Sejarah dan tentang tumbuhan sukun

tanaman sukun

Kebanyakan orang mungkin mengenal sukun sebagai salah satu bahan penganan. Buah sukun biasanya diolah menjadi cemilan dengan cara digoreng, direbus, dikukus, atau dibakar. Akan tetapi, barang kali hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa tanaman sukun, mulai dari buah, daun, bunga, kulit batang hingga getahnya; memiliki ragam manfaat, termasuk untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Di indonesia, sukun tampaknya masih indentik sebagai makanan pingggiran. Sukun goreng biasanya kerap ditemui pada penjual aneka gorengan di pinggir jalan. Padahal buah sukun mengandung karbohidrat, mineral, dan vitamin cukup tinggi. Setiap 100 g buah sukun mengandung karbohidrat 27,12 g, kalsium 17 mg, vitamin C 29 mg, kalium 490 mg, dan energi 108 kalori.

Dibandingkan dengan beras, buah sukun mengandung mineral dan vitamin lebih lengkap, tetapi nilai kalorinya lebih rendah sehingga dapat dikonsumsi sebagai makanan diet. Sebuah penelitian di Hawai baru-baru ini juga membuktikan bahwa sukun memiliki kandungan serat yang tinggi, bahkan sampai 16 kali lipat kandungan serat pada beras atau nasi.

Sejarah orang-orang terhadap tanaman sukun

sejarah tanaman sukun
Tanaman sukun telah dimanfaatkan sebagai pangan sejak 40.000 tahun sebelum masehi. Ketika itu, pelayan membawa buah sukun dari australian, papua nugini, dan indo-malay menuju ocenia dan pasifik. Pada 30.000 sebelum masehi, pelayar membawa buah sukun ke pulau solomon. Selama perjalanan ke tahitian pada tahun 1769, kapten james cook diperkenalkan dengan sukun yang kemudian ia bawa ke inggris.

Sir joseph Banks yang berlayar di HMS Endeavour dengan Kapten Cook, mengakui potensi sukun sebagai makanan untuk daerah tropis lainnya. Ia pun mengusulkan kapada Raja George III untuk mengangkut tanaman sukun dari Tahiti ke Karibia yang dikomandani Kapten William bligh. Sukun dianggap sebagi sumber makanan yang sangat baik untuk para budak di afrika di perkebunan di karibia

Sayangnya, pada perjalanan pertama itu gagal karena semua tanaman sukun yang jumlahnya hingga ratusan itu dilempar ke laut oleh pemberontak yang kecewa karena sebagian persedian air digunakan untuk merawat sukun. Perjalanan kedua pada tahun 1791, akhirnya sukses membawa sukun ke karibian. Kini sukun telah menyebar luas berbagai belahan dunia terutama di lingkar tropis.

Iklim dan pertumbuhan tanaman sukun


Sukun menyukai iklim tropis, meliputi suhu 20-40 derajat calcius, curah hujan tinggi 2000-3000mm pertahun, dan lembab lengas nisbi 70-90%. Artocarpus altilis itu tumbuh baik di daratan rendah, ketinggian kurang dari 600 meter di atas permukaan laut(dpl). Pohon sukun dapat tumbuh tinggi hingga 30 meter, walaupun umumnya tanaman yang ditemui di pedesaan tingginya hanya belasan meter.

Tanaman sukun bertajuk renggang, bercabang mendatar, dan berdaun besar-besar yang tersusun berselang-seling. Ukuran daun 20-40cm x 20-60cm dengan bentuk daun berbagi menyirip dalam. Tekstur daun liat agak keras seperti kulit. Daun berwarna hijau tua mengilap di sisi atas serta kusam, kasar, dan berbulu halus di bagian bawah.

Buah sukun


Tanaman sukun dapat menghasilkan buah hingga 400 buah per pohon per tahun untuk tanaman berumur 5-6 tahun dan bisa berbuah sepanjang tahun, meskipun ada panen rayanya. Panen raya sukun berlangsung pada januari-februari dan juli-agustus. Bobot buah rata-rata 400-1200g. Namun, ada pula varietas yang buahnya mencapai 5kg. Nilai energinya antara 470-670 KJ per 100g. Dengan demikian, wajar bila para penjelajah barat kemudian bersikeras membawa sukun dari Tahiti ke karibia untuk makanan murah bagi para budak di sana.


Klasifikasi ilmiah sukun

Kerajaan    : Plantae
Filum         : Magnoliophyta
Kelas         : Magnoliopsida
Ordo          : Rosales
Famili        : Moraceae
Genus       : Artocarpus
Spesies     : Artocarpus altilis


Sumber inspirasi dari buku berjudul "Daun ajaib tumpas penyakit".

0 Response to "Sejarah dan tentang tumbuhan sukun"

Posting Komentar