Jumat, 26 Agustus 2016

Cerita seseorang tentang manfaat minum jus

Jus buah-buahan

Terapi Minum Jus

Banyak kebaikan didapat dari setiap tegukan jus buah atau sayuran yang dikonsumsi rutin setiap hari. Jus juga dipercaya bisa menjadi mood booster atau meningkatkan semangat dalam menjalani rutinitas harian. Kandungan gizi dan nutrisi melimpah dari segelas jus segar berdampak baik bagi kinerja organ-organ tubuh. Sudah banyak orang mengetahui khasiat baik dari jus. Meski masih ada juga mereka yang belum mengetahuinya. Mereka sudah merasakan sendiri kebaikan jus, merasa kurang lengkap membuka hari tanpa segelas jus segar.

Ine (50th), misalnya, lebih dari 16 tahun sudah ia memasukan jus pada susunan menu makan hariannya. Padahal, awal-awalnya, ia mengenal jus karena mengidap penyakit maag yang kerap mengganggu. "Sekitar 2004, kakak saya sempat sakit dan alhamdulillah diberikan kesembuhan setelah berikhtiar dengan terapi jus. Awalnya, saya tidak tertarik, tetapi setelah mengetahui bahwa kita sendiri yang memilih dan membeli bahan serta membuat jusnya, saya mau mencoba," ujarnya.

Setelah berkonsultasi kepada terapis, Ine kemudian diberikan resep untuk membuat jus yang harus diminumnya setiap hari. Setelah pulih dari sakit maagnya, ia justru ketagihan dan jadi tidak bisa berhenti mengonsumsi jus. Sekarang menurut Ine, setiap ada keluhan sedikit, sebelum memilih obat-obatan, ia mencoba dengan terapi jus terlebih dahulu. Dari pengalamannya, jus yang ia konsumsi selama ini membantunya tetap fit dan tak gampang sakit-sakitan.

Kabar baiknya, kebiasaan membuat jus di rumah menular hingga ke suami dan kedua anaknya. "Jadi, mereka sudah biasa dengan rasa jus malah yang sayur-sayuran juga. Kan biasanya yang favorit itu jus buah-buahan. Nah, karena saya rutin ngejus sayuran, mereka jadi bisa. Udah enggak terasa pahang lagi," ujarnya. Cerita lain bergulir di bibir Dewi Gilang (42 th). Ia tengah berkumpul bersama teman-teman lamanya. Ia mengalami sendiri khasiat dari terapi jus yang dimulainya sejak juni 2016.

Sebelumnya, kata Dewi, ia kerap merasakan nyeri kepala hebat hingga sulit bergerak. Saat tidur pun terasa menyiksa. Menurut diagnosis dokter, ia mengalami kebocoran pada lambungnya serta penipisan kandung kemih. Dewi telah mendapatkan berbagai penanganan medis sejak saat itu. Suatu hari, muncul informasi ada obat yang cocok untuk sakit yang diderita Dewi. Namun, obat itu cukup sulit di dapat serta harganya mahal. "Obatnya berupa injeksi. Satu kali suntik sekitar Rp 2 juta, saya harus pakai dua kali sehari. Agak berat rasanya," tuturnya.

Karena ingin terus berupaya. Dewi mendapat kabar mengenai terapi jus. Kabar itu diperoleh dari adiknya sendiri. Dian, yang pernah merasakan sendiri dampak baik rutin meminum jus. Tahun 2010 lalu, Dian pernah mengunjungi terapis jus di sekitar jalan Gunungbatu, Kota bandung. Kala itu, lambung Dia bermasalah dan ingin memulihkannya, tetapi dengan cara alami. Berdasarkan penuturan Dian, setelah diperiksa, teraips menyarankan agar ia meminum tiga gelas jus sayur dan buah dengan komposisi tertentu selama empat hari. Selama itu pula ia diberikan pantangan makanan agar khasiat nutrisi sayur dan buah dalam jus bisa diserap optimal.

"Setelah rajin minum jus, lambung saya membaik, tidak terasa nyeri, dan tidak timbul keluhan lagi. Akan tetapi, setelahnya saya jadi 'nakal' lagi, makan sembarangan, hingga sakit lambung datang lagi. Akhirnya coba rutin ngejus lagi setelah kakak minta diantar untuk mencoba terapi jus ini," tuturnya.

Ketagihan

Setelah bertemu dengan terapis, Dewi pun mempraktikkan resep jus yang diberikan. Hasilnya terasa di hari pertama setelah mencoba. Pencernaan menjadi lebih lancar dan tidur bisa lebih nyenyak. "Jadi, sepertinya kandungan jus telah membantu tubuh saya mengeluarkan racun. Hasilnya, feses hitam pekat. Jadi lebih sering buang air kecil juga, tapi jika sebelumnya sering terasa perih, sekarang semakin berkurang," kata Dewi.

Soal rasa jus, ia tidak mempermasalahkannya. "Enak kok karena setiap kali minum jus ada penggunaan wortel. Itu membantu rasa jus jadi lebih terasa manis," ucapnya.

Setelah empat hari "wajib" minum jus, Dewa ketagihan. Ia merasa ada yang kurang jika sehari saja tidak minum jus. Alhasil, Dewi selalu menyempatkan diri membuat jus untuk keluarga. Plus, ada sisi menarik lainnya. "Sejak ngejus jadi terpikir punya juicer sendiri. Itu jadi menyenangkan kan. Selama ini pakai juicer punya keluarga saja sih," tuturnya.

Menurut dia, jus yang disarankan haruslah bebas dari penambahan air dan bahan lain. Artinya, hanya meminum sari pati dari sayur dan buah-buahan. Oleh karena itu,  alat yang disarankan membuatnya adalah juicer, bukan blender yang biasa dipakai untuk membuat jus. Kini, rutiniras Dewi bertambah. Setiap pagi, sore, dan malam hari, ia harus menyiapkan menu jus. Agar lebih optimal, ia sebisa mungkin mematuhi pantangan makanan seperti daging ayam, ikan laut, soda, atau jeroan. Khusus untuk Dewi, ia dibatasi mengonsumsi beberapa buah-buahan, seperti pisang, jeruk, dan pepaya terkait kondisi kesehatannya.

Ia mengungkapkan, ada beberapa aturan saat minum jus agar lebih berkhasiat optimal. Misalnya, dikonsumsi sebelum makan dan harus dihabiskan kurang dari sepuluh menit setelah jus dibuat. Kebiasaan Dewi membuat jus dan meminumnya terlihat dari kondisi kesehatannya yang membaik. Hal itu kemudian memicu banyak rekan dan kerabatnya mencoba rutin meminum jus. Misalnya, Ahmad (43th), suami Dewi yang sejak memasuki usia 40 tahun terasa sering didatangi penyakit. "Padahal, sejak muda saya termasuk yang jarang sakit. Tapi ketika masuk kepala 4, semua keluhan itu rasanya datang bersamaan. Mulai dari darah tinggi sampai asam urat. Berat badan juga naik sulit dikontrol," tuturnya.

Karena ingin menemani istrinya terapi jus, ia pun mengikutinya. Tak disangka, Ahmad merasa banyak perbaikan dalam tubuhnya. Pusing-pusing, pilek, atau darah tinggi jarang menyapanya lagi. Bahkan, pegal-pegal akibat asam urat sudah jarang terasa sejak dua bulan terakhir. Poin plusnya, berat badan mulai menyeimbangkan diri menuju kadar proporsionalnya. Keinginan menyembuhkan sinusitis juga membuat Wini (42 th) mengikuti jejak Dewi dan Ahmad. Gangguan pernapasan yang selama ini dideritanya dirasa mengganggu sehingga ingin disembuhkan.

"Tertarik karena melihat kondisi Dewi membaik. Lagi pula ini tidak melibatkan bahan kimia, murni buah dan sayur. Setelah dicoba, badan lebih enak. Saya juga jadi terbiasa bikin jus setiap hari," ujarnya.

Kisah lain disampaikan Budi (43th), rekan Dewi lainnya. Di tahun 2003, ia tengah menjalankan banyak proyek sehingga tubuhnya sangat kelelahan. Suatu hari, ia menemukan beberapa bagian tubuh san kakinya membengkak, ditambah kerap mual. Ia langsung mencurigainya sebagai gejala gangguan pada ginjal. "Ternyata benar, ginjal bermasalah. Malah kata dokter, fungsinya sudah tinggal 5%. Saya disarankan cuci darah dua kali seminggu. Tapi saya tidak mau," tuturnya.

Menurut Budi, selain mahal, cuci darah akan membuat tubuhnya semakin lemah dan kurang berdaya. Padahal, dalam kesehariannya, Budi termasuk orang dengan kegiatan segudang. Akhirnya, ia mempelajari ginjal dan permasalahannya. Hingga suatu hari ia mendapat informasi bahwa gangguan pada ginjal bisa terbantu pemulihannya dengan dari pati lobak putih.

"Rasanya sungguh tidak enak, pedas, dan aneh. Tapi saya coba terus. Satu gelas setiap hari. Lobak putih diparut kemudian diperas dan diambil airnya. Selama satu minggu rutin saya minum jus lobak itu. Alhamdulillah, saya diberi kesembuhan," katanya.

Mengkonsumsi jus memang bisa memberi khasiat pada gangguan atau penyakit dalam tubuh. Meski demikian. kesembuhan sejatinya berasal dari Tuhan. "Memang sebaiknya kita berupaya sealami mungkin menjaga kesehatan tubuh. Saya rasa dengan kebiasaan meminum jus ini bisa jadi salah satu upaya membuat tubuh menjadi bugar," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar