Selasa, 31 Mei 2016

Wow, laut terbelah dua di sebelah selatan bima

Pantai lariti
Pantai Lariti di Desa Soro, Kecamatan Lambu, Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat, mulai
didatangi wisatawan. Perairan teluk ini terbelah menjadi dua ketika airnya surut dan
tampak terumbu karang yang menjadi arena bermain bagi para pengunjung.


Apabila mengunjungi Pantai Lariti, Anda bisa melihat laut terbelah dua, mirip kisah Nabi Musa ketika dikejar bala tentara Firaun. Anda juga akan merasakan sensasi berjalan di atas air laut. Pantai Lariti terletak di wilayah selatan Kabupaten Bima, tepatnya Desa Soro, Kecamatan Lambu Sape. Lokasi pantai tidak jauh dari Pelabuhan Sape, gerbang laut yang menghubungkan Pulau Sumbawa dan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dari kota Bima, pantai ini bisa ditempuh satu jam perjalanan mengendarai mobil.

Bagi mereka yang tidak membawa kendaraan sendiri, tersedia mobil sewaan Rp 500.000 perhari atau sepeda motor sewaan Rp 150.000 perhari. Memasuki wilayah selatan kabupaten seluas 4.374,65 kilometer persegi itu, akan terlihat warna asli kawasan yang bergunung-gunung dan hanya mendapat musim hujan kurang dari tiga bulan dalam satu tahun. Karakter daerah itu tergambar dari jalan beraspal hotmix berkelok-kelok naik-turun, yang separuhnya diapit kawasan hutan dan bukit terjal. Pada musim hujan, kawasan itu tampak hijau oleh pepohonan. Namun, tegakan pohon dan semak belukar meranggas dan coklat saat dibakar terik matahari kemarau. Bebatuan pun menyembul melalui lereng-lereng lahan bukit bertekstur batu bertanah.

Sekitar 14 kilometer perjalanan, kami singgah di kompleks rumah tradisional Desa Maria, Kecamatan Wawo, melihat Uma Lengge (rumah mengerut) dan Uma Jompa. Rumah itu dijadikan lumbung padi dan hasil bumi lain. Letak kompleks rumah-rumah itu agak jauh dari pemukiman warga agar aman dari kebakaran yang kerap terjadi saat musim kemarau sehingga stok pangan aman dari jilatan api sampai menjelang panen.

Kegersangan berlanjut ke Desa Soro, jalan menuju Pantai Lariti. Putaran roda mobil melamban menyusuri bukit gersang, melintas jalan datar berbatu berdebu yang baru diuruk, dan mengitari petak-petak kolam usaha tambak yang sedang dalam proses pembangunan. Dari atas bukit terlihat beberapa pulau kecil disertai warna air laut, yang seakan tersambung dari Pantai Lariti ke Samudera Indonesia.

Sore itu air di teluk tengah surut. Dari kejauhan terlihat panorama Pantai Lariti berupa terumbu karang bagai jalan membentang membelah laut sepanjang 100 meter dari bibir pantai hingga Nisa Lampa Jaram, pulau persinggahan alias ladang ternak kuda merumput. Laut yang tampak "terbelah dua" selebar 20 meter itulah bagi dalam kisah Nabi Musa AS. Setelah mencelupkan tongkat mukjizatnya, Laut Merah tersibak dua. Lewat lorong air itulah Nabi Musa dan umatnya berjalan menyelamatkan diri dari kejaran bala tentara Firaun.

Hamsin Puasa (70), pedagang di pinggir pantai itu, menyebutkan, pulau dan areal pantai itu pernah menjadi tempat pengembalaan ratusan ekor kuda milik Sultan Bima. Adapun pasang surut air laut terjadi pukul 05.00-07.00 dan 15.30-19.00. Selagi pasang surut air laut setinggi pinggang dan semata kaki orang dewasa. "Apabila sedang surut, berjalan di terumbu karang itu sepertinya bapak jalan di atas air," tutur Hamsin.

Pantai ini mulai dikenal pertengahan 2014, menyusul kedatangan pengunjung masyarakat Kabupaten Bima dan Kota Bima saat lebur kerja dan libur sekolah Sabtu dan Minggu. Mandi, berjalan-jalan di hamparan pasir putih, bermain bola selagi air surut, terutama anak-anak dan dewasa, dapat dinikmati di pantai itu.

Belum ada penginapan di pantai yang setiap didatangi satu-dua wisatawan asing setiap hari itu. Kalau ada turis asing yang menginap, biasanya mereka numpang tidur bermalam di pondok Hamsin Puasi di Nisa Jara. Lahan yang juga ditanami padi dan jagung di pulau kecil itu dikelolahnya sejak tahun 2000. "Wisatawan asing itu membayar Rp 100.000 per orang per malam. Mereka juga mendapat hidangan beberapa gelas kopi," kata Hamsin.

Pantai Lariti akan mengundang pengunjung untuk berwisata sekaligus mengagumi fenomena alam laut "terbelah dua".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar