Kamis, 18 Mei 2017

Inilah permasalahan gizi dan beberapa faktornya

Masalah gizi

Masalah gizi tidak terlepas dari masalah makanan karena masalah gizi timbul sebagai akibat kekurangan atau kelebihan kandungan zat gizi dalam makanan. Kebiasaan mengkonsumsi makanan yang melebihi kecukupan gizi menimbulkan masalah gizi lebih yang terutama terjadi di kalangan masyarakat perkotaan. Di lain pihak empat masalah gizi kurang seperti gangguan akibat kekurangan yodium, anemia gizi besi, kurang vitamin A, kurang energi protein, masih tetap merupakan gangguan khususnya di pedesaan.

Dengan meningkatnya taraf hidup sebagian masyarakat yang tinggal baik di perkotaan maupun di pedesaan akan memberikan perubahan pada gaya hidup. Pemilihan makanan yang cenderung menyukai makanan siap santap di mana kandungan gizinya tidak seimbang. Rata-rata makanan jenis ini mengandung lemak dan garam tinggi, tetapi kandungan serat yang rendah. 

Dilansir dari berbagai referensi, Di samping itu masih banyak masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan di mana pemenuhan kebutuhan makanan kurang sehingga timbul masalah gizi kurang. Jadi masalah gizi yang timbul, baik masalah gizi kurang maupun masalah gizi lebih sebenarnya disebabkan oleh perilaku makan seseorang yang salah yaitu tidak adanya keseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizinya.

Perilaku makan dan gaya hidup
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan yang salah akan menyebabkan masalah gizi dan perilaku makan tersebut dipengaruhi oleh aneka faktor sosial, ekonomi, budaya dan ketersediaan pangan. Analisis menggunakan data Susenas menunjukkan adanya kecenderungan perilaku konsumsi makanan jadi (termasuk minuman) yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Konsumsi makanan yang berasal dari terigu seperti roti, mie, kue kering dan konsumsi kue basah serta minuman es merupakan bagian dari makanan tradisional yang cenderung menurun (Surbakti, S dkk 1997).

Pola umum perilaku konsumen makanan jadi adalah semakin tinggi pendapatan semakin besar proporsi pengeluaran makanan jadi terhadap pengeluaran pangan total. Pada tahun 1996 sekitar seperlima pengeluaran pangan rumah tangga diperkotaan dialokasikan pada makanan jadi, sedangkan oleh rumah tangga di pedesaan sekitar seperdelapan dari pengeluaran pangan. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta pengeluaran untuk makanan jadi (termasuk fast food) lebih besar lagi yaitu seperempat dari total pengeluaran pangan.

Kini makanan fast food telah menjadi bagian dari perilaku sebagian anak sekolah dan remaja di luar rumah di berbagai kota (Mudjianto, dkk 1997) dan diperkirakan cenderung akan semakin meningkat. Kelebihan dan daya tarik bisnis fast food ini terletak pada teknik promosi, hadiah, media campuran, penciptaan suasana, tempat dan pelayanan yang meningkatkan gengsi konsumen. Perubahan perilaku hidup atau gaya hidup sangat mempengaruhi pola makan masyarakat. Akibat perubahan perilaku masyarakat dalam gaya hidup yang kemudian berlanjut pada perubahan konsumsi makanan sehari-hari telah terbukti mempengaruhi prevalensi obesitas dan penyakit kardiovaskuler.

Kegiatan fisik atau olahraga perlu dikembangkan secara terus menerus karena dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat. Dimana kegiatan fisik dan olahraga mempunyai tujuan ganda yaitu di satu sisi untuk peningkatan pengeluaran energi sebagai upaya penyeimbangan masukan dan pengeluaran energi dalam tubuh manusia, sedangkan dipihak lain merupakan upaya peningkatan kebugaran tubuh dan organ tubuh termasuk sistem kardiovaskuler.

Pemberian makanan yang cukup sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan kecerdasan bayi. Dampak kekurangan makanan pada masa bayi akan diderita seumur hidup. Cara terbaik memberi makanan bayi adalah menyusui secara ekslusif. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) ekslusif berarti bayi hanya minum ASI saja dan tidak diberikan makanan tambahan, air atau cairan lain kecuali obat-obatan dan vitamin. Berdasarkan studi IPB, Depkes dan WHO tahun 2001 dikota Bogor diperoleh data dari 1102 bayi, yang diberi ASI ekslusif sampai umur 4 bulan hanya 22,8% (BKKBN, 2002).

