Penemuan planet layak huni dan kriterianya

Penemuan planet layak huni
Pengumuman penemuan sistem keplanetan TRAPPIST-1, memberi harapan makin banyaknya eksoplanet di semesta. Terlebih, sistem keplanetan dari bintang katai merah yang ultradingin itu memiliki tujuh planet. Meski demikian, TRAPPIST-1 bukanlah sistem keplanetan pertama yang memiliki tujuh planet. Sebelumnya, ada HD 10180, Kepler-90, dan HR 8832 yang semuanya punya tujuh planet. Bahkan, HD 10180 diperkirakan memiliki dua planet lagi walau belum terkonfirmasi.

TRAPPIST-1 merupakan bintang ultra katai dingin yang ukuranya hanya sekitar 8 persen, dimana tingkat kecerahannya hanya 0.05 persen dari Matahari milik kita.Tidak seperti bintang milik kita, Matahari, yang hanya mampu hidup sekitar 10 miliar tahun. TRAPPIST-1 diprediksi dapat menyala hingga 5 triliun tahun.

Saat ini, dengan metode dan teknologi pengamatan yang ada, sistem keplanetan di luar tata surya yang ditemui umumnya memiliki sedikit planet, bahkan hanya satu planet. Namun sistem keplanetan dengan banyak planet diyakini banyak terdapat di semesta, seperti Matahari yang punya delapan planet. Hal yang menjadikan penemuan sistem keplanetan TRAPPIST-1 istimewa adalah lima dari tujuh planetnya seukuran Bumi, yaitu TRAPPIST-1 b,c, e, f, dan g. Selain itu, tiga planetnya berada di zona layak huni yang memungkinkan kehidupan berkembang, yaitu planet TRAPPIST-1 e, f, dan g. Planet-planet layak huni itulah yang jadi incaran manusia kini. 

Harapannya, saat daya dukung Bumi berkurang atau Matahari makin menua hingga berkembang menjadi bintang raksasa merah, maka ada planet lain yang bisa dijadikan sandaran manusia untuk hidup. Namun, jarak masih jadi kendala. Meski TRAPPIST-1 yang berada di arah rasi Aquarius hanya berjarak 39 tahun cahaya dari Bumi (sebagian eksoplanet berjarak ribuan tahun cahaya), belum ada teknologi manusia yang mampu menjangkaunya. Bahkan, menuju Proxima Centauri saja, sistem keplanetan dan tetangga terdekat Matahari yang berjarak 4,22 tahun cahaya atau sekitar 40 triliun kilometer dari Bumi, manusia belum mampu. Butuh lebih banyak ikhtiar manusia untuk menaklukkan semestanya.

Sistem planet ini ditemukan oleh para astronom dengan mengamati kedipan cahaya bintang saat planet melintasinya. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan teleskop luar angkasa seperti Teleskop Spitzer milik NASA, dan berbagai teleskop di Bumi, salah satunya  TRAPPIST–Selatan di Observatorium La Silla, Chile. Dari kedipan bintang saat planet melintas, para astronom bisa memperoleh berbagai informasi tentang planet, termasuk ukuran, komposisi dan orbitnya.

NASA mengatakan sistem pasang surut pada planet di Trappist-1 semuanya terkunci, itu berarti sisi yang sama dari planet akan selalu menghadap ke bintang induk. Dan oleh karena itu, siang hari dan malam hari akan abadi di semua planet dalam sistem Trappist-1.

NASA juga menyimpulkan bahwa cuaca di sana benar-benar tidak seperti di Bumi. Tak ada angin kencang yang berubah dari siang ke malam hari atau perubahan suhu ekstrem. Teleskop NASA Hubble Space Telescope kini juga turut meneliti planet-planet dalam sistem bintang yang layak huni itu. Pengamatan itu bertujuan untuk mengetahui kandungan hidrogen di atmoster dan kandungan gas lain yang ada di sana.

Kriteria atau syarat-syarat planet layak huni:

1. Karakter bintang induk
Planet layak huni umumnya menginduk pada bintang kelas menengah seukuran Matahari bersuhu 4.000-7.000 derajat kelvin. Bintang kelas itu umumnya sudah berumur beberapa miliar tahun hingga pancaran sinar ultravioletnya memadai dan atmosfer planetnya bisa menopang kehidupan. Bintang-bintang berukuran besar atau kecil, seperti TRAPPIST-1 yang merupakan bintang katai merah, umumnya masih sangat muda sehingga semburan radiasi sinar X dan ultravioletnya sangat tinggi dan membahayakan kehidupan yang ada. Namun, harapan digantungkan pada TRAPPIST-1, karena bintang katai merah ini lebih banyak populasinya di alam semesta. Umurnya pun bisa mencapai 80-100 miliar tahun (Matahari maksimum berumur 10 miliar tahun), sehingga planet-planetnya punya cukup waktu untuk berevolusi menjadi layak huni.

2. Jarak ke bintang induk
Jarak ke bintang induk akan menentukan besarnya paparan energi yang diterima eksoplanet. Makin lemah dan kecil bintang induknya, makin dekat jarak zona layak huni ke bintang induknya. Sebaliknya, makin terang, panas dan besar bintang, makin jauh pula zona layak huninya. Meski TRAPPIST-1 hanya sedikit lebih besar daripada Yupiter dan bersuhu 2.500 derajat kelvin, posisi eksoplanet TRAPPIST-1 b, c, dan d terlalu dekat sehingga menerima paparan panas dan radiasinya sangat besar. Sementara TRAPPIST-1 e,f, dan g berada di jarak yang tepat untuk menopang kehidupan.

3. Bentuk orbit
Eksentrisitas orbit jadi penentu. Nilai eksentrisitas itu menggambarkan seberapa jauh beda antara jarak terdekat dan terjauh planet dari bintang induknya. Eksentrisitas nol berarti lingkaran, sedangkan eksentrisitas mendekati 1 artinya bentuk lintasan eksoplanet sangat lonjong. Jika terlalu lonjong, planet akan terbakar ketika mendekati bintang dan beku saat berada di titik terjauh. Sebagai bandingan, eksentrisitas orbit Bumi 0,0167 dan planet katai Pluto 0,2488. Sekitar 90 persen eksoplanet punya eksentrisitas jauh lebih besar dibanding planet atau planet katai di tata surya. Namun, orbit planet-planet TRAPPIST-1 berbentuk sirkular hingga lebih mendukung kehidupan.

4. Kondisi kimia atmosfer
Selama ini, patokan kondisi atmosfer eksoplanet layak huni adalah memiliki unsur mirip di Bumi, seperti karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Senyawa itu bisa membentuk asam amino yang jadi dasar pembentuk protein untuk membentuk jaringan hidup. Kondisi kimiawi planet-planet TRAPPIST-1 belum diketahui.

5. Potensi adanya air cair
Jarak yang sesuai ke bintang induk juga menentukan apakah planet punya suhu tepat untuk menjaga air tetap dalam keadaan cair, bukan es atau gas. Hanya di air cairlah mikroorganisme sederhana yang akan berevolusi jadi makhluk hidup kompleks bisa berkembang.


Reference: nasa, eso, space, bbc, phl, exoplanetarchive.
And reported from various sources.

0 Response to "Penemuan planet layak huni dan kriterianya"

Posting Komentar