Selasa, 21 Februari 2017

Beras analog lebih sehat dari beras padi

Beras
Ilustrasi

Setiap manusia membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidup seperti beras, merupakan makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh rakyat indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih bergantung pada nasi sebagai sumber karbohidrat utama keseharian. Beras merupakan komponen utama dalam konsumsi energi per kapita sebesar 54 persen dalam pola makan masyarakat Indonesia. Dominasi ketergantungan pada satu jenis pangan tertentu ini secara bertahap harus dikurangi.

Nasi menjadi bahan makanan pokok orang Indonesia yang wajib ada dalam setiap waktu makan. Namun, bagi penderita diabetes atau kolesterol kadang mengurangi konsumsi nasi yang berasal dari beras padi. Beras analog merupakan sebuah produk pangan mirip beras, namun bahannya bukan berasal dari padi. Selain itu, beras analog memiliki kandungan serat yang tinggi sehingga bagus untuk yang sedang diet atau pun mengidap penyakit diabetes. 

Beras analog merupakan beras yang diolah dan berbahan baku seperti singkong, tepung sagu, jagung, umbi-umbian dan sebagainya. Sumber karbohidrat maupun gizi yang terkandung di dalam beras analog sama dengan beras padi sehingga layak dikonsumsi. Serat pada beras analog juga berfungsi untuk menghindari dari sulit buang air besar alias konstipasi atau sembelit. Serat juga bisa bikin perut menjadi kenyang lebih lama karena penyerapan di usus terjadi lebih lama.

Dikutip dari berbagai sumber, beras analog rasanya sama dengan beras biasa, namun bahannya berbeda. Selain itu, beras analog juga lebih sehat dibandingkan beras padi pada umumnya. Sangat disayangkan bahwa beras analog ini belum diketahui masyarakat banyak. Masyarakat cenderung menggantungkan asupan karbohidratnya kepada beras padi. Beras ini hanya terkenal di kalangan elite saja, namun masyarakat menengah ke bawah masih belum tahu menahu terkait masalah beras analog ini.

Kandungan gizi pada beras analog
Berdasarkan uji kandungan gizi yang dilakukan, dalam 100 gram beras analog jagung terdapat 77,42 karbohidrat; 12,04 kadar air; 10,34 serat pangan; dan 5,78 protein. Menariknya, dalam uji tersebut, produk ini tak terdeteksi adanya kandungan gula. 

Beras analog memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dari beras padi (10,3 persen). Selain itu, berdasarkan penelitian mahasiswa IPB, beras analog memiliki nilai indeks glikemik rendah.

Cara memasak
Beras analog bisa dinikmati dengan cara ditanak seperti nasi biasa. Uniknya, produk ini bisa dimasak tanpa perlu dicuci terlebih dahulu. Hal ini karena beras analog sudah matang saat diolah dengan menggunakan mesin ekstruder.

Cara memasaknya juga cukup mudah. Jika menggunakan rice cooker, didihkan air lalu masukkan beras analog, aduk sebentar, lanjut tekan cook hingga matang. Jika menggunakan kompor gas, caranya didihkan air, masukkan beras analog, aduk sebentar, lalu biarkan hingga matang dalam keadaan api tetap menyala. Perlu diingat takaran yang digunakan adalah 1:1. Perbandingan ini berdasarkan volume, bukan berat.

Setelah ditanak, beras analog memiliki tekstur yang empuk sangat mirip dengan nasi putih. Bagaimana dengan rasanya? Kita akan mendapati rasa yang khas, yaitu hambar, tak ada kesan manis, dan beraroma jagung. Daya tahannya juga tak jauh berbeda dengan nasi putih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar