Rabu, 13 Januari 2016

Kisah nyata bertarung melawan teror ghaib

Kisah nyata bertarung melawan teluh brajageni
Peristiwa aneh dan sekaligus menyeramkan ini terjadi di salah satu perusahaan jasa transportasi taksi tempatku bekerja yang terletak di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Karena, tiap waktu mendekati pukul 02.00, selalu saja terjadi 3 atau 4 kali pelemparan misterius. Dan jika tidak kaca, maka badan kendaraanlah yang menjadi sasarannya. Sungguh tak terbayangkan, berapa besar kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaanku.

Dan anehnya, walau telah diadakan musyawarah dengan pemuka masyarakat setempat, atau bahkan menyelidiki siapa pelakunya, tetapi hasilnya tetap saja sama, Nihil!. Buktinya, tiap malam, pelemparan terus saja terjadi. Akhirnya, pihak perusahaan mengajak kami bermusyawarah guna mencari jalan keluar yang paling tepat untuk mengatasi telor misterius tersebut. Dan atas permintaan tulus dari pimpinan perusahaan serta beberapa teman dekat, aku pun ditunjuk untuk mencoba menangkal teror tersebut. Akupun menyanggupinya.

Kala itu, selepas tengah malam, kulirik arloji yang telah menunjukan waktu hampir pukul 02.00. Dan seperti pada malam-malam yang lalu, kini aku ditemani oleh beberapa teman yang dapat kuandalkan keberaniannya. Mereka langsung kubagi menjadi dua rombongan. Rombongan yang pertama sengaja kutempatkan di luar, untuk mengetahui dan sekaligus menangkap si pelaku. Sedangkan sisanya berada di dalam. Di areal lapangan parkir perusahaan.

Tak perlu lama kami menanti, tiba-tiba terdengar bunyi "pyar" yang memecah keheningan malam. Satu kaca di depan taksi yang terparkir di lapangan langsung pecah terkena lemparan kelereng. Dan tak lama kemudian, bahkan masih dalam hitungan detik, terdengar bunyi lain akibat dari lemparan kelereng yang mengenai badan mobil.

Setelah di rasa aman, kami pun langsung bergerak. Yang berada di dalam langsung mencari kelereng dan sekaligus memperhatikan taksi mana yang menjadi korban, sedangkan yang di luar berusaha untuk mencari si pelempar dan jika mungkin menangkapnya. Tak lama kemudian, teman-teman yang berada di luar langsung melaporkan, jangankan menemukan si pelempar, jejaknya saja tak mereka temukan. Raib bak di telan bumi.

Karena tak ingin teror itu berkepanjangan, maka aku pun memutuskan untuk menggunakan cara Tirakat Bathin. Dan setelah menjalankan puasa sunnah selama 3 hari, pada malam terakhir, aku pun mendirikan sholat Tahajut untuk bermunajat kepada Allah guna meminta petunjuk. Selepas menjalankan sholat Tahajut dan guna mendapatkan petunjuk yang tepat, aku pun mulai membaca do'a dan diteruskan dengan wirid untuk melakukan penerawangan. Kini, tangan kananku bergerak dengan pasti menghitung biji-biji tasbih, sementara di tangan kiriku, tergenggam kelereng yang kutemukan kemarin. Di dalam keheningan malam serta gelapnya kamar, kupusatkan kosentrasiku pada satu titik. Sementara bathinku tak pernah lepas dari menyebut Asma Allah.

Tak berapa lama kemudian, kini aku seakan memasuki sebuah lorong gelap yang panjang. Dan tiba-tiba, aku dikejutkan dengan datangnya bola api yang entah kenapa langsung menyerangku. Tetapi, serangan yang datang bertubi-tubi dan seolah ingin melumatkanku itu tak pernah berhasil. Bola api yang menyala itu selalu terpental karena membentur cahaya putih yang menyelimuti seluruh badanku. Inlah salah satu bukti dari kekuatan Asma Allah. Karena ulah bola api itu sudah maka, aku pun memutuskan untuk segera menghentikannya.

Kutekadkan untuk melepaskan ajian, Raja Kalacakra Cakraningrat. Suatu ajian pamungkas untuk menghancurkan berbagai serangan ghaib, yang belum pernah kupergunakan sama sekali. Dalam keadaan hening, langsung kutarik nafas dalam-dalam sambil merapal ajian itu sehingga ke dua telapak tanganku terasa panas dan bergetar. Dan pada saat yang tepat, kekuatan yang sudah terkumpul pada kedua telapak tangan langsung kulontarkan ke arah bola api. Jelas-jelas kulihat, bola api itu hancur berantakan, sering dengan aku tersadar dari tafakurku. Aku benar-benar terkejut, ternyata sekali ini aku harus berhadapan dengan seseorang yang memiliki ilmu teluh Brajageni tingkat tinggi. Buktinya, ia mampu memadamkan atau menghidupkan api dari benda yang dikirimkannya.

Selain itu aku juga sadar, rupa-rupanya ada suatu kekuatan ghaib yang sengaja menghalangi dan mengganggu saat aku melakukan penerawangan. Agaknya, teror ini memang sengaja dilakukan untuk menghentikan segala apa yang tengah kulakukan. Maksudnya, tak lain untuk menggagalkan segala usahaku atau mungkin agar kedoknya tidak terbuka. Aku yakin, pelakunya pasti bukan orang sembarangan. Dan aku harus selalu waspada.

Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, keesokan paginya, aku langsung menanam pagar ghaib di tempat penjuru kantor. Dan malamnya, aku benar-benar telah siap untuk menghadapi teror misterius yang akan terjadi. Alhamdulilah, malamnya, ke 4 butir kelereng ghaib kiriman itu tak ada satu pun  yang berhasil menjebol benteng ghaib yang kutanam. Bahkan, kelereng ghaib kiriman itu nyasar ke rumah penduduk yang terletak di belakang kantor. Karena tak pernah berhasil menjebol benteng ghaib yang kutanam, si pelempar misterius itu menghentikan kegiatannya.

Tetapi seminggu kemudian, si pelempar misterius itu kembali melakukan aksinya. Kali ini, tepat pukul 17.00. Kembali lemparan ghaib itu nyasar ke lapangan Volley yang terletak di sebelah kiri areal parkir taksi. Akibatnya, salah seorang pemain yang terkena harus mendapatkan perawatan yang serius di salah satu Rumah Sakit. Dan biaya perawatannya menjadi tanggung jawab penuh perusahaan.

Waktu terus berlalu, dan sudah sebulan pelemparan ghaib tak pernah terjadi lagi. Aku tak menyangka, ternyata si pelempar misterius itu masih penasaran. Agaknya ia menunggu waktu yang tepat atau kelengahan kami. Dan benar, pada suatu malam jum'at, kurang lebih pukul 01.00, tampak sekelebat bola api melayang ke arah kantor. Kebetulan, malam itu aku memang sedang lembur untuk menyelesaikan beberapa laporan keuangan yang pada keesokan paginya harus diserahkan kepada pimpinan.

Melihat kejadian itu, dengan cepat aku langsung keluar ruangan. Dan manakala bola api itu tinggal berjarak sekitar 30 meter dari tempatku berdiri, kembali kurapalkan Rajah Kalacakra Cakraningrat. Seketika, suasana langsung berubah menjadi hening. Bahkan, angin pun seolah enggan untuk bertiup. Malaikat El Maut seolah sedang berdendang menjemput kematian. Dengan kecepatan yang fantastik, bola api itu langsung menyerang diriku. Alhamdulillah, bola api itu langsung hancur dan hilang tak berbekas sebelum menyentuh diriku yang kala itu telah terbungkus oleh suatu kekuatan yang tak kasat mata berkat ajian yang kurapalkan.

Dan sejak kejadian itu, selama 4 malam berturut-turut, kembali teror bola api misterius menyerang diriku. Beruntung, Allah masih melindungiku. Serangan itu selalu kandas di tengah jalan dan tak pernah membuahkan hasil. Aku yakin, ini pasti perbuatan seseorang yang tak ingin melihat perusahaan taksi dimana ku bekerja berjalan sebagaimana mestinya. Hikmah yang dapat kupetik dari kejadian ini adalah. segala perbuatan jahat pada akhirnya pasti dapat dikalahkan selagi kita mendapatkan ridho dari-NYA. Dan sejak itu, tiap malam aku selalu berdo'a kepada Allah agar orang tersebut menyadari segala kesalahannya dan segera bertaubat kepada Sang Maha Pencipta yang mempunyai sifat pengasih lagi penyayang. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar