Sabtu, 18 Juni 2016

Walaupun perjalanan jauh tetaplah berpuasa

Perjalanan jauh

Dengan menggunakan sepeda motor, Miftahul kerap berkeliling di Kabupaten Bogor, kota Depok, dsn Jakarta saat bekerja. Namun, tak sedikit pun Miftahul berkeinginan membatalkan puasanya dengan alasan perjalanan. "Meskipun raga saya bergerak ke sana sini, keimanan harus tetap kuat. Setiap hari pekerjaan saya di lapangan bukan di kantor dengan mobilitas tinggi," ujarnya.

Bahkan, ketika mendapat tugas kerja di daerah lain, Risa memilih tetap berpuasa. Kebiasaan menjalankan ibadah itu dilakukan pula ketika Risa mudik ke rumah nene di Bandung. Kondisi cuaca yang panas dan kemacetan tak membuat dia membatalkan puasanya. Risa menampik mempertahankan puasa dalam perjalanan karena malas membayar qadha. Menurutnya, lebih nikmat menjalankan ibadah puasa walaupun kecapekan bolak-balik ke tempat kerja.

Seperti dilandir dari koran pikir rakyat, dalam pandangan Ketua Umum MUI Kota Depok, Ahmad Dimyati Badruzzaman, ajaran islam memberikan keringanan bagi umatnya yang sedang berpergian saat menjalankan ibadah puasa. "Bila jarak tempuh jauh, diperbolehkan tak berpuasa dan menggantinya di luar Ramadhan. Kendati demikian, keringanan tersebut tak boleh menjadi alasan seorang Muslim gampang meninggalkan puasa," katanya.

Kiai Ahmad Dimyati menuturkan, rukhsah diberikan bagi musafir yang menempuh perjalanan dengan jarak minimal 90 kilometer. "Ukurannya seperti orang boleh qasar salat. Ukurannya pun tak tergantung sepat tidaknya perjalanan, tetapi jarak tempuh," katanya.

Rukhsah diberikan bila perjalanan jauh dan dirasakan berat, tetapi keringanan yang diberikan tak boleh menjadi dalih meninggalkan puasa. "Kalau kita dalam keadaan sanggup berpuasa, lebih baik berpuasa saja," ujarnya.

Moda transportasi untuk berpergian saat ini juga sudah terbilang nyaman. Berbeda dengan kondisi transportasi di masa lalu. Untuk itu, kesempatan musafir menjalankan puasa lebih besar karena minimnya gangguan. "Daripada repot qadha, lebih baik puasa saja. Karena qadha bisa jadi beban di luar Ramadhan. Apalagi tak ada jaminan umur dan manusia tetap sehat ke depan. Tak ayal, seorang Muslim bisa saja meninggal dan sakit sebelum mengganti puasanya," katanya.

Dalam hadist, lanjut Ahmad, ditegaskan mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah. Muslim yang sanggup berpuasa di tengah segala keterbatasan dan cobaan menunjukan imannya kuat. "Dengan demikian, keringanan bagi para musafir ketika berpuasa tak menjadikan seorang Muslim cengeng dan enggan untuk menjalankan ibadah tersebut," tuturnya.

Kiai Ahmad mencontohkan pengalamannya saat berkunjung ke Amerika Serikat dan Kanada dalam kegiatan safari dakwah beberapa waktu yang lalu. "Di sana, siangnya lebih lama dari malam, tapi saya memilih tetap berpuasa," katanya.

Apapun keterbatasan dan segala cobaan yang melanda, seorang Muslim harus memiliki keyakinan kuat ketika berpuasa. Apalagi jika berpuasa di negri yang memiliki waktu berbuka lebih lama dengan Muslim sebagai warga miroritas. "Keyakinan ibadah harus kuat," kata Ahmad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar