Manfaat laktoferin untuk kesehatan & olahraga

Susu laktoferin

Laktoferin untuk olahraga atlet
Prinsip dasar nutrisi olahraga adalah membangun tubuh yang lebih baik, lebih sehat yang mampu unggul dalam performa atletik. Dalam hal ini, laktoferin, suatu pecahan protein eksklusif bagi whey, memiliki beberapa manfaat penting bagi para atlet. Laktoferin sapi diserap utuh di manusia dewasa,  dan efek manfaatnya termasuk antibakteri yang canggih dan properti antivirus, melestarikan pertumbuhan organisme patogenik dalam usus, dan modulasi inflamasi yang disebabkan oleh kerusakan jaringan. Peran biologis laktoferin masih bermunculan dari ilmu pengetahuan. Namun, pengaruh perannya dalam zat besi dan metabolisme tulang layaknya mendapat perhatian khusus bagi para atlet.

Status zat besi seorang atlet adalah penting sebagaimana mineral ini adalah yang tidak dapat diabaikan pada transportasi oksigen ke seluruh tubuh. Zat besi merupakan reseptor pada pusat hemoglobin, pengangkut selular oksigen. Laktoferin (anggota famili transferrin) memberikan fungsi penting pengikat zat besi kepada sel dalam darah; pemisah dan melarutkan zat besinya, hingga mengontrol jumlah zat besi tersedia bagi metabolisme usus. Oleh karenanya, laktoferin akan terlihat memainkan suatu peran yang penting dalam memelihara regulasi kesehatan sel darah merah, hemoglobin dan transpor oksigen.

Laktoferin yang ditemukan dalam whey juga telah menunjukkan memberikan dampak manfaat langsung terhadap metabolisme tulang. Dalam penelitian kultur sel laktoferin terbukti menstimulasikan proliferasi sel osteoblasts dan tulang muda pada konsentrasi fisiologis. Besarnya efek ini melebihi yang diobservasi pada responnya terhadap faktor pertumbuhan tulang lainnya seperti IGF-1 dan TGFb.

Efek bermanfaat ini lalu dikonfirmasikan dalam mamalia, membawa para ilmuwan pada kesimpulan bahwa laktoferin memiliki suatu efek anabolik (membangun) terhadap metabolisme tulang dan oleh karenanya dapat memiliki peran penting dalam kesehatan tulang dan pencegahan osteoporosis.

Peran dan manfaat laktoferin untuk kesehatan
RAINARD (1992), melaporkan bahwa laktoferin mampu menghambat aktifitas bakteri uji, dan menyebabkan bakteri kehilangan kemampuannya untuk membentuk koloni dengan cepat, yang diduga berupa bagian struktural yang merupakan salah satu sifat utama bakteri, selanjutnya laktoferin sapi merupakan protein yang mengikat Fe dan dapat ditemukan dalam sekresi kelenjar ambing. Konfrontasi Streptococcus agalactiae pada laktoferin sapi menghasilkan pengikatan protein ini pada 12 strain bakteri asal sapi yang diuji, dan juga, walaupun dengan derajat yang lemah pada lima strain asal manusia. Pengikatan bergantung pada waktu, dosis dan kejenuhan. Pengikatan laktoferin sedikit dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan bakteri, dan tahan dalam kondisi panas.

NAGASAKO et al. (1993) telah mempelajari kemampuan laktoferin asal sapi dalam mengikat Fe pada larutan kaya Fe . Fe adalah larutan yang tidak stabil dan mudah berubah ke kondisi Fe tidak larut, tetapi kelarutan Fe dapat stabil dengan adanya laktoferin . Kejadian ini menunjukkan, bahwa laktoferin berfungsi sebagai chelator. Menurut LONNERDAL dan IYER (1995) laktoferin telah dikenal mempunyai kemampuan sebagai antimikroba. Kemampuan tersebut dirnungkinkan oleh adanya peptida tunggal yang aktif, yang mempunyai lokasi di dekat N-terminal dari laktoferin, yaitu wilayah yang berbeda dari tempat pengikatan Fe.

