Selasa, 13 September 2016

Periksa dan jenis-jenis plastik yang harus dihindari

Botol plastik
Pemeriksaan plastik
Plastik, plastik, dan plastik. Itulah bentuk kemasan yang paling sering kita temui. Kalau biasanya plastik dikaitkan dengan isu lingkungan, yang harus diperhatikan dengan cermat pula adalah apakah plastik itu aman bersentuhan dengan makanan yang akan kita konsumsi. Bisa dikatakan, tidak semua plastik aman. Tidak semua plastik aman dipakai sebagai wadah makanan karena akan berpengaruh pada kesehatan kita.

Dilansir dari koran pikiran rakyat, plastik mengandung beberapa zat yang menyerupai hormon dan bekerja layaknya hormon di dalam tubuh kita yang disebut xenohormon. Xenohormon yang muncul utamanya adalah xenoestrogen yang bekerja seakan-akan dialah hormon estrogen. Hal itu mengakibatkan adanya gangguan endokrin, khususnya ketidakseimbangan hormon.

Selain itu, banyak campuran bahan kimia dalam plastik yang biasanya dimasukkan untuk memberi karakteristik khusus seperti kekuatan, fleksibilitas, dan mengurangi biaya produksi. Misalnya, bisphenol A, polybrominated diphenyl ethers, dan tetrabromobisphenol A yang semuanya memengaruhi ekspresi hormon pada manusia.

Jenis-jenis plastik yang aman dan tidak aman
Oleh karena itu, ada tujuh jenis produk plastik yang beredar dan harus kita kenali. Ketujuhnya memiliki komposisi yang berbeda dan tidak semuanya memiliki kelayakan untuk bersentuhan dengan makanan yang kita konsumsi.

Yang harus dihindari adalah plastik dengan kode nomor 3 dan 6. Plastik dengan kode nomor 3 disebut polyvinylchloride (PVC) yang bisa ditemukan pada plastik pembungkus dan botol. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang dikemas sangat berbahaya untuk ginjal, hati, dan berat badan.

Plastik bernomor 6 atau polystyrene (PS), biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam dan tempat minum sekali pakai. Bahan ini harus dihindari karena berbahaya bagi kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen pada perempuan, serta mengganggu sistem syaraf.

Bahan plastik yang masih cukup aman digunakan adalah yang memiliki kode nomor 1 atau 7. Plastik bernomor 1 disebut juga polyethylene terephthalate (PET). Bahan ini banyak digunakan untuk botol air minum karena warnanya transparan. Tetapi, ini hanya boleh sekali pakai. Bila terlalu sering dipakai ulang, apalagi untuk menyimpan air hangat atau panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol meleleh. Dalam proses itu, akan keluar zat karsinogenik dalam jangka panjang.

Plastik dengan nomor 7 ada empat jenis, yaitu polycarbonate (PC), styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), dan nylon. Plastik jenis ini dapat ditemui di botol susu bayi, gelas anak, dan kaleng kemasan. Namun, untuk kode PC sebaiknya tidak dijadikan wadah makanan  atau minuman karena bisa mengeluarkan bahan utamanya, yaitu bisphenol A yang berpotensi merusak sistem hormon.

Pilihan paling aman adalah plastik dengan kode nomor 2, 4, dan 5. Plastik dengan kode nomor 2 atau high density polyethylene (HDPE) biasa dipakai untuk botol susu yang warnanya agak buram  dan galon air minum. Plastik ini memang lebih kuat, keras, dan berwarna buram, tetapi mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan dan makanan atau minuman yang dikemasnya.

Jenis plastik yang juga aman, yaitu nomor 4 atau lowdensity polyethylene (LDPE). Plastik jenis ini biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol yang lembek. Bahan ini pun baik karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas di dalamnya.

Plastik nomor 5 adalah polypropylene (PP) yang disebut sebagai bahan terbaik untuk tempat makanan dan minuman. Ciri fisiknya adalah mengilat dan transparan, tetapi tidak jernih. Carilah makanan dan minuman yang dikemas dengan plastik berangka 5 karena produk itu aman. Meski begitu, menyarankan supaya masyarakat menghindari plastik semaksimal mungkin. Disarankan pengemasan dengan bahan organik seperti dedaunan dan wadah yang terbuat dari kaca.

Namun, karena itu sulit, apalagi ketika berbelanja produk kemasan di toko serba ada, mengingatkan tentang kode-kode plastik itu dan petunjuk penggunaannya. Selalu pastikan ada kode BPA free pada kemasan yang akan kita beli. Jika membeli produk berbahan plastik seperti matras, anginkan dulu beberapa jam.

Kemasan lolos uji
Menurut Kepala Bala Besar Pengawas Obat dan Makanan, kemasan menjadi salah satu yang diperiksa sebelum produk memiliki izin edar. Bahkan kemasan itu pun diuji pada laboratorium yang terakreditasi. Yang paling penting apakah kemasannnya masuk kategori food grade atau tidak. Bahkan, tampilan kemasannya pun dinilai. Bila asal-asalan dan memberikan informasi yang membohongi publik, itu akan disarankan diganti sebelum izin dikeluarkan.

Lalu mencontohkan minuman berasa yang sebenarnya menggunakan perasa makanan dan bukan buah asli. Akan tetapi, di kemasan, produsen tidak menyebutkan hal itu dan malah memberikan gambar buah sehingga seakan-akan dibuat dari buah asli. Contoh lain adalah kemasan air mineral. Bila air itu didapat melalui kerja sama dengan perusahaan air minum, tetapi di kemasan ada gambar pegunungan yang seakan-akan mengatakan air itu diperoleh dari air gunung, itu dilarang.

Kemasan pun tidak boleh mirip dengan yang sudah ada, harus berbeda. Kode halal pun diperiksa. Saat produsen mencantumkan kode halal dari Majelis Ulama Indonesia, itu minta tunjukkan sertifikatnya. Tidak boleh asal menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar