Jumat, 26 Februari 2016

Mengenal sikap pada diri sendiri

Sikap
Adalah fakta yang diaku, bahwa sikap akan memandu perilaku dan pasti punya peran penting dalam susunan kepribadian. Kita bisa, sampai batas tertentu, memprediksi perilaku seseorang jika kita mengetahui sikapnya. Tetapi bagaimana sikap dan hal-hal lain memengaruhi perilaku harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

Sikap adalah susunan keyakinan, perasaan, dan kecenderungan yang relatif stabil tentang sesuatu atau seseorang yang disebut objek sikap. Sikap memiliki 3 komponen utama: keyakinan evaluatif tentang suatu objek, perasaan tentang objek itu, dan kecenderungan perilaku kepada objek itu. Keyakinan mencakup fakta, opini, dan pengetahuan umum kita tentang objek itu. Perasaan mencakup cinta, benci, suka, tidak suka, dan perasaan-perasan sesejenis. Kecenderungan perilaku mencakup kecenderungan kita untuk bertindak dengan cara-cara tertentu kepada objek itu, mendekatinya, menghindarinya dan seterusnya.

Tiga aspek sikap itu sering kali konsisten satu sama lain. Sebagai contoh, bila kita punya perasaan positif terhadap sesuatu, kita akan cenderung mempunyai keyakinan positif tentang hal itu, serta berperilaku positif terhadapnya. Namun demikian, tidak berarti bahwa tiap tindakan kita akan secara akurat mencerminkan sikap kita. Yang penting adalah memgembangkan sikap positif yang kuat sehingga akan tercermin pada sikap kita.

Pengembangan sikap
Sikap manusia berkembang seiring perkembangan dirinya. Tetapi tidak seorang pun yang berkembang terpisah dari kehidupan masyarakat. Sebagaimana kehidupan tiap orang pasti bersinggungan dengan kehidupan orang lain meski hanya pada titik-titik tertentu dan sebagaimana kisah hidup seseorang mirip dengan namun tidak indentik dengan kisah hidup tetangganya, sikap seseorang juga akan mirip dengan keluarga, teman, tetangga, dan rekan senegaranya.

Sikap berkembang dalam proses pemuasan keinginan
Bersamaan dengan usaha mengatasi berbgai masalah untuk memuaskan keinginan, individu akan mengembangkan sikap-sikapnya. Seseorang akan mengembangkan sikap baik terhadap objek dan orang yang memuaskan keinginannya, dan sebaliknya, ia akan mengembangkan sikap negatif terhadap objek dan orang yang menghambat pencapaian tujuan.

Sikap seorang individu mungkin memiliki nilai yang lebih instrumental. Individu itu mungkin mengembangkan sikap dalam menanggapi situasi yang menantang, atau dengan kata lain, dalam upaya memuaskan keinginan tertentu. Selama sikap seseorang merupakan sistem yang relatif stabil, sikap itu tetap ada pada dirinya dan dapat dipakai memecah masalah yang berbeda-beda untuk memuaskan sejumlah keinginan.

Dengan demikian, faktor penting dalam pembentukan sikap adalah "pemuasan keinginan". Sikap bukan hanya memberi makna pada dunia seorang individu, tapi juga berguna malayani pencapaian berbagai tujuan lain yang dicoba. Sebuah sikap dapat berguna untuk mencapai berbagai keinginan, dan keinginan apa pun akan memunculkan sikap yang sama.

Sikap seseorang dibentuk oleh informasi yang diterimanya
Sikap bukan hanya terbentuk dalam proses memenuhi keinginan; sikap juga dibentuk oleh informasi yang diterima seorang individu. Agar dapat memuaskan beragamnya keinginan, seorang individu mengembangkan sikap yang membantunya mencapai tujuan. Ada sikap yang terbentuk dari fakta yang didapat seseorang dari berbagai sumber. Karena kita hidup dalam dunia yang kompleks, muatan kognitif sikap yang dimiliki seseorang dipengaruhi otoritas di luar dirinya. Otoritas itu acap kali tidak dapat diandalkan, entah karena ketidakpedulian atau kesengajaan. Selain itu, seorang individu mungkin tidak bisa membedakan kebenaran dengan kebohongan, atau antara fakta yang aktual dengan yang menyesatkan, dan ketika ia menanggung risiko dibohongi. Terakhir, bila seseorang gagal menemukan fakta, dia terpaksa mengarang fakta.

Semua hal ini menunjukan bahwa takhyul, delusi, dan prasangka kita akan terkait dengan keandalan otoritas di mana kita bergantung (guru, surat kabar, buku, televisi, radio), kisaran pengalaman yang kita alami, dan sejauh mana keinginan utama kita terpuaskan.

Afiliasi kelompok seseorang juga membentuk sikap
Afiliasi kelompok seseorang punya peran penting dalam pembentukan sikap. Sikap seseorang dibentuk baik oleh keanggotaannya dalam suatu kelompok maupun oleh kelompok yang ingin dimasuki oleh orang itu.

Meskipun demikian, seorang individu tidak begitu saja secara pasif menyerap sikap-sikap yang ada pada berbagai kelompok afiliasinya. Sikap, seperti kognisi, berkembang secara selektif dalam proses pemuasan keinginan. Seorang individu akan memungut dan memilih, dari kumpulan sikap yang ditawarkan, sikap yang dapat memuaskan keinginannya. Dan tiap individu pasti berafiliasi dengan banyak kelompok, yang mungkin mendukung sikap yang searah maupun yang berlawanan. Dengan demikian, pengaruh kelompok pada pembentukan sikap bersifat tak langsung dan kompleks.

Apakah sikap seseorang mencerminkan kepribadiannya?
Salah satu pengaruh kelompok terhadap pengembangan sikap adalah menghasilkan keseragaman sikap di antara anggota-aggotanya. Tetapi di tengah keseragaman itu terdapat juga keragaman. Faktor utama di balik keragaman itu adalah perbedaan kepribadian antar individu. Seorang individu cenderung menerima sikap yang menyokong kepribadiannya. Hal ini berlaku untuk berbagai sikap, termasuk etnosentrisme, sikap keagamaan, sikap politis, dan sikap tentang hubungan luar negri.

Namun demikian, kepribadian orang individu bukanlah sistem yang terintegrasi secara sempurna, dan individu bisa saja memiliki sikap yang inkonsisten atau kontradiktif karena tiga alasan: Berbagai otoritas mengajarkan hal-hal berbeda untuk bidang yang berbeda, afiliasi kelompok yang saling bertentangan, serta kebutuhan yang saling bertentangan. Manusia mampu dan memang melayani banyak tuan.

Ubahlah cara pandang anda
Kita melihat dunia melalui kacamata kita sendiri. Kita melihat kebaikan dan kejahatan. Kita melihat keindahan dan keburukan. Tetapi sesungguhnya apa yang kita lihat bukan selalu merupakan realitas. Kita melihat apa yang kita rasakan dari dalam dan apa yang memang ingin kita lihat. Persepsi kita merupakan cermin siapa diri kita. Sikap, keyakinan, dan perasaan kita memaksa kita untuk menemukan konsistensi di dunia luar. Perhatian kita menjadi selektif dan kita tidak melihat realitas secara utuh, tetapi hanya dalam segmen-segmen.

Informasi semacam ini bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga orang lain yang berinteraksi dengan kita. Sebelum mengemukakan pendapat kta, kita harus meninjau situasi secara utuh dan menimbang-nimbang untung ruginya. Pendek kata, kita harus mengubah fokus perhatian kita. Lihatlah sisi baik dari pengalaman dan orang lain. Semua orang punya kelemahan, tetapi kekuatan kitalah yang penting. Kita harus mengenali dan mewujudkan potensi kita dan orang-orang lain untuk hidup efektif.

Hitunglah karunia yang anda miliki sebutkan satu persatu
Hitunglah karunia anda dan sebutkan satu persatu. Anda akan terkejut menyadari apa yang sudah dilakukan oleh orang lain untuk anda. Kebanyakan dari kita cenderung memikirkan dan mendaftar apa yang belum dilakukan orang lain untuk kita. Tentu saja, kita punya harapan agar orang lain memenuhi kebutuhan kita, tetapi mereka tidak mungkin diharap memenuhi seluruh kebutuhan kita. Kita harus menempatkan diri di tempat mereka, dan kemudian memikirkan apakah hal itu mungkin.

Anak-anak sering meminta hal-hal yang tidak perlu kepada orangtua, tetapi orangtua tidak selalu memenuhi permintaan itu. Hal itu bukan karena orangtua tidak mencintai anak-anak mereka, melainkan karena mereka menggunakan kebijaksanaan dan berindak dalam keterbatasan mereka. Demikian juga, ketika permintaan kita tidak dipenuhi, kita tidak perlua merasa iri. Seharusnya kita bersyukur dan berterima kasih atas apa yang telah dilakukan untuk kita sejauh ini dan untuk yang akan mereka beri dalam waktu dekat. Karena ini lah kita harus mengembangkan sikap bersyukur.

Pendidikan moral adalah sebuah keharusan menguatkan superego
Apakah anda melek huruf? Apakah anda orang yang terdidik? Kedua pertanyaan mungkin tampak sama bagi anda, tetapi sebenarnya tidak. Ada perbedaan sangat besar antara melek huruf dan pendidikan. Kita semua mungkin melek huruf tetapi tidak terdidik. Beberapa orang mungkin buta huruf tetapi terdidik. Orang yang melek huruf adalah yang dapat membaca dan menulis. Sedangkan individu terdidik adalah orang yang telah menerima pelatihan mental dan moral.
Kita harus memiliki moral. Masyarakat kita tidak menerima orang yang tak bermoral. Kita harus mendidik diri kita dengan apa yang benar secara moral. Kita harus memperkuat superego kita yang merupakan perwakilan internal dari nilai-nilai tradisional dan ide-ide masyarakat, hal yang membuat kita sadar atas yang benar dan yang salah. Bila hal ini kita miliki, barulah kita mampu membedakan yang benar dari yang salah serta mengevaluasi diri kita dan orang lain.

Kembangkan perasaan positif tentang diri anda
Dalam bahasa psikologis, perasaan tentang diri disebut sebagai kepercayaan diri (self-esteem). Kepercayaan diri yang tinggi perasaan bahwa diri kita berharga adalah hal yang menguntungkan. Orang yang merasa nyaman dengan diri mereka lebih jarang sakit maag dan tidur lebih nyenyak, lebih kuat menghadapi tekanan, memiliki kemungkinan lebih kecil untuk menggunakan narkoba, lebih gigih mengerjakan tugas-tugas sulit, serta lebih bahagia.

Orang yang kepercayaan dirinya rendah tidak selalu melihat diri mereka tidak berharga atau buruk. Yang pasti, mereka sulit mengatakan hal-hal bagus tentang diri mereka sendiri. Kepercayaan diri yang rendah punya dampak merugikan. Lebih sering daripada tidak, ketidakbahagiaan dan keputusasaan berpasangan dengan kepercayaan diri yang rendah. Orang yang merasa gagal memenuhi harapannya rentan terhadap depresi. Orang dengan citra diri yang lebih buruk dibanding yang seharusnya rentan mengalami kecemasan. Dengan demikian, penting bagi kita untuk menghargai hal-hal baik tentang diri kita, menerima kelemahan kita serta berusaha memperbaikinya. Mencintai diri sendiri adalah awal dari kisah cinta yang abadi.

Gunakan kearifan anda
Kita semua dikarunai kemampuan untuk bertindak dengan tujuan, untuk berpikir secara rasional, dan untuk berhubungan dengan lingkuangan secara efektif. Kita harus mempunyai tujuan dan arah yang pasti dalam hidup. Kegiatan yang salah arah namun menarik mungkin menggoda kita untuk berpindah jalur. Namun semikian, ingatlah bahwa dalam hidup, anda mempunyai misi untuk dipenuhi dan tujuan untuk dicapai. Godaan itu mungkin saja menyenangkan, tapi anda punya janji yang harus dipenuhi dan jarak yang harus ditempuh sebelum mencapai tujuan. Anda harus berpikir secara rasional. Nalar dan pemahaman adalah esensial bagi pengembangan kepribadian yang positif. Kita harus bisa menggunakan lingkungan kita secara efisien untuk mencapai tujuan kita. Kita harus menggunakan kearifan untuk menilai yang baik dan yang jahat. Kita harus memilih yang baik sekaligus berusaha mengekang yang jahat.

Cintai pekerjaan anda
Kita semua punya pekerjaan atau hal lain yang harus dikerjakan. Suka atau tidak, pekerjaan itu harus diselesaikan. Bila kita bersikap negatif terhadap pekerjaan itu, kita akan kesulitan mengerjakannya. Coba bangkitkan minat terhadapnya. Coba atur dengan cara yang berbeda. Hal ini tak hanya akan meningkatkan kinerja anda, tapi juga akan memacu kreativitas. Strategi terbaik untuk melaksanakan pekerjaan yang tidak begiru menarik adalah dengan mencoba mengerjakan dahulu apa yang esensial. kemudian beranjak pada apa yang mungkin, dan pada akhirnya anda akan menyadari bahwa anda sedang mengerjakan yang tidak mungkin. Sikap yang anda gunakan untuk memandang persoalan lah yang menjadi daya dorong di balik tindakkan anda. Berpikir positif, bertindak positif.

Awal yang baik sama dengan separuh kemenangan
Kata-kata apa yang anda ucapkan saat bangun di pagi hari: "Ya, Tuhan! Sudah pagi" atau "Terima kasih Tuhan, pagi telah datang!'' Pernyataan pertama adalah pandangan pesimis untuk memulai hari, sedang pernyataan kedua adalah yang optimis. Bagaimana anda mengawali hari adalah hal yang penting. Pikirkan semua hal yang harus anda capai hari ini. Setiap pagi, menolehlah ke belakang untuk melihat apa yang anda kerjakan kemarin, dan kemudian cobalah untuk melampauinya. Anda harus terus maju dalam kerangka referensi yang sehat bagi anda dan bagi orang lain.

Anda memilikinya di dalam diri
Pengembangan sikap positif memiliki titik awal, namun tidak memiliki garis akhir. Akhir berarti selesai. Penyempurnaan tidak mengenal akhir. Ini lah yang terus-menerus bermula dari titik baru. Tidak seorang pun yang sempurna. Seberapa keras pun seseorang berusaha, kita semua tetap manusia. Kita mencoba, kita berhasil, tetapi kita juga gagal. Namun, siapa yang berhenti mencoba berarti gagal, dan siapa yang mencoba kembali akan mencapai apa yang sebelumnya tak terjangkau. Mencapai kesempurnaan adalah proses berulang tanpa akhir. Jadi, teruslah mencoba. Jangan menyerah. Anda memilikinya di dalam diri anda. Ini hanya soal waktu dan upaya. Anda pasti akan berhasil mendekati kesempurnaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar