Kisah mistis pohon anti tebang di jakarta dan klaten

Pohon mistis
Pohon palem yang berada di belakang
gardu Siskamling.

 
Aneh tapi nyata. Di kawasan Cempaka Putih, tepatnya di Jalan Rawasari Timur I Dalam, Jakarta Pusat, terdapat sebuah makam tua yang sampai sekarang masih dianggap keramat oleh penduduk sekitar. Selain itu, di dekat tempat itu juga berdiri sebatang pohon yang tak kalah tua usianya. Di mana masyarakat sekitar biasa menyebutnya dengan Kramat Sangka Luak.

"Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Pohon tua itu anti tebang. Bahkan beberapa orang pernah mencobanya, tetapi usaha mereka sia-sia. Berbagai alat untuk menebang pohon, apakah itu golok, kapak atau yang lainnya, tak pernah ada yang sanggup melukai kulit pohon keramat itu," ujar Mbah Bejo.

Mbah Bejo, yang asli Banjar dan telah memiliki banyak cucu itu kembali menyatakan, keanehan pohon Kesambi Kedondong Jaran ini masih sepi dari perhatian pers dan publik. Tapi sudah amat terkenal di mata warga Cempaka Putih dan Percetakan Negara. Dan yang ingin mencoba menumbangkan pohon keramat itu bukan hanya mereka yang bermodalkan peralatan sederhana saja, ternyata beberapa orang yang penasaran dan bahkan menggunakan peralatan modern pun gagal. Ketajaman mata gergaji mesin itu ternyata tak sanggup melukai, apalagi menembus batang pohon keramat itu.

"Pokoknya, jika berhadapan dengan pohon keramat yang satu ini jangan sekali-kali pakai akal. Akal takkan pernah sanggup mencernanya," imbuh Mbah Bejo yang dipercaya untuk menjaga dan merawat pohon itu oleh leluhurnya, Nenek Jami dan Nenek Budeh. Menurutnya, daya kekuatan pohon tersebut adalah akibat dari letaknya yang ada di dekat, tepatnya di sebelah, sebuah makam orang sakti yang tak dikenal. Sampai detik ini, belum ada seorang pun yang mampu membuka tabir kemisteriusan dari makam yang membujur rata dengan bumi dan tanpa batu nisan itu.

"Sejak saya kecil, makan dan pohon itu sudah ada. Dan pohon keramat itu pun sudah beberapa kali berganti. Bukan karena ditebang, tetapi memang sudah waktunya. Yang aneh, tiap pohon itu tumbang, pasti ada lagi pohon penggantinya. Begitulah seterusnya sampai sekarang ini," imbuhnya.

Sampai tulisan ini diturunkan, entah sudah berapa banyak orang yang terkabul keinginannnya setelah berdo'a di tempat ini. "Mungkin, yang dimakamkan  di situ adalah tokoh sakti dan sekaligus sholeh. Akibatnya, do'a yang dipanjatkannya langsung di ijabah Allah. Yang jelas, sampai sekarang masih banyak orang yang datang untuk berbagai maksud dan tujuan," sambung Mbah Bejo yang sering mengantarkan para peziarah dan sekaligus memberitahukan tata tertibnya.

"Memang, beberapa waktu yang lalu, pihak Pemda pernah berniat meratakan kawasan ini untuk perluasan Pasar Rawa Kerbau dan pembuatan gedung Puskesmas. Tetapi apa daya, pohon itu tak bisa dirobohkan. Walau dengan buldozer sekali pun," ujar pak Zaenal, anak dan sekaligus pendamping ayahnya, Mbah Bejo.

Jika disimak dengan seksama memang agak terasa aneh, betapa tidak, di sekitar perkomplekan yang padat, terdapat secuil areal yang memancarkan nuansa mistik teramat pekat. Aneh memang, tetapi begitulah kenyataan yang ada. Hari-hari tertentu di tahun 80-an, tempat keramat yang satu ini selalu dipadati oleh peziarah. Bahkan banyak yang bermalam di sekitar makam dan pohon itu. Tetapi sekarang, paling-paling hanya satu atau dua orang saja. Itu pun tidak selalu.

Sebagai seorang juru kunci, sudah tentu Mbah Bejo punya pengalaman menarik dan sekaligus menegangkan dari apa yang dijaganya. Suatu ketika, tepat tengah malam, ketika ia sedang bermeditasi di bawah pohon keramat itu, tiba-tiba ia mendengar suara aneh. Ketika ia membuka matanya, di depannya, tampak seekor kodok raksasa. Anehnya, kodok itu tampak amat jinak. Sejenak kodok dari alam gaib itu memperhatikan dirinya seolah ingin mengucapkan sesuatu. Sayang, tak lama kemudian binatang gaib itu menghilang.

Dan bukan hanya itu, beberapa hari yang lalu, ternyata ia juga pernah ditemui seorang kakek yang mengaku bernama Kumpi Mandura. Usianya mungkin sudah ratusan tahun. Sang kakek pun menyampaikan pesan yang isinya teramat menakutkan. Sayang, Mbah Bejo enggan untuk menjelaskan isi pesan gaib itu. Ia hanya bisa mengisyaratkan, badai dan bencana alam akan semakin sering terjadi. Bahkan, krisis moral pun akan semakin meingkat. Dan bukan tak mungkin, pesan ini juga berkaitan dengan keadaan kota Jakarta yang bakal "rame" di sekitar bulan Agustus dan Nopember mendatang.

Sungguh sayang, pembaca tak dapat melihat bagaimana bentuk dari pohon keramat yang satu ini. Jujur saja, walau telah enam kali team misteri bolak-balik untuk mengambil gambarnya, tetapi tak ada satu pun yang berhasil. Negatif film-nya kosong. Tak ada gambar sedikit pun!.

Dan yang lebih aneh lagi adalah hal yang sama juga terjadi di Klaten, Jawa Tengah. Karena belum mempunyai gardu Siskamling, maka warga Rt. 03/01 Dukuh Gebang, Desa Munggung, Kecamatan Karangdowo, sepakat untuk mendirikannya. Dan lokasi untuk itu pun langsung ditentukan. Pada hari minggu, tanggal 3 juni 2001, gotong royong untuk memulai pembangunan gardu itu langsung dimulai.

Tua muda, besar kecil, semuanya terlibat dalam kegiatan ini. Sebagian dari mereka membersihkan rerumputan liar yang banyak tumbuh di situ, sedangkan sisanya menebang pepohonan yang ada. Apakah itu pohon pisang, jambu, mangga, palem, dan beberapa tanaman lainnya. Namun, kegemparan pun terjadi seiring dengan akan selesainya kegiatan. Saat itu, sebagian warga hendak menebang pohon palem yang tak seberapa besar. Tetapi apa lacur, walau beberapa batang pohon palem yang lebih besar telah berhasil mereka tumbangkan sebelumnya, tetapi pohon yang satu ini ternyata berbeda.

Ketajaman mata gergaji mesin mereka tak pernah mampu melukai kulit pohon palem itu. Bahkan tergores pun tidak! Walau berulangkali dicoba, tetapi hasilnya tetap saja sama, nihil. Waga pun memutuskan untuk menunda pekerjaan. Bahkan mereka sepakat untuk meminta petunjuk pada seorang paranormal dan kyai yang terpandang di kampung itu.

Ternyata, hasil terawangan kedua tokoh itu sama. Pohon palem itu dihuni oleh sepasang suami istri bangsa lelembut. Mereka bersedia pergi, asalkan dipindahkan terlebih dahulu ke tempat yang mereka tentukan. Yakni di sebuah sungai di dekat rel kereta api. Pada saat yang telah ditentukan, prosesi pemindahan pun berlangsung disertai dengan do'a dan sesaji yang khusus. Hanya saja, sebelum pergi, suami istri bangsa lelembut itu menyampaikan pesan, "Jika warga desa ingin selamat, pohon tak boleh ditebang semua. Sisakan tiga sampai empat batang. Dan selain itu, posisi gradu juga harus membelakangi pohon palem sisanya."

Kedua pesan tersebut dituruti oleh seluruh wara yang tak mau mengambil resiko di kemudian hari. Dan kini, gardu pun telah berdiri dengan posisi membelakangi beberapa batang pohon palem. Agaknya memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bijak, bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini.


Sumber inspirasi dari majalah misteri indonesia.

0 Response to "Kisah mistis pohon anti tebang di jakarta dan klaten"

Posting Komentar