Adanya berbagai makanan bergizi yang ditawarkan oleh berbagai industri makanan, perlu dipilih secara hati-hati dan seksama jangan sampai konsumen tergiur oleh iklan yang menwan dari produk-produk yang ditawarkan. Pemilihan tetap didasarkan atas kebutuhan gizi dari masing-masing kelompok umur.

Kemajuan teknologi yang memberi dampak pada efektivitas kerja juga berpengaruh terhadap pemilihan makanan. Adanya waktu yang sangat terbatas, konsumen akan memilih makanan yang cepat dihidangkan (fast food) maupun “junc food” yang saat ini banyak melanda berbagai Negara industry maupun Negara yang sedang berkembang. Akibat yang ditimbulkan dari konsumsi makanan tersebut adalah kekurangan vitamin dan mineral. Sebagai contoh kaum muda Jepang yang tadinya mengkonsumsi ikan sekarang banyak beralih pada hamburger atau makanan barat, diduga akan menderita kerapuhan tulang dan arteriosklerosis.

Masalah gizi lebih
Indonesia menghadapi masalah gizi ganda yaitu masalah gizi lebih dan masalah gizi kurang dengan berbagai resiko penyakit yang menyertainya. Salah makan yang sebagian atau seluruhnya dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang, merupakan faktor resiko yang sumbangannya sangat tinggi terhadap munculnya penyakit-penyakit degeneratif. Makan lebih banyak dari kebutuhan, dan makan tidak seimbang dalam arti kebanyakan, faktor resiko dalam makanan dan kurangnya faktor proteksi dapat menyebabkan keadaan gizi lebih, yang pada gilirannya dapat membawa resiko masalah kesehatan. 

Di negara maju kelompok masyarakat usia 20-45 tahun dengan gizi lebih memiliki resiko relatif sebesar 5,9 kali untuk hipertensi dan 2,9 kali untuk diabetes mellitus, dibandingkan dengan kelompok gizi normal. Uji toleransi glukose penderita kelebihan berat badan hampir selalu menunjukan ketidaknormalan yang merupakan indikator resistensi diabetes mellitus.

Contoh-contoh berbagai penyakit yang dikategorikan sebagai penyakit gaya hidup seperti penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung, stroke, hipertensi, diabetes melitus dll).

Masalah gizi kurang
Anak-anak yang kekurangan gizi akan mengalami gangguan pertumbuhan fisik, mental dan intelektual. Gangguan tersebut akan menyebabkan tingginya angka kematian dan kesakitan serta berkurangnya potensi belajar, daya tahan tubuh dan produktifitas kerja. Dampak kekurangan gizi pada umur dini dimanifestasikan dalam bentuk fisik yang lebih kecil dengan tingkat produktivitas yang lebih rendah dan beberapa hasil analisis mengungkapkan terjadinya penyakit degeneratif pada masa dewasa yang justru merupakan umur produktif.

Konsekuensi gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI) adalah retardasi mental, gangguan perkembangan sistem syaraf, gangguan pertumbuhan fisik, kegagalan reproduksi dan kematian anak. Yang amat mengkhawatirkan bagi pengembangan SDM adalah akibat negatif terhadap sistem syaraf pusat yang berdampak pada kecerdasan dan perkembangan sosial. Setiap penderita gondok akan mengalami defisit 10 IQ point, kretin 50 point dan GAKI lain 10 IQ point dibawah normal. Dengan perkiraan sekitar 42 juta penduduk tinggal di daerah defisiensi yodium dimana 10 juta menderita gondok, 750-900 ribu menderita kretin endemik dan 3,5 juta menderita GAKI lainnya maka pada saat ini Indonesia telah mengalami defisit 132,5 – 140 juta IQ point akibat GAKI. Dengan kondisi yang sama, setiap tahun akan terus bertambah kehilangan IQ point sebesar 10 juta point.

Anemia gizi yang sebagian besar disebabkan oleh kekurangan zat besi merupakan masalah gizi yang besar dan luas diderita oleh penduduk Indonesia. Akibat nyata anemia gizi terhadap kualitas SDM tergambar pada dampaknya meningkatkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), menurunkan prestasi belajar anak sekolah serta menurunnya produktivitas para pekerja, yaitu 10 –20%.

Kekurangan Vitamin A (KVA) mempunyai dampak yang besar terhadap pengembangan kualitas SDM karena fungsi vitamin A yang penting bagi kesehatan. Fungsi vitamin A antara lain dalam hal penglihatan, pertumbuhan, perkembangan tulang, perkembangan dan pemeliharaan jaringan epithel, serta proses imunologi dan reproduksi.

Pengaruh gizi makanan terhadap kehidupan manusia sejak dalam masa kandungan sampai lanjut usia, baik terhadap pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan maupun penyembuhan karena adanya penyakit tertentu telah diketahui sejak ratusan tahun yang lalu. Makanan memang diperlukan untuk mempertahankan hidup yang sehat. Pemahaman makanan yang sehat masih sering dilupakan karena pada umumnya pemilihan makanan masih banyak didasarkan atas dasar kesukaan pada sifat organoleptik makanan seperti rasa, warna, aroma, bentuk maupun teksturnya. Pemilihan makanan berdasarkan atas nilai gizinya masih jarang dinomorsatukan. Akibatnya berbagai ketidakcukupan diit yang membawa akibat berbagai penyakit kekurangan gizi banyak melanda masyarakat tidak hanya di Negara yang sedang berkembang tetapi juga di Negara maju.

Pengaruh gizi makanan yang membawa berbagai akibat yang tidak menguntungkan bagi manusia sangat dipengaruhi oleh waktu. Pada umumnya efek yang merugikan akan terlihat dalam waktu yang cukup lama. Tanpa disadari bahwa sebenarnya tubuh seseorang kekurangan atau kelebihan gizi. Zat gizi yang memberikan efek dalam waktu lama tanpa disadari oleh penderita adalah kelompok gizi protein, mineral dan vitamin. Penderita sadar terjadi kekurangan atau kelebihan gizi setelah timbul berbagai penyakit malnutrisi. Berbeda dengan kekurangan pangan dalam artinya jumlahnya tidak mencukupi, misalnya makan yang tidak cukup sehingga masih terasa lapar atau mengalami kelaparan karena tidak makan. Kekurangan pangan dalam waktu tidak terlalu lama dapat diketahui akibatnya.

Penyakit-penyakit yang timbul akibat makanan yang kurang baik seperti makanan yang dimakan tidak cukup gizinya, atau makan makanan yang kadar zat gizinya tidak seimbang, disebut penyakit gangguan gizi. Penyakit gangguan gizi yang pertama kali adalah scorbut atau disebut juga sariawan.

Para ahli kesehatan anak memperkirakan bahwa sebagian besar kematian bayi dan anak di seluruh dunia adalah akibat tidak baiknya mutu makanan mereka sehingga pertumbuhan tubuh dan anak-anak terhambat dan daya tahan mereka terhadap serangan infeksi menjadi sangat lemah. Menurut ahli gizi dan kesehatan anak gizi juga berpengaruh pada perkembangan mental anak. Hal ini sehubungan dengan terhambatnya pertumbuhan sel otak yang terjadi pada anak yang menderita gangguan gizi pada usia anak atau bahkan ketika masih dalam kandungan. Gizi seseorang juga akan berpengaruh pada prestasi kerja dan produktivitas.

Ada beberapa hal yang merupakan penyebab terjadinya gangguan gizi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung gangguan gizi khususnya karena tidak sesuainya jumlah zat gizi yang mereka peroleh dari makanan dengan kebutuhan tubuh mereka. Gizi yang buruk akan menimbulkan mudahnya terjadi infeksi karena daya tahan tubuh menurun. Sebaliknya, penyakit infeksi menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan zat gizi, sedangkan nafsu makan biasanya menurun jika terjadi penyakit infeksi, hal ini dapat mengakibatkan anak yang gizinya baik akan menderita gangguan gizi. Beberapa faktor yang tidak langsung mendorong terjadinya gangguan gizi antara lain adalah :
  • Ketidaktahuan akan hubungan makanan dan kesehatan
  • Prasangka buruk terhadap bahan makanan tertentu
  • Adanya kebiasaan atau pantangan yang merugikan
  • Kesukaan yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu
  • Keterbatasan penghasilan keluarga
  • Jarak kelahiran yang terlalu rapat, dll

Tidak ada komentar:

Posting Komentar