Jumat, 13 November 2015

Kisah nyata guna-guna seribu kecoa

Kisah nyata guna-guna seribu kecoa
Dalam waktu singkat, warna kulit mukaku berubah kemerahan dan mengeluarkan nanah. Dan setiap kali kulit ari yang bernanah itu kubuang, dagingnya pun turut terbawa pula bertaburan menghiasi langit, malam itu, cahaya bulan tampak redup. Bintang gemintang pun seolah enggan menampakkan diri. Yang tampak hanyalah gumpalan awan hitam yang menutupi sang dewi malam.

Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba, aku dikejutkan oleh kelebat sebuah bayangan yang berada tepat di atas kecoa itu telah menyebar ke setiap sudut rumah. Sementara, sebagian lainnya masih terus berputar-putar membentuk formasi yang teramat aneh. Dari gerakannya, mereka seolah melindungi sesosok tubuh yang tinggi besar. Bak, sosok raksasa!

Peristiwa tragis ini terjadi pada bulan agustus tahun 2000. Terus terang, bila mengingat kejadian itu, bulu kuduk ku langsung berinding. Kini aku jadi semakin percaya, kekuatan jahat guna-guna (santet) dapat mengancam keselamatan jiwa orang yang menjadi sasaran.

Sebagaimana biasa, seusai menjalankan sholat maghrib aku bergolek-golek untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian bergumul dengan pekerjaan di kantor, di kursi panjang yang terletak di loteng rumah. Tak seperti malam-malam sebelumnya, dimana bulan purnama dan bintang gemintang rumahku. Dan setelah kuperhaikan dengan seksama, bayangan itu memecah tak beraturan. Dan yang lebih aneh lagi, pecahannya membentuk formasi mirip ujung mata tombak yang tengah menukik dengan diiringi suara yang bergemuruh.

Kekagetanku belum pulih ketika kulihat ribuan kecoa terbang berputar-putar. Dan seolah ada yang mengatur, ribuan binatang menjijikkan itu terbang menuju ke atap rumahku. Sejenak aku tercenung dan mencoba mengurai maksud dibalik kedatangan ribuan kecoa itu. Seketika, firasatku membisikan ada sesuatu yang tak beres tengah mengancam keselamatan jiwaku. Sebisa mungkin, aku langsung membaca berbagai do'a untuk mengusir binatang-binatang yang menjijikkan itu. Dan manakala aku sedang khusuk berdo'a, sebagian dari bak tabir di balik peristiwa itu.

Usahaku ternyata tak sia-sia. Binatang menjijikkan yang semula membentuk formasi aneh itu, tiba-tiba pecah berantakan. Mereka saling berebut terbang menjauh dan selanjutnya raib tak tersisa. Dan beberapa detik kemudian, kembali terjadi keanehan. Seiring dengan hilangnya ribuan kecoa, kini, di depanku kini muncul sesosok makhluk yang teramat menyeramkan. Sepintas, mirip dengan Jin Sylby. Dan yang membedakan mungkin hanya bentuk tubuhnya saja.

Jika jin sylby memiliki bentuk tubuh cebol, berperawakan padat dan berkulit hitam, sementara makhluk yang berdiri di depanku berperawakan tinggi besar serta berkulit merah kehitaman. Dari bentknya aku dapat menduga, makhluk itu pasti memiliki perilaku yang ganas dan jahat.

"Ada keperluan apa, anda datang?" tanyaku sedikit gemetar. Mendengar pertanyaanku, makhluk itu hanya menyeringai. Kemudian terdengar jawabannya," Aarkh yoe roukh. Roukh laie khak, msikoh saghr goh makh. Orokh rau lagh, juwa!"

Ketika aku masih berusaha menangkap kalimat yang diucapnya, secara-tiba-tiba, binatang menjijikan yang tadinya menghilang kini sudah kembali lagi dan bahkan mengitari makhluk yang menyeramkan itu. Dalam waktu singkat, tubuh makhluk itu kembali telah tertutupi ribuan kecoa. Dan hanya dalam hitungan detik, kembali kecoa-kedoa makhluk menyeramkan itu terbang dan hilang entah kemana.

Seketika suasana di sekitarku kembali hening. Dan sinar bulan yang sejak tadi sore tertutupi oleh awan, kini mulai memancarkan sinarnya. Aku belum beranjak dari tempatku semula. Pertanyaan demi pertanyaan pun kembali mengalir memenuhi pikiranku mengenai peristiwa yang baru saja terjadi. Dan benar, beberapa waktu setelah peristiwa itu, aku merasakan sesuatu yang tak wajar. Betapa tidak, kini aku sering terserang demam yang datang secara tiba-tiba.Yang paling membuatku tersiksa, tiap menjelang maghrib, bagian belakang kepalaku seolah di tusuk-tusuk oleh benda tajam. Nyeri tak terperikan!

Kian hari, penyakitku kian menjadi-jadi. Selain seperti di tusuk-tusuk ribuan jarum, hawa panas juga menjalari seluruh bagian kepalaku. Aku benar-benar merasakan penderitaan yang luar biasa. Yang lebih mengerikan, dalam waktu singkat sebagian dari wajahku berubah bagai monster yang menjijikan. Bahkan warna kulit mukaku pun berubah kemerahan dan mengeluarkan nanah. Dan yang lebih menyakitkan lagi, tiap kali kulit ari yang mulai membusuk itu ku buang, daging yang ada di pipiku ikut pula terbawa.

Dengan segala kemampuan yang kumiliki, aku mencoba menahan rasa sakit yang kian hari kian mengganas. Dan selama itu, usaha ku untuk mencari kesembuhan tak hanya sebatas kebatinan semata. Aku juga mendatangi dokter spesialis kulit. Aku benar-benar terkejut, tanpa mendeteksi dengan alat-alat medis terlebih dahulu, sang dokter telah menyimpulkan bahwa aku mengidap "herpes". Betapa pun aku merasa risih, namun kupaksakan untuk mengatakan hasil analisa dokter itu kepada Firman, sahabatku yang selama ini dengan setia selalu mengantarkanku untuk mencari kesembuhan.

"Herpes? Penyakit kotor?" ujar Firman sambil menatapku tak percaya. " Aku sendir heran. Tapi aku yakin, penyakit ini bukan herpes. Apalagi selama ini aku selalu menjaga kebersihan dan tak pernah melacur atau berhubungan badan dengan siapapun," suhutku.

"Dari peristiwa yang engkau pernah ceritakan, penyakitmu pasti akibat guna-guna," sambung Firman sambil mencoba menerka sebab penyakit yang ku derita.

"Mungkin juga...?!" jawabku singkat. Di tengah kegelisahan akibat memikirkan penyakit yang ku derita, malamnya, aku mengambil air wudhu untuk melakukan sholat hajat. Aku berusaha kembali untuk mengingatknya dengan segala kepasrahan dan harapan pengampunan atas segala kesalahan yang telah ku lakukan. Aku juga berdo'a agar diberi petunjuk tentang penyakit yang sudah hampir dua minggu yang bersarang di tubuhku. Di selah-sela air mata yang tak terasa mulai mengalir, kusebut asma allah dengan penuh kekhusukan.

Alhamdulillah, ternyata usahaku tak sia-sia. Doa yang ku panjatkan seolah begitu cepat terjawab. Tanpa kuduga, saat tertidur, seorang lekaki yang menyerupai almarhum ayah serasa mendatangiku. Dengan tatap penuh haru, ia menyampaikan petunjuk untuk mengusir penyakit yang telah merasuk di dalam tubuh.

"Soleh, anakku. Ayah sangat merasakan penderitaan yang engkau rasakan saat ini. Tapi janganlah putus asa, sebab tiap penyakit pasti ada obatnya. Apalagi penyakit yang engkau rasakan saat adalah hasil perbuatan orang yang tak suka denganmu. Kini segera cari kelapa Hijau dan Talas Hitam. Ingat, Kelapa Hijau dan Talas Hitam itu harus di petik saat ba'da maghrib dan harus dalam keadaan suci. Segera minumlah air Kelapa Hijau setelah di petik. Kemudian, tumbuk Talas Hitam dan minum airnya, sedang ampasnya balurkan pada yang sakit..."

Merasa yakin dengan petunjuk itu, lewat bantuan Firman, aku berusaha untuk segera mendapatkan dua syarat tersebut. Alhamdulillah, dalam waktu singkat, Kelapa Hijau dan Talas Hitam bisa ku peroleh. Dan tanpa menunda waktu, aku segera melakukan apa yang menjadi petunjuk mimpiku. Sesaat setelah aku minum air Kelapa Hijau dan air perawan Talas Hitam, rasa segar langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Dan ketika ampas Talas Hitam kubalurkan pada wajahku yang sakit, sedikit-demi sedikit perubahan pun mulai terjadi. Kesembuhan kini mulai kurasakan.

Aku merasa sangat bersyukur karena tak lama kemudian, rasa sakit yang kuderita itu benar-benar hilang. Dan atas pertolongan-Nya pula, wajahku sembuh seperti sedia kala. Konon menurut penerawangan mata batin seorang paranormal, orang yang telah mengirimkan santet mengerikan itu ternyata ia yang pernah kucintai. Hingga tulisan ini dibuat, aku merasa tak habis pikir, mengapa ia tega melakukan perbuatan sekeji itu.


Ditulis berdasarkan pengalaman sejati oleh Acmad Sholeh, yang bersumber dari majalah misteri indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar