Awas, diabetes melitus bisa menyerang anak-anak

Diabetes melitus

Penyakit diabetes melitus, tanda-tanda, hingga peran dan komitmen orangtua pada anak yang terserang

Mendengar nama penyakit diabetes melitus, kita sering menyimpulkan bahwa itu adalah penyakit orangtua. Ternyata, anak-anak pun bisa mengalaminya. Anak-anak yang mengidapnya pun memiliki risiko tinggi terdampak ke berbagai organ lain bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat. Memiliki anak usia 5-7 tahun adalah masa menyenangkan. Saat itulah anak-anak sudah mulai bersekolah dan kita bisa mengajarkan banyak hal tentang membangun hubungan sosial yang baik dengan teman-teman seumurnya, juga guru-guru di sekolah.

Dikutip dari koran pikiran rakyat, aktivitas fisik anak di usia tersebut juga semakin tinggi. Mereka senang berlari, memanjat, melompat, dan sebagainya bersama teman-teman sebaya. Aktivitas otak pun tidak kalah meningkat. Di usia itulah mereka mulai merekam berbagai pengetahuan yang diterima di sekolah maupun lingkungannya.

Akan tetapi, di satu waktu, anak kok terlihat lemas dan tubuhnya semakin kurus. Kurusnya tidak biasa, bukan karena apa yang dimakannya segera keluar menjadi energi. Akan tetapi, ada gejala lain yang muncul seperti dehidrasi dan sering buang air kecil. Pertumbuhannya pun seperti terganggu. Waspadalah karena itu merupakan sebagian gejala yang mungkin menunjukkan anak mengidap diabetes melitus (DM).

Kategori usia ketika gejala-gejala DM paling banyak terlihat memang usia 5-7 tahun. Aktivitas anak semakin tinggi, kebutuhan energi pun besar. Saat itulah mulai terlihat apabila dia kekurangan insulin dan ketika itulah gejala-gejala mulai muncul. Insulin menjadi kata kunci bila kita berbicara tentang DM. Insulin adalah hormon yang membuat mekanisme gula darah di dalam tubuh berjalan normal. Anak yang sehat, ketika ia mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, karbohidrat diubah menjadi glukosa yang beredar di dalam darah.

Insulin itulah yang berperan menurunkan kadar gula dalam darah untuk mencapai ambang batas normal. Bila insulin berkurang atau tidak ada, mekanismenya tidak berjalan dan gula darah tetap tinggi. Dari empat tipe, DM paling banyak menimpa anak-anak adalah tipe 1, yaitu organ penghasil insulin dirusak dan tipe 2, yaitu tubuhnya resisten terhadap insulin. Dari kedua tipe itu, kasus terbanyak pada anak-anak adalah DM tipe 1.

DM tipe 1 diakibatkan proses autoimun di dalam tubuh. Proses itu mengakibatkan sel-sel pada kelenjar pankreas dirusak oleh autoantibodi. Pankreas adalah penghasil insulin, kalau dirusak, insulin akan berkurang dan lama-kelamaan habis. Autoimun adalah proses yang bisa terjadi karena berbagai hal. Penyebabnya antara lain adanya mutasi genetik karena penyakit itu bisa jadi diturunkan oleh familianya. Namun, mutasi genetik itu pun tidak melulu turunan, melainkan bisa juga berupa mutasi genetik sporadik yang kemungkinan diakibatkan infeksi virus atau karena pemakaian obat tertentu.

Akan tetapi, ada 80% kasus autoimun yang bersifat idiopatik atau belum diketahui penyebabnya. Oleh karena itu, harus ada penelusuran ke orangtuanya dan anggota keluarga lain apakah ada yang memiliki autoimun juga. Selain itu, cek laboratorium. DM tipe 2 adalah kondisi tubuh sang anak resisten terhadap insulin. Insulin itu ada di dalam tubuhnya, tetapi tubuh tidak sensitif sehingga tidak bisa memasukkan glukosa ke sel-sel.

Tanda-tanda penyakit diabetes melitus pada anak
Secara umum, gejala awal pada anak yang memiliki DM ada tiga. Anak sering buang air kecil, anak sering makan, dan anak sering merasa haus. Tanda yang menunjukkan tingkat bahaya adalah apabila anak sudah dehidrasi berat, penurunan kesadaran, bahkan tanda gagal napas. Bila melihat secara fisik dari kedua jenis tipe DM itu, tanda-tanda fisik pada anak bisa berbeda. Pada DM tipe 1, anak pendek dan kurus karena glukosa tidak masuk ke sel. Akibatnya, pertumbuhan otot terganggu, penyimpanan lemak terganggu.

Karena glukosa tidak masuk ke sel, tubuh mencari glukosa untuk memenuhinya ke seluruh tubuh. Seperti otak, dia butuh glukosa. Karena tidak ada, dia akan pecahkan sel lain untuk mendapatkannya, misalnya ke sel otot dan sel lemak. Di sisi lain, anak dengan DM tipe 2 biasanya anak yang gemuk karena penyakit itu bisa timbul akibat kebiasaan mengkonsumsi makanan manis. Oleh karena itu, terapi untuk jenis ini akan dimulai dengan hal sederhana, yaitu memperbaiki gaya hidup termasuk pola makan dan rutinitas berolahraga. Bila semua modifikasi gaya hidup belum juga menyembuhkannya, terapi akan beralih ke penggunaan obat.

Berbeda tentunya dengan tipe 1 yang harus langsung berhubungan dengan terapi penyuntikan insulin seumur hidupnya. Penyuntikan insuin seumur hidup, bertambah usia, bertambah berat badan, makan dosis akan meningkat. Untuk anak-anak yang sudah masa puber, ketika semua hormon mulai bekerja, berbeda lagi dosisnya. Oleh karena itulah, kesuksesan setiap terapi akan terjadi apabila ada kerja sama antara dokter dan orangtua. Karena pasiennya anak-anak, peran orangtua memang lebih diperlukan. Kerja sama itu berujung pada harapan supaya anak bisa tetap tumbuh normal, beraktivitas dengan baik, dan produktif berkarya.

Peran Dan Komitmen Orangtua
Keberhasilan terapi pada anak yang mengidap diabetes melitus (DM) adalah pada saat di rumah, bukan ketika dirawat di rumah sakit atau sewaktu kontrol ke dokter. Terapi yang disiplin, tentunya membuat anak lebih nyaman menjalani hidupnya.

Ada beberapa hal yang membutuhkan peran dan komitmen orangtua supaya terapi bisa dijalani secara disiplin.
1. Orangtua tetap memberikan porsi makan yang benar kepada anak, yaitu komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 15%, protein 10%, dan serat yang dibagi lagi komposisinya. Bukan berarti anak tidak bisa mengkonsumsi mie bakso ataupun es krim. Namun, orangtua harus menghitung jumlah kalorinya supaya anak tetap mendapatkan diet yang seimbang.

2. Orangtua harus membiasakan anak rajin berolahraga. Aktivitas fisik itu bisa meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Setiap hari, anak harus banyak bergerak, misalnya dengan berjalan kaki atau bersepeda.

3. Orangtua harus memahami pemberian insulin kepada anaknya. Antara lain, hitungannya, cara penyuntikannya, lokasinya yang harus berpindah, dan jarum suntikan yang tidak boleh langsung ditarik. Saat anak sudah besar, orangtua bisa mengajarkan penggunaan insulin pen atau teknologi terbaru berupa pompa insulin.

0 Response to "Awas, diabetes melitus bisa menyerang anak-anak"

Posting Komentar