Alam Semesta

Alam semesta ini sangat luas, banyak miliyaran bintang-bintang di luar angkasa. Ingin sekali menjelajah antar bintang dengan menggunakan pesawat pribadi. Untuk mengetahui ciptaan allah yang maha besar ini

Arsip Info

Senin, 07 Mei 2018

Inilah cara upaya penanganan kasus KDRT

cara upaya penanganan kasus terjadinya KDRT

KDRT dengan alasan apa pun dari waktu ke waktu akan berdampak terhadap keutuhan keluarga, yang pada akhirnya bisa membuat keluarga berantakan. Jika kondisinya demikian, yang paling banyak mengalami kerugian adalah anak-anaknya terlebih bagi masa depannya. Karena itulah perlu terus diupayakan mencari jalan terbaik untuk menyelamatkan institusi keluarga dengan tetap memberikan perhatian yang memadai untuk penyelamatan terutama anggota keluarga, dan umumnya masyarakat sekitarnya.

Pada hakekatnya secara psikologis dan pedagogis ada dua pendekatan yang dapat dilakukan untuk menangani KDRT, yaitu pendekatan kuratif dan preventif.

1.Pendekatan kuratif:
a. Menyelenggarakan pendidikan orangtua untuk dapat menerapkan cara mendidik dan memperlakukan anak-anaknya secara humanis.
b. Memberikan keterampilan tertentu kepada anggota keluarga untuk secepatnya melaporkan ke pihak lain yang diyakini sanggup memberikan pertolongan, jika sewaktu-waktu terjadi KDRT.
c. Mendidik anggota keluarga untuk menjaga diri dari perbuatan yang mengundang terjadinya KDRT. d. Membangun kesadaran kepada semua anggota keluarga untuk takut kepada akibat yang ditimbulkan dari KDRT.
e. Membekali calon suami istri atau orangtua baru untuk menjamin kehidupan yang harmoni, damai, dan saling pengertian, sehingga dapat terhindar dari perilaku KDRT.
f. Melakukan filter terhadap media massa, baik cetak maupun elektronik, yang menampilkan informasi kekerasan.
g. Mendidik, mengasuh, dan memperlakukan anak sesuai dengan jenis kelamin, kondisi, dan potensinya.
h. Menunjukkan rasa empati dan rasa peduli terhadap siapapun yang terkena KDRT, tanpa sedikitpun melemparkan kesalahan terhadap korban KDRT.
i. Mendorong dan menfasilitasi pengembangan masyarakat untuk lebih peduli dan responsif terhadap kasus-kasus KDRT yang ada di lingkungannya.

2. Pendekatan kuratif: 
a. Memberikan sanksi secara edukatif kepada pelaku KDRT sesuai dengan jenis dan tingkat berat atau ringannya pelanggaran yang dilakukan, sehingga tidak hanya berarti bagi pelaku KDRT saja, tetapi juga bagi korban dan anggota masyarakat lainnya.
b. Memberikan incentive bagi setiap orang yang berjasa dalam mengurangi, mengeliminir, dan menghilangkan salah satu bentuk KDRT secara berarti, sehingga terjadi proses kehidupan yang tenang dan membahagiakan.
c. Menentukan pilihan model penanganan KDRT sesuai dengan kondisi korban KDRT dan nilai-nilai yang ditetapkan dalam keluarga, sehingga penyelesaiannya memiliki efektivitas yang tinggi.
d. Membawa korban KDRT ke dokter atau konselor untuk segera mendapatkan penanganan sejak dini, sehingga tidak terjadi luka dan trauma psikis sampai serius.
e. Menyelesaikan kasus-kasus KDRT yang dilandasi dengan kasih sayang dan keselamatan korban untuk masa depannya, sehingga tidak menimbulkan rasa dendam bagi pelakunya.
f. Mendorong pelaku KDRT untuk sesegera mungkin melakukan pertaubatan diri kepada Allah swt, akan kekeliruan dan kesalahan dalam berbuat kekerasan dalam rumah tangga, sehingga dapat menjamin rasa aman bagi semua anggota keluarga.
g. Pemerintah perlu terus bertindak cepat dan tegas terhadap setiap praktek KDRT dengan mengacu pada UU tentang PKDRT, sehingga tidak berdampak jelek bagi kehidupan masyarakat. Pilihan tindakan preventif dan kuratif yang tepat sangat tergantung pada kondisi riil KDRT, kemampuan dan kesanggupan anggota keluarga untuk keluar dari praketk KDRT, kepedulian masyarakat sekitarnya, serta ketegasan pemerintah menindak praktek KDRT yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah tangga yang aman, nyaman, dan membahagiakan. Secara fitrah perbedaan individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan konflik. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi, sangatlah mungkin berkembang menjadi KDRT. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam bentuk yang ringan sampai berat, bahkan dapat menimbulkan korban kematian, sesuatu yang seharusnya dihindari.

Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif, perlu sekali setiap anggota keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT, sehingga tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Tentu saja hal ini hanya bisa dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Sebaliknya jika anggota keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT, secara proaktif masyarakat, para ahli, dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk ikut serta dalam penanganan korban KDRT, sehingga dapat segera menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak diinginkan.

Sabtu, 05 Mei 2018

5 Dampak KDRT terhadap anak harus anda tahu

Pada dasarnya setiap keluarga ingin membangun keluarga bahagia dan penuh rasa saling mencintai baik secara lahir maupun batin, dengan kata lain bahwa setiap keluarga sungguh menghendaki dapat membangun keluarga harmoni dan bahagia yang sering disebut keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Pada kenyataannya bahwa tidak semua keluarga dapat berjalan mulus dalam mengarungi hidupnya, karena dalam keluarga tidak sepenuhnya dapat dirasakan kebahagiaan dan saling mencintai dan menyayangi, melainkan terdapat rasa ketidaknyamanan, tertekan, atau kesedihan dan saling takut dan benci di antara sesamanya. Hal ini diindikasikan dengan masih dijumpainya pada sejumlah rumah tangga yang bermasalah, bahkan terjadi berbagai ragam kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

KDRT memiliki dampak yang sangat berarti terhadap perilaku anak, baik berkenaan dengan kemampuan kognitif, kemampuan pemecahan masalah, maupun fungsi mengatasi masalah dan emosi. Adapun 5 dampak KDRT secara rinci akan dibahas berdasarkan tahapan perkembangannya sebagai berikut:

1. Dampak terhadap Anak berusia bayi 
Usia bayi seringkali menunjukkan keterbatasannya dalam kaitannya dengan kemampuan kognitif dan beradaptasi. Anak bayi yang menyaksikan terjadinya kekerasan antara pasangan bapak dan ibu sering dicirikan dengan anak yang memiliki kesehatan yang buruk, kebiasaan tidur yang jelek, dan teriakan yang berlebihan. Bahkan kemungkinan juga anak-anak itu menunjukkan penderitaan yang serius. Hal ini berkonsekuensi logis terhadap kebutuhan dasarnya yang diperoleh dari ibunya ketika mengalami gangguan yang sangat berarti. Kondisi ini pula berdampak lanjutan bagi ketidaknormalan dalam pertumbuhan dan perkembangannya yang sering kali diwujudkan dalam problem emosinya, bahkan sangat terkait dengan persoalan kelancaran dalam berkomunikasi.

2. Dampak terhadap anak kecil
Dalam tahun kedua fase perkembangan, anak-anak mengembangkan upaya dasarnya untuk mengaitkan penyebab perilaku dengan ekspresi emosinya. Expresi marah dan kasih sayang yang terjadi secara alamiah dan berpura-pura. Selanjutnya ditegaskan bahwa ekspresi marah dapat menyebabkan bahaya atau kesulitan pada anak kecil. Kesulitan ini semakin menjadi lebih nampak, ketika ekspresi verbal dibarengi dengan serangan fisik oleh anggota keluarga lainnya. Bahkan banyak peneliti berhipotesis bahwa penampilan emosi yang kasar dapat mengancam rasa aman anak dalam kaitannya dengan lingkungan sosialnya.

Pada tahun ketiga ditemukan bahwa anak-anak yang merespon dalam interaksinya dengan kemarahan, maka yang ditimbulkannya adalah adanya sikap agresif terhadap teman sebayanya. Yang menarik bahwa anak laki-laki cenderung lebih agresif daripada anak-anak perempuan selama simulasi, sebaliknya anak perempuan cenderung lebih distress daripada anak laki-laki. Selanjutnya dapat dikemukakan pula bahwa dampak KDRT terhadap anak usia muda (anak kecil) sering digambarkan dengan problem perilaku, seperti seringnya sakit, memiliki rasa malu yang serius, memiliki self-esteem yang rendah, dan memiliki masalah selama dalam pengasuhan, terutama masalah sosial, misalnya : memukul, menggigit, dan suka mendebat.

3. Dampak terhadap Anak usia pra sekolah
Cumming (1981) melakukan penelitian tentang KDRT terhadap anak-anak yang berusia TK, pra sekolah, sekitar 5 atau 6 tahun. Dilaporkannya bahwa Anak-anak yang memperoleh rasa distress pada usia sebelumnya dapat diidentifikasi tiga tipe reaksi perilaku. Pertama, 46%-nya menunjukkan emosi negatif yang diwujudkan dengan perilaku marah yang diikuti setelahnya dengan rasa sedih dan berkeinginan untuk menghalangi atau campur tangan. Kedua, 17%-nya tidak menunjukkan emosi, tetapi setelah itu mereka marah. Ketiga, lebih dari sepertiganya, menunjukkan perasaan emosional yang tinggi (baik positif maupun negatif) selama berargumentasi. Keempat, mereka bahagia, tetapi sebagian besar di antara mereka cenderung menunjukkan sikap agresif secara fisik dan verbal terhadap teman sebayanya.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap 77 anak, Davis dan Carlson (1987) menemukan anak-anak TK yang menunjukkan perilaku reaksi agresif dan kesulitan makan pada pria lebih tinggi daripada wanita. Hughes (1988) melakukan penelitian terhadap ibu dan anak-anak yang usia TK dan non-TK, baik dari kelompok yang tidak menyaksikan KDRT maupun yang menyaksikan KDRT. Disimpulkan bahwa kelompok yang menyaksikan KDRT menunjukkan tingkat distress yang jauh lebih tinggi, dan kelompok anak-anak TK menunjukkan perilaku distres yang lebih tinggi daripada anak-anak non-TK. deLange (1986) melalui pengamatannya bahwa KDRT berdampak terhadap kompetensi perkembangan sosial-kognitif anak usia prasekolah. Ini dapat dijelaskan bahwa anak-anak prasekolah yang dipisahkan secara sosial dari teman sebayanya, bahkan tidak berkesempatan untuk berhubungan dengan kegiatan atau minat teman sebayanya juga, maka mereka cenderung memiliki beberapa masalah yang terkait dengan orang dewasa.

4. Dampak terhadap Anak usia SD
Jaffe dkk (1990) menyatakan bahwa pada usia SD, orangtua merupakan suatu model peran yang sangat berarti. Baik anak pria maupun wanita yang menyaksikan KDRT secara cepat belajar bahwa kekerasan adalah suatu cara yang paling tepat untuk menyelesaikan konflik dalam hubungan kemanusiaan. Mereka lebih mampu ,mengekspresikan ketakutan dan kecemasannya berkenaan dengan perilaku orangtuanya. Hughes (1986) menemukan bahwa anak-anak usia SD seringkali memiliki kesulitan tentang pekerjaan sekolahnya, yang diwujudkan dengan prestasi akademik yang jelek, tidak ingin pergi ke sekolah, dan kesulitan dalam konsentrasi. Wolfe et.al, 1986: Jaffe et.al, 1986, Christopoulus et al, 1987 menguatkan melalui studinya, bahwa anak-anak dari keluarga yang mengalami kekerasan domistik cenderung memiliki problem perilaku lebih banyak dan kompetensi sosialnya lebih rendah daripada keluarga yang tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Sementara studi yang dilakukan terhadap anak-anak Australia, (Mathias et.al, 1995) sebanyak 22 anak dari usia 6 sd 11 tahun menunjukkan bahwa kelompok anak-anak yang secara historis mengalami kekerasan dalam rumah tangganya cenderung mengalami problem perilaku pada tinggi batas ambang sampai tingkat berat, memiliki kecakapan adaptif di bawah rata-rata, memiliki kemampuan membaca di bawah usia kronologisnya, dan memiliki kecemasan pada tingkat menengah sampai dengan tingkat tinggi.

5. Dampak terhadap Anak remaja
Pada usia ini biasanya kecakapan kognitif dan kemampuan beradaptasi telah mencapai suatu fase perkembangan yang meliputi dinamika keluarga dan jaringan sosial di luar rumah, seperti kelompok teman sebaya dan pengaruh sekolah. Dengan kata lain, anak-anak remaja sadar bahwa ada cara-cara yang berbeda dalam berpikir, merasa, dan berperilaku dalam kehidupan di dunia ini. Misalnya studi Davis dan Carlson (1987) menyimpulkan bahwa hidup dalam keluarga yang penuh kekerasan cenderung dapat meningkatkan kemungkinan menjadikan istri yang tersiksa, sementara itu Hughes dan Barad (1983) mengemukakan dari hasil studinya bahwa angka kejadian kekerasan yang tinggi dalam keluarga yang dilakukan oleh ayah cenderung dapat menimbulkan korban kekerasan, terutama anak-anaknya.

Tetapi ditekankan pula oleh Rosenbaum dan O’Leary (1981) bahwa tidak semua anak yang hidup kesehariannya dalam hubungan yang penuh kekerasan akan mengulangi pengalaman itu. Artinya bahwa seberat apa pun kekerasan yang ada dalam rumah tangga, tidak sepenuhnya kekerasan itu berdampak kepada semua anak remaja, tergantung ketahanan mental dan kekuatan pribadi anak remaja tersebut. Dari banyak penelitian menunjukkan bahwa konflik antar kedua orangtua yang disaksikan oleh anak-anaknya yang sudah remaja cenderung berdampak yang sangat berarti, terutama anak remaja pria cenderung lebih agresif, sebaliknya anak remaja wanita cenderung lebih dipresif.


referensi:
Cummings, E.M., Zahn-Waxler, C. and Radke-Yarrow, M. 1981, 'Young children's responses to expressions of anger and affection by others in the family', Child Development, vol.52, pp.1274-82.
Davis, L. and Carlson, B. (1987), 'Observation of spouse abuse: what happens to the children?', Journal of Interpersonal Violence vol.2, no.3, pp.278- 91.
Hughes, H. (1986), Research with children in shelters: implications for clinical services, Children Today, vol.15, no.2, pp.21-5.
deLange, C. (1986), 'The family place children's therapeutic program', Children's Today, pp.12-15.
Christopoulos, C., Cohn, D., Shaw, D., Joyce, S., Sullivan-Hanson, J., Kraft, S. and Emery, R. (1987), 'Children of abused women: adjustmenet at time of shelter residence', Journal of the Marriage and the Family, vol. 49, pp. 611-19.
Mathias, J., Mertin, P. and Murray, B. (1995), 'The psychological functioning of children from backgrounds of domestic violence', Australian Psychologist, vol.30, no.1 (March).

Selasa, 01 Mei 2018

2 Tempat persekutuan dengan setan

iblis/setan

Proses ritual yang dikatakan mampu memperkaya para pelakunya, awalnya saya menduga luasnya implikasi fenomena ini terkait dengan berbagai isu-isu sosial dan ekonomi. Tetapi, selama empat bulan di lapangan, tujuan saya berubah. Meskipun masih memperhatikan isu-isu sosial dan ekonomi, tetapi yang lebih penting ternyata pengertian peranan kegiatan ritual ini dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Berikut ini adalah dua tempat persekutuan dengan setan/iblis

Di pemandian wendit
Pemandian Wendit adalah suatu tempat yang terletak di kota Malang. Cerita ritual yang ada di sana mengatakan siapa pun yang melakukan pemujaan di tempat tertentu di dalam lokasi pemandian, akan cepat kaya raya. Namun, tumbalnya yaitu mengorbankan nyawa anak atau orang yang amat disayangi, setiap tahun. Disamping pengorbanan itu, ketika pemuja meninggal dunia, dia menjadi pengikut siluman kera yang berada di Pemandian Wendit.

Tempat ini tidak lebih dari lokasi pemandian, terutama bagi anak SMA. Keramaian biasanya terjadi ketika Idul Fitri. Di tepi pemandian, ada beberapa warung kecil dan laki-laki yang menawarkan perjalanan naik perahu. Di lokasi pemandian terdapat banyak kera, yang juga suka mencopet. Juga ada seorang ibu yang menjual pisang. Mereka hanya berada di pintu gerbang masuk ke dalam taman.

Ningsih "kadung (terlanjur) tergiur dengan limpahan kekayaan" dan mempersiapkan sesaji yang diperlukan. Dipandu oleh Juru Kunci Pemandian Wendit, Ningsih masuk ke dunia persekutuan dengan setan. Sebulan kemudian, pesugihan mulai mengalir. Akan tetapi, setiap tahun, sejak melakukan persekutuan itu, salah seorang anak Ningsih mati akibat kecelakaan tragis, tanpa sebab yang jelas. Kematian ini terus menerus terjadi menimpa ketiga anaknya. Waktu terus berlalu dan terakhir kalinya terjadi di malam Jumat Kliwon. Rumah Ningsih didatangi ratusan kera. Kera itu mulai merusak rumahnya bahkan membakarnya. Kini, kehidupan Ningsih kembali seperti semula, penuh penderitaan. Hartanya habis dan semua anaknya mati.

Peziarahan ke pesarean gunung kawi
Gunung Kawi sangat terkenal sebagai salah satu tempat ritual yang dapat mengabulkan permohonan. Kesohorannya itu membuat banyak sekali pengunjung yang datang, bahkan dari seluruh dunia. Salah satu lokasi yang sangat terkenal di sana adalah Pesarean. Di Pesarean ini ada dua makam tokoh penyebar agama Islam, yang dipercayai memiliki kekuatan penyembuhkan penyakit. Mereka hidup sekitar abad ke-18. Kedua tokoh ini bernama Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono, dipercaya memiliki sifat-sifat luhur dan jiwa kepahlawan. 

Eyang Djoego adalah keturunan Kerajaan Surakarta yang berkuasa pada abad ke-18 dan Imam Soedjono adalah keturunan Kerajaan Yogyakarta yang berkuasa di era yang sama. Dua tokoh ini memiliki wasiat agar jika meninggal, jenazahnya dimakamkan di Gunung Kawi. Jadi, sesudah kemangkatannya, mereka dimakamkan tepat di titik di Gunung Kawi, yang dianggap keramat. Eyang Djoego dan Imam Soedjono dipercaya memiliki wasilah Tuhan. Dengan demikian, setiap permohonan yang diajukan di makamnya sangat mungkin terwujud atau terkabul. Ada tiga permohonan utama yang diajukan peziarah saat mengujungi makam tersebut. Permohonan ini adalah keselamatan, sehat dan sembuh dari penyakit serta banyak rezeki.

Selain pemakaman itu, di Pesarean Gunung Kawi ada lokasi yang juga menarik perhatian, yaitu bangunan Cina, Dewa Ciam Si dan Dewi Kwan Im. Tempat ini dipergunakan bagi mereka yang ingin meramalkan atau menentukan nasib dengan bersembahyang.Kemudian, ada sebuah pohon keberuntungan yang disebutkan pohon Dewa Dam (Dewandaru, dalam Bahasa Jawa). Buah pohon ini dipercaya membawa banyak rezeki. Dan yang terakhir adalah Pemandian Sumber Urip, yang dijadikan tempat mandi.

Dampak globalisasi dan modernisasi, masyarakat Jawa mengalami moneterisasi dan sekarang lebih menujukkan ciri-ciri konsumerisme dan materialisme. Yang merupakan dampak krisis moneter, mencari uang menjadi lebih sulit dan tentu saja menimbulkan perasaan ketidakpastian.

Jadi, apa arti semua ini? Sebagian budaya Jawa, kegiatan mistis turut berubah. Menurut budaya Jawa, lingkungan kegiatan mistis juga bergerak menjadi lebih modern dan dalam keadaan tertentu, perubahan itu mulai muncul dengan banyaknya pelayanan ritual mistis yang dilakukan dengan tujuan menghasilkan uang. 

Saya menduga bahwa kemiskinan, yang diciptakan oleh kesulitan ekonomi dan kekacauan politik, ditambah dengan perhatian terus-menerus terhadap Kejawen dan agama, akan mendatangkan kepopuleran kegiatan ritual ini. Bahkan kondisi ini akan berlangsung lama.

Senin, 30 April 2018

Inilah tempat ritual mistis pesugihan dan pengasihan

ritual mistis pesugihan dan pengasihan

Ternyata, menurut budaya masyarakat Jawa, istilah kekayaan tidak terbatas arti harta atau uang saja. Di Jawa, orang kaya bisa saja berarti orang yang memiliki jabatan dan sukses berusaha, atau menemukan jodoh yang baik dan mempunyai keluarga yang sehat. Tidak hanya itu, bisa juga berarti mencapai tujuan lain yang sangat diinginkan, misalnya menjadi cantik dan terkenal.

Ada dua istilah yang biasanya terkait dengan ritual mistis, pertama adalah pesugihan, Orang yang mencari pesugihan adalah mereka yang menjalankan proses ritual mistis untuk menambah kekayaan harta dan uang, lebih dari pada yang dimilikinya saat ini.Sedangkan istilah lainnya adalah pengasihan. Pelaku pengasihan adalah mereka yang melakukan ritual mistis dengan tujuan-tujuan tertentu yang diinginkan, misalnya ingin hidup sehat/naik jabatan, mendapat jodoh, cantik dan disenangi atasan, atau ingin menimba ilmu tertentu misalnya ingin kebal atau berumur panjang.

Makam walisongo di masjid ampel surabaya
Makam Walisongo tersebar di berbagai wilayah di Pulau Jawa. Walisongo adalah sembilan orang wali atau sunan, orang-orang yang pertama menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Ada yang menggambarkan, karena kedekatannya dengan Allah, maka permohonannya selalu dikabulkan dan mereka juga memiliki kekuatan mistis yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat. Oleh karena itu makam mereka tidak pernah sepi sari peziarah. Mereka beralasan jika berdo'a di makam Walisongo akan cepat mendapat wasilah Allah. Dengan demikian, apa yang menjadi permintaan mereka akan segera terwujud atau dikabulkan. Dari peziarah yang datang, sebagian besar berdo'a memohon kekayaan, dengan berbagai cara. Misalnya ada yang memohon tambah rezeki,kelancaran profesi dan usaha atau penglaris atau bahkan meminta pesugihan. Sangat terkenalnya makam Walisongo ini sehingga banyak dimanfaatkan beberapa orang dengan membuka paket tour berkeliling Jawa khusus mengunjungi kesembilan pemakaman Walisongo ini. Bahkan kegiatan tour ini sudah sangat terkenal dan mendapat tanggapan positif dari masyarakat.

Dukun dan paranormal di kabupaten banyuwangi
Wilayah Banyuwangi di Jawa Timur adalah satu tempat yang sangat terkenal dengan perdukunan dan kegiatan paranormal, atau lebih spesifik lagi dukun santet. Di sini saya bertemu dengan dukun yang pandai meramal. Di antara para dukun dan paranormal yang saya temui, ada yang mengakui kekuatan yang mereka miliki merupakan berkah untuk menyampaikan keinginan Allah. Disamping juga ada dukun dan paranormal yang mengaku kekuatannya terkait dengan kebatinan. Saya diberitahu oleh orang yang mempergunakan jasa dukun atau paranormal ini, keinginan yang mereka sampaikan bermacam-macam, termasuk mencari kekayaan.

Dari dukun yang saya temui, orang yang datang biasanya memiliki masalah tertentu yang spesifik. Misalnya perempuan yang saya lihat sedang berbicara dengan dukun, punya masalah suaminya ingin menikah lagi dan ia tidak ingin kehilangan suaminya. Dukun itu menyuruh dia melakukan beberapa hal termasuk mengumpulkan beberapa barang tertentu milik suaminya, kemudian membungkus dengan kemeja dan membakarnya.

Kemudian, saya juga bertemu dengan seorang peramal. Peramal itu menggunakan alat kartu untuk meramalkan kejadian di masa depan. Dia mengakui kekuatannya yang dimiliki merupakan keturunan dari neneknya. Selanjutnya, untuk menambah kekuatannya, sebulan sekali, dia harus ke kuburan untuk melakukan ritual tertentu.

Cara yang dipergunakan hampir sama dengan dukun yang saya temui sebelumnya, peramal ini juga bertujuan memecahkan masalah yang spesifik. Misalnya, setelah saya berkonsultasi, ada dua perempuan datang untuk bertemu dengan peramal. Salah seorang dari mereka, ingin menanyakan kecocokan lelaki, sebagai calon suaminya. Ia melakukannya karena sudah lama gagal mencari jodoh.

Ilmu susuk di kabupaten banyuwangi
Ilmu susuk adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara memasukkan benda tertentu dalam tubuhnya. Susuk, biasanya berbentuk jarum atau bola yang sangat kecil terbuat dari emas atau perak, dipasang di salah satu atau beberapa anggota tubuh oleh seorang dukun. Cara yang digunakan sesuai ajaran yang dianut oleh sang dukun. Jika seorang dukun yang mempergunakan ajaran Islam, sambil memasukkan susuk pada seseorang, akan membaca do'a biar berkah Allah masuk dan mengaliri badan orang yang disusuk. Sedangkan, jika dukun menganut ajaran selain Islam, yang dipakai adalah mantra meminta kekuatan gaib memasuki dan mengaliri badan orang yang disusuk.

Tujuannya susuk, bermacam-macam tergantung keinginan dan keadaan. Misalnya, menurut seorang dukun dari Banyuwangi, ada banyak wanita tuna susila yang menghendaki dipasang susuk agar bertambah cantik atau penampilannya lebih muda dan menarik. Bahkan, ada juga wanita tuna susila yang disusuk dengan tujuan penglaris atau dalam kata lain, biar usahanya tetap lancar (atau banyak lelaki yang datang).

Rabu, 28 Februari 2018

Waspada, merubah guna lahan bisa menyebabkan banjir

Banjir

Bencana banjir
Banjir dapat berupa genangan pada lahan yang biasanya kering seperti pada lahan pertanian, permukiman, pusat kota. Banjir dapat juga terjadi karena debit/volume air yang mengalir pada suatu sungai atau saluran drainase melebihi atau diatas kapasitas pengalirannya. Luapan air biasanya tidak menjadi persoalan bila tidak menimbulkan kerugian, korban meninggal atau luka-2, tidak merendam permukiman dalam waktu lama, tidak menimbulkan persoalan lain bagi kehidupan sehari-hari. Bila genangan air terjadi cukup tinggi, dalam waktu lama, dan sering maka hal tersebut akan mengganggu kegiatan manusia. Dalam sepuluh tahun terakhir ini, luas area dan frekuensi banjir semakin bertambah dengan kerugian yang makin besar.

Secara umum dampak banjir dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung relative lebih mudah diprediksi dari pada dampak tidak langsung. Dampak yang dialami oleh daerah perkotaan dimana didominasi oleh permukiman penduduk juga berbeda dengan dampak yang dialami daerah perdesaan yang didominasi oleh areal pertanian.

Banjir yang menerjang suatu kawasan dapat merusak dan menghanyutkan rumah sehingga menimbulkan korban luka-luka maupun meninggal seperti yang terjadi di Wasior maupun Bohorok. Banjir juga dapat melumpuhkan armada angkutan umum (bus mikro, truk) atau membuat rute menjadi lebih jauh untuk bisa mencapai tujuan karena menghindari titik genangan seperti yang sering terjadi di jalur pantura Jawa. Banjir mengganggu kelancaran angkutan kereta api dan penerbangan. Penduduk seringkali harus mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, bebas banjir seperti yang setiap tahun terjadi di Cienteung, Bandung Selatan.

Banjir juga merupakan bencana yang relatif paling banyak menimbulkan kerugian. Kerugian yang ditimbulkan oleh banjir, terutama kerugian tidak langsung, mungkin menempati urutan pertama atau kedua setelah gempa bumi atau tsunami. Bukan hanya dampak fisik yang diderita oleh masyarakat tetapi juga kerugian non-fisik seperti sekolah diliburkan, harga barang kebutuhan pokok meningkat, dan kadang-kadang sampai ada yang meninggal dunia.

Penyebab Terjadinya Banjir: Perubahan Guna Lahan
Terjadinya banjir disebabkan oleh kondisi dan fenomena alam (topografi, curah hujan), kondisi geografis daerah dan kegiatan manusia yang berdampak pada perubahan tata ruang atau guna lahan di suatu daerah. Banjir di sebagian wilayah Indonesia, yang biasanya terjadi pada Januari dan Februari, yaitu diakibatkan oleh intensitas curah hujan yang sangat tinggi, misalnya intensitas curah hujan DKI Jakarta lebih dari 500 mm (BMKG, 2013).

faktor penyebab banjir adalah perubahan guna lahan, pembuangan sampah, erosi dan sedimentasi, kawasan kumuh di sepanjang sungai, system pengendalian banjir yang tidak tepat, curah hujan tinggi, fisiografi sungai, kapasitas sungai yang tidak memadai, pengaruh air pasang, penurunan tanah, bangunan air, kerusakan bangunan pengendali banjir.

Berdasarkan kodisi geografisnya, kawasan yang terletak di dataran banjir mempunyai resiko yang besar tergenang banjir. Selain Jakarta, beberapa kota besar di Indonesia terletak di dataran banjir sehingga mempunyai resiko yang besar tergenang banjir. Banjir saat ini banyak yang terjadi pada wilayah dataran banjir. Sebanyak 13 sungai di Jakarta berpotensi banjir (Bisnis Indonesia, 2012).

Terjadinya banjir juga dipengaruhi oleh kegiatan manusia atau pembangunan yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi lingkungan. Banyak pemanfaatan ruang yang kurang memperhatikan kemampuannya dan melebihi kapasitas daya dukungnya.

Di wilayah perkotaan, ruang terbuka hijau dan taman kota luasnya masih banyak yang dibawah luas yang ideal untuk sebuah kota, kini semakin berkurang terdesak oleh permukiman maupun penggunaan lain yang dianggap mampu memberikan keuntungan ekonomi yang lebih tinggi.

Akibat dari berkurangnya RTH kota maka tingkat infiltrasi di kawasan tersebut menurun sedangkan kecepatan dan debit aliran permukaannya meningkat. Ketika turun hujan lebat dalam waktu yang lama, maka sebagian besar air hujan akan mengalir diatas permukaan tanah dengan kecepatan dan volume yang besar dan selanjutnya terakumulasi menjadi banjir. Banyak kawasan atau jalan-jalan di Bandung yang mengalami hal seperti tersebut sehingga mirip sungai di tengah kota.

Dalam hal perilaku atau kesadaran masyarakat terhadap lingkungan, masih banyak masyarakat yang belum atau kurang menyadari bahwa perilaku sehari-hari atau kegiatan yang dilakukannya dapat merugikan orang lain, baik di daerah tersebut maupun di daerah lain.

Banjir di DAS Citarum juga disebabkan oleh beragam persoalan seperti penggundulan kawasan hulu DAS, penurunan muka tanah akibat penggunaan air yang berlebihan, sedimentasi, dan perilaku masyarakat di sekitar sungai yang kurang baik dalam memperlakukan lingkungan, terutama dalam membuang sampah ke badan sungai (Kodoatie dan Syarief, 2006; Rosyidie dkk, 2012).

Salah satu penyebab terjadinya banjir Bandung Selatan adalah terjadinya perubahan guna lahan di wilayah hulu DAS Citarum terutama di kawasan Gunung Wayang. Kawasan yang semula penggunaan lahannya didominasi oleh hutan, baik yang dikelola oleh perhutani maupun pihak lain (termasuk masyarakat), kini telah banyak yang berubah menjadi pertanian hortikultura dengan tanaman musiman seperti kentang, wortel, dll yang memerlukan waktu singkat untuk dapat dipanen (Rosyidie dkk, 2012).

Kegiatan tersebut dalam waktu singkat memang mampu memberikan pendapatan yang cukup besar kepada petani, namun dampak lingkungan yang ditimbulkan cukup serius bukan hanya bagi wilayah tersebut tetapi juga bagi wilayah dibawahnya. Banyak tanah dengan kelerengan tinggi/terjal ditanami tanaman musiman sehingga tidak mampu melindungi tanah dari erosi. Walaupun masyarakat sudah dihimbau untuk beralih ke pekerjaan lain dan menanami lahan mereka dengan tanaman keras atau tanaman tahunan, namun dengan pertimbangan ekonomi dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maka tidak banyak penduduk yang bersedia merubah pola tanam mereka. Akibatnya, tingkat erosi di kawasan tersebut tetap tinggi sehingga menimbulkan sedimentasi dan banjir di wilayah bawahnya.

Berdasarkan kualitas atau kondisinya, banyak DAS yang dalam kondisi kritis. Jumlah DAS kritis mengalami peningkatan dari 22 DAS (1970) menjadi 36 DAS (1980) dan sejak tahun 1999 menjadi 60 DAS. Peningkatan jumlah DAS kritis tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan DAS selama ini belum benar (Departemen Kehutanan, 2009).

Dari 458 DAS yang ada di Indonesia, sebanyak 282 daalam kondisi kritis (terdiri dari 222 DAS kritis dan 60 DAS termasuk kritis berat) dan 176 berpotensi kritis, yang diakibatkan terutama oleh alih fungsi lahan. Semakin hilangnya vegetasi di bagian hulu DAS menyebabkan DAS tidak mampu berfungsi menyerap air hujan, bahkan mengalami erosi dan menyebabkan aliran air banyak membawa sedimentasi ke arah hilir (AntaraJawaBarat 2013).

Dari 41 DAS di Jawa Barat, banyak yang berada dalam kondisi kritis dan sangat kritis. DAS Citarum merupakan salah satu DAS di propinsi Jawa Barat, yang dalam kondisi kritis (Pikiran Rakyat, 2012). Kekritisan DAS dapat dilihat dari berbagai kriteria seperti perbedaan debit minimum dengan debit maksimum, luas lahan kritis, tingkat erosi dan sedimentasi, kualitas atau pencemaran air, dll.

Kekritisan DAS juga dapat dilihat dari berkurangnya luas vegetasi penutup permanen dan bertambah luasnya lahan kritis sehingga menurunkan kemampuan DAS dalam penyimpanan air yang berdampak pada meningkatnya frekuensi banjir, erosi dan tanah longsor pada waktu musim penghujan dan kekeringan pada waktu musim kemarau (Departemen Kehutanan, 2009).

Salah satu penyebab terjadinya banjir di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung dan Sumedang adalah penurunan alih fungsi lahan DAS Citarum. Pada saat ini kondisi hutan di hulu DAS Citarum sudah sangat kritis akibat perambahan hutan atau illegal logging, yang dilakukan oleh masyarakat untuk kemudian ditanami tanaman hortikultura seperti sayuran (Pikiran Rakyat 2010). Akibatnya, pada waktu turun hujan maka hutan sudah tidak mampu untuk menyimpan air. Air hujan akan langsung mengalir sebagai aliran permukaan dan terjadi banjir.

Saat ini hulu DAS Citarum sudah tidak dapat lagi menyerap atau menahan air hujan sehingga terjadi erosi dan kemudian material hasil erosi tersebut terbawa air mengalir ke wilayah hilir (Pikiran Rakyat, 210).

Kompleksnya permasalahan banjir di Kabupaten Bandung dan wilayah lainnya ternyata juga terkait dengan kelemahan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan dan perilaku manusia (Pikiran Rakyat, 2010).

Banjir di luar Jawa dari tahun ke tahun juga meningkat dengan salah satu penyebab utama karena pembalakan liar. Daerah yang semula mengalami genangan biasa sekarang sudah menjadi bencana karena bertambahnya tinggi dan lama genangan (Kodoatie dan Syarief, 2006).

Diantara berbagai faktor penyebab terjadinya banjir tersebut diatas, faktor perubahan guna lahan atau tata ruang merupakan penyebab utama terjadinya banjir di banyak daerah (Kodoatie dan Syarief, 2006).

Di Gunung Wayang, hulu DAS Citarum, kawasan yang semula didominasi oleh hutan kini telah banyak yang berubah menjadi pertanian holtikultura dengan tanaman kentang, wortel, dll yang memerlukan waktu singkat untuk dapat dipanen (Lestari, 2012; Rosyidie dkk, 2012). Akibatnya, tingkat erosi di kawasan tersebut tinggi sehingga menimbulkan sedimentasi dan banjir di wilayah bawahnya.

Kondisi DAS Citarum yang kritis juga akibat pola penggunaan lahan dan juga terjadinya fenomena perubahan iklim berpotensi mengakibatkan banjir dengan frekuensi yang lebih sering.

Menurut Rizaldi (Kompas, 2013), sampai tahun 2025 guna lahan di DAS Citarum yang paling tinggi tingkat pertumbuhannya adalah permukiman. Bila pola penggunaan lahannya sampai tahun 2010 tidak mengalami perubahan maka pertambahannya bisa mencapai 4.000 Hektar per tahun. Pertambahan areal permukiman yang sangat pesat berasal dari alih fungsi lahan dari hutan dan persawahan menjadi permukiman dan non sawah. Diperkirakan per tahun sekitar 2.500 hektar hutan dan 2.600 hektar sawah mengalami perubahan.

Luas daerah di cekungan Bandung yang sering terkena banjir mencapai 22.000 hektar dengan periode ulang banjir lebih dari 25 tahun. Bila kecenderungan perubahan kondisinya masih seperti saat ini maka diperkirakan pada 2025 periode ulang banjir di kawasan tersebut akan menjadi lebih cepat, yaitu antara 10-25 tahun (Kompas, 2013).

Rizaldi menegaskan bahwa di Cekungan Bandung terdapat 2.000 hektar lahan yang biasanya mengalami banjir setiap 2 atau 3 tahun, akan menjadi banjir tahunan akibat dari perubahan guna lahan dan perubahan iklim (Kompas, 2013).


Referensi:
Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (2013): Analisis Hujan Bulan Januari 2013. Buletin BMKG.
Bisnis Indonesia (2012): 13 Sungai di Jakarta Berpotensi Banjir. Edisi 21 November 2012.
Kodoatie, Robert, J dan Roestam Sjarief (2006): Pengelolaan Bencana Terpadu.
Penerbit Yarsif Watampone, Jakarta. Rosyidie, Arief, dkk. (2012): Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum. Laporan Penelitian LPPM, ITB
Kodoatie, Robert, J dan Roestam Sjarief (2006): Pengelolaan Bencana Terpadu. Penerbit Yarsif Watampone, Jakarta. Departemen Kehutanan (2009): Kerangka Kerja Pengelolaan DAS di Indonesia.

Kamis, 11 Januari 2018

8 Cara perawatan kehamilan oleh ibu hamil

Ibu hamil

Kehamilan dan pada hakekatnya kodrat alam yang harus dijalankan kaum wanita yang sekaligus dapat merupakan ancaman yang terhadap keselamatan jiwanya, agar hal tersebut tidak merupakan ancaman yang serius maka kehamilan perlu perawatan disertai pertolongan yang baik. Perawatan kehamilan sebagai suatu sub system pelayanan kesehatan sangat terkait dengan fungsi reproduksi wanita maka upaya tersebut sangat ditentukan oleh perilaku ibu sendiri.

Perawatan pada kehamilan merupakan salah satu tahapan penting menuju kehamilan yang sehat salah satunya adalah dengan pemeriksaan kehamilan.Untuk menekan angka kematian Ibu akibat melahirkan kelak, sehingga kesejahteraan ibu betul-betul sudah diperhatikan sejak masa nifas.Kelainan kehamilan dapat diketahui secara dini sehingga bisa diantisipasi secara dini, kelainan-kelainan selama kehamilan. Boleh dikatakan pemeriksaan kehamilan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para ibu hamil. 

Perawatan kehamilan atau pemeriksaan kehamilan ini penting karena berguna dalam mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, memonitor kesehatan ibu dan janin supaya persalinannya aman, agar tercapainya kesehatan bayi yang optimal, mendeteksi dan mengatasi dini komplikasi dan penyakit kehamilan yang mungkin dapat muncul misalnya: hipertensi dalam kehamilan diabetes dalam kehamilan (gestasional diabetes), anemia, janin dengan berat badan rendah, kehamilan anggur, plasenta previa (ari-ari menutup jalan lahir), infeksi dalam kehamilan misalnya keputihan atau imfeksi saluran kemih dan lain-lain.

Berikut ini adalah cara perawatan kehamilan, yaitu:

1. Makan makanan yang sehat dan bergizi empat sehat lima sempurna.
2. Hindari merokok minuman beralkohol, narkotika, obat terlarang.
3. Cukup istirahat dan hindari pekerjaan berat.
4. Menjaga kebersihan diri dan dan lingkungan.
5. Menjaga kebersihan gigi dan mulut.
6. Merawat payudara.
7. Memperoleh suntikan TT (Anti tetanus).
8. Memeriksa secara teratur ketempat pelayanan kesehatan (Bidan Praktek Swasta, Puskesmas, Dokter Praktek swasta) sedikitnya 4x selama kehamilan :
  • Tiga bulan pertama 1x.
  • Tiga bulan kedua 1x.
  • Tiga bulan ketiga 2x.
  • Apabila menderita penyakit harus memriksakan kedokter, tidak boleh minum obat tanpa sepengetahuan tenaga kesehatan.
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan).Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran).

Asuapan makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan ibu dan bayi pada saat kehamilan sampai melahirkan. Status gizi ibu hamil dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial ekonomi dan keadaan kesehatan ibu hamil selama kehamilan, berbagai resiko dapat terjadi jika ibu hamil mengalami kurang gizi yaitu abortus, bayi lahir mati, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan retardasi mental. Pada ibu hamil yang kekurangan gizi maka perlu pemberian kalori tambahan agar tubuh segera mengalami kondisi yang ideal, meskipun berbagai literatur menyebutkan bahwa ibu hamil kurang gizi, bisa melahirkan anak tanpa ada kelainan apapun. Akan tetapi risiko kehamilan serta saat melahirkan tentunya lebih tinggi dibandingkan ibu hamil dengan kondisi gizi yang sempurna.

Sabtu, 06 Januari 2018

4 Dampak negatif bahaya poligami pada anak

Bahaya poligami
Betapa bahagia dan indahnya apabila semua orang tua bisa mendidik anaknya dengan baik serta membentuknya menjadi pribadi yang shaleh, tentunya pertama kali yang mesti mereka terapkan adalah memperbaiki perilakunya sendiri dalam keluarganya. Jadi, jika seorang ayah tidak dapat menjamin akan dapat berlaku adil maka ia harus mengubur niatnya untuk berpoligami dan mulai memikirkan cara untuk memperbaiki keadaan keluarga dan perkembangan psikologi anak yang tak berdosa yang bisa menjadi korban dari kerusakan atau penyelewengan moral akibat tatanan keluarga yang tak utuh. Keadaan keluarga sangat mempengaruhi perjalanan hidup dan masa depan anak karena lingkungan keluarga merupakan arena dimana anak-anak mendapatkan pendidikan pertama, baik rohani maupun jasmani.

Sudah menjadi keharusan bagi orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya, karena anak-anak yang tidak mendapatkan bimbingan dan pendidikan yang wajar dari orang tuanya akan menimbulkan kelemahan pada diri anak dalam perkembangan dan pertumbuhan psikologisnya. Kalau hal ini diasumsikan ke dalam keluarga yang berpoligami, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana hubungan antara anak dengan ayahnya. Seorang ayah yang berpoligami berarti ia harus menghadapi lebih dari satu keluarga yang harus diurus dan dipimpinnya. Dengan memimpin dua rumah tangga atau lebih, berarti ayah tidak selamanya berada dan menetap pada satu rumah tangga isterinya. 

Akan tetapi senantiasa berpindah-pindah dari rumah isteri yang satu ke rumah isteri yang lain dan seterusnya. Dengan keadaan seperti demikian itu, maka kesempatan seorang ayah untuk bertemu dengan dan bergaul dengan anak-anaknya sangatlah terbatas. Hal itu berarti terbatas pula waktu untuk bertemu dan bergaul dengan anak-anaknya secara continu. Kondisi rumah tangga dalam bentuk demikian menyebabkan banyak di antara anak-anak yang ayahnya berpoligami itu terlantar pendidikannya. Dan selanjutnya mempengaruhi perkembangannya, misalnya anak menjadi pemalas dan kehilangan semangat dan kemampuan belajarnya. Di samping itu tidak jarang menimbulkan terjadinya kenakalan-kenakalan dan traumatik bagi anak hingga mereka berkeluarga. 

Terjadinya tindakan-tindakan atau kasus-kasus tersebut merupakan akibat negatif dari keluarga yang berpoligami yang disebabkan karena hal-hal sebagai berikut:

Pertama, anak merasa kurang disayang. Salah satu dampak terjadinya poligami adalah anak kurang mendapatkan perhatian dan pegangan hidup dari orang tuanya, dalam arti mereka tidak mempunyai tempat dan perhatian sebagaimana layaknya anak-anak yang lain yang orang tuanya selalu kompak. Adanya keadaan demikian disebabkan karena ayahnya yang berpoligami, sehingga kurangnya waktu untuk bertemu antara ayah dan anak, maka anak merasa kurang dekat dengan ayahnya dan kurang mendapatkan kasih sayang seorang ayah.

Kurangnya kasih sayang ayah kepada anaknya, berarti anak akan menderita karena kebutuhan psikisnya yang tidak terpenuhi. Selain itu, kurangnya perhatian dan pengawasan dari ayah kepada anak-anaknya akan menyebabkan anak tumbuh dan berkembang dengan bebas. Dalam kebebasan ini anak tidak jarang mengalami dekadensi moral karena dalam pergaulannya dengan orang lain yang terpengaruh kepada hal-hal yang kurang wajar.

Kedua, tertanamnya kebencian pada diri anak. Pada dasarnya tidak ada anak yang benci kepada orang tuanya, begitu pula orang tua terhadap anaknya. Akan tetapi perubahan sifat tersebut mulai muncul ketika anak merasa dirinya dan ibunya ”ternodai” karena ayahnya berpoligami. Walaupun mereka sangat memahami bahwa poligami dibolehkan (sebagaimana dalam QS An-Nisa ayat 3) tapi mereka tidak mau menerima hal tersebut karena sangat menyakitkan. Apalagi ditambah dengan orang tua yang akhirnya tidak adil, maka lengkaplah kebencian anak kepada ayahnya.

Kekecewaan seorang anak karena merasa dikhianati akan cintanya dengan ibunya oleh sang ayah akan menyebabkan anak tidak simpati dan tidak menghormati ayah kandungnya.

Ketiga, tumbuhnya ketidak percayaan pada diri anak. Persoalan yang kemudian muncul sebagai dampak dari poligami adalah adanya krisis kepercayaan dari keluarga, anak, dan istri. Apalagi bila poligami tersebut dilakukan secara sembunyi dari keluarga yang ada, tentu ibarat memendam bom waktu, suatu saat lebih dahsyat reaksi yang ada. Sesungguhnya poligami bukan sesuatu yang harus dirahasiakan tapi sesuatu yang sejatinya harus didiskusikan, jadi jangan ada dusta di antara suami, istri, dan anak. Komunikasi dan diskusi tersebut tidak dilakukan oleh suami karena seorang suami ingin melakukan poligami dikarenakan alasan seks semata.

Keempat, timbulnya traumatik bagi anak. Dengan adanya tindakan poligami seorang ayah maka akan memicu ketidak harmonisan dalam keluarga dan membuat keluarga berantakan. Walaupun tidak sampai cerai tetapi kemudian akan timbul efek negatif, yaitu anak-anak menjadi agak trauma terhadap perkawinan. 

Berangkat dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup dan pendidikan adalah orang tua (keluarga). Akan tetapi dalam hal ini dimana orang tua memikul tanggung jawab dalam kaitannya dengan pendidikan anak-anak, karena apabila orang tua kurang memperhatikan dan memberikan motivasi terhadap pendidikan anak-anaknya maka lambat laun anak-anaknya pun kurang memperhatikan sekolahnya dan bahkan akan putus sekolah.

5 Dampak poligami ayah terhadap anak

Poligami

Untuk mengembangkan potensi anak, peranan orang tua sangatlah penting, karena berhasil atau tidaknya pendidikan anak tergantung dari bagaimana perhatian orang tua terhadap anaknya dan pendidikan dalam keluarga merupakan tanggungjawab orang tua, karena itu orang tua hendaknya selalu menanamkan nilai-nilai yang baik sejak dini terhadap anak-anaknya sehingga anak-anak itu nantinya akan menjadi anak yang berguna bagi masyarakat, nusa dan bangsa serta agama sesuai dengan tujuan perkawinan dan pendidikan. 

Kenyataan yang masih terlihat dalam dunia poligami adalah ketika sang ayah melakukan poligami, sang ayah cenderung tidak menghiraukan pendapat anak, maka bisa saja akan berdampak negatif pada proses tumbuh kembangnya dan akan mengganggu emosi anak. Poligami tidak hanya berdampak pada psikologis anak akan tetapi bisa juga berpengaruh pada fisik dan minat belajarnya.

Dampak pada anak-anak tergantung pada tingkat usia anak apakah masih anak-anak remaja atau sudah dewasa dan cara orang tua menangani anaknya. Penting juga pengetahuan yang dimiliki anak tentang peristiwa tersebut. Anak-anak perlu informasi jujur sesuai umur dari orangtuanya. Bila anak melihat ayah mencaci ibunya dengan kata-kata keji, perlahan-lahan ia terbiasa dengan kebencian dan rasa kasih sayangnya akan hilang. Krisis dalam keluarga akan menimbulkan sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan dan kurang belas kasih pada sesama.

Komunikasi yang negatif juga mempengaruhi perkembangan otaknya. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Ini berkaitan dengan bagian otak yang bernama korteks, pusat logika. Bagian ini hanya bisa dijalankan kalau emosi anak dalam keadaan tenang. Bila anak tertekan karena terus-menerus terperangkap dalam situasi yang kacau, penganiayaan, pengabaian, maka input hanya sampai ke batang otak. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu.

Pengaruh yang paling besar adalah pengaruh terhadap perkembangan anak dan masa depannya. Dalam suasana yang tidak harmonis akan sulit terjadi proses pendidikan yang baik dan efektif, anak yang dibesarkan dalam suasana seperti itu tidak akan memperoleh pendidikan yang baik sehingga perkembangan kepribadian anak mengarah kepada wujud pribadi yang kurang baik. Akibat negatifnya sudah dapat diperkirakan yaitu anak tidak betah dirumah, hilangnya tokoh idola, kehilangan kepercayaan diri, berkembangnya sikap agresif dan permusuhan serta bentuk-bentuk kelainan lainnya. Keadaan itu akan makin diperparah apabila anak masuk dalam lingkungan yang kurang menunjang. Besar kemungkinan pada gilirannya akan merembes ke dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas lagi.

Anak bisa berperilaku agresif, melukai diri atau bunuh diri. Perilaku ini dapat muncul tiba-tiba tanpa berfikir. Bisa juga karena anak putus asa terhadap situasi krisis yang memuncak. 

Dampak negatif dari kehidupan keluarga di atas tidak akan hilang walaupun anak sudah hidup berumah tangga. Karena pengalaman psikis dan persepsi tentang keluarga menjadi buruk, maka dapat berpengaruh kepada kecemasannya ketika menikah di kemudian hari.

Berdasarkan uraian di atas, dampak poligami ayah terhadap anak sebagai berikut:

1. Perkembangan psikis anak dapat terhambat, dia akan menjadi anak yang bermasalah.
2. Memungkinkan terjadinya konflik loyalitas, anak-anak sering bereaksi dengan mencoba melindungi secara berlebihan salah satu orang tua dengan mengabaikan kebutuhan sendiri untuk menyenangkan mereka.
3. Anak yang selalu dalam keadaan terancam sulit bisa berpikir panjang. Ia tidak bisa memecahkan masalah yang dihadapinya. Sehingga sikap yang timbul hanya berdasarkan insting tanpa dipertimbangkan lebih dulu. Seperti tindakan bermusuhan.
4. Perhatian seorang ayah terhadap anak-anaknya menjadi terbelah. Sehingga anak merasa diabaikan dan tidak dihargai lagi sebagai anak.
5. Anak akan menjadi rendah diri, pendiam, dan tidak dapat bergaul dengan teman-temannya.

Apabila dapat memilih, maka setiap anak di dunia ini akan memilih dilahirkan di keluarga yang harmonis, hangat, dan penuh kasih sayang. Keluarga yang demikian adalah dambaan dari setiap anak di dunia. Tapi sayangnya, anak tidak dapat memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya. Saat mereka lahir, mereka harus menerima siapapun yang menjadi orangtua mereka. Termasuk saat mereka memiliki orangtua yang melakukan praktek poligami.

Selasa, 02 Januari 2018

Misteri fenomena teknologi teleportasi

teleportasi

Teleportasi
Teleportasi adalah semacam sesaat "tanpa tubuh" transportasi. Dalam film-film yang bertemakan masa depan seringkali perpindahan manusia dilakukan dengan cara teleportasi sehingga dalam sekejap saja manusia dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya seberapa pun jauhnya jarak antar lokasinya. Teleportasi adalah pengallihan materi dari satu titik ke titik lain, kurang lebih instan. Saat ini para ilmuwan sedang bekerja dalam metode teleportasi. Teleportasi melibatkan dematerialisasi suatu objek, dan mengirimkannya dalam bentuk detail susunan atom-atom ke lokasi lain yang menjadi tujuan.

Hal ini berarti waktu dan ruang dapat dieliminasi dari suatu perjalanan sehingga kita dapat dipindahkan ke lokasi mana saja secara instan, tanpa melintasi jarak secara fisik. Untuk mentransportasikan satu orang, mesin harus dapat menentukan dan menganalisa secara tepat seluruh atom yang menyusun tubuh manusia. Mesin ini harus dapat mengirimkan informasi ini ke lokasi lain dimana tubuh orang tersebut akan direkonstruksi dengan sangat akurat.

Molekul atom tidak boleh bergeser meskipun hanya satu millimeter, sebab jika tidak, maka objek akan tiba dengan kerusakan neurologi dan fisiologi yang hebat. Sebenarnya konsep dari teleportasi mirip dengan konsep yang terjadi pada mesin faks. Namun lain halnya dengan teleportasi manusia, di mana manusia memiliki nyawa. Teleportasi mungkin untuk memindahkan partikel atom namun bagaimana dengan nyawa? Hal ini masih menjadi misteri sampai saat ini.

Teleportasi dalam agama islam
Transformasi atau perubahan energi menjadi materi atau sebaliknya dapat terjadi karena antara energi dan materi bersifat setara dan komplementer. Materi dapat diubah menjadi energi dan sebaliknya energi dapat diubah menjadi materi. 

Kesetaraan materi dan energi merupakan fenomena yang terjadi secara nyata dan digunakan dalam menghitung energi nuklir yang dapat dihasilkan oleh massa inti dalam sebuah reaksi inti. Perhitungan energi bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika di Nagasaki dan Hiroshima didasarkan atas persamaan yang dikemukakan oleh Einstein tersebut. Jadi, dengan menggunakan sejumlah massa atom, para ahli dapat menghitung energi ledak yang dapat dihasilkan oleh sebuah bom atom. Perlu dipahami bahwa transformasi antara energi menjadi materi juga diterangkan dalam Alquran, yaitu ketika menerangkan bahwa Malaikat Jibril yang merupakan makhluk cahaya (dengan energi cahaya) menampakkan dirinya (bertransformasi menjadi makhluk yang memiliki massa).

Beberapa mengemukakan fenomena yang sama ketika menjelaskan peristiwa Isra' dan Mi'raj yang dialami oleh Rasulullah, yakni transformasi wujud rasul dari makhluk yang memiliki massa menjadi makhluk cahaya sebagai suatu bentuk energi. Fenomena tersebut diajukan untuk memenuhi .teori, Relativitas, di mana sesuatu yang bergerak dengan kecepatan cahaya  atau mendekati kecepatan cahaya akan bertambah massanya. Massa suatu benda atau makhluk akan menjadi tidak terhingga jika berubah dari keadaan diam menjadi bergerak dengan kecepatan cahaya.

Kondisi ini tidak mungkin terjadi pada benda atau makhluk biasa yang memiliki massa, namun dapat terjadi untuk makhluk cahaya. Saya menambahkan sebuah penjelasan sebagai berikut: massa benda atau makhluk akan berubah jika kecepatannya berubah. Nah, jika kecepatannya memang sudah setara dengan cahaya, massanya tidak akan berubah ketika wujudnya bertransformasi dari cahaya menjadi massa. Artinya, sebuah benda atau makhluk dapat memiliki kecepatan setara dengan kecepatan cahaya jika pada saat awal memang sudah bergerak setara kecepatan cahaya.


Suatu makhluk cahaya yang sedang bergerak dengan kecepatan cahaya kemudian bertransformasi menjadi makhluk yang memiliki massa, maka kecepatan tetap setara kecepatan cahaya. Jadi, suatu sunnatullah jika Rasulullah menjalani peristiwa Isra' dan Mi'raj dengan badannya.

Pertanyaan lain yang muncul sebagai berikut, "Kendaraan apa yang memiliki gerakan setara kecepatan cahaya yang dapat mencapai ujung alam semesta dengan cepat ?" Untuk mencapai galaksi Andromeda saja, manusia membutuhkan waktu dalam hitungan tahun cahaya. Bagaimana Rasulullah dapat mencapai Sidratil Muntaha dalam waktu singkat? Sebuah fenomena lain perlu diterapkan dalam menjelaskan hal ini, yakni teleportasi. Fenomena perpindahan lokasi jarak jauh secara spontan atau teleportasi mungkin belum ditemukan secara ilmiah pada saat ini.

Peristiwa teleportasi yang diceritakan dalam kejadian tersebut terjadi ketika Nabi Sulaiman meminta kepada para pembesar di kerajaannya untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke hadapannya. Ilmu dan teknologi pada masa tersebut sudah sangat tinggi dan penjelasan mengenai penggunaan teknologi pada masa Nabi Sulaiman juga diterangkan dalam ayat yang lain. Teknologi transportasi pada masa Nabi Sulaiman telah memanfaatkan angin atau udara yang bergerak seperti layaknya pesawat terbang.

Jika teleportasi tercipta, maka akan membantu umat manusia di bumi dengan mudah. Tapi, ada sisi negatifnya jika disalahgunakan teknologi canggih tersebut untuk kejahatan. Menurut informasi dari berbagai sumber, teleportasi sudah ada sejak zaman dulu atau sejak zaman perang dunia, penemuan teleportasi tersebut pada zaman perang dunia secara tidak sengaja dengan cara melilitkan kawat tembaga tiba-tiba menghilang. Mungkin pihak-pihak tertentu menutupi penemuan tersebut demi keamanan.

Rabu, 20 Desember 2017

6 Fase rawan dalam pernikahan

Masa rawan pada Suami dan istri

Pernikahan merupakan hal yang umumnya akan dilalui dalam kehidupan ini. Sebagian besar manusia dewasa, akan menghadapi kehidupan pernikahan. Sebelum memasuki kehidupan pernikahan, individu mengalami proses yang meliputi perkenalan (ada perasaan ketertarikan), berpacaran, bertunangan dan menikah. Proses tersebut diawali dengan, adanya suatu ketertarikan yang dilandasi perasaan suka, cinta. Saat memasuki kehidupan pernikahan, suami dan istri saling menyesuaikan diri agar kehidupan pernikahan mereka harmonis.

Pasangan suami istri mengikatkan diri dalam ikatan pernikahan karena adanya perasaan cinta di antara mereka. Saat menjalani kehidupan pernikahan, ada gangguan-gangguan yang mereka hadapi seperti masalah penyesuaian diri. Saat kehidupan pernikahan yang mereka hadapi tidak seperti yang mereka harapkan, sering kali suami atau istri berusaha mencari kepuasan dari individu lain yang dianggap lebih dapat mengerti dirinya sehingga hal tersebut memicu munculnya pihak ketiga dalam pernikahan. Suami atau istri merasakan tidak ada lagi cinta dalam kehidupan pernikahan mereka.

Dalam rangka penyesuaian diri, seringkali terjadi perselisihan di antara pasangan karena dalam pernikahan terjadi penyatuan dua pribadi yang memiliki perbedaan dalam kebiasaan, sifat dan pola berpikir. Pada pasangan yang mampu mengatasi perselisihan yang ada, mereka mampu mempertahankan pernikahan mereka. Tetapi pada pasangan yang tidak mampu melewati permasalahan dalam pernikahan mereka, tak jarang mereka memutuskan untuk berpisah atau bercerai.

Pada masa-masa rawan dalam pernikahan bisa dihitung secara matematis. Krisis pertama muncul setelah tiga tahun perkawinan, kemudian muncul di tahun ke lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, hingga dua puluh lima tahun. Perhitungan matematis ini dibuat berdasarkan usia pelaku dan usia pernikahan secara umum. sepanjang perkawinan, masa rawan terbagi menjadi 6 fase. Masing-masing fase memunculkan masalah yang berbeda. 

Fase pertama merupakan fase adaptasi antara suami dan istri. Pasangan yang berhasil melalui tahap ini pada umumnya mampu bertoleransi terhadap sifat dan sikap pasangan.

Fase kedua terjadi setelah 5 tahun menikah. Ancaman yang terjadi pada fase ini berawal dari masalah ekonomi pasangan yang belum mapan. Pada fase ini, umumnya suami dan istri bisa sepakat berbagi peran. 

Fase ketiga adalah fase 10 tahun pernikahan. Pada fase ini, suami sudah mulai mapan secara ekonomi. Sementara itu, istri yang sudah memiliki anak usia sekolah dasar makin menikmati perannya sebagai seorang ibu dan istri. Masa rawan di usia pernikahan ini adalah masuknya orang ketiga (pria idaman lain atau pun wanita idaman lain).

Fase keempat setelah 15 tahun pernikahan, suami atau istri mengalami masalah eksistensi diri. 

Fase kelima adalah fase rawan setelah menikah selama 20 tahun. Masa-masa ini merupakan masa refleksi bagi suami dan istri. 

Fase keenam adalah fase 25 tahun hingga tahun-tahun selanjutnya. Pada usia ini, berbagai penyakit degeneratif mulai muncul sehingga menimbulkan gangguan yang berarti. Pada masa ini, ketergantungan terhadap pasangan semakin kuat.

Komunikasi merupakan faktor yang paling penting dalam menjaga suatu hubungan. Saat komunikasi mulai memburuk maka akan menyebabkan kelemahan pada keseluruhan hubungan, dan hasilnya adalah terputusnya hubungan. Saat suami/istri memiliki kepedulian terhadap pasangannya dan memiliki suatu komunikasi yang baik diantara mereka maka kesuksesan yang mereka peroleh dalam kehidupan pernikahan mereka juga tinggi (commitment), demikian pula dengan intimacy dan ketertarikan dengan pasangan (passion).