Selasa, 12 Januari 2016

Demi kekayaan, korbankan keperawanan dengan siluman

Demi kekayaan, korbankan keperawanan dengan siluman
Cerita nyata...
Dengan menumbalkan kesucian dan melayani nafsu birahi Siluman Bromo, Andra dapat meraih kekayaan dengan mudah. Tapi ia terkait dengan perjanjian yang mengerikan........

Namaku Andra Widayanti umur 35 tahun, menurut penuturan teman dekatku, aku berpenampilan proporsional. Dengan tinggi 167 cm dan beart 60 Kg, kulit bening langsat, rambut hitam, tatapan mata tajam plus hidung mancung serta bibir sensual, aku pasti menjadi incaran banyak lelaki. Katanya penampilanku akan membangkitkan gairah seksual lelaki manapun. Ditambah balutan gaunku yang serasi untuk tiap kesempatan, maka orang akan mengira bahwa hidupku tak pernah susah.

Namun, bila aku beberkan latar belakangku amatlah suram. Kenyataan pahit telah menimpaku berubi-tubi. Kesedihan berbalut penderitaan mengungkung gerak kehidupan sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Betapa tidak, ketika usiaku genap 12 tahun, ayah meninggal akibat sakit jantung. Selanjutnya, ibu juga meninggalkanku akibat tragedi kereta api di Bintaro.

Sepeninggal ibu, hidupku amatlah merana. Paman, yang sebelumnya merawatku dengan penuh kasih sayang, kini tak lagi memperdulikan aku. Bahkan semua warisan peninggalan orang tuaku, seperti tanah, telah di balik menjadi atas namanya. Karena tak tahan hidup bersama keluarga paman, tahun 1992, setamat SMK aku pun hengkang dari Rangkasbitung dengan berbekal ijazah dan 20 gram emas menuju ke ibu kota.

Kereta tiba di stasiun Bios (Kota) pukul 15.00. Keder juga hatiku, tapi kutangkis seluruh kegamangan itu. Aku lalu berjalan dan berteduh di bawah pohon sawo kecik di samping Museum Fatahillah. Menjelang petang aku beranjak menuju ke kedai kopi. Penjualnya yang sopan itu mengaku bernama Jaja kelahiran Majalengka. Usianya pun hanya terpaut beberapa tahun dariku. Sambil menyantap pisang goreng, aku minta belas kasihan dari kang Jaja untuk ikut menunpang di kontrakannya. Ia pun tidak keberatan. Setelah kedai tutup, aku diajak ke kontrakannya. Di kontrakan aku disambut ibu kang Jaja, janda dengan usia 50 tahun.

Esoknya aku mendatangi kantor-kantor, namun tak ada hasil. Dan terakhir aku mendapat berita dari tetangga kontarakan kang Jajaj untuk melamar di toko garment, di bilangan Pasar Baru. Ternyata lamaranku diterima. Aku cukup kerasan kerja di sana. Meski hanya sebagai pramuniaga, yang penting ada penghasilan untuk menutupi biaya hidup.

Kawan sekerjaku, baik-baik dan ramah. Mereka seiring menceritakan pengalamannya masing-masing. Terlebih lagi Sri Wahyuni, temanku yang berasal dari Madiun seiring bertutur tentang kampung halamannya. Tempat-tempat yang tergolong misterius juga diceritakan, termasuk objek wisata gunung bromo yang terkenal angker dan merupakan tempat pesugihan yang telah banyak menelan korban jiwa.

Mendengar kisah itu, bulu romaku berdiri. Tapi aku berkeinginan, bila liburan nanti, Sri harus mengantarkanku ke sana. Sayang, Sri yang telah dua tahun menjadi teman curahan hati, kini telah menikah. Dan oleh suaminya, ia tak boleh lagi bekerja. Dan lebih nahas lagi, aku terkena PHK. Dan kini, aku sudah tidak bekerja lagi.

Suatu hari, aku pamit kepada kang Jaja dan ibunya. Alasannya, ke Rangkasbitung, padahal aku pergi ke Bromo. Di desa Tengger aku menemui juru kunci, Mbah Anom. Aku utarakan maksud kedatanganku, dan Mbah Anom membeberkan persyaratannya. Pertama, aku disuruh mandi di tempat yang dijuluki Pancuran Rezeki. Kedua, aku harus semedi di bawah pohon beringin di ujung desa. Sedang malam ketiga, aku harus rela menyerahkan kesucianku kepada siluman bromo.

Persyaratan pertama dan kedua telah kujalani dengan selamat. Kini tinggal menjalani persyaratan yang ketiga. Malam jum'at, aku diajak Mbah Anom ke suatu tempat yang ada di tengah hutan berlumpur dan menyusuri semak berlukar yang jarang dilalui orang. Di tempat yang dituju, ada sebuah altar batu. Aku pun disuruh Mbah Anom berbaring di atasnya dengan menanggalkan seluruh pakaian. Meski agak risih, tapi kujalani juga.

Beberapa saat kemudian Mbah Anom menyalakan dupa. Wangi asap langsung berbaur dengan embun malam. Bebunyian aneh yang kan lama kian mendekat pun terdengar. Badanku menggigil berbaur rasa takut. Selanjutnya, ada bayangan hitam yang mendekat hingga mengaburkan pandanganku. Saat kukerjapkan mata beberapa kali, aku menjadi terkejut. Kini, kini keadaan sekelilingku telah berubah menjadi kamar yang amat indah. Lalu, kemanakah perginya Mbah Anom? Aku tak melihat siapa-siapa. Dalam puncak keherananku, aku dikagetkan dengan suara pintu yang terkuak. Tiba-tiba muncul seorang lelaki berperawakan tinggi kekar yang mengajakku bercumbu.

Lelaki tampan itu sangat pandai merangsang birahiku. Sungguh nikmat kurasakan dan tak pernah ku alami sebelumnya. Akibat belaian, ciuman, dan jilatan di seluruh tubuhku, akhirnya aku pun pasrah ketika ia berhasil merenggut kesucianku. Manakala birahiku mereda, lelaki itu menghilang dengan meninggalkan senyum kepuasan. Aku tergolek sendirian. Ku penjamkan mata sambil merasakan kelelahan dan kenikmatan yang teramat sangat. Saat mataku terbuka, kembali aku terkejut. Ruangan yang nyaman dan indah kini telah berubah menjadi hutan belantara kembali. Dan kulirik, Mbah Anom masih berkomat-kami di depan pedupaan.

Usai itu, Mbah Anom tersenyum sambil memintaku untuk mengenakan pakaian kembali. Ia mengatakan, ketiga persyaratan telah kujalani dengan mulus. Ia mengingatkan, tiap malam selasa dan jum'at, aku harus relah ditiduri oleh sosok yang baru saja menggauliku.

"Pangeran itu akan datang ke rumahmu," tuturnya.
"Bagaimana bila nanti aku menikah dengan manusia?"
"Tak ada masalah, asal engkau bisa berpaling dari suami."
"Mbah, bagaimana seandainya aku ingin melepaskan keterikatan ini, apa bisa?"
"Bisa saja, tapi engkau harus menumbalkan seorang gadis yang suci untuk dipersembahkan ke kawah Bromo."
"Apa bisa dengan cara lain?"
"Tidak bisa, kalau kamu ingin melepaskan tanpa syarat, berarti nyawamu sendiri yang menjadi taruhan!"

Mendengar persyaratan itu, aku menjadi takut. Tubuhku gemetar, dan pikiranku menerawang pada hal-hal menyeramkan yang bakal menimpa. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur. Apapun resikonya harus aku terima. Sedang kekayaan yang kudambakan segera tercapai melalui usaha dagang secara kecil-kecilan. Menurut keterangan Mbah Anom, tiap harinya uang hasil penjualan harus kusimpan di dalam kotak yang terbuat dari kayu cendana. Dan baru boleh dibuka pada keesokan paginya. Dengan begitu uang yang ada di dalam kotak akan bertambah tujuh kali lipat.

Sepulang dari Bromo, aku membuka kedai nasi uduk dan gado-gado di bilangan jalan Ketapang, Kemayoran, Jakarta Pusat. Ternyata, pembelinya cukup lumayan. Mulai dari tukang becak hingga supir mikrolet, bahkan ibu-ibu sekitar kontrakan banyak yang menjadi langgananku. Semula tempat usaha yang sekaligus menjadi rumahku sangatlah sempit. Aku langsung meminta kepada pemilik rumah untuk memperluas. Dan sejak itu, aku memiliki rumah makan sederhana dengan dibantu oleh  tiga orang juru masak dan pelayan yang sengaja kudatangkan dari Kuningan dan Majalengka.

Tiga tahun berlalu sudah, kini hartaku amatlah berlimpah. Segala impianku dulu, kini menjadi kenyataan. Hanya satu yang belum kuraih, seorang suami yang penuh pengertian. Karena sebagai wanita normal, aku sangat mendambakan suami yang setia dan dapat memuaskan hasratku. Tapi, manusia manakah yang mau mengawiniku. Sebab selama ini aku selalu mengadakan hubungan intim hanya dengan bangsa siluman.

Keinginan untuk lepas dari kungkungan perjanjian dengan lelembut itu amat kuat. Meski aku telah terkait sumpah, tapi ikhtiar selalu kucari. Kegalauan batin ini akhirnya kuceritakan pula kepada Kang Jaja. Ia menyarankan agar aku meminta bantuan kepada Kyai Sepuh di Tasikmalaya. Bersama Kang Jaja, aku pergi ke kampung Cikalong. Syukur, Kyai itu mau juga diajak ke jakarta. Di rumahku, Kyai itu melafalkan ayat-ayat pengusir setan dan penangkal dedemit Bromo yang sewaktu-waktu datang mengintaiku.

Bersamaan dengan lantunan ayat-ayat itu, terdengar pula bunyi gelegar yang dahsyat bersumber dari langit-langit rumahku. Aku merinding dibuatnya. Anehnya, suara itu tak terdengar oleh tetangga. Setelah kejadian itu, hidupku terasa tenteram. Sholat lima waktu dan ibadah lainnya pun kujalankan. Semoga allah dapat mengampuni dosa-dosaku di masa lalu. Dan dengan bimbingan Kang Jaja pula maka hidupku aman dan tenteram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar