Senin, 12 September 2016

Memahami dan cara membantu anak jika di-bully

Bullying
Salah satu keterampilan anak untuk dapat bahagia di lingkungannya adalah kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi. Di dalam lingkungan sosial, setiap anak memiliki kekuatan dan cara yang berbeda dalam menyesuaikan diri. Bagi anak-anak yang sedikit sensitif dan otoritasnya kurang kuat, biasanya menjadi mudah untuk dikendalikan orang lain atau dirisak (di-bully). Anak menjadi kurang memiliki pertahanan diri karena tidak terbiasa memiliki kekuatan karena perlindungan yang diberikan keluarga padanya membuat anak menjadi lemah ketika harus menolong diri dari ancaman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga anak di seluruh dunia mengaku pernah mengalami perisakan yang mereka dapatkan baik di sekolah, lingkungan rumah, maupun melalui media sosial. Menurut pendapat ahli, perisakan adalah pengalaman yang terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan ia takut apabila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi sedangkan korban merasa tidak berdaya untuk mencegahnya. Perisakan umumnya dilakukan dengan sengaja oleh seseorang yang memiliki power yang lebih kuat kepada yang lebih lemah. Hal tersebut menunjukkan sesungguhnya pelaku bullying merupakan orang yang memiliki rasa rendah diri. Hampir semua perilaku bullying merupakan seseorang yang mencari kekuatan dari kelemahan orang lain secara semena-mena.

Sesungguhnya, setiap anak memiliki kekuatan secara alami untuk mempertahankan diri dari ancaman lingkungannya. Setiap anak yang mengalami kadang kala tidak selamanya mampu mengungkapkan perasaannya dan kadang kala tidak semua orang mampu menangkap gejala awal dari korban sampai muncul perilaku yang sangat nyata. Disebut sebagai korban jika telah menjadi objek perbuatan perisakan yang disengaja atau pun tidak disengaja yang mengakibatkan terjadinya peningkatan perasaan yang rapuh pada diri (vulnerability) dan menurunnya rasa keamanan diri pada anak (personal safety).

Dikatakan perisakan, cakupannya meliputi:
- Perisakan secara verbal, seperti mengolok-olok, melecehkan penampilan, mengancam, dan lain-lain.
- Perisakan isolasi sosial, dikucilkan, perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap yang tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang mengejek.
- Perisakan fisik, seperti mendorong, menendang, memukul, dan perilaku fisik lainnya.
- Cyber bullying misalnya mempermalukan atau menyebar gosip di jejaring sosial.

Bagi orangtua yang peka dan mampu menangkap perubahan emosi pada anak dengan cepat, merupakan keberuntungan tersendiri bagi anak. Mengingat tindakan perisakan yang tidak ditangani secara cepat dapat berakibat buruk pada korban, saksi, atau pun pelaku perisakan. Bagi korban, sesungguhnya memiliki dampak yang lebih buruk, di antaranya kecemasan, merasa kesepian, rendah diri, depresi, menarik diri, penurunan prestasi, dan bunuh diri.

Cara membantu anak jika mereka telah menjadi korban pembullyan:
- Pastikan mendapatkan lingkungan rumah yang aman dan penuh cinta. Aman secara fisik atau pun psikologis.
- Bantu anak agar memiliki daya lenting yang kuat dalam menghadapi pembullyan.
- Ciptakan komunikasi yang sifatnya terbuka dengan anak.
- Dukung anak agar memiliki citra diri positif sehingga anak memiliki rasa percaya diri yang kuat dan terpancar dari ekspresi dirinya.
- Ajarkan anak untuk memiliki sikap asertif untuk berani berkata, "tidak, jangan, dan hentikan".
- Lakukan kerja sama dengan sekolah, salah satunya meminta sekolah untuk lebih mengintensifkan pengawasan yang menjaminkan anak cukup aman di sekolah.
- Intervensi sekolah terhadap pelaku dan korban pembullyan yang berfokus pada pengembangan keahlian sosial dan emosional sangat membantu dan menuntaskan kasus-kasus bullying.

Semoga artikel tadi dapat mempermudah orangtua dalam menghadapi dan menangani situasi anak sekarang ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar