Pintar, anak-anak juga gemar bersepeda gunung

Bersepeda gunung
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pepatah itu memang tepat diberikan kepada Wijdan Taufiqurrahman umur 12 tahun dan Farell Albern umur 8 tahun. Mereka adalah kaka beradik yang gemar melakukan aktivitas sepeda gunung (cross country). Padahal, mereka masih duduk di sekolah dasar. Wijdan duduk di kelas VI dan bersekolah di SD Cipagalo, sedangkan Farell duduk di kelas II dan bersekolah di SD Karangpawulang. Sang ayah, Renaldi memang dikenal sebagai salah seorang penggemar aktivitas sepeda gunung di kota Bandung.

Sebagian besar anak-anak seusia mereka, biasanya melakukan aktivitas sepeda di lingkungan rumah atau lingkungan sekolah saja. Tidak jarang pula seusia mereka baru belajar menaiki sepeda. Namun, tidak demikian bagi Wijdan dan Farell. Mereka memang terlihat lebih pendiam jika dibandingkan dengan anak-anak seusia mereka. Namun, jangan salah. Berbagai jalur sepeda gunung yang ekstrem dan biasa dilalui oleh pesepeda dewasa, pernah mereka lintasi tanpa mengalami kesulitan berarti. Mulai dari jalur Warung Bandrek, Tamiya, Cikole, Palintang, Pangalengan, Palasari, Genteng, dan Kiara Payung. Bahkan, jalur sepeda di Cibereum, Garut.

"Awalnya, saya hanya suka bersepeda berkeliling kompleks. Oleh karena itu, saat ayah pertama kali mengajak bersepeda di alam bebas, saya merasa takut. Tetapi, setelah dicoba dan dibimbing ayah, saya jadi ketagihan. Banyak sekali pemandangan alam ciptaan Tuhan yang saya temukan saat bersepeda gunung," ujar Wijdan saat ditanya mengapa gemar melakukan aktivitas bersepeda gunung.

Pendapat senada disampaikan sang adik, Farell. "Saya juga sama. Awalnya takut bersepeda di alam bebas. Tetapi, setelah dipikir lagi. Kak Wijdan saja bisa, kenapa saya tidak. Setelah dicoba, ternyata bersepeda gunung itu menyenangkan. Saya juga jadi kenal sama teman-teman ayah. Terkadang, mereka juga memberi tahu saya tentang cara menghadapi trek-trek yang sulit dilalui saat bersepeda gunung," ucapnya.

Kemampuan bersepeda mereka juga tidak usah diragukan lagi. Mereka bisa melintasi setiap jalur ekstrem tersebut tanpa mengalami kesulitan yang berarti. Padahal, banyak di antara para pesepeda dewasa yang harus bersusah payah saat melintasi jalur-jalur sepeda cross country tersebut. Mereka sangat menikmati kegemaran bersepeda gunung tersebut. Terlebih saat menikmati keindahan alam ciptaan Sang Maha Kuasa.

Sepertinya mereka telah menguasai teknik-teknik dasar bersepeda, seperti menghadapi tanjakan, menghadapi turunan, berbelok, bersepeda di jalanan offroad, dan lain-lain. Mereka juga telah menguasai bagaimana posisi badan dan kaki mereka saat menghadapi berbagai jalur sepeda. Oleh karena itu, banyak pula pesepeda gunung dewasa yang kagum dengan kemampuan mereka. Bahkan banyak pula di antara pesepeda gunung dewasa yang meminta berfoto bersama mereka.

Bagi penggemar sepeda gunung di Kota Bandung, wajah kaka beradik tersebut memang sudah sangat dikenal. Itu karena mereka sering ikut serta dalam acara gobar atau gowes bareng, baik dalam acara resmi maupun tidak resmi. Kalaupun tidak melakukan aktivitas bersepeda gunung, biasanya mereka melalukan aktivitas bersepeda uphill ke Dago Pakar, Dago Bengkok, Bojong Koneng, dan lain-lain. Mereka sering melakukan aktivitas downhill di jalur DH Imoet Cikole, Lembang. Mereka juga sering bersepeda keliling kota. Kegiatan tersebut mereka lakukan saat akhir pekan dna hari libur sekolah. Tentu saja semua aktivitas bersepeda mereka di bawah bimbingan sang ayah, Renaldi.

Semua aktivitas bersepeda mereka tetap mengutamakan keselamatan. Mereka menggunakan helm sepeda untuk mencegah cidera di kepala ketika terjatuh, menggunakan sarung tangan untuk menyerap keringat dan mencegah lecet saat terjadi kecelakaan. Bahkan, mereka juga selalu menggenakan body protector saat melintasi jalur ekstrem. Menurut sang ayah yang berharap kedua anaknya menjadi atlet sepeda gunung nasional, sejak kecil mereka memiliki kegemaran yang sama dengannya, yaitu bersepeda. Oleh karena itu, dia tidak kesulitan mengajak anak-anaknya bersepeda bersama. Hingga pada suatu saat ia mengajak mereka untuk bersepeda gunung ke jalur yang cukup ekstrem dan mereka menjadi ketagihan.

Sensasi Tersendiri
Bagi sang ayah, tentu hal itu menjadi kebanggaan tersendiri karena dapat melakukan aktivitas sepeda gunung bersama kedua anaknya. Mereka sering menyusuri jalan setapak di perdesaan, melibas turunan, menyusuri lereng pegunungan, dan tentu saja menikmati keindahan alam. Di balik itu, ada sensasi tersendiri saat bersepeda gunung bersama kedua anaknya tersebut. Saat bersepeda bersama, tidak jarang kedua anaknya tersebut sudah berada jauh di depan. Sementara sang ayah keteteran di belakang. Sang ayah pun harus mengayuh pedal lebih kencang lagi untuk dapat menyusul mereka. Padahal, kondisi fisik sang ayah sudah tidak memungkinkan lagi.

Terlebih lagi jika bersepeda bersama di jalur ekstrem. Misalnya, di turunan yang sangat curam dan tidak bisa dilalui sepeda. Sang ayah tentu saja harus rela bolak-balik menggotong tiga sepeda. Satu milik sang ayah dan dua sepeda milik mereka. Begitu pula pada saat melintasi tanjakan ekstrem. Sang ayah harus menyemangati mereka agar bisa menaklukkan tanjakan tersebut. Tidak jarang akhirnya sang ayah yang harus mendorong sepeda mereka. Demikian pula saat membangkitkan kembali semangat mereka ketika terjatuh karena lepas kendali. Tentu dibutuhkan kesabaran yang luar biasa dari sang ayah untuk memulihkan kepercayaan diri mereka.

Terlepas dari semua itu, tentu hal tersebut menjadi contoh dan teladan bagi orang tua yang lain untuk selalu mendukung setiap kegiatan positif yang dilakukan oleh anak-anaknya. Selain itu, perlu diketahui pula bahwa aktivitas sepeda gunung tidak hanya dilakukan oleh pesepeda dewasa, tetapi juga oleh anak-anak.

0 Response to "Pintar, anak-anak juga gemar bersepeda gunung"

Posting Komentar