Sekuen laktoferin' yang bersifat antimikroba pada manusia terdiri dari 18 residu asam amino yang dibentuk dari ikatan disulfida antara residu sistein 20 dan 37, sedangkan pada sapi 19 dan 36. Peptida aktif yang berasal dari susu sapi didapatkan lebih potensial dari pada yang berasal dari manusia. Peptida ini efektif melawan bakteri Gram negatif dan Gram positif pada konsentrasi antara 0,3 pM dan 3,0 jM, dengan hasil hambatan yang bervariasi tergantung dari strain bakteri sasarannya. 

Selanjutnya, TERAGUCHI et al. (1995) melaporkan bahwa pemberian laktoferin asal sapi secara oral menghambat translokasi bakteri pada mencit yang mengkonsumsi susu sapi. TERAGUCHI et al. (1996) menambahkan, bahwa laktoferin asal sapi sangat kuat menghambat aktivitas hemaglutinasi clan fimbrial tipe I E. coli. Reaksi aglutinasi secara spesifik dihambat oleh glikopeptida derivat dari laktoferin sapi atau alfa-metil-Dmannosida. Penelitian ini menunjukkan, bahwa glikan dari laktoferin sapi dapat sebagai reseptor untuk fimbrial lektin tipe 1. 

Hasil penelitian SUZUKI et al. (2005) menunjukkan bahwa struktur dan fungsi reseptor laktoferin pada mamalia memperlihatkan aktifitas sangat tinggi di usus kecil bayi, sedangkan dalam jumlah normal tersebar di seluruh jaringan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa laktoferin masuk ke sel dari serum dan ditransportasikan ke dalam nukleus dan mengikat Deoxyribosenucleate (DNA). Sekuen spesifik DNA telah diidentifikasi dapat bekerja sama dengan laktoferin yang menginduksi gen transkripsi dari suatu gen reporter. Potensi langsung fungsi transkripsi dari laktoferin adalah unik dan harus dikonfirmasi pada seluruh sel atau jaringan . 

Penelitian ini mempunyai potensi yang besar untuk menjelaskan dasar molekuler peranan laktoferin dalam menanggulangi radang ambing dan transfer imunitas dari ibu ke anak. Pemberian pakan berupa susu sapi pada mencit menyebabkan terjadinya translokasi bakteri dari jaringan usus ke mesenteric lymp nodes, dan bakteri yang berperan terutama anggota dari famili Enterobacteriaceae. Penambahan atau suplementasi dalam susu, sebagai pakan dengan laktoferin sapi atau laktoferin yang dihidrolisa dengan pepsin dan digenerasikan, menghasilkan penekanan yang signifikan dari translokasi bakteri. Penemuan ini diduga bahwa kemampuan laktoferin untuk menghambat translokasi bakteri kemungkinan disebabkan penghambatan bakteri - untuk tumbuh berkembang di saluran pencernaan dari mencit yang mendapat pakan susu. 

VORLAND et al. (1998) melaporkan bahwa laktoferin yang berasal dari sapi mempunyai antibakteri terhadap E. coli dan S. aureus lebih tinggi bila dibandingkan dengan laktoferin yang berasal dari manusia, tikus dan kambing. Secara alami protein yang bersifat antimikrobial mempunyai kemampuan aktivitas sebagai antiviral. Laktoferin mempunyai kemampuan menghambat replikasi Herpes simplex virus (HSV) dengan cara memblokir masuknya virus tersebut ke dalam sitoplasma set inang (JENSSEN, 2005). 

Selain bersifat sebagai antimikroba dan antivirus, laktoferin juga mempunyai kemampuan sebagai antistres seperti dilaporkan oleh ZIMECKI et al. (2005) pemberian laktoferin melalui air minum pada mencit dapat meningkatkan respon imunitas baik secara seluler maupun humoral.

Manfaat laktoferin untuk kesehatan
Manfaat pembentukan sapi perah FH lokal penghasil susu berlaktoferin tinggi diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Menurunkan kemungkinan terjadi mastitis. Mastitis adalah peradangan kelenjar ambing yang disertai dengan perubahan fisik, kimia dan mikrobiologi baik pada susu maupun pada ambing. Penyakit ini pada sapi perah di Indonesia menyebar hampir ke seluruh wilayah produksi SUSU, terutama mastitis subklinis yang terns meningkat setiap tahunnya. SUDARWANTO (1995) melaporkan bahwa kasus mastitis subklinis di Jawa Tengah mencapai 62,5% dengan tingkat infeksi kwartir sebesar 30%. Terinfeksinya sapi perah oleh mastitis tersebut menurunkan produktivitas sapi dan berakhir pada pengafkiran susu yang dihasilkan dan sapi yang dipelihara. Menurut Cl IEN el al. (2004) pada kambing adanya mastitis bisa juga ditunjukkan dengan kadar laktoferin yang sangat tinggi di luar kewajaran (587 microg/ml) dan dalam keadaan normal (218 m icrog/ml).
  2. Menurunkan total plate count (TPC) susu. TPC menunjukkan jumlah bakteri dalam susu dan merupakan salah satu komponen kualitas susu terpenting. Susu layak konswnsi menurut Standar Nasional Indonesia (SNI, 2001) mempunyai nilai TPC < satu juta set bakteri/ml. Pada umumnya susu terutama dari peternakan rakyat banyak ditolak oleh Industri Pengolahan Susu karena nilai TPC lebih dari satu juta set bakteri/ml. Upayaupaya untuk menekan nilai TPC sangat diperlukan dan berdampak positif terutama untuk Industri peternakan sapi perah rakyat.
  3. Menurunkan cemaran antibiotik pada produk susu, akibat Iangsung dari pengobatan mastitis adalah meningkatnya penggunaan antibiotik oleh peternak. Keamanan pangan merupakan isu internasional dalarn rangka melindungi konsumen.  SUDARWANTO (1990) melaporkan adanya residu antibiotika terdeteksi pada susu segar dari Malang (Nongkojajar, Ngantang dan Songgoriti). Kondisi demikian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotika di dalam manajemen peternakan sapi perah cukup intensif. Secara umum, kandungan rata-rata residu antibiotika dalam susu masih berada di bawah batas minimum residu antibiotika yang ditetapkan oleh SNI (2001), kecuali untuk klortetrasiklin (89 dan 51,7 ppb) yang terjadi pada susu asal Ngantang dan Nongkojajar dan oksitetrasiklin (64,6 ppb) pada susu asal Songgoriti.
  4. Menurunkan kejadian diare pada anak balita. Di Indonesia kasus terjadinya diare atau infeksi saluran pencernaan masih cukup tinggi dan membutuhkan penanganan serius sehingga tidak terjadi loss generation di masa yang akan datang. Kebutuhan akan pangan sehat kaya gizi (terutama susu) yang murah tapi berkualitas tinggi perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Susu berlaktoferin tinggi dapat dijadikan minuman kesehatan sebagai susu antidiare. Laktoferin bisa pula disuplementasikan dengan minuman kesehatan Iainnya. 


Referensi:
AI-NAHUI .sl, A .A . and R .A . HOLLEY. 2006. Enhancing the antimicrobial effects of bovine lactoferrin against Escherichia coli 0157 : H7 by cation chelation . NaCI and temperature . J. Appl. Microbiol.
CHEN, P.W., W.C . CHEN and F .C . MAO. 2004 . Increase of lactoferrin concentration in mastitic goat milk . J . Vet.
Med. Sci. JENSSEN, H. 2005 . Anti herpes simplex virus activity of lactofcrrin/lactofcrricin - an example of antiviral activity of antimicrobial protein/peptide. Cell. Mol Life Sci.

0 Response to "Manfaat laktoferin untuk kesehatan & olahraga"

Posting Komentar