Senin, 22 Agustus 2016

Mendidik dan 4 hal dalam menerapkan disiplin anak

Anak
Mendidik anak adalah perjalanan panjang sehingga mereka memiliki perilaku yang sesuai dengan harapan. Dalam mendidik anak, hasilnya mungkin baru dapat kita lihat setelah proses yang panjang selama bertahun-tahun kemudian. Pembentukan perilaku dan karakter jarang sekali yang diperoleh dalam waktu jangka pendek. Suatu proses perjuangan sepanjang hayat. Sangat penting perilaku positif itu dibangun, dan siapa yang membangunnya, yaitu orangtua itu sendiri. Dimulai dari kandungan, buaian, sampai mengenalkan anak dalam kehidupannya di lingkup pertama rumah dan mengenalkannya kepada masyarakat.

Anak-anak kita adalah rapor yang terpampang di hadapan kita. Perkembangan moral pada masa kanak-kanak berawal pada tingkat yang paling sederhana. Karena perkembangan intelektualnya, mereka belum mencapai kemampuan untuk memahami prinsip-prinsip abstrak tentang benar dan salah. Awalnya, setiap anak tidak memiliki keinginan untuk mengikuti aturan karena belum mengerti manfaatnya sebagai anggota masyarakat.

Setiap anak secara bertahap diajarkan untuk mengerti standar moral yang harus diketahuinya, tentang bagaimana cara bertindak. Semua pengenalan aturan dan disiplin yang dikenalkan pada anak, awalnya akan membuat anak seperti "terpaksa". Namun, lama-kelamaan anak akan merasakan bahwa aturan dan disiplin merupakan kebutuhan. Perilaku salah benar menjadi lebih jelas.

Bagaimanapun cerdasnya anak, untuk menjadi baik diperlukan waktu yang cukup panjang. Istilahnya, untuk menjadi cerdas dapat kita lakukan dalam satu malam. Namun, untuk menjadikan mereka baik, memerlukan waktu ribuan malam. Agar anak mampu belajar perilaku sosial yang baik merupakan proses panjang dan rumit. Harus dilakukan penanaman nilai secara berulang-ulang, sampai terbentuk perilaku yang kita harapkan. Boleh jadi hari ini anak ingat, besoknya mungkin sudah lupa. Orang dewasa di sekitarnya harus terus mengingatkan. Caranya disesuaikan dengan usianya anak. Tentu saja memerlukan kesabaran yang tak terbatas.

Pembentukan moral yang terkait dengan pembentukan penerimaan anak secara sosial, awalnya ditandai dengan sebutan, "moralitas melalui paksaan". Setiap anak secara otomatis mengikuti aturan tanpa berpikir ataupun menilai, hanya mengikuti. Ia melihat apa yang diterapkan oleh orang dewasa di sekitar kehidupannya merupakan kebenaran yang dapat mereka ikuti. Cara berpikir anak awalnya masih sangat konkret. Menurut pandangan anak, suatu perbuatan yang "salah" berakibat hukuman dan yang "benar" berakibat pujian. Jadi, dalam benak anak, suatu perbuatan salah dan benar itu, masih bersifat sebab-akibat, bukan berdasarkan pada kemampuan nalar mereka dalam memahami "mengapa" seseorang itu harus bersikap salah dan benar. Dengan berjalannya waktu, anak-anak akan menyesuaikan diri dengan harapan sosial agar memperoleh pujian.

Saat anak masuk masa remaja, perilaku patuh terhadap aturan diharapkan sudah terbentuk. Untuk itu diperlukan disiplin yang sifatnya konsisten. Apa yang dimaksudkan dengan disiplin adalah cara masyarakat (orangtua, guru, dan orang dewasa lain) mengajarkan tingkah laku moral pada anak yang dapat diterima oleh kelompoknya. Tujuan dari semua disiplin adalah membentuk perilaku. Bagaimana cara mengajarkan pada anak mengenai benar dan salah sehingga secara lambat laun akan mendorong anak untuk berperilaku sesuai dengan harapan sosialnya.

sebagian orangtua masih menganggap disiplin berkaitan erat dengan hukuman. Pendapat ini tentu saja salah. Makanya, disiplin baru diberikan ketika anak melanggar aturan. Padahal, disiplin itu merupakan suatu kebutuhan yang sangat terkait dalam pembentukan kepribadian anak. Bagaimana tidak, dengan disiplin, memberikan efek positif cukup besar. Anak merasa aman untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sederhananya, dalam menerapkan disiplin, ditentukan oleh empat hal:
  1. Aturan. Yang merupakan undang-undang mengenai salah dan benar. 
  2. Hukuman dan ganjaran. Fungsi dari hukum untuk melemahkan perilaku negatif pada anak dan fungsi dari ganjaran akan membentuk penguatan perilaku positif pada anak. Anak akan tahu mana perilaku yang diharapkan oleh lingkungan dan mana perilaku yang tidak diharapkan oleh lingkungannya. 
  3. Konsisten. Anak akan menghargai aturan dan figur otoritas (orangtua, guru, atau orang dewasa lain) sehingga anak akan mempertahankan atau meningkatkan perilaku positifnya.
  4. Komitmen. Ada kesepakatan bersama di antara seluruh orang dewasa yang mengasuh untuk membentuk sikap positif anak. Tidak boleh berlaku pengecuailan sebelum tingkah laku yang diterapkan terbentuk.
Dalam hal ini sangat penting kerja sama dengan pasangan dan komunikasi yang sifatnya empati dengan anak. Yang terjadi pada persoalan yang Ibu hadapi terlihat bahwa Ibu merasa kebingungan. Sekarang, yang terpenting adalah melakukan reedukasi pada anak agar mampu mengawal anak lebih baik lagi. Jika terjadi pembiaran atau pengabaian atas perilaku negatif yang dilakukan anak, nantinya akan berdampak pada penguatan perilaku negatifnya. Artinya, kita memberikan reward pada perilaku negatif dan akan terjadi peningkatan untuk perilaku negatif berikutnya. Kontrol diri anak akan semakin lemah dan tidak mengenal arti "jera". Ini akan sangat membahayakan dan akan memiliki risiko terbawa sampai anak dewasa.

Persoalannya, sudahkah kita sebagai orangtua menanamkan nilai-nilai yang benar sehingga anak dapat bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang berlaku? Sampai akhirnya kita sebagai orangtua menyadari, pentingnya mengatur perilaku positif anak untuk kepentingan pembentukan kepribadiannya. Mendidik anak memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi tidak sesulit menegakkan benang basah. Selama ikhtiar dijalankan, tangan Tuhan senantiasa akan terulur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar