Senin, 18 Januari 2016

Cerita mengusir jin dengan ajian qulhu geni

Cerita mengusir jin dengan ajian qulhu geni
Setelah diamalkan dengan baik, dan jika ajian ini dibaca, maka bangsa makhluk malus akan kesakitan atau bahkan mereka merasa badannya hancur berkeping-keping.....

Keluarga kami yang dalam kesehariannya bekerja sebagai nelayang dan mencari berbagai hasil hutan, tinggal di salah satu tepian anak sungai yang bermuara ke sungai Kapuas. Bagi keluarga kami, sungai yang lumayan besar dan penuh dengan ikan, serta hutan yang lebat sarat dengan berbagai jenis bebuahan benar-benar bak secuil tanah surga yang jatuh ke bumi. Kekayaan alam yang dilimpahkan oleh Sang Pencipta, membuat keluarga dan para tetangga hidup dalam kedamaian.

Waktu terus berjalan, pada waktu sore, tatkala matahari akan masuk ke peraduannya, ketenangan kampung kami terusik. Badan nining umur 12 tahun, gadis manis putri tetangga tiba-tiba panas tinggi. Bahkan dari mulutnya yang mungil, terdengar umatan-umpatan kasar. Kata-kata yang belum pernah sekalipun terlontar dari mulutnya yang selalu mengeluarkan senyum, dan menyapa siapapun yang ditemuinya dengan kata-kata manis.

Sudah barang tentu, keluarga dan para tetangga yang melihatnya menjadi bingung. Mereka saling bersitatap antara satu dengan yang lainnya. Ayah yang sejak tadi hanya diam, tiba-tiba menggamit tanganku. Sambil berbisik ia berkata," Cepat panggilkan Pak Wo."

Aku terperangah, aku benar-benar tak mengerti maksud ayah. Bagi kami, Pak Wo (panggilan akrab untuk orang yang dituakan), lelaki tua yang tinggal di sudut desa hutan itu adalah sosok yang benar-benar misterius. Ia hidup seorang diri, tiap harinya, seusai menyiangi kebun sayurnya yang tak seberapa luas, lelaki tua yang satu ini langsung masuk ke surau untuk menjalani ibadah hingga usai waktu Isya. Sebelum dan sesudah melakukan sholat fardhu ataupun sunnah, ia selalu tampak asyik menghitung biji-biji tasbihnya.

Ia begitu asyik berbakti kepada Allah, sehingga terkadang lupa untuk makan ataupun meminum bekal yang memang sengaja dibawanya. Tetapi anehnya, Pak Wo tak pernah sakit. Beberapa saat kemudian, akupun tiba di surau. Setelah uluk salam sambil mencium tangannya, kuceritakan apa-apa yang menimpa nining. Pak Wo hanya senyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah menghela nafas tuanya, ia segera berdiri sambil berkata," Ayo kita kesana."

Dengan beriringan kami pun berjalan menuju ke rumah Nining. Dan setibanya disana, Pak Wo langsung terdiam untuk beberapa saat. Tak lama kemudian terdengar jeritan melengking dari mulut mungil Nining, " Ampun... panas... panas... panas...!"

"Keluar dan segera tinggalkan tubuh cucuku!" Terdengar sergahan dari mulut Pak Wo. Nada suara yang keluar benar-benar penuh wibawa.

"Baik... tetapi ingat, jangan lagi-lagi menginjak-injak rumahku," terdengar suara purau dari mulut Nining. Suara orang tua yang menahan emosi dan sekaligus kesakitan.

"Bukan aku membela diri, kita berlainan alam dan cucuku tak tahu jika yang diinjaknya adalah rumahmu. Maafkanlah dia..," sahut Pak Wo dengan nada dalam.

"Baik sekali aku mengalah," potong Nining yang sedang kerasukan roh halus penunggu telaga yang ada di pinggir hutan.

Tak berapa lama kemudian, Nining pun tersadar. Ia bingung karena kamar-kamarnya dipenuhi orang. Sambil memeluk sang buah hati, ayahnya menceritakan apa yang baru saja terjadi. Pada waktu mengantarkan pulang, akupun memberanikan diri untuk bertanya kepada Pak Wo. Pak tua ini menjawab dengan senyum," Tadi adalah ilmi Qulhu geni, Untuk menguasainya, engkau harus berpuasa selama tiga hari berturut-turut yang dimulai dari hari Selasa Kliwon. Dan diakhiri dengan patigeni sehari semalam."

"Tapi ingat, pada waktu menjalankan patigeni, dilarang sekali-kali membuang air besar maupun kecil," imbuhnya.

Setelah mengatur nafasnya kembali Pak Wo melanjutkan," Pada waktu menjalankan puasa, seyogyanya juga tiap hari, amalan dibaca sebanyak dua puluh satu kali seusai menjalankan sholat fardhu.

"Amalannya bagaimana Pak Wo?" Desakku penasaran.
Berikut ini Pak Wo menuliskan amalan Aji Qulhu Geni-nya.
Bismillahirrohmaanirrohiim
Qulhu Allahu ahad,
Kun fayakun masa iki hadirullohi,
Siro wani, siro bilahi,
Badan, abadan.

Demikian kupasan kadigdayaan kali ini, semoga dapat menabah wawasan dan sekaligus bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar