Live

Perjuangan hidup dan bertahan hidup harus semangat bagi umat manusia di dunia.

Arsip Info

Minggu, 30 April 2017

Senam pada penderita asma & manfaatnya

senam asma
Asma bronkial adalah suatu penyakit saluran napas yang sudah lama diketahui dan dapat timbul pada berbagai usia, dapat terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Manifestasi penyakit asma bervariasi dari gejala ringan sampai berat. Gejala bisa samar-samar serta berlangsung sangat singkat dengan interval antara satu serangan dengan serangan yang lain sangat lama, sampai pada serangan yang mendadak, sangat berat dan berlangsung beihari-hari serta interval antara serangan sangat pendek. Angka kematian, kesakitan dan prevalensi penyakit asma semakin meningkat di berbagai negara. Penyembuhan asma ini cukup sulit, hal ini disebabkan karena banyaknya pandangan yang salah baik mengenai pengertian asma maupun cara pengobaan.

Banyak penderita asma terutama asma ringan dan sedang yang mempunyai tingkat kebugaran fisik yang rendah dibandingkan dengan individu sehat. Keadaan tersebut tidak dapat diterangkan semata-mata oleh derajat beratnya obstruksi jalan napas, mungkin sebagian disebabkan oleh tidak ada motivasi atau keengganan penderita untuk melakukan exercise akibat asma yang berlangsung lama. Program latihan merupakan sebagian dari program menyeluruh dari pencegahan dan rehabilitasi yang pada kenyataannya jarang dipraktekkan dalam pelaksanaan asma.

Olahraga atau latihan fisik yang dilakukan secara teratur akan meningkatkan kerja otot, sehingga otot akan menjadi lebih kuat termasuk otot pemapasan. Olahraga atau melakukan latihan fisik yang teratur bertujuan untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Kesegaran jasmani adalah kesanggupan tubuh melakukan penyesuaian terhadap beban fisik yang diberikan kepadanya, berupa aktivitas sehari-hari tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Unsur yang paling penting pada kesegaran jasmani adalah daya tahan kardiorespirasi. Daya tahan kardiorespirasi dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain, keturunan/genetik, usia, jenis kelamin dan aktivitas fisik.

Penelitian senam asma

Penderita asma hendaknya tidak dilarang melakukan olahraga, oleh karena kegiatan olahraga mencerminkan aktivitas yang normal, di samping itu olahraga juga mempunyai manfaat untuk kesegaran jasmani. Dengan berolahraga pada alat pernapasan akan terjadi peningkatan efisiensi kerja otot pernapasan dan akan memperbaiki fungsi pertukaran zat asam dari alveolus ke pembuluh kapiler.

Dalam membuat pertimbangan untuk program rehabilitasi melalui latihan fisik 2 sasaran objektif yang harus ditetapkan yaitu meningkatkan kemampuan kardiovaskuler dan memperbaiki mobilitas serta fleksibilitas gerakan. Hasil yang dicapai dengan program rehabilitasi dengan latihan fisik antara lain kebugaran fisik meningkat (pada beberapa penelitian peningkatan tersebut berkisar 10-90%). Setelah berbagai program latihan tergantung kualitasnya, terjadi penurunan perasaan sesak dan ventilasi semenit pada beban kerja yang sama antara sebelum dan sesudah menjalani program (terjadi peningkatan efisiensi pemapasan dengan beban kerja yang sama). Latihan dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaksuler. Penelitian Nuri N. terhadap 34 penderita asma sedang yang mengikuti latihan pernapasan diafragma dalam (deep diafragmatic breathing) selama 8 minggu mendapatkan penurunan frekuensi sesak yang bermakna walaupun fungsi paru tidak menunjukkan peningkatan yang bermakna.

Beberapa hal,yang perlu diketahui oleh penderita asma yaitu :

1. Secara umum tingkat kebugaran jasmani penderita asma tidak sama dengan individu normal.
2. Pada penderita asma dapat timbul serangan setelah melakukan olahraga, hal ini bukan merupakan halangan untuk mengikuti senam.
3. Olahraga dan latihan kebugaran jasmani yang teratur dapat:
- meningkatkan tingkat kebugaran
- mempertebal rasa percaya diri
- melepaskan sikap ketergantungan terhadap
sekeliling
- menurunkan kecemasan
- mengurangi kebutuhan obat-obatan pengendali
asma
- menurunkan kekerapan serangan dan absensi
sekolah
- menurunkan serangan asma karena olahraga
4. Sudah ada obat-obatan yang dapat mencegah serangan asma karena olahraga.
5. Olahraga, exercise, senam dalam suatu kelompok yang mempunyai program latihan dengan supervisi memberi hasil yang lebih baik daripada kegiatan sendiri di rumah tanpa supervisi.
6. Olahraga semata-mata tidak dapat menyembuhkan atau mengendalikan asma.
7. Olahraga yang paling ditolerir dengan baik oleh penderita asma selain senam adalah renang, tenis dan bersepeda.
8. Olahraga lain seperti lari jarak jauh, basket, sepatu roda dapat dilakukan namun memerlukan obat-obatpencegahan sebelum berolahraga. Semua jenis latihan aerobik dapat dilakukan untuk meningkatkan kebugaran jasmani.


Manfaat senam pada penderita asma

Senam yang dilakukan secara teratur oleh penderita asma akan memberi beberapa manfaat, yaitu:

1. Meningkatkan kebugaran tubuh secara keseluruhan, hal ini akan meningkatkan penampilan penderita sehari-hari, disamping itu juga berperan dalam kemampuan dirinya untuk menangani serangan penyakit asma.
2. Meningkatkan kemampuan otot-otot pernapasan dan kemampuan bernapas keseluruhan.
3. Meningkatkan rasa percaya diri oleh penderita.

Latihan fisik pada penyakit jantung & asma

Disadari bahwa keadaan sakit disamping membutuhkan biaya untuk perawatan dan pengobatan, juga mengurangi pendapatan, sehingga terjadi kerugian ganda. Kerugian materiil dapat diperhitungkan, namun bagaimana dengan rasa sakit yang harus ditanggung?. Sungguh tak dapat dinilai dengan uang. Untuk itulah tindakan pencegahan merupakan tindakan bijaksana yang harus lebih diupayakan. Olahraga berperan sangat besar untuk suksesnya tindakan pencegahan dengan jalan meningkatkan daya tahan tubuh seseorang. Olahraga terutama akan mencegah atau menunda timbulnya penyakit degeneratif, seperti misalnya: Diabetes Melitus, Hipertensi, Jantung Koroner dan Rematik sendi. Meskipun demikian , penyakit infeksi atau menular pun dapat tercegah karena adanya efek olahraga pada peningkatan daya tahan tubuh seseorang. Seperti diketahui serangan penyakit infeksi tergantung oleh tiga faktor yaitu: faktor penyebab penyakit, faktor lingkungan, dan faktor manusia.

Faktor penyebab penyakit dibedakan menjadi menjadi faktor yang berasal dari luar tubuh (eksogen) dan dari dalam tubuh (endogen). Faktor dari luar tubuh misalnya bibit penyakit, racun, dan makanan, sedangkan faktor dari dalam tubuh misalnya perawakan, penyakit keturunan dan usia. Faktor lingkungan meliputi lingkungan biologik, fisik, ekonomi, mental dan sosial. Faktor manusia sangat ditentukan oleh daya tahan tubuhnya. Cita-cita untuk hidup bebas dari penyakit mungkin tak akan pernah tercapai. Manusia mengalami perkembangan, demikian pula dengan penyebab penyakit dan lingkungan. Meskipun demikian manusialah penentu utama bagi kesehatan tubuhnya.

Olahraga preventif
Olahraga yang dimaksudkan untuk usaha preventif pada dasarnya sama dengan olahraga untuk kebugaran. Memilih jenis latihan yang disenangi akan menjamin keberlangsungan latihan yang teratur. Joging, bersepeda, jalan, berenang, mendayung, senam dan latihan beban bisa dijadikan pilihan (Sumosarjuno, 1993).

Macam latihan diatas dapat menjamin keberlangsungan CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance). Latihan yang terus menerus dan ritmis mempunyai berbagai kelebihan antara lain: mudah dilakukan, mudah dipantau intensitasnya dan memberi efek besar terhadap kebugaran dan daya tahan tubuh. Meskipun demikian sebagai selingan dan rekreasi, olahraga permainan tetap dianjurkan. Yang perlu diwaspadai dalam olahraga permainan ini adalah kecenderungan seseorang untuk bermain melebih kapasitas fisiknya. Pada orang dengan berat badan berlebih (kegemukan) dianjurkan untuk memilih renang atau bersepeda agar beban pada lutut dapat terkurangi.

Olahraga preventif untuk penyakit jantung honorer
Penyakit Jantung Koroner dipermudah oleh multifaktorial yang disebut faktor resiko. Ada dua kelompok faktor resiko yaitu yang menetap dan yang tidak menetap. Termasuk dalam faktor resiko menetap antara lain umur, sex, dan keturunan, sedang yang tidak menetap antara lain obesitas, hipertensi, diabetes melitus, stres, kurang kegiatan fisik, kepribadian, dan gaya hidup. Walaupun terdapat keterbatasan, penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan yang cukup kuat akan adanya peran latihan fisik teratur sebagai salah satu faktor proteksi dalam pencegahan primer dan sekunder pada penyakit jantung koroner.

Menurut American Heart Association Subcomitee on Exercise/Cardiac Rehabilitation, latihan dapat meningkatkan kapasitas fungsional kardiovaskuler dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung baik pada orang sehat maupun penderita penyakit jantung koroner. Program olahraga yang teratur akan mengurangi faktor resiko yang tidak menetap, seperti misalnya obesitas, hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidemi, stres, dan gaya hidup (Boestan, 1990). Bila seseorang mulai berolahraga biasanya ia akan mengubah gaya hidupnya menjadi lebih aktif bergerak, dan lebih memperhatikan kesehatan. Aktivitas reguler (paling tidak selang-seling hari) akan memberi perubahan pada sistem kardiorespirasi (Dotson, 1988).

Olahraga preventif pada penyakit asma bronkial
Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa penerita asma dapat berpartisipasi dalam aktivitas fisik di sekolah dan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani tanpa kesulitan. Program latihan yang dirancang bagi penderita asma pada dasarnya menitik beratkan pada latihan pernafasan yang bertujuan untuk:

a. Meningkatkan efisiensi fase ekspirasi
b. Mengurangi aktivitas dada bagian atas
c. Mengajarkan pernafasan diafragma
d. Merelakskan otot yang tegang
e. Meningkatkan fleksibilitas otot intercostalis, pectoralis, scalenius , dan trapezius.

Penderita diajak untuk menyadari pernafasannya. Ia harus dapat membedakan pernafasan costal dengan pernafasan diafragma, dan dapat merasakan kontraksi otot inspirasi meskipun dalam keadaan ekspirasi keras (forced expiration). Pada pernafasan yang biasa, satu-satunya otot ekspirasi adalah diafragma, sedangkan penderita asma lebih banyak menggunakan otot intercostalis daripada otot diafragma. Pernafasan diafragma kadang-kadang disebut sebagai pernafasan perut, karena perut terlihat menggembung pada saat inspirasi, dan mengempis pada saat ekspirasi. Nervus phrenicus yang emnginervasi diafragma sangat peka terhadap rangsangan, sehingga baik batuk, bersin maupun kecemasan akan meningkatkan tonus diafragma, yang selanjutnya menegangkan otot pektoralis, skaleni dan trapezius. Akibatkan penegangan tersebut adalah mengembangnya dada seperti dalam keadaan mengambil nafas dalam waktu lama.

Pada respirasi normal, diafragma bergerak ke atas bawah sepanjang 1-7 cm, sedangkan pada saat serangan hanya terjadi gerakan kurang dari 1 cm. Penderita asma yang terus menerus menggunakan pernafasan costal akan berangsur-angsur kehilangan fleksibilitas pada otot dada bagian bawah. Latihan bernafas harus dilakukan setiap hari dalam beberapa menit dengan cara sebagai berikut:

a. Hembuskan nafas melalui hidung sehingga lendir pada bronkii akan tertarik ke atas.
b. Ambil nafas pendek melalui hidung dan hembuskan panjang melalui bibir yang terkatup renggang, sehingga menimbulkan suara.
c. Panjang fase ekspirasi diusahakan dua kali panjang fase inspirasi. Pengaturan dapat dilakukan dengan stopwatch atau metronom.
d. Kendurkan pakaian dan aturlah nafas sehingga pada saat ekspirasi perut mengempis, untuk menunjukkan bahwa diafragma meninggi kearah dada. Beritahukan bahwa akan ada batuk dan bunyi ngik selama beberapa detik pertama dari pernafasan diafragma.
e. Minumlah segelas air sebelum dan sesudah latihan. Evaluasilah latihan ini dengan indikator meningkatnya Maximal Breathing Capacity (MBC) dan FEV 1 (Force Expiratory Volume for one second), Menggembungnya iga keempat dan menggembungnya perut.

Fein dan Cox merekomendasi 12 macam latihan pernafasan yang dapat dilakukan sebagai latihan harian atau dimasukkan sebagai bagian dari latihan pemanasan dan pendinginan. Latihan inti yang disarankan adalah yang bersifat intermiten, dengan latihan keras yang diselang-seling istirahat aktif, sehingga mencapai durasi tertentu. Renang lebih dipilih dari pada lari karena efek sampingnya terhadap EIA lebih jarang timbul. Meskipun demikian, olahraga permainan dan rekreasi yang terutama meningkatkan ekspirasi, banyak menggunakan otot perut, dan banyak mengandung aktivitas menghembus sangat direkomendasi. Gerakan senam yang dirancang khusus juga dapat memberi manfaat bagi penderita asma. Lari jarak pendek, softball, baseball, dan volleyball juga dianjurkan.

Latihan fisik dengan intensitas tinggi pada penderita asma telah diteliti oleh Emtner (1996) dan didapatkan bahwa semua subyek dapat melakukan latihan fisik dengan intensitas tinggi (80-90% prediksi Dnmax). Tak ada serangan asma pada saat melakukan latihan, dan ke-26 subyek seluruhnya dapat menyelesaikan program serta lebih percaya diri untuk melakukan latihan dengan intensitas tinggi. Disamping itu Emtner (1998) juga membandingkan manfaat latihan di darat dan di air. Ternyata keduanya sama-sama bermanfaat, dan memberi efek yang hampir sama. Tiga tahun setelah mengikuti program rehabilitasi, Emtner (1998) menelusurinya dan mendapatkan kenyataan bahwa penderita asma yang semula takut berolahraga, justru meneruskan latihan secara mandiri.

Efek latihan dalam meningkatkan fungsi paru dan keterampilan gerak pada penderita asma diteliti oleh Schmidt (1997) dan didapatkan adanya efek positif pada keduanya. Pada elit atlet didapatkan bahwa resiko serangan asma lebih banyak didapat pada lari jauh dibandingkan dengan gerakan yang membutuhkan kecepatan dan power (Helenius,1997). Penelitian Lutcke (1996) mendapatkan kesimpulan bahwa disamping dokter, penderita asma juga membutuhkan pelatih fisik, psikolog dan ahli gizi. Kondisi yang hipoksik justru dilatihkan oleh Serebrovskaia (1998) dan didapatkan adanya pengaruh positif terhadap status imunologik spesifik, serta merangsang limfosit dan neutrofil. Prevalensi asma di Australia selatan dipantau pada tahun 1992 -1995 oleh Adam (1997) dan ditemukan adanya peningkatan prevalensi dari 9,3% ke 11,4%. Pemakaian peak flow meter untuk mendiagnosa EIA telah diteliti oleh Kirkby (1998) dan dianjurkan untuk digunakan oleh para guru dalam mendeteksi EIA pada siswanya. Tanaka (1997) mendapatkan pada olahraga renang bahwa disamping asmanya berkurang, tekanan darahnya pun menurun.


Referensi:
Adam R; Ruffin R (1997): Asthma prevalence morbidity and management practices in South Australia 1992 - 1995, Aust NZ J.Med, 27(6):672 - 679. Dec.
Boestan IN (1990): Peranan Olahraga dalam Pencegahan Penyakit Jantung; Simposium Nasional Pencegahan Penyakit Kardiovaskuler, Maret.
Claudine sherill (1981): Adapted Physical Education and Recreation: Wm C.Brown Company Publisher Dubuque, Iowa, USA.
Dotson S (1988): Health Fitness Standards, Aerobic Endurance; Jour of Phys Ed, Recr and Dance; 60 (4): 26 - 31
Emtner M; Herald M. (1996): High intensity physical training in adults with asthma. A 10-week rehabilitation program. Chest, 109(2): 323 - 330.Feb.

Emtner M; Finne (1998): A 3-year follow up of asthmatic patients participating in a 10-week rehabilitation program with emohasis on physical training; Arch Phys Med Rehabil, 79(5): 539-544, May
Emtner M (1998): High intensity physical training in adults with asthma. A comparison between training on land and in water; Scand J. Rehabil Med, 30(4): 201-209, Dec.
Helenius IJ; Tikkaneb HO (1997): Association between type of training and risk of asthma in elite athletes; Thorax, 52 (2): 157-160, Feb.
Kirkby RE; Ker JA (1998): Exercise induced asthma in a group of south African school children during physical education classes. S.Afr Med.J: 88(2): 136-138, Feb.
Lutcke P (1996): Rehabilitation in asthmatic disease. Z Arztl Fortbild (Jena): 90(6): 495-500, Oct.

Schmidt SM; Ballke EH (1997): Effect of ambulatory sports therapy on bronchial asthma in children; Pneumologi, 51(8): 835-841, Aug.
Serebrovskaia TV; Mankovskaia IN (1998). A methods for intermitten hypoxic exposures in the combined treatment of bronchial asthma patient. Lik Sprava, (6): 104-108, Aug
Sumosardjuno S (1984). Kesehatan Olahraga; Grafidian Jaya, Jakarta Tanaka H; Basset DR Jr (1997): Swimming training lowers the resting blood pressure in individuals with hypertension. J.Hypertens, 15(6): 651- 657, Jun.

Jumat, 28 April 2017

Syarat, gizi, & hal perlu diperhatikan saat hamil

Ibu hamil
Kehamilan merupakan fase yang luar biasa dialami tiap wanita. Segalanya tentu akan kita berikan agar si jabang bayi sehat dan dapat dilahirkan tanpa masalah. Karena itulah gizi ibu hamil harus selalu diprioritaskan asupan yang bergizi selama kehamilan. Bahkan tidak jarang ditambahkan dengan suplemen lain yang dipercaya bisa membuat bayi sehat.

Tetapi banyak juga yang berlebihan dalam gizi ibu hamil, mereka tidak menyadarinya, dan makan apa yang disukainya, terlebih lagi dalam porsi dua. Memang ada anggapan untuk ibu hamil agar makan banyak karena makan untuk berdua. Dan anggapan itu adalah salah besar, karena hanya kan mengakibatkan obesitas pada anak.


Pertumbuhan dan perkembangan anak sejak masih janin ternyata dipengaruhi tidak hanya oleh status gizi si ibu saat hamil, bahkan sejak sebelum hamil atau remaja. Status gizi pun perlu untuk diperhatikan oleh perempuan, karena melaluinya lah generasi-generasi penerus itu lahir. Untuk calon-calon ibu, yuk mulai perhatikan kualitas gizi kita mulai dari sekarang. Kalau ibunya sehat, insya Allah anak-anak yang lahir pun juga sehat.

Makanlah makanan dengan pola gizi seimbang agar ibu selamat bayi sehat. Masa hamil adalah masa penting untuk pertumbuhan optimal janin dan persiapan persalinan. Penambahan zat-zat gizi berguna untuk : kesehatan ibu hamil, pertumbuhan janin, saat persalinan, persiapan menyusui dan tumbuh kembang bayi. Untuk memenuhi kebutuhan zat besi ibu hamil dianjurkan mengkonsumsi tablet tambah darah setiap hari, minimal 90 tablet selama kehamilan.

Syarat pengaturan makanan :
  • Energi : Pada Trimester I ditambah 180 Kkal dari kebutuhan sebelum hamil; Trimester II dan III ditambah 300 Kkal dari kebutuhan sebelum hamil.
  • Protein : 10-15% dari total energi, atau sesuai kecukupan protein ibu sebelum hamil ditambah 17 g/hari selama kehamilan.
  • Lemak 20-25% dari total energi.
  • Karbohidrat 50-60%/hari dari total energi.
  • Vitamin dan Mineral sesuai AKG.
Bahan makanan dan makanan yang dianjurkan:
  • Sumber Karbohidrat : beras, kentang, bihun, mie, roti, makaroni, krackers, dll.
  • Sumber Protein : ayam, ikan, daging, telur, hati, keju, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe.
  • Sumber Vitamin dan Mineral : sayur dan buah berwarna yang segar.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
  • Makan lebih banyak dari sebelum hamil agar penambahan berat badan sesuai dengan umur kehamilan.
  • Bagi ibu yang terlalu gemuk, kurangi porsi makanan sumber energi dari lemak dan karbohidrat.
  • Bila ibu terlalu kurus tambahkan porsi makanan sumber energi dan protein.
  • Usahakan konsumsi makanan dengan porsi kecil tapi sering.
  • Untuk menghindari penimbunan cairan/edema perhatikan penggunaan garam dalam makanan dan minuman agar tidak berlebihan.
Inilah kebutuhan gizi pada ibu hamil

1. Kalori
Zat ini dibutuhkan untuk pembentukan sel-sel baru, pengaliran makanan dari pembuluh darah ibu ke pembuluh darah janin melalui plasenta, serta pembentukan enzim dan hormon yang mengatur petumbuhan janin. Kalori ini diperlukan juga bagi tubuh si ibu itu sendiri untuk dapat berfungsi secara baik. Berapa jumlah yang dibutuhkan? Umumnya selama masa kehamilan 6 bulan pertama tidak terdapat peningkatan kebutuhan yang bermakna dari kondisi pada saat si ibu tidak hamil. Peningkatan kebutuhan sekitar 200 Kalori perhari diperlukan saat usia kehamilan antara 6-9 bulan. 200 Kalori tersebut dalam keseharian dapat diwakilkan dengan 1 toast sandwich keju.

2. Protein
banyak terdapat pada daging, keju, ikan, telur, kacang-kacangan, tahu dan tempe, berguna untuk membangun sel-sel baru janin (sel darah, kulit, rambut, kuku, dan jaringan otot). Protein buat sang Ibu juga memiliki fungsi sama yaitu sebagai zat pembangun. Kebutuhan selama kehamilan tidak jauh berbeda dengan saat sebelum hamil. Bagi wanita asia umumnya, usia 19-49 tahun perhari diperlukan protein sebanyak 50 Gram. Pembagian lebih rinci 50 Gram tersebut menurut sumber proteinnya adalah 9 Gram protein ikan, 6 Gram protein hewan dan antara 35-40 Gram dari sumber nabati/tumbuhan.

3. Vitamin
Banyak jenis vitamin diperlukan selama kehamilan dalam jumlah tertentu daintaranya : Vitamin A untuk pertumbuhan janin yang dibutuhkan dalam jumlah tertentu saja dan tidak berlebihan karena dapat berbahaya bagi kesehatan janin. Sangat dianjurkan untuk menkonsumsi vitamin A yang bersumber dari sayur dan buah-buahn seperti mangga, tomat, wortel dan aprikot. Sumber-sumber vitamin A lainnya masih sangat banyak dan dapat ibu Ria telusuri dengan mudah; vitamin B1 dan B2 serta niasin untuk proses metabolisme tubuh; Vitamin B6 dan B12 untuk mengatur penggunaan protein; Vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi selama hamil atau mencegah anemia; Vitamin D pada susu dan olahannya serta kacang-kacangan, menopang pembentukan tulang, gigi, serta persendian janin dan Vitamin E untuk pembetukan sel-sel darah merah serta melindungi lemak dari kerusakan.

4. Mineral
Asam folat dan seng dalam sayuran dan buah-buahan seperti jeruk, pisang, brokoli, serta wortel untuk pembentukan susunan saraf pusat dan otak janin. Kedudukan mineral disini dangat penting berkaitan karena mineral juga membantu proses tumbuh kembangoragan bayi. Contoh perna penting yang perlu diingat adalah yang dimainkann oleh Asam Folat yang dibutuhkan oleh ibu hamil sebanyak 400 μg perhari dengan tujuan mencegah terdapatnya kerusakan pembentukan susunan syaraf pada bayi. Selama hamil juga dianjurkan makan banyak serat dan minum air putih.


Sumber: kementrian kesehatan & berbagai sumber

Kamis, 27 April 2017

5 Tips sahur dan buka yang cukup gizi


Bulan ramadhan yang suci dan penuh berkah yang ditunggu-tunggu oleh umat islam. Umat islam diwajibkan berpuasa selama satu bulan dan berlomba-lomba mengamalkan ibadah sebanyak-banyaknya agar mendapatkan pahala oleh Allah SWT yang maha pengasih dan maha penyayang. Umat islam sangat senang sekali bila bulan ramadhan bisa bertemu kembali dan juga karena bonus amalannya berlipat ganda.

Kebugaran tubuh di siang hari saat berpuasa sangat dipengaruhi oleh makanan dan minuman apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka. kebiasaan menyediakan makanan 'apa adanya' tanpa memikirkan komposisi nutrisinya merupakan penyebab mengapa banyak orang menjadi tidak aktif beraktivitas saat berpuasa. Agar puasa tanpa lemas di siang hari, masukkan sayur dan buah-buahan dalam menu buka dan sahur agar kebutuhan vitamin dan mineral tetap terpenuhi.

Karena harus terjaga dini hari, banyak orang yang malas bangun dari tidur untuk makan sahur. Persoalan lain adalah, banyak juga yang memilih menu makan sembarangan saat sahur, asal perut terisi. Padahal hal ini jelas merugikan kesehatan bagi orang yang ingin menjalankan ibadah puasa itu sendiri. Jam sahur paling ideal adalah mendekati imsak. "Karena Anda akan tidak makan 14 jam. Dengan makan menjelang imsak, gula darah bisa tetap stabil.

Kondisi tubuh saat malam hari yang terlalu lelah sering membuat orang malas bangun untuk makan sahur. Padahal makan sahur sangat penting karena memberi cadangan asupan nutrisi selama seharian penuh. sebaiknya memang disempatkan untuk bangun untuk makan sahur, meskipun tubuh dirasa sedang lelah. Selain membantu agar aktivitas sehari-hari tak terganggu, sahur juga memastikan nutrisi yang masuk ke dalam tubuh tetap seimbang dan mencegah penurunan daya tahan tubuh.

Tidak makan dan minum selama berjam-jam tentulah bisa menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Tetapi apakah perlu menyediakan vitamin untuk menjaga tubuh tidak drop selama berpuasa?

Secara umum kebutuhan vitamin setiap orang tidaklah banyak, sehingga bila asupan vitamin dari makanan telah terpenuhi, maka tak perlu menambah suplemen.

Makan dan minum yang manis-manis seolah menjadi menu wajib di bulan Ramadan. Padahal tidak selamanya yang manis baik bagi kesehatan, utamanya gigi dan mulut. Berbuka dengan yang manis, tapi jangan berlebihan, apalagi kalau manisnya berasal dari gula. Biasanya kalau orang berbuka puasa, makanan yang wajib atau sering dimakan adalah buah kurma. Maka dari itu, moment sahur dan berbuka perlu dioptimalkan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi saat puasa.  

Berikut beberapa tips sahur dan berbuka yang cukup gizi:

1. Makanan waktu sahur sebaiknya lengkap, mengandung karbohidrat, protein, dan lemak.
2. Jangan lupa konsumsi sayur dan buah saat sahur.
3. Saat sahur hindari kopi serta teh. Pasalnya, keduanya berefek diuretik (merangsang buang air kecil) sehingga tubuh bisa kekurangan cairan.
4. Saat berbuka awali dengan konsumsi minuman manis atau buah untuk mengembalikan tenaga dengan segera. Untuk menu utama harus bergizi lengkap, mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak, sayur, dan buah.
5. Variasikan ragam jenis bahan makanan, sesuaikan komposisi dan jumlah makanan sesuai kebutuhan tubuh.

7 Tips hidup agar nyaman & aman di usia lanjut

Lanjut usia
Dengan menerapkan pola makan dan rehat yang teratur, cukup olahraga, serta senantiasa berpikir sehat (positif), maka menjadi tua merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Ayo, nikmati usia senja yang berkualitas dan bebas nyeri. 

Osteoporosis, osteoatritis dan masalah-masalah tulang belakang merupakan kasus yang paling banyak ditemui pada manusia lanjut usia (lansia). Bisa dipahami, karena dengan bertambahnya usia maka kepadatan tulang pun ikut berkurang, termasuk dimulainya kerusakan mikroartesitektur tulang, yang menjadi penyebab tulang rapuh dan mudah patah.

Menurut dr. Andito Wibisono Sp.OT, hal itu umum terjadi pada lansia karena adanya gangguan metabolisme tulang. Kerja sel penghancur tulang melebihi kerja sel pembentuk tulang. Akibatnya, lama-kelamaan tulang menjadi keropos. “Ini normal. Terjadi secara fisiologis akibat penuaan, disertai menurunnya hormon serta kurangnya asupan kalsium dan vitamin D. Apalagi jika terdapat penyakit penyerta, seperti diabetes mellitus (DM) atau penyakit degeneratif lainnya,” jelas dokter spesialis ortopedi dan traumatologi.

Faktor risiko
Selain adanya penyakit degeneratif, beberapa gangguan tulang yang perlu diwaspadai pada lansia adalah adanya risiko injuri. Terjadinya kecelakaan karena terjatuh, misalnya. Ya, jatuh merupakan penyebab terbesar terjadinya patah tulang pinggul, dan membawa risiko tinggi terhadap kejadian berbagai patah tulang, meliputi punggung, pergelangan tangan, pinggul, lengan bagian atas. Apalagi pada lansia dengan kepadatan mineral tulang (Bone Mineral Density-BMD) rendah.

Jatuh sebagai faktor penyebab kecelakaan pada lansia dibagi ke dalam dalam 2 golongan besar; yaitu faktor intrinsic, yang dapat disebabkan oleh proses penuaan dan berbagai penyakit seperti stroke dan TIA yang mengakibatkan kelemahan tubuh sesisi (satu sisi) pada lansia. Parkinson akan mengakibatkan kekakuan alat gerak. Depresi bisa menyebabkan lansia tidak terlalu perhatian saat berjalan. Gangguan penglihatan seperti penyakit katarak juga berpotensi meningkatkan risiko jatuh pada lansia. 

Sementara, sistem kardiovaskuler akan menyebabkan syncope. Syncope merupakan salah satu faktor pemicu jatuh pada lansia. Bahkan, dehidrasi pun bisa menyumbang terjadinya kecelakaan (jatuh) pada lansia. Dehidrasi bisa disebabkan oleh diare, demam, asupan cairan yang kurang atau penggunaan diuretik yang berlebihan.

Selain faktor intrinsik, ada faktor ekstrinsik. Katakanlah akibat human error (kelalaian manusia), juga menjadi penyebab risiko jatuh pada lansia. Misal, lansia yang berada di tengah keluarga yang tidak apik, sembarangan dalam menempatkan barang di dalam rumah sehingga sangat rawan menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Posisi lantai tidak datar, kamar mandi yang licin, penerangan tidak baik dan seterusnya, dapat menjadi penyebab lansia jatuh, “tersandung” karena kondisi tersebut. 

Mereka yang terdeteksi keropos tulang akibat penyakit disarankan mengonsumsi kalsium dosis tinggi 800 mg per hari plus mengasup vitamin D3. Meski demikian, konsumsi kalsium juga tidak boleh terlalu banyak, karena justru akan membuat tulang menjadi getas (terlalu padat), dan gampang patah. “Tulang yang terlalu padat menjadi tidak elastis. Ini yang membuat gampang patah,“ ujar dr. Andito.

Berikut ini adalah tips nyaman dan aman di usia lanjut:
1. Lansia dianjurkan rajin memeriksakan kondisi kesehatannya.
2. Jadikan olahraga yang aman dan nyaman sebagai aktifitas yang menyenangkan.
3. Rutin melakukan check up.
4. Lakukan kegiatan olahraga secara rutin dengan memilih program yang sesuai dengan kemampuan.
5. Tentukan gaya berolahraga, bisa secara berkelompok atau individual.
6. Tentukan juga momentum waktu olahraga yang tepat, apakah pagi atau malam hari.
7. Aktif sebagai anggota klub olahraga lansia, bisa menjadi motivasi dalam melakukan kegiatan olahraga yang aman dan nyaman.


Sumber: majalah kesehatan
dr. Andito Wibisono, Sp.OT

Rabu, 26 April 2017

Inilah gejala obstruksi usus pada lansia nanti

obstruksi usus
Ilustrasi

Obstruksi usus adalah penyumbatan yang terjadi di dalam usus. Kondisi ini dapat menyebabkan peredaran makanan atau cairan di dalam saluran pencernaan menjadi terganggu. Obstruksi usus bisa terjadi di dalam usus halus atau besar dan sifatnya bisa parsial (sebagian) atau total. Pada kasus obstruksi usus parsial, sedikit makanan atau cairan masih bisa melewati usus. Sedangkan pada kasus obstruksi usus total, tidak ada apa pun yang bisa melewati usus.

Jika penyumbatan di dalam usus tidak diobati, maka makanan atau cairan yang telah bercampur dengan asam lambung dan gas bisa menumpuk di lokasi penyumbatan tersebut dan menimbulkan tekanan pada usus. Lambat laun, tekanan ini akan membesar dan bisa menyebabkan usus bocor. Pada kondisi usus bocor, isi di dalamnya bisa keluar dan masuk ke rongga perut. Kondisi ini dianggap darurat medis.

Memasuki masa usia lanjut, ada banyak perubahan yang terjadi pada tubuh, termasuk metabolisme. Salah satunya adalah terjadinya gangguan/kemampuan penyerapan vitamin D, asam folat, vitamin B12, kalsium, seng dan asam lemak, di usus halus. Selain itu, pergerakan usus menjadi lebih lambat, sehingga memiliki kecenderungan menjadi lebih cepat merasa kenyang. Pada usus besar terjadi perubahan mukosa, diferensiasi sel, dan metabolisme yang seringkali menjadi pemicu timbulnya penyakit kanker usus besar, diverticulosis dan gangguan/perubahan pola buang air besar (BAB), seperti konstipasi/sulit BAB atau diare.

Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Pemicunya berupa adanya gangguan “mekanis” di usus. Atau, disebabkan oleh ileus. Kondisi ketika usus tidak berfungsi secara normal. Salah satunya, terjadi akibat penyumbatan baik sebagian atau keseluruhan usus. Biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsino ma dan perkembangannya lambat. Namun, obstruksi cenderung mengenai usus halus.

Obstruksi usus pada usia lanjut
Obstruksi usus dapat terjadi pada siapa saja, tua maupun muda. Hanya saja, prevalensi atau angka kejadian obstruksi usus umumnya meningkat pada lansia. Penyebab paling sering adalah perlekatan pascaoperasi pada perut (baik operasi baru maupun operasi yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya), keganasan, penyakit crohn dan hernia. Adanya gangguan mekanis yang dipicu akibat terbentuknya jaringan yang tidak normal, atau adanya benda asing yang tertelan.

Pada obstruksi usus terjadi dilatasi/pelebaran usus akibat penumpukan sekresi usus dan udara yang tidak dapat mengalir lancar. Obstruksi usus dibagi menjadi obstruksi usus sebagian/partial dan obstruksi usus komplit/total. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.
“Dalam pemeriksaan biasanya ditemukan peningkatan bising usus. Terjadi pula kehilangan cairan dan dehidrasi, infeksi, hingga kekurangan aliran darah ke usus yang menyebabkan kematian usus. Nah, jika tidak segera ditangani, maka kemungkinan dapat terjadi perforasi usus atau peritonitis, dan bisa mengakibatkan kematian,” jelas dr. Francisca W. Sp.Pd.

Gejala
Gejala yang dirasakan adalah nyeri perut, kembung, dan rasa mual. Perut semakin membesar, namun tidak dapat buang angin dan sulit BAB. “Situasi ini sering pula diikuti dengan demam,” tambah dokter spesialis penyakit dalam yang berpraktik di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading ini. Selain pemeriksaan klinis, diagnosis obstruksi usus juga dilakukan dengan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan yang disarankan adalah foto BNO3 posisi, CT scan atau MRI untuk mendeteksi obstruksi total, partial, dan lokasi obstruksi.

Pengobatan yang dilakukan adalah dengan pemberian cairan, dekompresi usus dengan pemakaian selang nasogastric, pemberian antibiotik dan konsultasi dengan bagian bedah. “Obstruksi total merupakan kegawatan bagian bedah yang memerlukan operasi segera. Namun, obstruksi parsial mungkin dapat ditangani tanpa operasi,” paparnya.


Obstruksi usus bisa dikenali dari gejala-gejala berikut ini, di antaranya:
  • Nyeri seperti kram di dalam perut yang muncul dan hilang secara silih berganti.
  • Konstipasi.
  • Sulit buang angin atau pergerakan usus terganggu.
  • Perut bengkak.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Diare.
  • Sembelit.
  • Hilang nafsu makan.

Sumber: Majalah kesehatan dan berbagai sumber.
dr. Francisca W Sp.PD

Senin, 24 April 2017

Gejala, penyebab, & tips mencegah penyakit katarak

Penyakit katarak mata
Penyakit katarak, kebanyakan diderita oleh orang yang sudah lanjut usia (lansia). Katarak hanya dapat disembuhkan melalui tindakan operasi. Penyakit mata, sebenarnya sangat beragam. Ada yang bisa menular dan tidak sama sekali. Penyakit mata yang disebabkan oleh bakteri maupun virus rata-rata bersifat menular, sedangkan jika penyebabnya adalah alergi atau bawaan keturunan (genetis), maka tidak akan menular. Salah satu kelainan atau penyakit mata degeneratif yang banyak diderita oleh orang yang sudah lanjut usia (lansia) adalah yang disebut katarak.

Penyakit ini bisa mengenai siapa saja, mulai dari bayi baru lahir, usia muda ( 15-35 tahun), usia produktif (35-60 tahun), lansia, dan semua orang dengan riwayat trauma di daerah kepala, khususnya mata. Faktor pencetusnya macam-macam, mulai dari obat-obatan, infeksi, radiasi, genetik, trauma, dan usia. “Lansia di atas 70 tahun merupakan obyek yang paling berpeluang untuk terkena penyakit katarak. Selain bisa mengakibatkan kebutaan, penyakit katarak juga membawa pengaruh pada fungsi sosial yang menurun disamping daya penglihatan yang rendah/kabur serta kualitas hidup yang juga ikut menurun sebagai efek dari kekaburan penglihatan.

Menurut jenisnya, penyakit katarak terbagi sesuai dengan lokasi terbentuknya, yaitu; kapsul anterior, nuklearis, kortikalis, stelata, sub kapsular, kapsularis posterior. Namun, kekeruhan lensa atau katarak tidak hanya terjadi pada lansia, tetapi bisa juga terjadi pada bayi baru lahir, usia muda dan riwayat trauma. Gejala penyakit mata yang berkaitan erat dengan usia biasanya berupa mata kering (dry eye),timbul rasa gatal, pedih, nrocoh, dan ngganjal. Sementara, gejala katarak adalah penglihatan mulai kabur, sering merasa silau, penglihatan double/memudar.

Perubahan awal akan terasa pada saat usia menginjak 40 tahun. Ketika mulai ada kendala saat membaca untuk orang-orang yang sebelumnya tidak menggunakan kacamata. Setelah usia 60 tahun, lensa mata mulai mengalami kekeruhan yang biasa disebut katarak. Kekeruhan lensa ini bisa terjadi lebih awal pada penderita diabetes dan orang-orang yang sering mengkonsumsi obat-obatan. Pada orang yang berusia 40 tahun ke atas, dampaknya mulai terlihat ketika penggunaan kacamata baca akan terasa sangat membantu. “Gejala orang memerlukan kacamata baca adalah kabur saat melihat dekat dan memerlukan waktu sedikit lebih lama untuk melihat jauh, setelah memaksakan melihat dekat tanpa menggunakan kacamata. Bisa juga disertai dengan sakit kepala.

Sementara, mereka yang berusia di atas 60 tahun, mungkin masih dapat membaca dekat tanpa kacamata. Namun, waspadalah dengan kondisi penglihatan yang mulai tampak berawan atau kabur. Gangguan retina terkait usia, biasanya menimbulkan gejala seperti pandangan kabur, sulit membaca, melihat garis lurus seperti melengkung.

Faktor penyebab atau pencetus penyakit katarak:
  • Usia/umur.
  • Terkena sinar matahari yang lama.
  •  Kondisi pembuluh darah yang kurang baik.
  • Trauma/benturan keras pada mata.
  • Riwayat pemakaian obat-obatan/jamu tertentu yang lama dan rutin.
  • Kurang gizi (kurang antioksidan).
  • Merokok, konsumsi minuman beralkohol.
  • Keradangan mata.
Tips mencegah penyakit katarak dengan perilaku positif:
  • Menjaga kualitas pembuluh darah tetap baik (gula darah & tensi, kolesterol, asam urat, lemak tetap normal). 
  • Diupayakan untuk tidak melihat langsung sinar yang menyilaukan seperti sinar matahari, sinar laser, dsb.
  •  Senantiasa melindungi mata dari polusi dan debu serta trauma mata (dengan salah satunya sering memakai kacamata ketika keluar rumah, pakai topi, helm fullface/teropong.
  • Memperbaiki gaya hidup, antara lain dengan rutin berolahraga, kurangi stress/emosi, cukup istirahat (tidur cukup), banyak minum air putih dan buah serta sayur mayur warna merah dan hijau segar bergizi tinggi serta mengandung antioksidan (jumlah disesuaikan dan jangan terlalu banyak).
Karena itulah, diperlukan upaya memperkecil risiko masalah kesehatan mata pada lansia. Salah satunya, rutin menggunakan obat tetes mata yang sesuai anjuran dokter untuk memperlambat perkembangan penyakit katarak.


Sumber : Majalah kesehatan.
dr. Daddy Armand N, Sp.M

Minggu, 23 April 2017

7 Hal perlu diperhatikan penderita maag saat puasa

Penyakit maag
Memasuki bulan suci Ramadhan, umat Muslim seluruh dunia akan menjalankan kewajibannya yakni berpuasa yang dilakukan sejak sebelum matahari terbit dan berbuka disaat matahari terbenam. Puasa sendiri dalam rukun Islam yang empat, puasa adalah suatu kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Satu bulan penuh umat Islam menjalankan puasa demi menggugurkan kewajibannya. Kewajiban yang dimaksud adalah jika dikerjakan berpahala, dan jika tidak dikerjakan kita berdosa. Tapi, bagaimana menjaga agar tubuh tetap sehat dan bugar selama berpuasa di bulan Ramadhan?

Terdapat beberapa penelitian ilmiah yang menyebutkan bahwa puasa ramadhan bermanfaat bagi kesehatan tubuh, terutama membantu sistem pencernaan dalam mengurangi kinerja berlebihan. Sehingga banyak yang mengaitkan penyakit maag dengan puasa ramadhan. Maag erat kaitannya dengan perut yang kosong, membutuhkan beberapa asupan makanan untuk mengganjal perut. Tidak mengherankan bila banyak orang yang mencari tata cara berpuasa bagi penderita maag.

Bagi penderita beberapa penyakit yang cukup serius, dalam melaksanakan puasa pun tidak boleh sembarangan dilakukan. Karena dikhawatirkan dapat berpengaruh terhadap penyakit yang sedang diidapnya. Seperti penyakit maag, penyakit tersebut membutuhkan arahan yang tepat dari para dokter ahli, agar dapat menjalankan puasa dengan nyaman dan tanpa keluhan yang berarti.

Bagi penderita penyakit maag yang masih mampu untuk menjalankan dan mendapatkan izin dokter insyaallah puasa akan menjadi obat baginya. Tetapi, jika sakit yang diderita sudah parah, bahkan terjadi pendarahan lambung, muntah-muntah, serta tidak diizinkan puasa oleh dokter maka orang ini berhukum seperti orang sakit pada umumnya yaitu mengganti di hari lain.

Penderita sakit maag organik tidak disarankan untuk berpuasa. Lain hal bagi para penderita sakit maag non organik, Anda memang bisa menjalankan ibadah puasa, namun perlu diperhatikan bahwa yang terpenting adalah pengaturan pola makan yang tepat dan penggunaan obat untuk menekan produksi asam lambung. Konsumsi makanan sehat sangat penting. 

Pada minggu pertama puasa akan terasa lebih berat karena harus beradaptasi dengan pola makan yang tidak biasa dilakukan. Namun seiring berjalannya waktu, puasa pada minggu-minggu berikutnya akan terasa lebih ringan. Tentu hal ini juga berlaku bagi penderita maag, sehingga dibutuhkan beberapa perencanaan pokok untuk mengatasi hal tersebut.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat berpuasa, terutama setelah perut kosong salah satunya akan terjadi peningkatan asam lambung yang dapat menyebabkan gejala gangguan maag. Gangguan pencernaan ini juga menyebabkan rasa lapar lebih cepat datang, sehingga cukup mengganggu saat menjalankan ibadah puasa.

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan bagi para penderita sakit maag, seperti dilansir dari berbagai sumber:

1. Pada saat berbuka, jangan langsung makan dalam porsi besar. Berbukalah dengan makanan ringan atau buah dalam porsi kecil dan dilanjutkan dengan makanan porsi lengkap setelah selesai sholat maghrib.

2. Pada saat berbuka puasa dan sahur, konsumsi makanan tinggi serat dan dengan kadar indeks glikemik yang rendah seperti nasi merah dan roti gandum.

3. Jangan pernah melewatkan makan sahur dan makanlah dengan porsi lengkap. Kebiasaan buruk yang terjadi adalah makan sahur sering terlewat karena ketiduran atau sahur hanya dengan nasi dan mi instan saja. Anda perlu memperhatikan kedisiplinan dalam makan dan kualitas menu makanan. Hindari makan yang berminyak dan berlemak karena justru mempercepat pengosongan lambung dan mudah menjadi cepat lapar.

4. Hindari makanan yang terlalu manis saat sahur, karena akan memicu hormon insulin berlebihan dan terjadi kondisi hipoglikemi (kadar gula rendah).

5. Hindari sayuran seperti kubis atau kol karena dapat meningkatkan produksi gas dalam lambung.

6. Penderita maag juga diharapkan hindari tidur setelah sahur karena langsung tidur setelah makan bisa meningkatkan sekresi asam lambung dan gerak peristaltik pankreas. Karenanya proses pencernaan berjalan lebih cepat saat tidur.

7. Makanan yang harus dihindari dari penderita penyakit maag antara lain kopi, makanan pedas dan asam, makanan berlemak seperti gorengan dan jeroan karena lemak sulit dicerna sehingga membebani lambung. Makanan yang mengandung gas seperti kubis, nangka, sawi, kismis, dan kacang-kacangan karena bisa membuat kembung. Minuman beralkohol, cokelat, keju dan merica. Semua makanan itu, menyebabkan peningkatan asam lambung dan melukai dinding lambung. Jadi, sebaiknya hindari makanan tersebut baik saat puasa maupun tidak.

Sabtu, 22 April 2017

Gejala dan dampak stres yang harus anda tahu

Gejala dan dampak stres
Stress adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang dinginkan oleh individu, baik keinginan yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Stress dapat ditimbulkan, pertama: oleh karakteristik bawaan yang merupakan predisposisi keturunan dan keterbatasan pikologis individu. Kedua, dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti kondisi dan situasi tempat tinggal serta pengalaman masa lalu individu. Dengan demikian munculnya stress dapat disebabkan oleh faktor dari dalam diri individu maupun faktor dari luar diri individu.

Pada umumnya, setiap orang pernah mengalami perasaan tertekan atau mengalami ketegangan yang dalam bahasa populernya dikenal dengan istilah stress. Sebab stress merupakan bagian dari kehidupan manusia, artinya bahwa manusia tidak akan pernah luput dari pengalaman merasakan ketegangan dalam hidupnya.

Stress muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang mengalami stress akan terganggu siklus kehidupannyadan merasakan ketidaknyamanan. Bahkan, stress yang berkelanjutan dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain sehingga masyarakat perlu memahami indikasi gejala stress dan dampak stress pada diri individu.

Gejala stres
Individu yang mengalami stress akan berperilaku lain dibandingkan dengan tujuannya yang tidak mengalami stress. Oleh karena itu, kondisi individu yang mengalami stress gejala-gejalanya dapat dilihat baik secara fisik maupun secara psikologis. Gejala secara fisik individu yang mengalami stress, antara lain:

1. Gangguan jantung
Bagi individu yang mengalami stress ada indikasi detak jantungnya lebih cepat (berdebardebar) daripada saat tidak mengalami stress. Ada juga individu yang merasakan dada sebelah kiri terasa nyeri (di daerah sekitar puting susu), meskipun hal tersebut tidak berlangsung terlalu lama, tetapi sesekali muncul lagi. Jika rasa berdebar atau nyerinya hilang tidak berarti bahwa stress yang dialami individu itu telah hilang. Untuk itu, diperlukan pencegahan agar stress tidak berlangsung lama, sebab semakin lama stress bersarang dalam diri individu dapat menjadi salah satu penyebab serangan jantung.

2. Tekanan darah tinggi (hipertensi)
Dapat diakibatkan oleh stress yang diderita individu, sebab reaksi yang muncul terhadap impuls stress adalah tekanan darahnya meningkat. Selain itu, umumnya individu yang mengalami stress sulit tidur, sehingga akan berdampak pada tekanan darahnya yang cenderung tinggi. Bukan rahasia lagi bagi individu yang memiliki hipertensi berpotensi untuk terserang stroke. Untuk itu, disarankan setiap individu harap rajin mengecek tekanan darahnya baik sistolik maupun diastoliknya, terutama bagi yang sudah berumur 40 tahun ke atas. Sistolik adalah indikasi tekanan darah yang dipompakan ke luar dari jantung, sedangkan diastolik adalah indikasi tekanan darah saat kembali ke bilik jantung.

3. Ketegangan pada otot
Dapat juga diakibatkan oleh stress yang diderita individu. Pada umumnya, ketegangan terjadi pada kelompok otot di daerah tengkuk, leher, bahu, dan rahang. Ketegangan otot di sekitar tengkuk akan mengganggu suplai darah ke otak, akibatnya kepala terasa nyeri karena kekurangan suplai darah. Jika kondisi seperti itu berlangsung lama maka akan membahayakan kesehatan individu. Untuk itu, diperlukan relaksasi pada kelompok otot yang relatif mudah tegang akibat stress tersebut.

4. Sakit kepala
Dapat diakibatkan oleh stress yang diderita individu, hal itu berkaitan dengan penjelasan di atas. Dampak dari ketegangan kelompok otot leher dan daerah di sekitar kepala tersebut, jika berlangsung lama akan membahayakan kesehatan karena suplai darah ke otak menjadi terganggu. Untuk itu, jika ada indikasi sakit kepala yang diakibatkan karena terlalu banyak pikiran, maka selain segera periksakan ke dokter, dapat juga dilakukan masase untuk merelaksasikan kelompok otot yang tegang tersebut. Dengan masase akan membantu memperlancar peredaran darah ke seluruh tubuh, sehingga setiap organ tubuh tercukupi kebutuhan darahnya.

5. Telapak tangan dan kaki terasa dingin
Juga dapat diakibatkan karena suplai darah ke sel-sel otot lengan dan tungkai berkurang. Oleh karena suplai aliran darah ke otot-otot tangan dan kaki berkurang maka mengakibatkan tangan dan kaki terasa dingin. Indikasi lain individu yang mengalami stress ditandai dengan keluar keringat dingin pada telapak tangan.

6. Pernapasan tersengal-sengal
Dapat diakibatkan dari reaksi stress yang melanda individu. Di atas telah dikemukakan bahwa stress mengakibatkan detak jantung berdebar-debar, sehingga pernapasan menjadi tersengal-sengal. Pernapasan yang normal adalah berirama dalam dan panjang saat menghela napas. Untuk itu, individu yang mengalami stress harus mampu merasakan pernapasan baik pada saat menarik maupun mengeluarkan udara. Oleh karena itu, latihan pernapasan merupakan salah satu metode yang baik untuk terapi bagi individu yang mengalami stress.

7. Kepala terasa pusing dan perut terasa mual-mual
Dapat diakibatkan oleh stress dan ketegangan fisik yang lama. Keterkaitannya dengan stress seperti telah dijelaskan di atas, di mana gangguan peredaran darah akan berpengaruh terhadap berbagai kondisi fisiologis dan kondisi psikologis individu. Stress akan mempengaruhi fungsi dan kerja usus serta lambung. Kondisi tersebut akan berdampak pada sistem pencernaan dan buang air besar menjadi terasa sakit (sembelit). Contohnya individu yang suka marah-marah akan berdampak pada kontraksi lambung yang akhirnya dapat mengakibatkan iritasi lambung. 

Untuk itu, disarankan individu, terutama para guru atau dosen, jangan mudah marah agar tidak mudah terlanda oleh stress dalam hidup ini, meskipun stress tidak dapat dihindari sepenuhnya.

8. Susah tidur 
Stress merupakan hubungan yang bersifat timbal balik. Artinya, susah tidur dapat diakibatkan karena stress dan stress dapat mengkibatkan susah tidur. Padahal tidur yang berkualitas merupakan proses yang penting guna mengistirahatkan (merecovery) kondisi fisik maupun psikis. Selain itu, pada saat individu tidur merupakan proses pembangunan selsel yang rusak akibat akitifitas fisik. Untuk itu, seyogyanya setiap individu dalam sehari semalam (24 jam) waktu tidurnya harus teratur dan minimal berlangsung selama 7 – 8 jam.

9. Gangguan menstruasi bagi wanita
Dapat juga ditimbulkan oleh faktor stress, yaitu menstruasi menjadi tidak teratur, masa subur menjadi pendek bahkan menjadi tidak subur lagi. Meskipun belum ada data penelitian yang valid, ada kecenderungan wanita yang sering mengalami stress akan sulit untuk mendapatkan keturunan. Adapun keluhan para wanita yang mengalami stress pada saat menstruasi adalah timbul rasa nyeri, sakit perut, mual-mual, dan pusing.

Individu yang mengalami stress ada kecenderungan menurun libidonya. Jika tingkat stress individu lebih berat cenderung akan mengalami impoten. Apalagi penyebab munculnya stress karena faktor perselingkuhan, maka pasangan suami istri tersebut hampir pasti tidak memiliki libido lagi di antara keduanya.

10. Gejala secara psikologis individu yang mengalami stress
Ditandai oleh: perasaan selalu gugup dan cemas, peka dan mudah tersinggung, gelisah, kelelahan yang hebat, enggan melakukan kegiatan, kemampuan kerja dan penampilan menurun, perasaan takut, pemusatan diri yang berlebihan, hilangnya spontanitas, mengasingkan diri dari kelompok, dan pobia. Perasaan selalu gugup dan cemas, merupakan indikasi individu yang mengalami stress saat menghadapi permasalahan. Jika individu selalu gugup setiap menghadapi masalah antara lain seperti saat akan ujian mid semester, ujian, menghadap pimpinan, di mana kondisi tersebut merupakan indikasi dari perasaan stress.

Individu yang mengalami stress perasaannya menjadi peka dan mudah tersinggung (sensitif). Setiap hal yang ada di sekitarnya dirasakan selalu mengawasi individu yang mengalami stress. Pada hal kondisi lingkungan semua berjalan biasa dan tidak ada syak wasangka terhadap individu yang sedang stress tersebut. Kondisi seperti itu dapat menyebabkan individu yang mengalami stress selalu gelisah perasaannya, di mana gejala secara fisik diwujudkan dengan berjalan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas.

Penampilan yang tampak seperti orang yang kelelahan sekali merupakan indikasi stress. Meskipun tidak sehabis bekerja keras individu yang stress tampak seperti orang yang amat sangat kelelahan, sehingga enggan untuk melakukan berbagai kegiatan fisik. Selain itu, individu yang stress perilakunya menjadi lamban, kemampuan kerja dan penampilan juga menurun. Individu yang mengalami stress merasakan ketakutan yang tidak beralasan. Seringkali perasaan takut itu dapat terbawa dalam mimpi-mimpi yang menyeramkan saat tidur sehingga saat bangun tidur mestinya individu merasa segar, tetapi karena mimpi-mimpi tersebut mengakibatkan saat bangun tidur menjadi terasa lelah.

Individu yang mengalami stress cenderung banyak merenung atau memusatkan diri yang berlebihan. Kondisi seperti ini akan diikuti oleh individu dengan perilaku mengasingkan diri dari kelompok atau lingkungannya. Oleh karena itu, jika tidak cepat diambil tindakan untuk terapi, individu tersebut cenderung akan cepat naik kelas dari stress menjadi depresi. Individu yang mengalami stress akan kehilangan spontanitas dan keceriaan. Individu yang mengalami stress tampilan wajahnya selalu kusam, cemberut, dan tatapan matanya kosong, sehingga tidak dapat gembira menghadapi situasi lingkungan. Ada kecenderungan muncul perasaan takut, bersalah, dan merasa tidak bermanfaat bagi
siapa pun.

Dampak stres
Pada umumnya, individu yang mengalami ketegangan akan mengalami kesulitan dalam memanajemen kehidupannya, sebab stress akan memunculkan kecemasan (anxiety) dan sistem syaraf menjadi kurang terkendali. Pusat syaraf otak akan mengaktifkan saraf simpatis, sehingga mendorong sekresi hormon adrenalin dan kortisol yang akhirnya akan memobilisir hormonhormon lainnya. Individu yang berada dalam kondisi stress, kondisi fisiologisnya akan mendorong pelepasan gula dari hati dan pemecahan lemak tubuh, dan bertambahnya kandungan lemak dalam darah.

Kondisi tersebut akan mengakibatkan tekanan darah meningkat dan darah lebih banyak dialihkan dari sistem pencernaan ke dalam otot-otot, sehingga produksi asam lambung meningkat dan perut terasa kembung serta mual. Oleh karena itu, stress yang berkepanjangan akan berdampak pada depresi yang selanjutnya juga berdampak pada fungsi fisiologis manusia, di antaranya gagal ginjal dan stroke.

Pada dasarnya, penyakit disfungsi secara fisiologis itu diakibatkan oleh terganggunya kondisi psikologis seseorang. Sebagai contoh, perilaku agresif dan defensif individu dapat disebabkan oleh akumulasi stress yang tidak mampu dikenali dan dieliminir oleh individu. Selain itu, kondisi sosial ekonomi individu yang serba kekurangan dan lingkungan hidup (seperti di desa dan di kota besar) juga berpotensi melahirkan stress. 

Hal itulah salah satu faktor yang memunculkan berbagai kejahatan di kota-kota besar. Sebagai dampak dari kondisi masyarakat atau individu yang stress mudah memunculkan bentuk perilaku agresif karena berbagai faktor kesenjangan kondisi dan status masyarakat yang mencolok. Pada sisi lain, perilaku generasi muda di kotakota besar yang mengarungi hidup dengan mengkonsumsi miras dan narkoba merupakan bentuk defensif dari kondisi stress yang menimpa dirinya. Secara garis besar dampak stress dapat menimpa pada kondisi fisik dan kondisi psikologis individu. Seperti telah dijelaskan pada indikasi gejala stress di atas. Berikut ini dampak stress terhadap fisik individu.