Banyak cerita di balik bukit rhema

Gereja ayam
Perjalanan di punthuk setumbu belum selesai meskipun matahari pagi sudah muncul. Justru saat hari terang-benderang, perjalanan bisa dilanjutkan menuju ke "Gereja Ayam". Setidaknya, begitu nama yang tersiar luas di kalangan pecinta jalan-jalan.

Di film "Ada Apa dengan Cinta? 2" pun bangunan tua itu turut masuk frame dan membekas di hati penggemar Cinta dan Rangga. Bagaimana Rangga mengajak Cinta menuruni bukit dan memasuki bangunan tua tersebut, begitu menegangkan. Ketika Cinta diajak menaiki tangga ke puncak bangunan, sungguh membuat perasaan terhanyut dari perilaku manis Rangga yang tanpa kata kepada Cinta yang dikasihinya.

Dikutip dari koran pikiran rakyat, penamaan Gereja Ayam sebetulnya sebutan belaka. Karena pada saat membangunnya, 1995 silam, Daniel Alamsjah berniat membuat bangunan yang terinspirasi burung merpati, bukan ayam. Bentuknya cenderung mirip burung, entah mengapa disebut ayam. Kami menyadarinya begitu sampai di lokasi yang bisa ditempuh sekitar 20 menit berjalan kaki dari Punthuk Setumbu. O ya, saat musim hujan, tanah di sekitar licin, jadi pastikan anda memakai alas kaki yang nyaman.

Ternyata, burung merpati yang didesain Daniel memiliki mahkota di kepalanya. Mungkin bagi sebagian orang, mahkota itu seperti jengger ayam. Apalagi, di bagian belakang bangunan, dibuat menyerupai bulu ekor burung (unggas). Jangan heran jika tak ada nama lokasi "Gereja Ayam" atau "Gereja Merpati" karena resminya lokasi itu dinamai Bukit Rhema.

Pantas pula tempat itu disebut lokasi swafoto (selfie) kekinian. Banyak pengunjung berusia muda membawa telefon seluler dan tongkat selfie untuk berswafoto. Pengunjung dikenai karcis masuk Rp 20.000. Hal itu berlaku untuk memutari bangunan sepuasnya, termasuk naik hingga ke bagian paling atas bangunan, yaitu mahkota kepala burung itu.

Bangunan itu juga sebenarnya bukan gereja. Daniel berniat membuat tempat untuk berdo'a bagi siapa saja yang memerlukannya. Dalam perjalanannya, bangunan itu sempat menjadi tempat rehabilitasi mereka yang membutuhkan penyembuhan diri. Sempat terbengkalai beberapa tahun, pamornya terangkat sejak pengola memugarnya. Saat ini, beberapa bagian dari bangunan itu tengah direnovasi.

Pengunjung diarahkan untuk masuk dari samping kiri. Jendela-jendela kecil berderet mengapit pintu masuk yang kecil. Meski sudah siang, suasana di dalam bangunan temaram. Terlebih ketika mulai menelusuri bagian dalam bangunan, terdapat banyak lorong yang dibangun menyerupai goa. Lorong tersebut semakin menanjak, dan pengunjung tiba di sebuah tangga. Di lantai atas, ada aula besar, kosong melompong, dengan jendela besar di kanan kiri bangunan beserta relief tembok. Dilihat dari luar bangunan, aula itu tepat berada di dalam perut "burung".

Dari aula yang besar, sebuah tangga berkelok membawa pengunjung ke bagian kepala burung. Ketika semua pengunjung ingin merasakan pengalaman Cinta dan Rangga, bagian kepala tersebut menjadi tempat mereka antre. Tak boleh banyak orang berada di atas mahkota burung. Sekitar 16 orang saja, lantaran tempatnya yang sempit. Sebuah tangga kecil dari besi melingkar akan mengantarkan pengunjung pada pengalaman baru.

Ketika tiba di atas, pesonanya memang memabukkan jika saja tidak dibatas waktu oleh pengelola. Ya, kami hanya bisa menikmati hijaunya perbukitan Menoreh saat tertimpa cahaya matahari pagi sekitar 15 menit.  Jika ingin langsung ke Bukit Rhema, anda bisa berbelok sebelum sampai di gerbang Punthuk Setumbu. Dari gerbang itu, arah perjalanan ke lokasi bangunan sangat menanjak setelah sebelumnya melewati jembatan gantung dari bambu. Bila tak sanggup menapaki jalan menanjak yang curam, ada fasilitas angkutan dari pengelola yang bisa mengangkut beberapa orang. Magelang, kota tenang dengan jalanan yang lengang. Kota tua yang menyimpan sejarah beserta berbagai pesona budaya.

0 Response to "Banyak cerita di balik bukit rhema"

Posting Komentar