Rambut sehat dengan cara keramas yang tepat

Keramas
Rambut memiliki siklus 300 hari untuk lepas dan tumbuh kembali. Selama siklus itu pula, agar siklus rambut dapat terus berlangsung lancar, perawatan atas rambut perlu dilakukan. Perawatan rambut yang paling mudah dan mendasar adalah keramas atau mencuci rambut. Sebaiknya, mencuci rambut dilakukan berkala atau periodik agar kebersihan rambut dapat terjaga. Rambut yang bersih, niscaya lebih sehat sehingga terhindar dari berbagai masalah rambut.

Beberapa masalah rambut yang kerap mengganggu dan jadi persoalan antara lain ketombe, berminyak, rontok, kusam, dan kebotakan dini. Persoalan tersebut bisa diatasi mulai dari rutinitas mencuci rambut hingga perawatan khusus, bergantung pada besar kecilnya persoalan rambut. Jika menyebut keramas, pasti langsung terpikir menggunakan sampo atau sabun pembersih untuk rambut. Perkembangan zaman telah membuat industri sampo bergerak lebih cepat sehingga memerlukan banyak inovasi. Beberapa diantaranya memasukan berbagai bahan kimia agar menghasilkan rambut ideal yang diidamkan banyak orang.

Pada 2014, Lucky Airken Read menulis buku Happy Hair: The Devinitive Guide to Giving up Shampoo. Ia menulis beberapa fakta peneltian yang menyebut jika wanita menggunakan 515 jenis bahan kimia untuk tubuhnya setiap hari. Beberapa jenis tersebut ditemukan dalam sabun pembersih seperti sampo. Berangkat dari keresahannya itu, Lucky melakukan gerakan tanpa sampo saat mencuci rambutnya. Setelah dua tahun mencoba, hasil yang fantatis justru diperolehnya. Lucky menyatakan, rambutnya jauh lebih baik daripada saat rutin keramas dengan sampo.

Laman Telegraph juga sempat melaporkan gerakan tanpa sampo (The No Shampoo Movement) sempat marak di beberapa negara seperti di Australia. Testimoni pelakunya menyebutkan bahwa gerakan itu sangat membantu mereka mendapatkan rambut yang sehat, terbebas dari masalah rambut. Namun, tentu saja, pada awal-awal melakukannya mereka bersaksi jika rambut sempat terlihat lepek (berminyak dan lembap) hingga terlihat kurang menarik. Akan tetapi, kondisi tersebut hanya terjadi antara 1-3 bulan konsisten keramas tanpa sampo. Selanjutnya, rambut tampak sehat dan tumbuh alami.

Akan tetapi, tak banyak orang yang tahan keramas tanpa sampo. Untuk menyiasatinya, masyarakat bisa memilah sampo yang lebih baik dan alami untuk rambutnya. Yang pertama usahakan sealami mungkin, lihat komposisi bahan racikannya. Lebih baik lagi jika meracik ramuan sendiri. Tapi memang agak repot jadinya. Jika masih ingin praktis dan belum terbiasa dengan ramuan alami, cari produk pencuci rambut yang hanya mengandung sampo saja, tidak dicanpur dengan bahan lain dengan fungsi lain.  Ada cara mudah membedakan sampo dengan komposisi lain. Tuangkan setetes pada jari lalu masukkan ke air, jika masih terasa licin itu menandakan sudah dicampur dengan fungsi selain sampo. Karena pada dasarnya sampo berfungsi sebagai pencuci rambut saja. 

Sampo yang baik justru tidak menghasilkan busa berlimpah. Semakin sedikit busa saat keramas, justru baik karena bagian rambut yang perlu dicuci dengan baik adalah bagian kulit kepalanya. Bagian kulit kepala rambut akan menghasilkan sebum (minyak) untuk melembapkan rambut dan menjaga kesehatannya. Justru sebum adalah anugerah, tetapi jika berada pada kondisi yang terlalu lembap akan membuat persoalan baru seperti ketombe. Menggunakan sampo yang tidak cocok untuk rambut biasanya akan memunculkan ketombe.

Intensitas Keramas
Jika sudah berketombe, keramas saja tidak cukup. Dibutuhkan senjata pembantu untuk memberantasnya. Ketombe adalah jenis bakteri yang senang tinggal di habitat kulit kepala yang lembap dan berminyak. Untuk menanganinya, lebih baik menggunakan antidandruff. Hanya, sebaiknya antidandruff digunakan untuk menghilangkan ketombee. Intensitas keramas juga bisa berpengaruh pada kesehatan rambut. Idealnya keramas itu dua hari sekali. Salah satu sifat rambut adalah lebih cepat lepas dari akarnya dalam keadaan basah. Jadi, bayangkan akan lebih banyak rambut lepas jika seseorang sering mencuci rambutnya.

Meski demikian, rambut lepas atau rontok adalah kondisi alami. Dalam sehari, normalnya orang akan kehilangan rambut sekitar 20-30 helai. Itu pun dengan catatan ada rambut yang tumbuh. Karena memang siklus rambut lepas-tumbuh itu alami. Oleh karena itu, saya tidak menyarankan gonta-ganti sampo karena bisa berpengaruh pada siklus rambut. Jika terus berganti, sel rambut akan kebingungan mengatur siklusnya sehingga terus di-reset.

Faktor air yang digunakan saat keramas juga berpengaruh bagi rambut. Menyarankan agar saat keramas tidak menggunakan air panas karena bisa mempercepat rambut rontok. Soal air panas bisa mencuci rambut lebih bersih disebutnya hanya mitos karena tetap yang membuat bersih adalah bahan pencuci. Yang perlu diperhatikan saat keramas adalah sesi memijat kulit kepala. Memang merepotkan jika dilakukan sebagai rutinitas. Akan tetapi, hal itu justru baik bagi kesehatan rambut. Jika sulit melakukannya secara harian, bisa mingguan. Pemijatan pada kulit kepala bertujuan melancarkan peredaran darah. Sebab, di kepala tersebar banyak pembuluh darah kapiler (berukuran kecil).

Caranya mudah saja, saat keramas, basahi rambut dengan air, lalu tekan-tekan kulit kepala dengan ujung buku jari (bukan kuku). Lakukan beberapa saat sebelum rambut dibilas. Tentu saja, rambut juga memerlukan nutrisi. Ada banyak suplemen untuk rambut, tetapi yang paling efektif adalah menutrisinya dari dalam tubuh melalui asupan gizi yang baik. Rambut dikatakan memerlukan zat nutrisi seperti zinc dan mangan. Walau demikian, jumlahnya tidak banyak. Dengan mengonsumsi banyak sayuran saja sudah bisa memenuhi kebutuhan nutrisi untuk rambut.

0 Response to "Rambut sehat dengan cara keramas yang tepat"

Posting Komentar