Senin, 06 Juni 2016

Tentang kebiri kimia dari sudut pandang medis

Kebiri kimia

Dari Brawijaya Woman dan Children Hospital Jakarta, Nugroho Setiawan mengatakan, kebiri bisa dilakukan dengan dua teknik, yakni penyuntikan obat dan pembedahan. Tujuannya sama, mengurangi kadar hormon testosteron. Proses pembentukan hormon testosteron pada pria dimulai dengan perintah dari hipotalamus anterior. Ia akan memerintahkan tubuh untuk memproduksi hormon pelutein atau luteinizing hormone. Pada laki-laki, hormon tersebut disebut interstitial cell stimulating hormone yang berfungsi memproduksi hormon testosteron.

Kebiri dengan pembedahan otomatis akan melenyapkan pabrik hormon androgen pada manusia. Hormon androgen adalah hormon steroid yang merangsang atau mengontrol perkembangan dan pemeliharaan karakteristik laki-laki dan perempuan. Hormon itu juga mendukung aktifitas organ seks dan pertumbuhan karakteristik seks skunder. Pada pria, hormon itu berfungsi untuk mempertahankan bentuk tubuh yang maskulin, kokoh, kuat, dan cekatan. Selain itu, fungsi utamanya adalah memicu aktivitas seksual pria.

Cara lain kebiri adalah dengan menyuntikkan zat antiandrogen ke tubuh manusia. Penyuntikkan biasanya dilakukan di lengan atas. Masuknya zat tersebut ke pembuluh darah akan membuat hipotalamus anterior terhalangi untuk memporduksi hormon luteinizing. Dengan tiadanya hormon itu, sel dalam testis tak akan terangsang untuk memproduksi hormon testosteron. "Istilah kata, harapan dari kebiri kimia adalah agar fungsi ereksi tidak terjadi," ujar Nugroho.

Secara klinis, usaha mengurangi hormon testosteron juga biasanya dilakukan untuk terapi kanker prostat tingkat lanjut atau penyakit lain yang berhubungan dengan hormon. Selain itu, untuk mengobati kelainan seksual berat seorang pria seperti hiperseksualitas dan penyimpangan seksual seperti parafilia (gangguan yang melibatkan intensitas dorongan seksual berulang).

Mudah sakit

Lebih lanjut lagi, kata nugroho, orang yang diberi antiandrogen akan lebih mudah menderita hipertensi, kencing manis, penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) serta mengalami penuaan dini. Biasanya, akan diikuti gejala lain seperti migrain, cemas, stres, depresi, dan frustasi meningkat. Penekanan hormon testosteron juga dapat berdampak pada dorongan seksual menurun, tidak bisa ereksi, testis mengerut, produksi sperma turun, massa otot menyusut, tulang keropos sehingga mudah patah, lelah, dan payudara membesar.

Oleh karena itu, pemberlakuakn kebiri kimia untuk pelaku kejahatan seksual dianggap tidak manusiawi dan tidak sesuai dengan sumpah dokter. "Kami bersumpah untuk mengobati dan meningkatkan taraf hidup pasien (masyarakat) lebih baik dari segi kesehatan, tetapi dengan kebiri kimia, kami malah membuat sakit. Oleh karenanya, kalangan dokter tidak sepakat dengan penerapan kebiri kimia," tuturnya.

Tidak efektif memberi efek jera

Kalangan dokter menilai, hukuman kebiri kimia untuk pelaku kejahatan seksual bukanlah yang paling efektif. Ini beberapa alasan sesuai yang disampaikan Nugraha Setiawan.

Biaya yang mahal
Menurut Nugraha, biaya satu kali injeksi zat antiandrogen bisa mencapai Rp 1 juta. Lebih tidak efektif lagi karena ada zat antiandrogen yang harus diulang setiap bulan. Hal itu akan sangat membebani pemerintah.

Bersifat sementara
Zat antiandrogen pernah digunakan sebagai jenis terapi beberapa penyakit dan kelainan. Namun saat ini, sudah jarang digunakan. Bersifat sementara karena jika penyakit dan kelainan sudah pulih, kadar hormon bisa dikembalikan kembali dengan treatment bersama dokter. Jadi, pelaku kejahatan seksual yang mendapat kebiri kimia, bisa dipulihkan dalam beberapa waktu dan tidak menjamin ia tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya itu.

Kejahatan seksual bisa terjadi tanpa melibatkan penis
"Tujuan utama kebiri kimia agar seorang pria tidak bisa ereksi. Sayangnya, kejahatan seksual tidak harus melibatkan penis. Ia bisa saja menggunakan organ lainnya, bahkan benda lain untuk memuaskan hasratnya. Itu karena hasrat seksual juga bisa muncul dari pengalaman seksual sebelumnya," kata Nugraha.


Sumber: Koran, Pikiran Rakyat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar