Selasa, 06 September 2016

Aspek psikologis & manfaat perlindungan K3 bagi guru

Guru
Perlindungan guru di Indonesia untuk pertama kali baru diatur dalam Pasal 40 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan, "Pendidikan dan tenaga kependidikan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan hak atas hasil kekayaan intelektual." Sejalan dengan itu, Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan, "Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas." Selanjutnya Pasal 40 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru menyebutkan," Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan."

Perlindungan terhadap guru pendidikan dasar dan menengah (SMA/SMK/MA) dimaksudkan untuk meliputi perlindungan untuk rasa aman, perlindungan terhadap pemutusan hubungan kerja, dan perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Dikaji dari aspek psikoilogis, ketika guru belum mendapatkan perlindungan hukum atas K3, mereka akan mengalami kecemasan yang cukup dalam konsentrasi dan atensi terhadap pekerjaannya akan terganggu, mudah putus asa, serta mengalami gangguan persepsi (pemahaman) dan kognitif (berpikir) dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yang profesional.
\
Dalam konteks peningkatan mutu guru, selain aspek penghargaan dan kesejahteraan, aspek perlindungan menjadi hal yang sangat penting. Kebijakan perlindungan guru pendidikan dasar dan menengah secara psikologis menimbulkan adanya rasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugas profesinya sehingga dapat membentuk karakter serta kepribadian sesuai fase perkembangan kognitif, persepsi, emosi, bahasa, perilaku, dan etika moral sebagai pendidik yang kreatif dan inovatif. Realitanya, masih banyak guru di Indonesia yang terhambat perkembangan psikologisnya seperti yang telah diuraikan tadi, yang dialami sebagian guru yang merasa belum mendapatkan sistem perlindungan yang memadai dan dilindungi undang-undang.

Bukti di lapangan menunjukkan, banyak peristiwa kecelakaan kerja yang dialami oleh guru, masih belum mendapatkan perlindungan yang layak sesuai UU yang berlaku. Sepanjang berkaitan dengan hak guru atas K3, sampai sekarang belum ada rumusan komprehensif mengenai kebijakan serta acuan kerja perlindungan K3 bagi para pendidik yang profesional. Apalagi dikaitkan kebahagiaan guru, apakah bahagia itu dan apakah lebih berbahagia ketika guru telah mendapatkan perlindungan K3 dikaji dari aspek psikologis.

Sampai beberapa tahun lalu, guru bahagia kalau hanya berurusan dengan hal-hal duniawi. Bahagia yang seperti itu, dalam kasus guru tersebut, ternyata masih menyelipkan rasa iri hati karena yang bahagia itu hanya kedagingan guru semata yang sifatnya kuantitatif.

Ingin lebih bahagia itu artinya ingin naik kelas. Ingin lebih dari sebelumnya. Guru ingin lebih berbahagia dalam kualitas hidup ketimbang kuantitas. Misalnya, seorang guru punya rumah 5 hektare di 5 lokasi "berbeda", secara duniawi, guru itu bahagia banget. Kedagingan guru yang bahagia, secara kuantitas, tetapi guru itu ingin lebih berbahagia. Guru itu ingin rumah yang lima hektare itu adalah rumah ketika orang di dalamnya atau yang masuk ke dalamnya mampu merasakan rumah yang penuh dengan cinta, ramah, bahagia psikis (jiwanya) yang memamerkan kehangatan dan bukan seperti showroom/unit yang tak bernyawa.

Tentunya manusiawi bagi guru profesional bahagia memiliki sejuta peserta didik dan teman. Akan tetapi, secara psikologis, guru itu ingin lebih berbahagia memiliki teman dan peserta didik yang psikis (jiwanya) juga bahagia. Sebab, jiwa yang tidak berbahagia itu menghasilkan pertemanan atau hubungan dengan peserta didik yang sungguh melelahkan lahir dan batin. Psikis (jiwa) yang tidak bahagia itu hanya menghadirkan gelak tawa yang retak.

Sekarang, guru yang telah memperoleh perlindungan K3 yang formal dan dilindungi UU akan merasakan kebahagiaan fisik, sosial, emosi, dan psikologisnya. Akan tetapi, guru itu ingin lebih berbahagia melihat peserta didik dan teman-teman (kolega) guru lain tidak dipenuhi kepanikan, kecemasan, dan rasa putus asa yang berlebihan yang melumpuhkan mimpinya sebagai guru yang kreatif dan inovatif, melainkan teman-teman guru lain yang jiwanya secara kualitatif bahagia juga.

Selain itu, secara psikologis, UU perlindungan K3 bermanfaat bagi guru sebagai acuan untuk:
  • Mengetahui dan memahami ranah dan jenis perlindungan K3 bagi guru yang secara psikologis bisa memotivasi semangat berkarya, menumbuhkan rasa aman dan nyaman dalam beraktivitas sebagai guru.
  • Memperoleh perlindungan K3 bagi guru sehingga mampu mengaktualisasikan diri dalam melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional dan bermartabat.
  • Mendorong pemenuhan kewajiban dalam melaksanakan tugas profesinya sebagai guru yang kreatif dan inovatif.
Pelaksanaan perlindungan K3 menuntut komitmen semua pihak yang terkait dan dalam implementasinya tidak bisa hanya dikaji dari penegakan regulasi, tetapi juga harus dianalisis dampak penegakan regulasi K3 terhadap lima aspek perkembangan guru, yaitu aspek kognitif-kecerdasan (berpikir dan persepsi), bahasa-komunikasi, sosial-interaksi, fisik-motorik, dan etika-moral. Hal itu dimaksudkan untuk menghindari penyelesaian sengketa yang berkepanjangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar