Rabu, 19 April 2017

Kontroversi pesan peringatan pada bungkus rokok

Pesan peringatan bahaya pada bungkus rokok

Jumlah perokok remaja di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya. Upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah perokok adalah dengan mencantumkan pesan peringatan bahaya merokok di iklan-iklan rokok. Pesan peringatan terbaru memiliki perbedaan dengan pesan peringatan sebelumnya yaitu pesan peringatan bergambar dengan kalimat yang lebih singkat.

Rokok adalah suatu hal yang tidak asing lagi di telinga kita. Merokok tidak mengenal situasi sosial ekonomi seseorang, digemari mulai dari yang kaya sampai yang miskin sekalipun. Meski semua orang tahu bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Jika seseorang telah mengetahui bahaya dan akibat yang ditimbulkan dari merokok lantas mengapa mereka masih ingin merokok? Apakah pesan peringatan kesehatan yang tercantum pada bungkus rokok belum mampu menyadarkan perokok akan bahaya yang ditimbulkan?

Besarnya bahaya merokok sebenarnya bukan tidak disadari oleh kalangan para perokok, melainkan kuatnya ketergantungan terhadap rokok membuat orang tidak mau berhenti menghisapnya. Menurur penelitian, efek negatif dari rokok tersebut bukan hanya perokok aktif saja, akan tetapi perokok pasif pun akan menerima akibat negatif dari rokok tersebut. Justru efek yang diterima oleh perokok pasif akan jauh lebih berbahaya daripada perokok aktif. Berbagai penyakit yang disebabkan oleh zat adiktif yang terkandung dalam rokok, mulai dari gangguan alat pernapasan hingga organ tubuh lain seperti ginjal dan organ intim perlahan akan menyerang para perokok.

Dalam kepulan asap rokok terkandung lebih dari 4000 jenis zat kimia dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Asap rokok merupakan kumpulan berbagai bahan bersifat gas yang terbentuk pada saat rokok dibakar secara tidak sempurna, terdiri atas gas dan bahan yang diendapkan waktu dihisap. Temperatur rokok pada bibir adalah 300C, sedangkan temperatur pada ujung rokok yang terbakar adalah 9000C (Sitepoe, 1997: 17).

Cornwarth dan Miller membedakan kebiasaan merokok sebagai:
1. dorongan psikologis: rasanya sebagai rangsangan seksual melalui mulut waktu merokok, sebagai ritual, menunjukkan kejantanan (bangga diri), mengalihkan kecemasan, menunjukkan kedewasaan, serta rangsangan mulut melalui jari-jari pada saat merokok.
2. dorongan fisiologis: adiksi (ketagihan) tubuh terhadap kandungan rokok berupa nikotin atau disebut kecanduan terhadap nikotin (Sitepoe, 1997: 13).

Menurut Sitepoe (1997: 14) perokok dibagi menjadi tiga yaitu:
  1. Perokok ringan yang merokok 1-10 batang sehari.
  2. Perokok sedang yang merokok 11-20 batang sehari.
  3. Perokok berat yang merokok lebih dari 20 batang sehari.
Sebagian besar informan berusia remaja. Pada usia ini, remaja sudah banyak yang merokok bahkan prevalensinya cenderung meningkat. Sebagian besar informan lulus SD dan SMA. Namun ada juga informan yang sama sekali tidak pernah sekolah dan buta huruf. Sebagian besar informan bekerja sebagai wiraswasta seperti jualan bakso dorong, lontong sayur, mi goring, nasi goreng, dll. Sedangkan sebagian informan tidak bekerja karena masih sekolah. Sebagian besar informan mengetahui bahaya rokok dari pesan di bungkus rokok. Walaupun mengetahui namun sebagian besar informan tidak bisa menyebutkan isi pesan kesehatan pada bungkus rokok secara lengkap dan benar.

Pesan bahaya rokok di bungkus rokok belum bisa menaikkan pengetahuan informan mengenai substansi rokok, bahaya rokok bagi diri sendiri, bahaya rokok bagi orang lain atau pun mengenai cara merokok dan dampaknya bagi kesehatan. Sebagian besar informan merasa biasa saja ketika membaca isi pesan kesehatan pada bungkus rokok. Hanya sebagian kecil yang merasa ngeri dan takut. Sebagian besar informan tidak yakin akan keberhasilan pesan bahaya kesehatan pada bungkus rokok. Menurut mereka pesan kesehatan tersebut sudah tidak efektif lagi karena mereka sendiri meski sudah membaca dan memahami isi pesan kesehatan tersebut, namun mereka tidak merasa takut dan tetap
merokok.

Sebanyak 100% informan adalah perokok. Meski 100% informan aware atau tahu tentang pesan bahaya rokok di bungkus rokok namun mereka tetap merokok. Informan tetap merokok karena untuk mengurangi stres dan karena kebiasaan. Walaupun mereka belum puas dengan pesan kesehatan di bungkus rokok yang sekarang ini, namun sebagian besar informan tidak ada usul atau tidak tahu harus usul apa. Hal ini bisa jadi dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pendidikan informan. Sedangkan sebagian informan merasa pesan kesehatan yang ada sudah cukup dan tidak perlu diganti.

Pesan peringatan bahaya kesehatan bergambar akan lebih diperhatikan dari pada hanya teks atau tertulis, sehingga diharapkan bisa mendorong perokok untuk berhenti merokok dan meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahaya merokok. Namun sebagian besar informan menyatakan setuju penambahan gambar pada isi pesan kesehatan pada bungkus rokok dan menganggap hal tersebut baik karena akan mempengaruhi persepsi orang mengenai bahaya rokok. Secara umum, pesan kesehatan pada bungkus rokok belum efektif meningkatkan pengetahuan dan pencegahan perilaku merokok.

Saya pun juga kaget melihat pesan peringatan pada bungkus rokok yang dijual di warung-warung atau toko-toko saat membeli rokok. Menurut saya, bagus juga buat peringatan bagi para perokok untuk berpikir kembali akan kesehatan yang menimpa nanti. Ada juga orang-orang yang mengatakan:

pesan peringatan itu merusak pemandangan..
terus juga ada yang bilang, merokok mati.. tidak merokok mati.. lebih baik merokok sampai mati..

Ada-ada saja yah. Tapi, untungnya saya sudah mengurangi kebiasaan merokok, yang tadinya beli sebungkus dan sekarang cuma beli 3-4 batang saja perhari demi kesehatan, jangan terlalu berlebihan. Sehingga saya bisa menghemat uang untuk sebagiannya ditabung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar