Selasa, 08 Maret 2016

Cerita nyata di desa menggelar ritual tolak hujan

Djeng Asih mengumandangkan do'a tahlil tolak hujan
Di bawah guyuran hujan dan di atas rakit kayu sederhana. Di pedesaan yang terpencil dan jauh dari keramaian, tepatnya di Desa Kasiyan Sukolilo, Kab. Pati, Jawa Tengah, pada pertengahan bulan Februari 2002 lalu, Dra Hj. Asih Marlyna MBA yang lebih dikenal dengan sebutan Djeng Asih, paranormal wanita paling terkemuka di Indonesia saat ini, melantunkan do'a khusuk ke hadapan Allah SWT. Ia memohon ampunan dan kemurahan-Nya agar bencana banjir yang merendam rumah ratusan penduduk selama sepekan segera berakhir.

Dalam do'a tahlil di atas permukaan air setinggi satu setengah meter itu, Djeng Asih "Ratu Susuk Indonesia" dan sekaligus Pimpinan "Padepokan Metafisika Djeng Asih" (Jl. P Diponegoro 72 Pati, berulang kali memohon kepada Allah untuk mendengarkan rintihannya yang meminta agar penderitaan masyarakat cepat tersudahi. Keajaiban pun terjadi, tak lama setelah do'a dilantunkan, guyuran hujan pun berubah menjadi gerimis dan kemudian berhenti sama sekali. Cuaca berubah cerah, dan matahari pun bersinar dengan terang benderang.

Hujan lebat yang telah berhari-hari mengguyur bumi sehingga menimbulkan banjir besar, seketika berhenti, setelah paranormal wanita yang satu ini memanjatkan do'a kepada-Nya. Padahal banjir besar telah belasan hari menggenangi di daerah itu. Bahkan tak ada yang bisa memperkirakan kapan surutnya, karena tiap hari hujan mengguyur bumi.

Do'a khusuk yang disertai mantra ritual dan dilambari dengan Aji Tolak Hujan yang dikuasainya mulai dilantunkan, dan atas izin-Nya pula, hujan lebat yang semula mengguyur bumi seketika langsung berhenti. Hal itu menimbulkan suatu harapan. Bukan tak mungkin, tak lama setelah itu banjir pun akan surut. "Insyah Allah, sepulang saya dari sini, mendung tebal akan berganti cerah dan hujan pun berhenti. Setelah itu, semoga air yang menggenangi desa ini segera surut dan kering," ujar Djeng Asih.

"Amin..." hanya itu yang dapat keluar dari mulut para warga desa dengan penuh harap dan keharuan. "Sudah seminggu lebih hujan lebat turun terus-menerus. Saya tak pernah melihat sinar matahari. Dan setelah Djeng Asih datang dan berdo'a di sini, hujan pun berhenti. Dan matahari pun bersinar lagi," ungkap Mak Kasimah warga setempat dengan penuh haru.

Tabungan yang selama ini terkumpul, langsung dibelikannya sembako. Tak berhenti sampai di situ, ia juga mengumpulkan pakaian yang layak pakai. Kini, terkumpul 600 kemasan sembako dan pakaian layak pakai untuk dibagikan kepada para korban banjir. Itu semua adalah salah satu bentuk kepedulian Djeng Asih kepada sesama. Sedangkan bantuan lain diwujudkan dalam bentuk upacara do'a khusus dan khusuk berupa tahlil, wirid, dan dzikir pada tiap tengah malam, di mana kemudian dilanjutkan dengan melakukan ritual secara langsung di tengah-tengah masyarakat yang tertimpa musibah banjir.

Usai melangsungkan do'a dan ritual, dengan didampingi Bupati dan jajaran aparat pemerintahan yang terkait, Djeng Asih juga membagi-bagikan ratusan bungkus nasi beserta lauknya kepada masyarakat desa lain yang tempat tinggalnya juga masih tergenang air. Bahkan di sebuah balai desa tua, dan masih termasuk dalam Kec. Sukolilo, kembali paranormal wanita ini melihat puluhan kepala keluarga pengungsi. Hatinya langsung tergerak. Ia pun langsung turun dari kendaraannya dan menghampiri para pengungsi yang kebanyakan wanita dan balita. Tanpa sadar, air mata Djeng Asih pun jatuh. Betapa tidak, beberapa bayi menangis berkepanjangan karena haus dan ingin menyusu. Tetapi karena tak ada uang, orang tuanya hanya mampu memberikan "air tajin" sebagai gantinya.

Lelehan air mata itu semakin deras ke luar manakala ia melihat beberapa anak-anak berlarian di atas tanah becek tanpa alas kaki. Akibatnya, banyak di antara mereka yang terserang penyakit  "rangen" (jamur pada telapak kaki). Bahkan sebagian lainnya mulai terkena penyakit kudis. Pada rombongan yang menyertai perjalanannya, Djeng Asih mengemukakan tekadnya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan dana guna membeli obat-obatan yang amat-amat diperlukan oleh para pengungsi di daerah itu.

"Bantuan yang saya berikan belum seberapa dengan jumlah kerugian korban banjir yang ada. Saya hanya bisa berdo'a, semoga bantuan ini mampu mengetuk hati para dermawan, khususnya warga Pati yang mampu, untuk sudi mengulurkan tangan kepada sesama yang sedang mengalami cobaan. Apalagi sebagian dari mereka, terpaksa harus kehilangan rumah, sawah, ladang, tambak, bahkan ternaknya," katanya menutup pembicaraan.


Sumber inspirasi dari majalah misteri indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar