Jumat, 05 Mei 2017

Gejala & penularan virus HIV/AIDS harus anda tahu

Penyakit HIV/AIDS
Dewasa ini hubungan seksual pranikah cukup banyak dijumpai di kalangan kaum muda. Didorong oleh rasa ingin tahu dan ingin mencoba, kaum muda sering terperangkap dalam hubungan seksual pranikah yang sering dilaksanakan dengan pasangan yang berganti-ganti. Keadaan berganti pasangan seperti ini sangat rawan terhadap penularan HIV. Maka banyaknya kehamilan pada remaja dan meningkatnya prevalensi penyakit menular seksual terutama di lingkungan kelompok umur 16-24 tahun.

Bagi wanita AIDS memberikan dampak serius dan seringkali menyakitkan dalam peranannya sebagai calon ibu seperti dilukiskan di atas. Seorang wanita yang menderita AIDS akan terhalang untuk merawat anak-anaknya karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Penderitaan fisik yang dialaminya akan diperberat oleh stress mental jika ia tidak bisa mendapatkan seseorang untuk merawat anak-anaknya. Stress semacam ini akan lebih diperberat lagi oleh rasa takut ibu tersebut bahwa anak-anaknya tidak akan ada yang mengurus apabila si ibu meninggal dunia.

Kebanyakan penderita yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala apa pun. Pada umumnya penderita merasa sehat dan juga dari luar nampak sehat-sehat saja. Walaupun tampak sehat, penderita tersebut akan menjadi pembawa dan penular HIV kepada orang lain.

Kelompok orang-orang tanpa gejala ini dapat dibagi menjadi dua kelompok:


Kelompok pertama yaitu kelompok yang sudah terinfeksi HIV tetapi tanpa gejala dan tes darahnya negatif. Pada tahap dini ini antibody terhadap HIV belum terbentuk. Waktu antara masuknya HIV ke dalam peredaran darah dan terbentuknya antibody terhadap HIV disebut "Window Period" dan memerlukan waktu antara 15 hari sampai 3 bulan setelah terinfeksi HIV.

Kelompok kedua yaitu kelompok yang sudah terinfeksi HIV tanpa gejala, tetapi tes darah positif. Keadaan belum adanya gejala seperti ini dapat berjalan lama, yaitu bisa sampai lima tahun atau lebih. Adakalanya orang terinfeksi HIV/AIDS tidak menunjukkan gejala apa pun dan merasa dirinya sehat. Namun orang yang terinfeksi HIV akan menjadi pembawa penular HIV kepada orang lain.

Untuk diketahui, infeksi HIV akan tampak pada 2 (dua) tahap, yaitu:

Pertama, Gejala awal, ditandai dengan kondisi berat badan semakin menurun, sering demam, rasa lelah letih berkepanjangan, sering mencret/diare tanpa penyebab yang jelas, dan sariawan yang sering timbul dan lama sembuhnya.

Kedua, Gejala lanjut, ditandai dengan kondisi radang paru-paru, sesak napas dan batuk tanpa dahak/batuk kering, mudah terserang TBC paru-paru, bercak-bercak merah ungu pada kulit terutama kulit tubuh bawah, bercak-bercak putih di mulut, dan Gangguan syaraf otot, ingatan, perubahan kepribadian.

Virus HIV tidak mudah menular seperti penularan virus influenza. HIV ini hanya bersarang pada sel darah putih tertentu yang disebut sel T4. Oleh karena sel T4 ini terdapat pada cairan-cairan tubuh, maka HIV dapat ditemukan dalam cairan tubuh yaitu: Nanah, termasuk darah haid/menstruasi, air mani dan cairan-cairan lain yang keluar dari cairan kelamin wanita dan cairan dari leher rahim.

Masa inkubasi pada penderita AIDS, berjalan selama 2 tahun dan akan meninggal setelah organ-organ vital tak berfungsi. Selama waktu itu pula ia dapat merupakan sumber penularan pasif terbuka (mudah terjangkit virus HIV/AIDS). Sebaliknya pada masa inkubasi, di mana virus terus berkembang biak merusak sistem kekebalan sampai gejala dapat memakan waktu 10 tahun, selama ini penderita tetap merasa enak dan tampak sehat.

Pada masa ini sumber penularan aktif tersembunyi, namun berbahaya karena pengidap HIV ini masih mampu melakukan kegiatan sosial apa saja dalam waktu lama termasuk donor darah, hubungan seksual dan hamil. Semakin lama fase masa inkubasi dengan sendirinya semakin banyak virus yang potensial pula sebagai sumber penularannya. Di dalam keadaan wajar virus HIV hanya bisa pindah atau menular lewat aliran darah, limfa, jaringan lifoid dan dalam jumlah sedikit berada di cairan mani serta cairan pada kelamin wanita dan tidak didapatkan dalam air ludah, air seni, tinja dan keringat.

Berdasarkan uraian cara penularan di atas, bisa dipahami apabila kontak sosial seperti hidup serumah, tidur bersama, berenang bersama, mandi/WC bersama, bukan merupakan media penularan virus HIV. Namun masalahnya mungkin akan lain, kalau pengidap HIV/AIDS tersebut terluka mengeluarkan darah atau penderita AIDS telah mengalami infeksi sekunder di kulit, mulut, saluran cerna, saluran nafas, saluran kencing, dan Iain-lain. Darah yang keluar dari luka (infeksi tersebut seperti dahak, air seni, tinja) ada kemungkinan mengandung HIV walaupun untuk penularan masih dibutuhkan kontak langsung segera ke pintu masuk atau luka calon tertular. 

Sebagai contoh seorang dokter sedang menjahit luka seorang pengidap HIV/AIDS kebetulan tanpa sarung tangan dan jari tangan dokter itu ada yang terluka walaupun sedikit, maka dokter tersebut bisa tertular HIV. Seorang penderita HIV/AIDS sedang renang lalu mengeluarkan darah di air, maka air itu akan tercemar dan cepat menularkan pada seseorang yang mempunyai luka terbuka, maka kemungkinan dapat tertular HIV. Melihat kenyataan ini setiap orang dapat saja tertular AIDS. Tetapi bisa dihindari dengan memperkuat ketahanan keluarga melalui pendidikan agama, budi pekerti atau pun etika dan upaya-upaya agar kepedulian terhadap AIDS terus berkembang di masyarakat.

Terdapat beberapa kelompok resiko tinggi tertular AIDS, kelompok tersebut dapat di klasifikasikan sebagai berikut:

Pertama, Mereka yang mempunyai banyak pasangan seksual (homo dan hetero seksual) seperti wanita/pria tuna susila dan pelanggannya, mucikari, kelompok homoseks, biseks dan waria.

Kedua, Penerima transfusi darah. Virus HIV hidup subur dan berkembang baik mengikuti aliran darah. Seorang yang menjadi donor darah dan darahnya sudah terinfeksi HIV, akibatnya virus HIV dapat menularkan pada si penerima transfusi darah.

Ketiga, Bayi yang dilahirkan dari ibu penderita AIDS. Ibu hamil yang mengidap HIV dapat menularkan virus HIV tersebut kepada anaknya atau janinnya melalui plasenta.

Keempat, Pecandu Narkotika suntikan. Jarum suntik pecandu narkotika biasanya dipakai secara bersama dan biasanya tidak disterilkan lebih dulu. Apabila dalam suntikan itu masih terdapat darah pengidap HIV, maka bisa menularkan virus HIV ke orang lain.

Kelima, Orang yang menggunakan jasa dengan alat tusuk (akupuntur, tatto, tindik) yang pernah dipakai orang yang telah terinfeksi HIV, maka lebih besar kemungkinan virus AIDS dapat tertular ke orang lain.

Keenam, Pasangan dari pengidap AIDS.Setiap melakukan hubungan seks, selalu ada kemungkinan tertular AIDS. Terlebih lagi bila salah satu pasangan sudah terinfeksi HIV, maka dapat menularkan ke pasangan lainnya. Jadi, tidak mengherankan apabila ini terjadi pada ibu rumah tangga yang baik dapat saja tertular AIDS bila suaminya sudah terinfeksi HIV, karena sering jajan di luar.

Ketujuh, Remaja. Remaja mempunyai kecendrungan melakukan coba-coba atau ingin tahu tentang seks mereka kurang memperhatikan kesehatan dan keamanan sehingga kemungkinan remaja tertular HIV lebih besar.

Penularan HIV diketemukan dalam berbagai cairan rubuh dari penderita terinfeksi dengan virus ini. Walaupun demikian, hanya darah dan cairan kelamin wanita yang mempunyai kaitan dengan penyebaran HIV. Orang yang terinfeksi virus HIV akan tampak sehat selama beberapa tahun. Oleh karena itu tidak bisa diketahui orang yang terinveksi virus HIV hanya dengan melihat orangnya saja.

Virus HIV sangat cepat mati di luar badan kita. HIV tidak bisa menular lewat udara. HIV mudah mati oleh air panas, sabun dan bahan pencuci hama lainnya. HIV tidak bisa menembus kulit yang utuh yaitu kulit yang tidak luka atau lecet. Karena itu maka HIV tidak bisa menular lewat kontak sosial seperti bersenggolan dengan pengidap HIV, berjabatan tangan, bersentuhan dengan pakaian dan Iain-lain barang bekas penderita AIDS, penderita AIDS bersin atau batuk-batuk di depan kita, berciuman, lewat makanan dan minuman, gigitan nyamuk dan serangga lainnya, sama-sama berenang di kolam renang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar