Seteguk susu segar zaman dulu dan sekarang

Susu segar
Pagi yang cukup sibuk di warung sumur alias susu murni di sudut Jalan Pungkur, Kota Bandung. Orang-orang bisa menyebutnya dengan Warung Susu Ijan. Bagi orang-orang yang beraktivitas di sekitar pusat kota, keberadaan warung legendaris ini cukup penting. Mereka tak terbiasa memulai pagi tanpa menyeruput segelas susu murni, dengan atau tanpa perasa tambahan.

"Mungkin karena sudah terbiasa. Bawaannya kalau sudah minum susu segar, lalu kenyang, jadi tidak perlu sarapan yang berat-berat. Inginnya sih yang segar-segar. Tapi kalau mau cari susu segar langsung ke peternakannya, kan susah," ucap Lindra, mahasiswa yang mewarisi kebiasaan itu dari sang Ayah, ketika ditemui pagi.

Dikutip dari Koran Pikiran Rakyat, Sejarah minum susu di tanah air memang tidak bisa dilepaskan dari Tatar Sunda. Bahkan, Heer Medici yang melancong bersama kafilah berkuda dari Batavia ke Negorij Bandong pada tahun 1786, sudah mulai mencicipi susu Bandung ketika rombongan sampai di wilayah Cianjur. Kabarnya restorasi Kereta Pos jalur Cirebon-Bandung-Bogor-Batavia juga menghidangkan susu sapi segar kepada para penumpangnya, sebagai penangkal rasa lelah dan lapar di perjalanan.

Dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe yang ditulis Haryoto Kunto disebutkan bahwa pada tahun 1938 di wilayah Bandung terdapat 22 usaha pemerahan dengan produksi 13.000 liter susu perhari. Hasil produksi susu itu ditampung oleh Bandoengsche Melk Centrale (BMC), untuk dipasteurisasi sebelum disalurkan kepada para langganan, baik di dalam maupun luar kota Bandung.

Karena kualitasnya, seorang Direktur BMC pada masa itu pernah menulis jargon seperti ini. "Vergeet U niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indie slechst een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale! (Anda jangan lupa bahwa di seantero nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu, dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale)."

Kini, pamor susu di Jawa Barat tak lagi semanis dulu. Berdasarkan Sensus Badan Pusat Statistik tahun 2014, tingkat konsumsi susu segar di Jawa Barat hanya 9 liter per kapita per tahun. Dalam skala nasional, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Hening Widiatmoko pernah mengatakan, tingkat konsumsi itu menurut standar FAO masuk dalam kategori rendah.

Jika dielaborasikan dalam bentuk data, tingkat konsumsinya masih di bawah 30 liter per kapita per tahun. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan konsumsi masyarakat dari negara lain, seperti Singapura (46,1 liter per kapita per tahun), India (48,6 liter per kapita per tahun), Malaysia (53,6 liter per kapita per tahun), Belanda (79,6 liter per kapita per tahun), Amerika Serikat (80,4 liter per kapita per tahun), dan Inggris (112,2 liter per kapita per tahun).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung Elly Wasliah menuturkan, di Kota Bandung, tingkat konsumsi susu adalah 10,19 liter per kapita per tahun. Data itu dibukukan pada 2015. Untuk populasi sapi perah, sebanyak 713 ekor Terdapat tujuh distributor susu segar di Kota Bandung. Seluruhnya mendapatkan pasokan susu segar dari KPSBU Lembang, KPBS Pangalengan, dan Parongpong. "Dari ketiga tempat itu, pasokan terbesar datang dari Lembang. Total jumlah susu segar yang masuk ke Kota Bandung sekitar 7.500 liter per hari," ucap Elly di Bandung.

Menurut Elly, tingkat konsumsi susu adalah yang terendah jika dibandingkan dengan produk lain seperti telur dan daging. Konsumsi susu saat ini paling banyak familier pada anak-anak. Sementara orang dewasa lebih banyak mengonsumsi produk olahan susu. Apalagi sekarang, ketika paham "empat sehat lima sempurna" telah berganti menjadi "makan beragam bergizi seimbang dan aman".

Manfaat Susu
Dokter spesialis anak dari Brawijaya Clinic Bandung, Buti Azfiani Azhali menuturkan, susu dan produk olahan susu lainnya adalah sumber protein dan kalsium berkualitas baik dan merupakan bagian dari pola makan sehat. Tubuh membutuhkan protein untuk bekerja dan bertumbuh kembang, serta memperbaiki dirinya sendiri, sedangkan kalsium berperan dalam menjaga agar tulang dan gigi tetap kuat. "Kalsium dalam produk susu berkualitas baik karena mudah diserap tubuh," ucap Buti.

Bagi bayi, air susu ibu (ASI) adalah asupan terbaik selama enam bulan pertama kehidupannya. Susu sapi segar tidak boleh diberikan sebagai minuman, minimal sampai bayi berusia satu tahun. "Hal ini disebabkan susu sapi tidak mengandung nutrisi seimbang sesuai yang dibutuhkan bayi. Sementara untuk bayi di atas 6 bulan, sudah dapat mengonsumsi makan yang mengandung susu sapi sebagai salah satu komposisi bahannya, seperti saus keju," katanya.

Lebih lanjut, Buti mengatakan bahwa bayi di bawah satu tahun tidak boleh diberikan susu kental manis, susu evaporasi, atau minuman lain yang dikaitkan dengan susu seperti minuman berbahan dasar beras, oat, serta almond. Setelah berusia 2 tahun, anak dapat diberikan susu rendah lemak. Apalagi, ketika sudah dipastikan bahwa anak telah mengonsumsi makan bervariasi dan kaya nutrisi seimbang, serta tumbuh dengan baik.

Konsumsi Secukupnya
Meskipun demikian, susu sebaiknya dikonsumsi secukupnya. Untuk anak-anak berusia 2 hingga 3 tahun, susu atau produk olahan susu lainnya sebaiknya dikonsumsi sebanyak dua gelas per hari. Untuk 4 hingga 8 tahun sebanyak 2-3 gelas per hari, serta 9 hingga 18 tahun sebanyak 3-4 gelas per hari. Dinamika keseharian yang bergulir cepat di perkotaan juga membuat banyak orang kesulitan mendapatkan susu segar. Untuk itu, banyak yang kemudian memilih susu yang dikemas lewat teknologi modern.

Buti berpendapat, susu segar memiliki keunggulan dibandingkan dengan susu bubuk karena proses pengolahannya yang tidak berlebihan. Hal itu menyebabkan zat gizi yang terbuang lebih sedikit. "Susu segar baik yang dipasteurisasi atau susu UHT (ultra high temperaturer), sama-sama memiliki keunggulan nilai gizi yang tinggi," ujarnya.

Sementara susu bubuk. menurut Buti, diproses dari susu cair yang dikeringkan sehingga kehilangan beberapa zat gizi walaupun nantinya akan difortifikasi kembali oleh beberapa zat gizi.

0 Response to "Seteguk susu segar zaman dulu dan sekarang"

Posting Komentar