Rabu, 10 Februari 2016

Kisah nyata terkena santet prahara asmara

Kisah nyata terkena santet prahara asmara
Aku mencintai, mengasihi, dan melindungimu sampai akhir hayat. Kata-kata indah ini meluncur  syahdu dari mulut Mas Oki, suamiku, saat menjalani hari pertama pernikahan kami di bulan Desember 1978. Dan masih begitu segar di dalam ingatan dan batinku, saat Mas Oki memasukan cincin emas bertahtakan berlian, sambil mencium mesra keningku. Ciuman itu kurasakan seperti serpihan salju yang masuk ke dalam relung jiwaku, dingin dan menyejukkan. Dan kata-kata itu bukan cuma indah dan merdu di telingaku, tapi begitu anggun di kedalaman batin. Dan itu semua kuyakini sebagai cikalbakal cinta kami yang platonistik.

Bagi hati perempuan, cinta suami adalah sebagai tiang pertama penyangga kokohnya berdiri sebuah mahligai keluarga yang bahagia. Cinta adalah dasar yang harus selalu kupertaruhkan dan sekaligus kupertahankan sampai kapan pun. Cinta Mas Oki adalah segala-galanya bagiku. Cinta Mas Oki adalah sesuatu yang tak boleh terlepas, begitu pun dengan cintaku kepadanya. Bagai kata pepatah, jantung Mas Oki adalah jantung kedua setelah jantungku sendiri. Begitu juga matanya. Tepanya, Mas Oki adalah belahan jiwaku. Bahkan ada yang mengatakan, suami atau istri adalah sosok gaib milik seseorang yang maujud. Kami adalah satu di dalam dua, ataupun sebaliknya.

Perkawinan kami bertambah ceria, saat Allah memberikan kepada kami dua buah cinta. Yang pertama, Noval Poetra, sedangkan yang kedua, Mahesa Poetri. Kini masing-masing sudah berusia 12 dan 9 tahun. Yang lelaki tampan seperti Mas Oki, sedangkan yang perempuan cantik mirip tantenya. Nona, adikku. Saat keduanya masih kecil, kami telah menyiraminya dengan kesenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. Secara berkesinambung kami selalu memberikan apa yang terbaik untuk keduanya. Bahkan apa yang keduanya senangi, pasti kami akan berusaha untuk menurutinya.

Tiap satu tahun sekali kami pergi berlibur. Hampir seluruh tempat wisata yang ada di kolong langit, praktis pernah kami kunjungi. Saat teman-temannya belum tahu apa yang namanya Children World And Fantasia di Miami, anak kami sudah kami ajak terbang ke kota indah di negara bagian sebelah Selatan Amerika Serikat itu. Bahkan sebelum teman-temannya tahu Sea World di Singapura, anak kami sudah bolak-balik ke sana. Bukan maksud kami untuk menyombongkan diri. tetapi begitulah cara Mas Oki memanjakan keluarganya dan sekaligus merajut benang-benang cinta diantara kami.

Keceriaan, kebahagiaan, dan medamaian yang telah kami rengkuh selama beberapa tahun, ternyata goyah, ketika memasuki tahun 2000. Biduk yang kami kemudikan, tiba-tiba bocor. Bahkan terancam keram. Kasih sayang, belaian mesrah bahkan salju cinta, tiba-tiba menghilang dari rumah dan keluarga kami. Kejadian ini benar-benar di luar dugaanku, bahkan dugaan keluarga besarku, mama dan papaku. Siapa yang menyangka jika tiba-tiba Mas Oki memasuki suatu lorong yang gelap dan liar. Tak ada hujan ataupun angin, Mas Oki tiba-tiba jatuh cinta pada seorang hostes di nite club Blue Ocean Internationale, sebuatlah begitu, yang terletak di bilangan Jakarta Pusat. Wanita malam yang memiliki nama samaran Tantie, ternyata mampu membuat suamiku tergila-gila. Dan wanita itu pula yang menghancurkan kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan yang kami bangun selama puluhan tahun.

Pada mulanya, tampak ada penurunan perhatian Mas Oki pada anak-anak maupun diriku. Belakangan, Mas Oki makin jarang menciumku saat ia akan berangkat ke kantor. Mulanya, hal yang tidak biasa itu kuanggap sebagai sesuatu yang wajar di mana belakangan konsentrasi Mas Oki pada pekerjaannya sebagai Bankir sedang meluap. Gonjang-ganjing krisis moneter secara multinasional membuat bank yang dipimpinnya terancam likuiditas. Singkatnya, terancam gulung tikar. Agaknya itulah yang menyebabkan kenapa Mas Oki menjadi sering lupa pada hal-hal kecil  yang seharusnya menjadi perekat bagi bahtera kami. Aku cukup maklum untuk hal itu, yang penting Mas Oki tidak sakit karena menghadapi badai yang menghantam perusahaannya.

Di tengah-tengah itu, Mbak Neta, sekretaris pribadi Mas Oki menceritakan suatu kejadian yang membuat jantungku bagai di iris sembilu. Betapa tidak, Mbak Neta menceritakan bahwa ada seorang wanita malam yang sering datang dan menghadap Mas Oki. Bahkan pada suatu ketika, Mbak Neta pernah memergoki keduanya tangah bercumbu di meja kerja Mas Oki. Kerjasama yang baik antara aku dengan Mbak Neta, ternyata membuahkan hasil yang gemilang. Suatu ketika, pada saat yang tepat, aku berhasil mendobrak pintu kamar kerja Mas Oki yang terkunci dari dalam.

Aku terpekik, tatkala kusaksikan Mas Oki dan "perempuan iblis" itu sedang bercumbu dengan penuh kasih sayang. Seketika tubuhku serasa melayang. Bahkan nyaris jatuh pingsan. Dan saat aku mampu menguasai diri, muka perempuan itu kupukul sekeras-kerasnya. Dan Mas Oki pun kumaki dengan kata-kata yang pedas. Dan sejak peristiwa tanggal 13 januari 2000 itu, Mas Oki tidak lagi pulang ke rumah. Jangankan kepadaku, rindunya kepada anak-anak pun telah hilang. Bahkan transfer uang belanja pun semakin lama semakin berkurang. Yang lebih konyol lagi adalah, semua urusan kantor diserahkan pada wakilnya, Pak Jono.

Entah kenapa, pak jono merahasiakan keberadaan Mas Oki. Ia hanya menggambarkan. kemungkinan besar, kini suamiku berada di kualalumpur, Malaysia. Karena ada kerja sama antara perusahaan Mas oki dengan Imagine Intercontinental Bank Corporation di negri Jiran itu. Dan lewat pak Jono pula, Mas Oki akan menceraikanku karena dia sudah menikah dengan bekas hostes yang bernama Tantie.

Tak ada jalan lain, melihat jalan hidup Mas Oki yang kuanggap tak wajar, aku pun ke paranormal, aku ingin tahu, benarkah Mas Oki terkena ilmu hitam dari perempuan malam itu. Dan Mbak Neta membawaku ke pakar supranatural yang biasa dipanggil Opah yang tinggal di Jakarta Pusat. Dengan caranya Opah bermunajat pada Allah dan menyapukan tangannya ke seluruh ruang prakteknya. Tiba-tiba tangan Opah bergetar dan tubuhnya pun bagai terhantam oleh suatu kekuatan dahsyat yang tak kasat mata. Opah bahkan sempat terjatuh.

Untung, kejadian itu tak berlangsung lama. Tak berapa lama kemudian, Opah menyodorkan air putih padaku. Sebagian untuk di minum dan sisanya kusapukan pada muka dan tubuh di kamar sendiri. Dan saat aku hendak memakai kembali bajuku di kamar mandi, tiba-tiba muncul wajah sendu Tantie. Wajah itu penuh peluh dan kusut masai, bagai ayam yang baru saja kalah bertarung. Walau sesungguhnya tak ada Tantie, tapi perempuan itu seolah benar-benar maujud dan muncul  di depan mataku.

Begitu keluar kamar mandi dan kembali ke ruang praktek Opah, pria setengah tua berambut panjang itu bertanya. "Anda melihat sosok perempuan di kamar mandi?" Sebelum aku menjawab, iya, Opah sudah meluncurkan kata-kata penting bahkan maha penting bagiku. "Perempuan yang menguasai suamimu itu menggunakan ilmu hitam, santet prahara asmara. Siapapun yang terkena, pasti akan tergila-gila. Ia akan lupa anak, istri, bakan bisa sampai lupa diri. Dan suamimu terkena santet itu saat ia iseng bersama tamu-tamunya di nite club yang dikunjunginya," sorong Opah, kalem.

"Tapi bersabarlah, lakukanlah dzikir dan tahajud secara rutin di tengah malam. Dan wirid sesuai dengan apa yang saya tulis di kertas ini!" desis Opah, sambil menyodorkan catatan di kertas kecil untuk kuamalkan tiap usai tahajud. Allah begitu adil, tiap yang salah pasti akan ditunjukkan kesalahannya dan yang benar akan ditunjukkan kebaikannya. Pagi-pagi buta, 3 Februari 2001, Mas Oki pun pulang. Ia dalam keadaan kumuh. Tubunya begitu kurus dan hitam. "Aku telah membuang perempuan iblis itu, Ma!, Maafkan aku karena telah salah melangkah dan masuk ke jurang kebiadaban," bisik Mas Oki. Mas Oki bersujud di kakiku dan aku mengangkat tubuhnya yang lemah. Anak-anakku pun keluar dari kamarnya dan memeluk papanya dengan hangat. Hujan air mata Mas Oki jatuh di pipi anak-anak kami.

Kini perusahaan Mas Oki benar-benar gulung tikar. Pak Jono ternyata berkhianat, dan merger dengan Bank lain. Semua karyawan dibawa dan hanya Mbak Neta yang tinggal dan tetap setia pada Mas Oki. Sejak itu, kami memulai membina kehidupan dari bawah lagi. Tapi aku bahagia, ini lebih baik ketimbang Mas Oki tenggelam dan terperosok di kaki perempuan pengguna mistik hitam itu. Tantie pun menerima hukumannya. Dia masuk penjara di Selangor, Malaysia. Di depan pengadilan dia dijatuhi hukuman 2 tahun penjara, karena terbukti melakukan hubungan tak senonoh atau melakukan pelecehan seksual di dalam ruangan kantor Direktur Utama sebuah Bank.

Sementara milyaran deposito milik Mas Oki pun habis terkuras untuk Tantie. Bahkan Mas Oki terlibat utang piutang yang begitu besar sehingga rumah kami pun tergadaikan. Tantie memang wanita jahat yang perlu dihindari, tapi kejahatan mistik yang dilakukannya, lebih jahat dari sikap hidup Tantie yang mantan wanita malam itu. "Terima kasih Tuhan, terima kasih Opah!" desisku, setiap habis tahajud dan sujud syukur.


Kisah ini dialami oleh Nyonya Nabila Oki Novianto.
Dan bersumber dari majalah misteri indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar