Senin, 14 Maret 2016

Mencari jejak kehidupan di sistem planet jupiter

Planet jupiter
Beberapa waktu lalu, pesawat ruang angkasa Cassini menangkap gelombang alunan musik yang samar-samar ketika mendekati planet Jupiter. Secara otomatis, hal ini jadi pertanyaan besar: Benarkah memang ada makhluk luar angkasa yang menghuni planet selain bumi, termasuk Jupiter, planet terbesar di sistem tata surya kita?

Pesawat yang mengangkut pola frekuensi radio gelombang rendah menangkap alunan yang samar dari lagu makhluk asing. Itu terjadi ketika Cassini mengubah frekuensinya menjadi gelombang suara. Hanya saja, sinyal-sinyal ini tidak otomatis menunjukkan adanya kehidupan luar angkasa (extraterrestrial life). Gelombang itu bisa terjadi karena angin matahari, yakni sebuah gas tipis dari hembusan partikel yang memancar dari matahari, menabrak medan magnetik yang melingkupi Jupiter. Para ilmuwan NASA yang mengorbitkan Cassini berpendapat, energi yang dihasilkan dari tabrakan itu bisa menciptakan gelombang elektronik. 

Dikutip dari majalah ufo indonesia, daya kejut keriuhan Jupiter ini mirip dengan suara ledakan dari pesawat jet supersonik keti-ka memecahkan batas suara di atas bumi. Cassini menangkap “suara musik angkasa” pada jarak 23 juta km dari Jupiter, 8 Desember 2000 yang lalu. Cassini akan terbang lebih dekat lagi dalam jarak 10 juta km dari lingkaran gas Jupiter untuk melangsungkan studi gabungan dengan satelit Galileo. Pesawat NASA itu akan mengorbit sistem Jupiter dalam waktu lima tahun. Cassini akan menerima tarikan gravitasi Jupiter dalam perjalanannya menuju planet Saturnus yang dijadwalkan tahun 2004.

Adakah kemungkinan kehidupan di sistem planet Jupiter? Sebenarnya, Mencari Jejak Kehidupan Di Sistem Planet Jupiter Galileo mengirimkan citra Jupiter dan satelit-satelitnya. molekul-molekul organik telah diketemukan di Callisto dan Ganymede yang merupakan dua bulan Jupiter, oleh pesawat ruang angkasa Galileo. Demikian sebuah studi yang dikeluarkan Science paling akhir. Bahan organik ini diidentifikasi oleh tim riset Profesor T McCord dari Universitas Hawaii di Honolulu, sebagai mirip air, es dan mineral-mineral hidrat pada permukaan kedua bulan. Galileo mendeteksi karbon dioksida, sulfur dioksida dan sejumlah kecil campuran organik lain.

NASA pernah menyatakan data kiriman wahana antariksa Galileo memperbesar kemungkinan kehidupan primitif pernah menghuni Europa, salah satu bulan dari planet Jupiter. Citra kiriman itu memberi isyarat kuat, es atau air dalam wujud cair pernah ada dan masih tertinggal di bawah permukaan Europa. Lingkungan berair benda-benda langit dipercaya sebagai kawasan yang mendukung eksistensi makhluk hidup.

“Kami memang mencari relung-relung di dinding permukaan Europa yang mendukung kehidupan. Citra rekaman Galileo memperlihatkan ada lingkungan yang pas dihuni makhluk hidup di sana,” kata Ronald Greeley dari Laboratorium Propulsi Jet NASA. Direktur NASA Daniel Goldin yang pernah mengumumkan kehidupan pernah eksis di Mars, berkomentar tentang temuan itu: menarik, tapi belum meyakinkan. Kemungkinan Europa pernah mengandung air, merupakan langkah baru untuk mengeksplorasi tata surya dan sistem bintang lain di jagat raya, menjawab misteri apakah ada kehidupan di kosmos selain di Bumi.”

Ia juga mengatakan citra yang diambil oleh Galileo dari ketinggian 154.492 kilometer, menangkap daratan selebar 1,6 kilometer, juga menggambarkan sejumlah garis-garis cerah mirip jalur jalan tol pada permukaan Europa. Para ilmuwan Galileo mengatakan data itu menunjukkan garis seperti jalan itu, disebabkan oleh desakan “gletser kotor” yang mendorong campuran es dan runtuhan silika yang agak gelap. Keadaan ini mungkin bisa diikuti oleh aliran air jernih yang lebih lambat dan memunculkan garis berwarna putih.

Tim astronom Universitas Johns Hopkins melaporkan adanya lapisan oksigen sangat tipis pada atmosfer bulan terbesar planet Jupiter, Ganymede, dan kemungkinan adanya aurora di kutub-kutubnya yang mirip dengan aurora “cahaya utara” di salah satu kutub Bumi. Meski terdapat oksigen, tak ditemukan tanda-tanda kuat yang mengisyaratkan ada kehidupan di bulan tersebut.

“Semua hasil pengamatan kami yang memperlihatkan oksigen di atmosfer Ganymede tidak berimplikasi ada kehidupan di sana,” kata astronom Doyle Hall dari Universitas Johns Hopkins. Selain itu, para ilmuwan juga telah menemukan sejumlah bukti adanya lautan air yang terkandung pada satelit terbesar di Jupiter yang bernama Ganymede. Hal ini menimbulkan pemikiran, kemungkinan besar ada kehidupan di Ganymede seperti di bumi kita ini, walau belum tentu sejenis dengan manusia.

Menurut para pakar planet, dari tarikan- tarikan magnetik melalui pemeriksaan angkasa oleh teleskop Galileo diperoleh kemungkinan adanya daratan teramat luas dalam bentuk cair di bawah permukaan bulan yang dingin. Di bumi atau di manapun yang mengandung air, dipastikan akan ada kehidupan. Hal sama tentu tak selalu benar di ruang angkasa akan tetapi penemuan ini mencuatkan harapan bahwa pada suatu hari kehidupan luar bumi mungkin ditemukan.

Peneliti dari Universitas California, Los Angeles, Margaret Kivelson menyatakan, laporan dari sekitar Jupiter pada Mei 2000 lalu, sangat memungkinkan adanya lautan cair dan bergaram. Kivelson menjelaskan, sebuah lapisan berbentuk larutan air yang luasnya beberapa kilometer terdapat sekitar 200 kilometer di bawah permukaan Ganymede. Menariknya, cairan itu cocok dengan tingkat keasinan lautan di bumi. Namun demikian, para peneliti ini menekankan, belum dapat memastikan telah ditemukannya air seperti di bumi pada bulan Ganymede yang ukurannya lebih besar dari planet Merkurius atau Pluto –planet terjauh dari sistem tata surya kita.

Hipotesis adanya air di Ganymede didukung oleh gambar resolusi tinggi yang dikirim oleh Galileo. Air atau es cair yang menutupi kerak-kerak yang retak untuk menciptakan area lapang antara area-area yang terpisah di kerak Ganymede tersebut. Dan temuan itu telah memberi harapan bahwa ada kehidupan di sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar