Kamis, 31 Desember 2015

Lembah sarongge dihuni oleh hantu wanita

Lembah sarongge dihuni oleh hantu wanita
Bebatuan tempat orang-orang mandi dan mencuci

Lembah Sarongge terletak di sisi Barat Gunung Walat, tepatnya di kecamatan Cikembar, Sukabumi. Lembah sarongge terbentuk oleh cekungan dua buah bukit batu, di bawahnya mengalir sungai yang dikenal masyarakat dengan sebutan sungai Sarongge. Sejak dulu, sungai sarongge yang airnya agak putih karena mengandung kapur ini dipergunakan masyarakat sekitar untuk mencuci, mandi, dan bahkan sumber air minum saat kemarau datang.

Karena pentingnya sungai ini, tak heran hampir seluruh warga kampung Bendungan yang tak memiliki sumur tanah menggunakan sungai ini untuk keperluan mandi dan mencuci. Sejak pagi buta mereka telah antri untuk mandi atau mencuci di sungai yang berbatu-batu putih ini. Bahkan saking banyaknya pengguna sungai ini, laki-laki harus rela antri mendahulukan wanita. Memang aliran sungai ini cukup panjang, tapi entah kenapa orang lebih suka antri menunggu giliran di batu-batu itu. Katanya mandi di balik batu-batu itu lebih aman ketimbang di hulu atau di hilir sungai yang angker.

Suatu pagi, karena tidak ingin terlambat, Jajang pergi mandi mendahului yang lain, sekitar jam 04.00. Tapi meski ia telah berangkat sepagi itu, di bebatuan yang biasa digunakannya mandi telah ada beberapa orang ibu yang sedang mencuci. Dalam hati Jajang, ia harus mandi sekarang karena ia harus ke kota Sukabumi melanjutkan pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Akhirnya Jajang nekad mandi di hilir sungai yang airnya agak tenang dan cukup dalam.

Sesungguhnya ada rasa khawatir di hati Jajang menyusuri rimbunan pohon bambu di sisi sungai itu. Selain masih gelap, Jajang juga takut ada ular terinjak di jalan setapak itu. Dengan tergopoh-gopoh Jajang berhasil juga mencapai Kubang yang jaraknya sekitar 200 meter dari bebatuan yang biasa digunakan mandi. Tiba di Kubang, Jajang langsung membuka pakaian dan menceburkan diri.

Apa yang dikhawatirkan Jajang terbukti. Setelah beberapa kali ia menceburkan diri dan menyabunin tubuhnya, ia melihat seorang wanita tengah duduk di atas batu. Hati kecil Jajang mulai ketar-ketir, mungkin ini kuntilanak atau siluman penghuni Lembah Sarongge. Jajang pun mengentikan mandinya dan memakai kain sarung. "Neng maaf, rasanya tadi tidak ada Neng di sini. Saya sedang masndi tolong agak menjauh," sapa Jajang pada wanita berbusana putih tak jauh di depannya.

Namun, meski Jajang telah mengulangi sapaannya dengan kalimat lain, wanita itu tidak memberikan reaksi apa-apa. Bahkan menoleh pun tidak. Akhirnya Jajang mendekati wanita itu dan menyapanya lagi dengan sopan. "Neng, rasanya saya datang lebih dulu ke sini. Saya mau mandi, tolong menjauh dulu," sapa Jajang yang ketiga kalinya. Mungkin wanita itu sekarang mendengar, buktinya ia mulai bergerak dan menoleh ke arah Jajang. Tapi apa yang terjadi setelah wanita itu menoleh, Jajang menjerit sekeras-kerasnya dan lari tunggang-langgang menaiki tebing sungai.

Sementara di bebatuan tempat orang ramai mandi, mereka celingukan bingung mencari arah suara orang minta tolong. Tiba di bebatuan, Jajang mulai bisa menguasai diri, napasnya di atur sedapat mungkin. Tentu saja orang-orang ramai menyambut Jajang dengan berbagai pertanyaan. "Aya naon kang Jajang," tanya seorang ibu. "kenapa kamu seperti orang ketakutan ?" tanya yang lainnya. Pertanyaan-pertanyaan itu malah membuat Jajang makin panik. " Di kubang itu ada hantu wanita," jawab Jajang terbata-bata.

Mendengar jawaban Jajang, wanita-wanita yang tengah mencuci kontan berdiri mendekati Jajang. Rasa takut mulai menghantui perasaan mereka, maklum cerita adanya hantu di Kubang Sarongge itu telah mereka dengar puluhan kali. Bahkan orang tua mereka pun, dulu sering menemui hantu-hantu penasaran di sana. Alhasil, kegiatan mandi dan mencuci subuh itu terganggu oleh cerita Jajan. Rata-rata penduduk Bendungan memang percaya dengan cerita hantu penghuni Lembah Sarongge. Mereka akhirnya pulang beramai-ramai sambil mendengarkan cerita Jajang.

"Wanita itu hantu, wajahnya menyeramkan, matanya bolong, pipi, jidat, dan dahinya dipenuhi luka goresan serta berlumur darah hingga ke leher dan baju di dadanya" jelas Jajang sambil berjalan pulang diiringi yang lainnya. Mendengar kengerian yang dialami Jajang, ibu-ibu makin cepat berjalan dan berhimpitan. "Sudah tahu angker, kamu malah nekad mandi di Kubang," timpal seorang kawan sekampung Jajang.

Sejujurnya keangkeran Kubang di Lembah Sarongge memang telah didengar Jajang sejak lama. "Saya lahir dan besar di sini. Orang tau saya juga pernah bercerita keangkeran Lembah Sarongge," tutur Jajang pada team Misteri. "Bahkan seorang tetangga saya yang telah pindah ke Cibadak sempat pingsan di sana karena melihat hantu," tambahnya. Waktu itu sekitar pukul setengah enam sore. Seperi biasa, menghadapi malam, orang-orang kampung Bendungan mandi di sungai Sarongge. Hari itu Sukarna mandi agak terlambat, menjelang maghrib ia baru tiba di sungai.

Entah kenapa hingga bedug maghrib karena belum juga pulang. Mungkin kang Karna masih ngobrol sama kawan-kawan, pikir Maemunah istrinya. Tapi ini tidak biasanya, karena selalu sholat maghrib di rumah. Akhirnya istri Karna bertanya pada para tetangganya. Sayang, tak seorang tetangga pun yang tahu di mana Karna. Kegelisahan mulai mendera hati istri beranak 2 itu. Akhirnya Maemunah berinisiatif menyusul Karna ke sungai bersama anaknya.

Apa yang dilihat Maemunah ternyata sangat mengejutkan. Ia menemukan suami tergolek di pinggir sungai. Tentu saja Maemunah dan anaknya berteriak-teriak minta tolong. Teriakan Maemunah dan anaknya yang keras mengagetkan para penduduk Bendungan dan mengundang mereka ke sana. Ternyata Karna masih bernapas, ia tidak mati seperti perkiraan Maemunah sebelumnya. Syukur para tetangga cepat datang dan segera menolongnya. Karna pun di gotong  ramai-ramai ke rumahnya.

Setengah jam kemudian Karna baru siuman, ia langsung berteriak minta tolong dengan mimik ketakutan. "Tenang kang, kamu sudah di rumah," tutur seorang tetangga menenangkannya. Lalu mereka memberi Karna minum, tapi mimik Karna masih seperti orang ketakutan, matanya melotot, mulut ternganga. "Saya dimana, saya sudah di rumah, Alhamdulillah," tutur Karna setengah menangis.

Beberapa saat kemudian, setelah Karna benar-benar sadar dan dapat menguasai diri, ia baru bercerita. Saat itu setelah selesai mandi Karna hendak pulang. Tapi pada rumpun bambu di atas sungai, ia melihat seperti ada benda yang bergerak-gerak, pindah dari satu pohon ke pohon lain. Merasa penasaran, Karna mendekatinya dan terus mengamati. Benda yang bergerak pindah ke sana kemari itu ternyata hanya kain putih yang tertiup angin. Tapi setelah diselidiki, dibalik kain itu ternyata ada sebentuk kepala manusia tanpa badan, seperti pakai kerudung.

Celakanya kepala tanpa badan dengan kerudung putih itu melayang mendekati Karna. Bukan main seramnya, ia menyeringai memperlihatkan gigi berlumur darah, wajahnya rusak seperti dicabik-cabik. Tak tahan melihat pemandangan itu, Karna hanya bisa lunglai pingsan hingga ditemukan istri dan anaknya. Sejak peristiwa itu tak seorang pun yang berani mandi ke sungai menjelang maghrib. "Takut diganggu hantu," tutur warga Bendungan.

Dituturkan Jajang, hantu yang sering mengganggu orang di Lembah Sarongge hanya akan mengganggu orang yang kewalat. Sebelum kejadian itu, Jajang tidak mempercayai carita-carita menyeramkan di sana. Ia menganggap cerita-cerita itu hanya untuk menakut-nakuti anak kacil. Tapi akhirnya ia kewalat dan mengalaminya sendiri. Begitu pula dengan Sukarna, ia pernah berkali-kali sesumbar. "Bohong, mana ada hantu dijaman sekarang. Kalau ketemu saya malah mau minta nomor buntut," sesumbar Sukarna. Namun ia pun pingsan setelah ketemu hantu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar