Senin, 06 Juni 2016

Indahnya semburat fajar di sikunir wonosobo jawa tengah

Sunrise

Adzan subuh belum lagi terdengar. Namun, kawasan Bukit Sikunir salah satu gunung di Dataran Tinggi Dieng, sudah dipadati pengunjung. Jarum jam mesih menunjukan pukul 3.30, tetapi tempat parkir yang luas tersebut nyaris penuh. Deretan bus dari luar kota serta puluhan mobil berderet rapi di tempat parkir. Tak terbayangkan jika saat itu musim liburan panjang, pengunjung yang kebanyakan wisatawan domestik itu pasti menyemut.

Bukan masalah jika pengunjung tidak membawa kendaraan pribadi karena untuk mencapai Bukit Sikunir ada bus umum dari Kabupaten Wonosobo. Selain ongkos bus, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp 10.000 sebagai tiket masuk. Dinginnya hawa Dieng serta jalan berkelok tak menyurutkan semangat pengunjung untuk mendaki Sikunir demi menyambut kemunculan sang surya nan indah (golden sunrise). Jika saat itu udara tak terlalu menusuk tulang, keadaan akan berbeda saat bulan Juli-Agustus.

Menurut penduduk setempat, di bulan-bulan tersebut, kawasan Dataran Tinggi Dieng akan sangat dingin. Suhunya bisa mencapai 0 derajat Celsius, bahkan bisa disertai turunnya embun beku yang disebut penduduk "salju" (frost). "Terkadang mereka menyebutnya bun upas (embun racun) karena merusak tanaman kentang. Itu sebabnya kami memasang alat pemanas ruangan," kata Nyonya Tuasyiah, pemilik rumah tempat kami menginap.

Lantaran dinginnya udara, pengunjung disarankan memakai jaket tebal lengkap dengan sarung tangan serta topi (kupluk) dan syal penghangat leher. Jika kebetulan Anda tak membawanya, jangan khawatir, di pinggir tempat parkir terdapat deretan warung yang menjual perlengkapan tersebut, kecuali jaket. Perjalanan mendaki akan dimulai dari jalanan yang ditutupi paving block yang ketika mulai mendaki berganti dengan jalur tanah. Lereng bukit yang memungkinkan kita melihat mentari muncul sebenarnya hanya berjarak 800 meter. Namun, medan pendakian cukup terjal. Kendati begitu, kita dimudahkan dengan tangga buatan yang sangat musim hujan menjadi agak licin. Oleh karena itu, sebaiknya gunakan sepatu kets.

Berhenti di beberapa tempat untuk menikmati pemandangan dan mengambil gambar semburat jingga sang fajar dari beberapa sudut akan sangat mengasyikkan, sekaligus mengagumi mahakarya Sang Maha Kuasa. Jika ingin terus mendaki, perjalanan bisa diteruskan ke puncak. Dari bukit ini, wisatawan bisa memandang tujuh puncak gunung yakni Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu, Telomoyo, Ungaran, dan Prau di kawasan Dieng. Dari puncak Sikunir, ketika pandangan mengarah ke barat terlihat Telaga Cebong yang bersebelahan dengan perkampungan Sembungan. Di sekitar Bukit Sikunir selain Telaga Cebong juga ada tempat telaga lain, yakni Asat atau Wurung, Gunung Kendil, dan dua Telaga Pakuwujo.

Desa Sembungan adalah desa terakhir sebelum mencapai Puncak Sikunir. Desa itu berjarak enam kilometer dari kompleks Candi Dieng dan 30 kilometer dari Kota Wonosobo. Lokasi desa berada pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Dari sembungan, pendaki perlu berjalan kaki sejauh satu kilometer. Di kawasan Dieng memang ada sejumlah lokasi wisata, salah satunya adalah kompleks candi Hindu yang diberi nama tokoh-tokoh pewayangan Mahabrata seperti Candi Arjuna, Gatotkaca, Srikandi, Bima. Di sekitar Dieng pun terdapat pemandian air panas, sejumlah kawah, juga danau. Ada baiknya saat berkunjung Anda menginap barang semalam. Banyak penginapan atau quest house yang disewakan penduduk dengan harga beragam. Kalau takut kesasar, bolehlah membayar pemandu wisata.

Nikmatilah pengalaman yang tak pernah terlupakan dengan menjelajah Sikunir dan mengejar matahari terbit. Sesuai dengan namanya, Dieng melukiskan sesuatu yang indah. Nama Dieng diambil dari bahasa Sansekerta "Di" yang artinya tempat tinggi. Sementara "Hyang" berarti tempat para dewa dewi. Ada pula yang  menyebutkan dari arti bahasa Jawa "ad" yaitu indah dan "aeng" artinya aneh. Dieng sejak dahulu dikenal sebagai tempat dengan suasana penuh mistis tetapi indah dan menantang untuk dikunjungi.

Mengintip mentari dari gardu pandang tieng
Tak keburu melihat matahari terbit dari Puncak Sikunir? Jangan khawatir, naiklah ke Gardu Pandang Tieng (GPT), tempat favorit wisatawan asing. Sebelum mencapai Gunung Sikunir, GPT ini akan kita lewati. Terletak pada ketinggian 1.789 mdpl, tepat berada di atas Desa Tieng. GPT adalah lokasi paling tepat untuk menyaksikan terbitnya matahari dan menjadi lokasi alternatif bagi yang ingin melihat golden sunrise tapi tidak sempat naik ke Bukit Sikunir. Kita tak perlu mendaki demikian tinggi, cukup menaik tangga yang tak terlalu tinggi. Jadi, kalau Anda tak sanggup mendaki 800 meter, mampirlah ke sini. Pemandangannya tak kalah indah dengan menyaksikan dari Sikunir. Hampir setiap pagi sehabis subuh sudah ada orang yang berada di lokasi ini untuk menikmati keindahan terbitnya matahari tanpa penghalang apapun.

Bahkan jika tak menaiki GPT, dari lokasi di sekitarnya pun wisatawan bisa menikmati indahnya pemandangan memesona yan terhampar di hadapan. Pemandangan sebelah timur adalah perbukitan kebiruan yang diselimuti kabut tipis. Jika kita memandang ke bawah, deretan rumah penduduk dikelilingi hijaunya perkebunan mendominasi. Sebelah selatan terpampang pemandangan Gunung Sindoro yang menjulang tinggi dengan anggun, warnanya kebiruan dan berlatar langit biru jernih. Sementara itu, Desa Tieng dan sekitarnya terselimuti kabut sampai pertengahan Gunung Sindoro. Tak salah jika orang menjuluki Dieng sebagai negeri di atas awan.

Di sebelah barat, ada Bukit Sikunir, Gunung Pakuwojo, dan terhampar ladang-ladang petani dengan aneka tanaman sayuran yang menghijau. Tampak pula jalan setapak berkelok-kelok menuju ke Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa. Gardu Pandang Tieng juga sering menjadi tempat yang disediakan untuk menyambut tamu-tamu penting di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara untuk menikmati pemandangan matahari terbit di balik arakan awan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar