Kamis, 22 September 2016

Investasi & tips cermat membeli rumah di kompleks

Perumahan
Investasi properti
 
Pengembang juga biasanya menjanjikan kenaikan nilai investasi hingga puluhan persen hanya dalam satu tahun dengan dasar survei yang tidak jelas. Terkadang, juga dijanjikan dapat dengan mudah menyewakan properti atas dasar ada sejumlah fasilitas pendidikan bahkan gedung pertemuan, convention center, yang dibangun dekat dengan kawasan hunian.

Harus diakui, ada kawasan-kawasan dengan harga properti yang harus melambung tinggi. Kenaikan harga propertinya bahkan sulit dikejar dengan kenaikan gaji seorang karyawan dari perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia. 

Meski faktanya, kenaikan harga properti tidak terjadi di semua tempat. Kalau pun ada kenaikan harga properti, belum tentu seindah janji pengembang. Jangan lupa, produk-produk properti dari tahun ke tahun makin membanjiri pinggiran Jakarta. Jangan heran bila di beberapa kawasan harga rumah di pasar sekunder justru turun atau lebih rendah dari harga awal. Kawasan properti tersebut biasanya laku keras dan dibiarkan kosong oleh pemiliknya sebagai produk investasi.

Ketika sebuah perumahan lebih banyak terdiri daru aset-aset milik investor, tidak jarang terlihat "kusam" sehingga harga propertinya lebih anjlok. Penurunan harga setidaknya tertahannya harga juga terjadi ketika pengurus perumahan tidak menetapkan aturan dengan ketat sehingga para penghuni masing-masing merenovasi rumahnya dengan tidak mempertimbangkan estetika lingkungan. Atau, memperluas bangunan rumah tanpa menaati garis sempadan bangunan sehingga kompleks terlihat lebih kumuh.

Menurut Panangian, harga properti lebih berpeluang naik di sebuah kawasan yang sudah terbangun baik dengan tingkat hunian di atas 70 persen. Nilai properti di kawasan tersebut berpotensi terus meningkat secara bertahap karena kebutuhan riil pasar hunian (end user).

Tips cermat dalam membeli rumah di sebuah kompleks perumahan

Tidak pula seindah kata orang-orang tua dulu bahwa "membeli rumah itu harganya pasti akan selalu naik". Membeli properti sebagai lindung nilai atas inflasi juga belum tentu selalu tepat. Salah satu contoh terburuk dalam investasi properti adalah ketika properti yang dibeli kemudian diterjang banjir seiring waktu dan perubahan tata ruang. 

Membeli rumah untuk dihuni bersama keluarga juga berbeda dengan membeli rumah untuk investasi. Terkadang demi kenyamanan, ada orang yang mengalah tidak membeli rumah di lokasi terbaik demi rumah yang lebih luas. Jalan aksesnya hanya dapat dilewati satu kendaraan.

Ambil contoh, dapat saja seorang membeli lahan di tepi jalan utama, tetapi hanya terbeli 90 meter persegi. Namun, 500 meter lebih ke dalam permukiman, dengan hanya 3 menit perjalanan, dia dapat membeli lahan seluas 200 meter persegi.

Namun, dalam sudut pandang investasi, belum tentu tepat membeli properti yang jauh dari jalan utama. Untuk daerah yang kebanjiran, investasi properti di daerah tersebut sudah dipastikan takkan untung, malah buntung. Berikut beberapa tips cermat untuk anda jika akan membeli rumah di sebuah kompleks:

- Calon pembeli rumah dengan demikian harus seksama memperhatikan lingkungan di sekitar perumahan yang akan dibeli. Harus mempertimbangkan beberapa banyak perumahan yang akan dibangun di sebuah kawasan dalam beberapa tahun ke depan.

- Harus ditelusuri drainase bahkan sungai yang melintas di kawasan tersebut. Tidak boleh sekadar melihat peta, sebaiknya calon pembeli juga menelusuri sendiri kawasan sekitar kompleks. Hindari membeli rumah sebuah kompleks yang dibentengi tanggul dari sebuah aliran sungai.

- Lebih baik lagi untuk menunda pembelian rumah saat musim kemarau. Calon pembeli sebaiknya mengamati terlebih dahulu lingkungan perumahan bila musim hujan tiba. Apakah perumahan tersebut tergenang air? Apakah jalan akses menuju perumahan tersebut sering terputus akibat banjir di beberapa titik jalan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar