Mengidentifikasi, kecerdasan, dan gaya belajar anak

Anak belajar
Morinaga menyurvei 1.061 orangtua dengan anak mereka yang berusia 0-6 tahun (0-12 bulan sejumlah 257 anak, 13-35 bulan sejumlah 471 anak, dan 36-72 bulan sejumlah 365 anak) di kota-kota besar di Indonesia, seperti: Medan, Pematangsiantar, DKI Jakarta, Bandung, Bogor, Tanggerang, Bekasi, Depok, Surabaya, dan Malang. Kesimpulannya, anak-anak usia 0-6 tahun lebih banyak menggunakan gaya belajar auditori (pendengaran). Meskipun demikian, ada juga yang menggunakan gaya belajar kinestetik (gerak tubuh/otot dan tulang) dan visual (penglihatan).

Dalam memberikan stimulasi atau pembelajaran, akan lebih bijak bagi orangtua atau pendidik (guru) apabila memperhatikan gaya belajar yang dominan pada anak supaya informasi lebih mudah diserap. Untuk itu, perlu pembiasaan, karena orangtua atau pendidik cenderung menggunakan gaya belajar yang dominan pada dirinya dalam proses stimulasi atau pembelajaran. Bila kebetulan gaya belajar yang dominan pada orangtua atau pendidik dengan anak sama, tidak akan terjadi kendala. Namun, bila yang dominan yang berbeda, anak akan kesulitan menyerap informasi atau pengetahuan yang diberikan. Sebaiknya orangtua atau pendidik menggunakan gaya belajar lain sebagai pendamping agar ketiga gaya belajarnya tetap terstimulasi dengan baik. Gaya belajar merupakan kecenderungan cara yang digunakan seseorang saat mempelajari hal-hal baru dalam hidupnya.

Generasi yang lahir pada abad ke 21 sering diistilahkan sebagai generasi platinum. Mereka terlahir pada masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, keterbukaan berperilaku, serta ketersediaan sarana pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Cirinya tinggi dalam mengakses dan menyerap informasi sehingga memiliki kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan diri. Kemampuan inlah yang kelak menjadi modal untuk bertahan hidup. Banyak yang berasumsi, dengan segala fasilitas dan kemudahan yang tersedia pastilah generasi ini lebih "nyaman" menjalani hidup. Belum tentu, sebab dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tantangan yang harus dihadapi lebih besar, persaingan semakin ketat, serta tekanan lebih kuat.

Menurut Dr. Howard Gardner, psikolog dari Universitas Harvard dalam bukunya The Multiple Intelligence (1993), indikator kecerdasan tidak hanya satu aspek, melainkan mencakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari. Makna kecerdasan itu sendiri adalah keseluruhan kapasitas atau kemampuan untuk belajar, memahami lingkungan dan memecahkan masalah. Kecerdasan yang mancakup banyak bidang dalam kehidupan sehari-hari yang diistilahkannya sebagai multiple intelligence atau kecerdasan majemuk. Penelitiannya masih terus dilakukan untuk menemukan lebih banyak tentang bagaimana manusia itu belajar.

Secara singkat, Gardner membagi kecerdasan itu menjadi 9, yaitu:
  1. Kecerdasan gerak tubuh
  2. Kecerdasan gambar dan ruangan
  3. Kecerdasan bahasa
  4. Kecerdasan logika dan angka
  5. Kecerdasan dalam musik
  6. Kecerdasan intrapribadi
  7. Kecerdasan antarpribadi
  8. Kecerdasan memahami alam
  9. Kecerdasan moral
Luasnya spektrum kecerdasan bisa disimpulkan bahwa tiap anak pada dasarnya cerdas. Kecerdasan itu juga terkait dengan talenta atau bakat. Satu kecerdasan yang menonjol bisa saja lahir beberapa talenta yang lebih spesifik. Misalnya, anak dengan kecerdasan musikal, bisa jadi ia memiliki talenta menyanyi atau bermain musik.

Kecerdasan perlu diasah dengan tepat, supaya hasilnya optimal. Caranya dengan menstimulasi potensi itu secara kontinu sejak dini. Stimulasi sebaiknya tidak dibatasi pada salah satu dari aspek kecerdasan. Meskipun ada salah satu aspek kecerdasan itu menonjol, anak tidak akan rugi bila distimulasi beragam aspek kecerdasan yang lain karena bisa jadi sebenarnya ada lebih dari satu talenta yang dimiliki anak.

Gaya belajar adalah cara individu untuk menyerap informasi. Dr. Lauren Bradway (1993) menyebutkan tiga macam gaya belajar, yaitu:
  1. Looker (visual), gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indera penglihatan. Anak-anak dengan gaya belajar looker/visual mudah mengingat sesuatu yang pernah dilihat, seperti gerakan, warna, bentuk dan ukuran, gemar mengobservasi lingkungan serta memiliki koordinasi mata-tangan (motorik halus) yang baik.
  2. Listener (auditory), gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indera pendengaran. Anak-anak dengan gaya belajar ini senang menirukan suara dan mudah mengingat suara yang didengar serta cendeung banyak bicara.
  3. Mover (kinesthetic), gaya belajar ini mengandalkan kemampuan indera peraba dan gerak. Anak-anak dengan gaya belajar ini lebih senang kegiatan dengan memfungsikan motorik kasar (gross motor), halus (fine motor) dan ingin menyentuh semua benda yang dilihatnya, serta lebih cepat berjalan dari pada berbicara.
Setiap orang memiliki ketiganya. Akan tetapi, biasanya, ada yang lebih dominan digunakan. Penting bagi orangtua dan guru untuk mengetahui gaya belajar anak karena dengan mengetahuinya, orangtua dan guru tidak akan memaksakan anak belajar dengan gaya yang tidak sesuai. Misalnya, gaya belajar anak move/kinesthetic, tetapi orangtua meminta anak duduk manis sambil membaca buku seperti anak visual. Akibatnya, anak akan merasa jenuh dan hasilnya tidak optimal. Sebaliknya, bila telah paham dengan gaya belajar anak, orangtua dan guru bisa memahami karakter anak sekaligus membuat anak menjadi senang belajar.

Selanjutnya buat anak sendiri, semakin anak tersebut mengenal gaya belajar yang dimilikinya, anak-anak dapat menerapkan cara belajar yang baik untuk memaksimalkan kemampuannya sehingga siap menjadi generasi platinum yang mampu menjawab segala tantangan zaman.

0 Response to "Mengidentifikasi, kecerdasan, dan gaya belajar anak"

Posting Komentar