerah atau warna pastel dengan corak beraneka warna yang cerah.

Beberapa pakaian khas jepang:

1. Furisode 
 
Furisode

2. Yukata

yukata

3. Geta


Makanan
Ketika menonton televisi di Jepang anda akan menemukan banyak acara yang menayangkan tentang makanan. Apapun saluran televisinya, sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) acara setiap harinya.

Jepang pada zaman sekarang disebut “pelahap Raksasa”. Hal ini sangat mungkin untuk bisa menikmati makanan dari berbagai negara di seluruh dunia. Makanan yang mudah sekali ditemukan adalah makanan ala Jepang, Cina, Korea, Yunani, India, dan Itali. 

Banyak keluarga yang menyantap roti panggang isi ham dan telur sebagai sarapan. Mie gandum sebagai makan siang, dan masakan china sebagai makan malam. Orang Jepang sangat menikmati masakan yang terbuat dari bermacam-macam kombinasi gaya masakan. Kegemaran ini tidak hanya dihususkan bagi orang Jepang atau Barat, namun tergantung pada wilayah atau orang-orangnya.

Menurut ceritera, makanan Jepang mengalami perubahan yang hebat semenjak peningkatan pertumbuhan ekonomi. Selama tahun 60-an jumlah anak muda yang meninggalkan pertanian untuk bekerja di-kota-kota besar meningkat drastis, sehingga menyebabkan populasinya membengkak. Hasilnya sulit mendapatkan sayur-sayuran, buah-buahan dan ikan, karena transportasinya sangat jauh, yakni langsung dari tempat penghasilannya ke kota-kota besar.

Dewasa ini Jepang sudah mulai enggan menikmati masakan tradisional Jepang. Mereka lebih menikmati makanan yang segar, tidak terpengaruh oleh musim dan dapat dimakan kapan saja, seperti hamburger, steak, spageti dan daging panggang.

Seiring perubahan masyarakat dari keluarga besar menjadi keluarga kecil, tugas para ibu rumah tangga untuk menanak nasi dan menyiapkan hidangan setiap hari juga perlahan-lahan semakin berubah. Pergi berbelanja di sore hari dan menyiapkan makan malam untuk keluarga masih dianggap bagian penting bagi ibu rumah tangga. Meningkatnya penggunaan lemari pendingin berarti tidak perlunya lagi para ibu berbelanja tiap hari. Jumlah wanita yang bekerja semakin meningkat. Selain menjadi ibu rumah tangga, harus mengatur waktu dengan kerja paruh waktu, para wanita juga harus berbelanja di super market untuk membeli makanan semi-jadi.

Di sore hari, kios-kios di pusat pebelanjaan yang menjual makanan semi-jadi penuh oleh pelanggan. Pelanggan itu biasanya berasal dari keluarga kecil. Harga makanan murah, dan rasanya pun enak. Mungkin hal inilah yang menjadi rahasianya. Sehingga banyak dikenal masyarakat.. Konsekwensinya, konsep makanan rumah dan makanan ibu, perlahan-lahan menghilang. Keluarga-keluarga yang makan diluar semakin banyak. Mereka yang disebut Pelahap Raksasa ini bisa ditafsirkan seperti sebuah reaksi perlawanan terhadap sesuatu. Menghidangkan sajian untuk untuk dicicipi oleh seseorang agar dicoba sesuatu yang istimewa dengan bahan ikan, ketan dan makanan segar lainnya.

Beberapa nama-nama makanan jepang yang terpopuler antara lain : sukiyaki, shabushabu, tenpura, udon, sushi, onigiri,senbe, mochi, dan lain-lain.

1. Tempura
 
tempura

2. Sushi
 
sushi

3. Shabu-shabu
 

4. Sukiyaki

sukiyaki

5. Udon

udon

6. Onigiri

onigiri



Referensi:
Gakken, 2004. Mukashi Banashi, Japan : Gakushu Kenshuusha.
Sugiura, Yoichi dan John K.Gillespie.1999. Nihon Bunka o Eigo de Shokai suru Jiten. Tokyo: Nashimesha.