6 Pemahaman manusia pada alam semesta

Alam semesta luar angkasa

Sejak peradaban manusia dimulai hingga kini, pencarian manusia tentang semestanya tak pernah berhenti. Keindahan dan keteraturan gerak benda-benda langit menuntun akal manusia mengungkap sedikit demi sedikit rahasia jagatnya. Sekitar 2.300 tahun lalu atau abad ketiga sebelum Masehi, manusia mulai memahami Bumi yang dipijaknya tak datar, tetapi bulat laksana bola. Bumi juga bukanlah pusat semesta yang jadi titik putaran semua benda langit. Bumi hanyalah planet biasa yang bergerak mengitari sang surya.

Proses pembuktian yang sulit membuat gagasan-gagasan itu sulit berkembang. Belum lagi tentangan kuat dari sebagian pemikir dan agamawan. Akibatnya, gagasan revolusioner itu tenggelam oleh pandangan lama yang memandang Bumi datar dan pusat kosmos selama berabad-abad. Berkembangnya sains dan teknologi membantu manusia menguak misteri itu. Penjelajahan antarbenua di awal abad ke-16 Masehi memberikan pengalaman nyata manusia bahwa Bumi memang bulat.

Penemuan teleskop pada abad ke-17 membantu menyadarkan manusia bahwa Bumi hanyalah anggota rata surya yang tidak istimewa. Manusia pun kini mampu membangun teori tentang asal muasal terbentuknya alam semesta hingga evolusinya hingga saat ini. Lebih dari itu, kehancurannya pun bisa diprediksi. Namun, pembuktian berbagai teori itu secara utuh tetap menjadi tantangan besar. Meski demikian, manusia tak akan pernah berhenti belajar mengenali semestanya. Hambatan pengetahuan dan teknologi adalah tantangan yang harus dipecahkan untuk memahami kesejatiannya.

1. Bumi itu bulat
Gagasan Bumi tidak datar mulai muncul sekitar 2.500 tahun lalu. Perubahan wujud posisi rasi bintang jika dilihat dari wilayah utara dan selatan dan lengkungan bayang-bayang Bumi yang jatuh di muka Bulan saat gerhana Bulan mendukung pandangan itu. Bahkan, Eratosthenes (276 SM-194 SM) mampu menghitung keliling Bumi. Citra Bumi dari antariksa yang diambil tim Apollo 17 pada 1972 mengukuhkan Bumi memang bulat.

2. Planet bumi mengelilingi matahari
Gagasan bumi mengelilingi matahari (heliosentris) menentang gagasan Matahari mengedari Bumi (geosentris) pertama kali diungkapkan oleh Aristarchus (310 SM-230 SM. Tentangan kuat ilmuwan lain membuat ide itu terkubur lebih dari 18 abad. Ide heliosentris itu muncul kembali saat Nicolaus Copernicus (1473-1543) mengungkapkan gagasan sama. Perhitungan matematis Johannes Kepler (1571-1630) tentang gerak planet makin menguatkan teori itu.

3. Tata surya
Langit ternyata jauh lebih ramai dibanding yang bisa dilihat oleh mata manusia. Penemuan teleskop oleh Galileo Galilei (1564-1642) membawa manusia mengenal planet-planet baru, seperti Uranus, Neptunus, Asteroid dan komet. Karakter bintang dan nebula pun makin dimengerti. Matahari pun akhirnya dipahami hanya obyek langit biasa, tak lebih dari bintang-bintang lainnya.

4. Galaksi bimasakti
Sejak awal peradaban manusia, Bimasakti dikenali sebagai pita putih samar yang membentang dari langit selatan ke utara. Hadirnya teleskop membuktikan cahaya samar itu berisi banyak bintang dan nebula. Konsep galaksi sebagai struktur besar bintang-bintang yang terikat gravitasi pun berkembang pada abad ke-18. Belum dipahaminya karakter nebula sebagai obyek langit yang membentang membuat astronom sulit menentukan apakah Bimasakti adalah bagian kecil semesta atau keseluruhan alam semesta.

5. Gugus galaksi
Pemahaman nebula sebagai galaksi jauh membuat manusia bisa memisahkan Bimasakti dengan galaksi lainnya, termasuk temuan sekumpulan nebula di kontelasi Virgo pada paruh kedua abad ke-19. Tampilan itu memunculkan dugaan adanya struktur kosmik lain yang lebih besar dari galaksi, yaitu gugus galaksi dan supergugus galaksi.

6. Asal-usul dan evolusi alam semesta
Semakin lengkapnya pengetahuan tentang struktur kosmik dan pergerakan obyek-obyek itu menjauh dari Bumi membuat manusia menyadari semesta mengembang. Jika ditarik ke belakang, harusnya awal semesta berupa obyek padat kecil yang mendentum dan berevolusi jadi semesta seperti sekarang. Pandangan yang melahirkan teori "Big Bang" itu menunjukkan alam semesta saat ini berumur 13,7 miliar tahun. Walau sejumlah model dikembangkan, proses kehancuran semesta masih jadi misteri besar.


Reference: space, universtofay, earthsky, nasa, nrao, rochester.
Source: kompas

0 Response to "6 Pemahaman manusia pada alam semesta"

Posting Komentar