Live

Perjuangan hidup dan bertahan hidup harus semangat bagi umat manusia di dunia.

Arsip Info

Jumat, 30 Juni 2017

Omzet penjualan menurun? inilah penyebabnya

Faktor penyebab omzet penjualan menurun
Omzet penjualan adalah keseluruhan jumlah pendapatan yang didapat dari hasil penjulan suatu barang atau jasa dalam kurun waktu tertentu. Pertumbuhan usaha dari masing-masing masyarakat tidak selalu sama karena adanya perbedaan faktor yang mendasari, misalnya faktor ekonomi, sosial, politik, kultural maupun sejarah. Lingkungan mayarakat yang sedang berkembang, sektor usaha sering menghadapi situasi rumit karena banyaknya keterbatasan dan hambatan untuk tumbuh sesuai kondisi tradisional yang sering dialami masyarakat pada umumnya yang sedang berkembang.

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi suatu bisnis yang ada disekitar bisnis tersebut yaitu yang disebut lingkungan usaha, diantaranya faktor internal terdiri dari: tenaga kerja, peralatan dan mesin-mesin, permodalan, bahan baku, sistem informasi dan administrasi, dan faktor eksternal terdiri dari: keadaan alam, perekonomian, pendidikan dan teknologi, sosial dan budaya, pemasok, pelanggan, pesaing.

Pemaparan faktor-faktor yang menyebabkan penurunan omzet penjualan, secara garis besar faktor-faktor tersebut dapat dimasukkan sebagai indikator penyebab penurunan omzet penjualan pada industri kerajinan monel yang dikategorikan menjadi faktor intern meliputi kualitas barang, persediaan bahan baku, teknologi dan faktor ektern yang meliputi selera konsumen, barang pengganti (subsitusi), persaingan, pemasok (supplier) dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor-faktor yang timbul karena pengaruh rangsangan dari dalam. Faktor-faktor intern penyebab penurunan omzet penjualan antara lain: kualitas barang, persediaan bahan baku, teknologi.

a. Kualitas barang
kualitas adalah kesesuaian atau kecocokan dengan spesifikasi dan standar yang berlaku ataupun dapat memuaskan keinginan, kebutuhan dan pengharapan pelanggan dengan biaya yang kompetitif. Kualitas produk adalah krusial untuk memenangkan peperangan dan hanya terjamin apabila departemen inspeksi dapat mengendalikan proses produksi.

Apabila suatu barang mutunya menurun, maka akan segera berpaling kepada barang lain yang lebih baik mutunya, dan sementara itu mereka pun dengan sendirinya akan menyebarluaskan berita buruk itu kepada orang lain, jika pengendalian mutu barang tidak segera diatasi maka akan terjadi penurunan omzet penjualan. Dalam penelitian ini kualitas monel yang baik adalah berdasarkan kualitas bahan bakunya.


b. Persediaan bahan baku
Setiap perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan produksi akan memerlukan persediaan bahan baku. Tersedianya persediaan bahan baku maka diharapkan perusahaan industri dapat melakukan proses produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Persediaan merupakan salah satu aktiva lancar berupa barang dagang yang siap dijual dalam kegiatan pokok (operasional) perusahaan.
Bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian besar produk jadi, bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat diperoleh dari pembelian lokal, impor atau hasil pengolahan sendiri

c. Teknologi
Teknologi adalah proses mengubah masukan kedalam keluaran. Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Proses pengubahan input menjadi output dapat dibedakan satu dengan lainnya dari jenis teknologi yang digunakan. Teknologi dalam hal ini dinyatakan sebagai tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan pada proses konversi ini yakni pada jenis pabrikasi, peralatan, keterampilan dan jenis prosedur serta tahapannya. Proses suatu barang dapat menggunakan mesin-mesin otomatis dengan sedikit tenaga kerja atau dengan tenaga buruh yang banyak dan dengan jumlah penggunaan mesin yang sedikit.

Penerapan ilmu pengetahuan dan keahlian merupakan inti dari penggunaan teknologi pada proses produksi. Tantangan saat ini adalah seberapa jauh penggunaan peralatan atau mesin sebagai tenaga manusia akan meningkatkan produktivitas dan mutu. Pengembangan teknologi terjadi sejak revolusi industri di mana tenaga mesin atau mekanis menggantikan tenaga manusia.

2. Faktor ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang timbul karena pengaruh rangsangan dari luar. Faktor-faktor ekstern penyebab penurunan omzet penjualan antara lain: selera konsumen, barang pengganti (subsitusi), persaingan, pemasok (supplier).

a. Selera konsumen
Dalam manajemen pemasaran, konsumen sering diartikan dengan pelanggan, pasar, permintaan, permintaan pasar, pembeli dan sebagainya. Selain itu konsumen juga dapat diasumsikan mudah tertarik dengan sesuatu yang baru atau berbeda dari apa yang biasa dilihatnya sehari-hari. Sedangkan selera diartikan sebagai minat atau keinginan, sehingga selera konsumen dapat diartikan sebagai minat atau keinginan konsumen untuk membeli suatu produk, dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

Konsumen biasanya, menghendaki harga monel yang murah, dan motif atau corak yang bagus karena ingin menunjukkan status dan prestasinya dalam masyarakatnya. Dalam hal ini, pengusaha harus menemukan tentang keinginan apa yang penting bagi konsumen. Konsumen yang dituju merupakan individu-individu yang harus dilayani oleh perusahaan dengan memuaskan mereka, sehingga pasar potensialnya akan menjadi lebih besar, selain itu menjaga selera konsumen juga penting dengan menciptakan inovasi dan kreasi baru, dikarenakan selera konsumen yang dapat berubah setiap saat.


b. Barang pengganti
Barang pengganti adalah barang yang dapat berperan sebagai pengganti barang lain. Seiring kemajuan teknologi, ditemukan barang pengganti aksesoris lain selain monel diantaranya barang import seperti titanium yang berasal dari Cina, barang impor yang berasal dari Thailand, selain itu perak dan kuningan sehingga banyak pengusaha seperti kerajinan monel kurang laku dipasaran, karena konsumen cenderung membeli aksesoris import tersebut, yang terlihat lebih bagus dan lebih mudah didapat.

c. Pesaing
Menjalankan suatu usaha tidak akan lepas dari yang namanya persaingan, karena persaingan sudah menjadi bagian di dalam pelaksanaan perekonomian yang khususnya dalam melakukan pemasaran, sehingga menjadi hal yang yang mau tidak mau harus dilakukan dalam mejalankan usaha perusahaan. Persaingan adalah keadaan dimana perusahaan pada pasar produk atau jasa tertentu akan memperlihatkan keunggulannya masing-masing, dengan atau tanpa terikat peraturan tertentu dalam rangka meraih pelanggannya. Persaingan akan terjadi pada beberapa kelompok pesaing yang tidak hanya pada produk atau jasa sejenis, dapat pada produk atau jasa substitusi maupun persaingan pada hulu dan hilir

Persaingan memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif dari persaingan adalah pelaku usaha menekan harga menjadi lebih rendah dengan cara melakukan efisiensi dan formula lainnya supaya pelaku usaha tersebut dapat menarik lebih banyak konsumen dibanding pesaingnya, pelaku usaha selalu berlomba untuk melakukan inovasi dan menciptakan produk baru demi terus menjaga pangsa pasar, pelaku usaha terus melakukan pelayanan-pelayanan kepada konsumen lebih baik dibanding pesaing-pesaingnya.

Dampak negatif dari persaingan adalah persaingan memerlukan biaya-biaya lebih dan kesulitan-kesulitan tertentu yang tidak ada dalam sistem monopoli, persaingan menimbulkan lebih banyak pengorbanan dengan keuntungan yang lebih rendah dibanding dengan monopoli, maka dari itu banyak pelaku usaha yang ingin meniadakan adanya persaingan karena dengan menghilangkan persaingan memungkinkan pelaku usaha untuk mendapatkan keuntungan yang jauh lebih besar. Adapun persaingan kerajinan monel di Desa Kriyan Kabupaten Jepara dalam penelitian ini adalah persaingan dengan daerah lain penghasil monel yang terus melakukan inovasi baru dan kreasinya pun lebih bagus.

d. Pemasok (supplier)
Pemasok adalah perusahaan yang menyediakan usaha baku, tenaga kerja, keuangan dan sumber informasi kepada perusahaan lain, terdapat hubungan saling ketergantungan antara pemasok dan perusahaan. Ketergantungan perusahaan pada pemasok adalah pentingnya produk pemasok bagi perusahaan dan sulitnya mencari sumber lain sebagai pengganti. Ketergantungan pemasok pada perusahaan adalah suatu tingkat dimana perusahaan pembeli sebagai pelanggan bagi pemasok dan sulitnya menjual produk kepada pembeli lain dan semakin banyak permintaan pasar, pemasok harus cepat tanggap dalam menanganinya, serta harga bahan baku harus disesuaikan dengan modal yang ada, sehingga hubungan antara investor sangat erat juga demi kelancaran proses produksi.

Itulah faktor-faktor yang menyebabkan omzet penjualan menurun yang harus anda perhatikan jika melakukan bisnis.

Ritual petik laut di sendang biru malang

Prosesi larung sesaji dalam Ritual Petik Laut di perairan Sendang Biru

Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelagic state) yang terbesar di dunia. Secara historis, bangsa Indonesia adalah bangsa bahari yang ditunjukkan dengan berbagai peradaban kerajaan Nusantara dalam berinteraksi dengan komunitas dunia. Bangsa Indonesia berasal dari berbagai etnik. Keragaman budaya telah mempengaruhi bangsa ini dalam memahami pentingnya budaya bahari. Budaya bahari hendaknya dipahami sebagai cara atau pola pikir sekelompok masyarakat yang menetap di wilayah pesisir dengan memiliki cara pandang tertentu tentang religi (pandangan hidup), bahasa, seni, mata pencaharian, organisasi, pengetahuan dan teknologi. Melalui analogi dari tujuh unsur universal budaya, ketujuh unsur tersebut diarahkan pada pemberdayaan dan sumber daya kelautan untuk pertumbuhan dan dinamika masyarakat yang menetap di wilayah perairan, pesisir.

Bagi masyarakat pesisir, sikap hidup dasar masyarakat tersebut adalah memiliki atau menganggap bahwa laut merupakan sumber daya untuk kelangsungan, pertumbuhan, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karenanya, masyarakat pesisir di wilayah Indonesia memiliki cara pandang tertentu terhadap sumber daya laut dan persepsi kelautan. Melalui latar belakang budaya yang dimiliki oleh masyarakat pesisir, muncul suatu tradisi untuk menghormati kekuatan sumber daya laut. Tradisi tersebut lazimnya diwujudkan melalui ritual, yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur karena alam melalui sumber daya laut telah memberikan kelimpahan serta rezeki dalam kelangsungan hidup mereka.

Masyarakat pesisir yang tinggal di wilayah pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, juga memiliki tradisi penghormatan terhadap sumber daya laut. Tradisi yang telah dilakukan cukup lama disebut sebagai ritual Petik Laut. Ritual Petik Laut dilangsungkan setiap tahun pada tanggal 27 September. Melalui ritual Petik Laut masyarakat nelayan Sendang Biru mengungkapkan rasa syukur mereka akan hasil laut yang berlimpah yang telah mereka terima. Tulisan ini akan menguraikan ritual Petik Laut yang dilakukan oleh masyarakat nelayan Sendang Biru dari aspek budaya bahari yang terfokus pada beberapa elemen yang mendasarinya, yaitu religi, mata pencaharian, pengetahuan dan teknologi. Melalui elemen atau variabel tersebut akan dilakukan analisis secara holistik sehingga mendapatkan pemaknaan dan manfaat yang signifikan dengan masyarakat dan potensi sumber daya laut.

Kehidupan Masyarakat Sendang Biru
Secara geografis pantai Sendang Biru terletak sekitar 60 km di sebelah selatan kota Malang dan secara administratif merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Pantai Sendang Biru merupakan pantai Lautan Selatan, tetapi karena pantai tersebut “tertutup” oleh pulau Sempu, maka pantai Sendang Biru memiliki perairan yang tenang, dan memiliki pula kekayaan sumber daya ikan yang berlimpah.

Kabupaten Malang berkeinginan mendorong pertumbuhan kota dan mengejar ketinggalan desa dengan melihat pelayanan umum melalui sistem perdesaan dan sistem perkotaan. Sendang Biru yang termasuk dalam kecamatan Sumber manjing Wetan berada pada sistem perkotaan dengan memiliki fungsi pelayanan kota sebagai berikut:

(a) pusat pemerintahan skala kecamatan/lokal;
(b) pusat perdagangan dan jasa skala regional;
(c) pusat pelayanan umum;
(d) pusat pendidikan keagamaan;
(e) pusat industri besar dan strategis nasional dan;
(f) pusat industri perikanan.

Pada sekitar awal abad 19, wilayah Sendang Biru termasuk juga pulau Sempu merupakan kawasan cagar alam, kemudian kepemilikan wilayah tersebut beralih kepada Perhutani hingga sekarang. Seiring dengan perjalanan waktu, wilayah itu didatangi banyak penduduk untuk bermukim dan kemudian menjadi pemukiman penduduk yang cukup padat. Daerah Sendang Biru secara geografis terbagi atas daerah perbukitan dan daerah pantai. Penduduk daerah perbukitan umumnya berasal dari etnik Jawa, dari Malang. Adanya pengaruh Belanda di masa lalu, di wilayah perbukitan menetaplah nelayan yang beragama Kristen, sedangkan yang tinggal di wilayah pantai, berasal dari etnik Madura yang beragama Islam. Saat ini, wilayah perairan Sendang Biru menjadi pemukiman nelayan yang semakin ramai seiring dengan kedatangan nelayan yang berasal dari Bugis, Banyuwangi, Papua yang ingin mengadu nasib.

Kondisi itu membuat wilayah Sendang Biru memiliki keragaman etnik, dan sangatlah menarik bahwa perbedaan etnik, agama, budaya, kebiasaan tidak menjadi halangan bagi para nelayan tersebut untuk bersatu dalam mengembangkan wilayah Sendang Biru melalui pekerjaan sebagai nelayan. Latar belakang budaya yang beragam menyebabkan penduduk Sendang Biru memiliki beragam pengetahuan lokal (kearifan lokal) yang berkaitan dengan kebaharian, seperti pengetahuan tentang kapal, navigasi, teknologi alat tangkap ikan, cara penangkapan dan pengolahan ikan, lingkungan alam dan perairan dan sebagainya. Masyarakat nelayan yang merupakan pendatang di Sendang Biru lambat laun merasa sebagai warga Sendang Biru dan merasa memiliki wilayah Sendang Biru, wilayah yang menjanjikan bagi kehidupan mereka di masa mendatang.

Berdasarkan letak geografis daerah Sendang Biru, masyarakat nelayan di wilayah tersebut dibedakan atas nelayan “atas” dan nelayan “bawah”. Nelayan atas adalah masyarakat nelayan yang beragama Kristen dan tinggal di daerah perbukitan. Mereka memiliki pekerjaan ganda, sebagai nelayan dan petani (berladang). Nelayan bawah adalah nelayan yang tinggal di daerah sekitar pantai dan umumnya beragama Islam. Kehidupan sebagai nelayan, dijalani oleh nelayan atas dan bawah secara damai, melalui kebersamaan dan saling memiliki solidaritas terhadap berbagai kehidupan sosial. Di samping nelayan yang menetap di Sendang Biru, terdapat pula pendatang yang disebut nelayan andon. Nelayan andon adalah nelayan yang berasal dari daerah di luar Sendang Biru, seperti Cilacap, Madura, Bugis, Banyuwangi, Kalimantan dan mereka menetap sementara di wilayah perairan Sendang Biru dengan mengontrak rumah selama musim melaut. Kehidupan nelayan di Sendang Biru tidak terlepas dari kehidupan sosial yang terkait dengan jaringan sosial rumah tangga nelayan-buruh (pandhiga) yang bersifat informal (Kusnadi, 2000: 3-5).

Konteks jaringan sosial tersebut memperlihatkan bagaimana individu-individu anggota rumah tangga pandhiga memperlihatkan, mengembangkan dan memelihara hubungan sosial yang yang terfokus pada kerabat, pertemanan, ketetanggaan atau sistem kerabat. Hubungan sosial ini dimaksud sebagai sarana untuk memperoleh akses melalui sumber daya ekonomi yang tersedia dan mungkin semakin langka (sulit diperoleh) di lingkungannya. Sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengatasi kesulitan kehidupan sehari-hari akibat ketidakpastian mendapatkan penghasilan dari kegiatan melaut. Jaringan sosial pandhiga dapat digunakan untuk memahami tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan di Sendang Biru.

Sumber daya ikan yang berlimpah di perairan Sendang Biru membuat satu atau beberapa keluarga nelayan Madura menerapkan model kekerabatan nelayan pandhiga. Ketika mereka berhasil sebagai nelayan, mereka akan mengundang sanak saudara atau teman untuk membantu mereka bekerja sebagai nelayan. Tingkat sosial–ekonomi dan pendidikan yang rendah merupakan ciri yang umum dalam kehidupan nelayan di mana pun mereka berada (Kusnadi, 2000:9).

Oleh karena itu untuk itu meningkatkan kehidupan mereka, mereka melakukan migrasi. Nelayan miskin yang berasal dari berbagai daerah Jawa, Madura, Banyuwangi pergi ke wilayah perairan Sendang Biru yang memiliki potensi sumber daya ikan. Proses migrasi nelayan dari luar Sendang Biru ke perairan Sendang Biru merupakan proses yang cukup lama, dibutuhkan perjuangan yang keras, persaingan ketat antarnelayan agar berhasil kehidupannya.

Salah satu informan Bapak A dari Madura, pertamakali datang di Sendang Biru pada tahun 1970 hanya sendiri, sebagai nelayan dan berbekal kerja keras, ulet maka ia berhasil memboyong seluruh keluarganya menetap di Sendang Biru. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang kecamatan Sumbermanjing Wetan. Saat ini bapak A telah menikmati hasil jerih payahnya dan menjadi salah satu orang yang terpandang, kaya di Sendang Biru. Pekerjaan nelayan telah ditinggalkan dan bapak A memiliki profesi sebagai juragan, orang yang memiliki banyak kapal dan ABK bahkan dikenal sebagai pengusaha abon ikan tuna.

Berkaitan dengan kekerabatan nelayan pandhiga di Sendang Biru, maka dikenal adanya kelompok masyarakat yang terkait dengan perekonomian lokal, (a) kelompok nelayan yang tidak “beruntung”, tidak memiliki kapal, yaitu buruh nelayan (ABK); (b) kelompok nelayan yang memiliki kapal dan ABK sendiri; dan (c) kelompok bukan nelayan (mantan nelayan) yang memiliki kapal serta ABK. Kelompok C ini menjadi orang yang sangat “berkuasa” atas kelangsungan kehidupan ABK dan ABK sendiri sangat tergantung pada pemilik modal yang umumnya disebut sebagai juragan kapal. Kondisi seperti ini yang menyebabkan nelayan kecil (kelompok A) menjadi tidak berdaya, terutama bagi nelayan yang tidak memiliki keahlian lain selain melaut, terutama bila musim paceklik tiba (adanya faktor cuaca, iklim, hari pantang melaut dan lainnya). Bagi nelayan “atas” Sendang Biru yang memiliki lahan pertanian, maka musim paceklik dilaluinya dengan bertanam buah-buahan atau padi.

Adanya hubungan jaringan sosial dengan kekerabatan pandhiga di Sendang Biru, telah menumbuhkan jaringan sosial yang mengarah pada kehidupan perekonomian yang bersifat horizontal dan vertikal. Hubungan jaringan sosial yang bersifat horizontal artinya hubungan sosial itu diwujudkan saling menolong dan hubungan status ekonomi yang relatif sama pada nelayan. Sedang pada hubungan sosial yang vertikal diartikan hubungan antarindividu tidaklah sama, terutama dari sisi ekonomi, yang satu memiliki status ekonomi tinggi dan lainnya lebih rendah. Selain itu, baik dari sisi kewajiban maupun yang dimiliknya tidak dapat saling ditukarkan satu dengan lainnya. Hubungan sosial vertikal ini mengarah kepada hubungan patron-klien.

Menurut Scott yang dikutip dari Kusnadi (2000: 18-19) hubungan patron-klien merupakan kasus khusus, hubungan antara dua orang yang melibatkan persahabatan instrumental di mana kedudukan seseorang yang kehidupan sosialnya lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan kekuasaannya untuk melindungi seseorang yang status sosial ekonomi lebih rendah (klien). Sebaliknya klien akan membalas pemberian tersebut dengan dukungan eyang sifatnya umum, pribadi kepada si patron.

Hubungan patron-klien semacam itu terjadi pada masyarakat nelayan Sendang Biru dan dikenal sebagai pengambek. Sebagai orang yang memiliki modal/juragan kapal, maka pengambek memberikan perlindungan terhadap ABK dengan memberikan sejumlah pinjaman uang yang nantinya akan dikurangi setelah pembagian bagi hasil tangkapan ikan yang diperolehnya ketika melaut. Bahkan bagi hasil pun harus dikurangi dengan beaya kehidupan di kapal ketika melaut. Agaknya hubungan sosial kekerabatan pandhika memiliki aspek negatif ketika memunculkan kasus semacam pengambek.

Hubungan pengambek dengan ABK dapat terjadi karena (a) pengambek menguasai sumber daya yang tidak dimiliki oleh ABK; (b) adanya hubungan kekerabatan misalnya sesama etnik, meskipun pada awalnya diawali dengan hubungan yang baik, tetapi karena terjerat dengan hutang, maka menimbulkan ketergantungan yang berlebihan antara yang satu (klien) dengan lainnya (patron). Implikasi dari hubungan pengambek dengan ABK yaitu adanya syarat timbal balik dalam membina hubungan tersebut dan tidak harus bermakna seimbang, artinya satu sama lain saling mengharapkan. Pemilik modal mengaharapkan ada ABK yang bekerja mencari tangkapan ikan sedang ABK berharap mendapatkan upah yang sesuai dengan keinginannya.

Ritual Petik Laut dan Maknanya Bagi Masyarakat Sendang Biru
Ritual Petik Laut merupakan upacara syukuran atas hasil panen laut yang berlimpah yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada masyarakat Sendang Biru. Sebagai bagian dari tradisi budaya masyarakat setempat, ritual Petik Laut merupakan salah satu bagian dari adat istiadat dan kebudayaan pelaku budaya. Setiap kebudayaan manusia memiliki berbagai unsur, seperti religi, seni, pengetahuan, mata pencaharian, bahasa,organisasi dan teknologi. Sejalan dengan analogi unsur-unsur kebudayaan, maka

kebudayaan bahari juga memiliki unsur yang serupa, hanya unsur tersebut difokuskan pada wilayah perairan dan masyarakat perairan atau masyarakat pesisir. Oleh karenanya ritual Petik Laut pun memiliki atau menjadi bagian dari kebudayaan bahari serta sarat dengan nilai-nilai yang melekat pada ritual tersebut.

Ritual Petik Laut dilaksanakan oleh masyarakat Sendang Biru pada setiap tanggal 27 September. Sebagai masyarakat nelayan yang memiliki beragam latar belakang budaya, ritual itu pun sarat dengan berbagai pernik-pernik perlengkapan lazimnya sebuah upacara adat dan nilai-nilai yang menyertainya.

Serangkaian ritual Petik Laut yang bersumber dari informan bapak. Ismadi adalah sebagai berikut:
  • Malam tasyakuran di Tempat Pelelangan Pelabuhan Perikanan Sendang Biru menjelang tanggal 27 September.
  • Pagi harinya, dipersiapkan perahu gitik dan sesaji yang dikirap (ider bumi) berupa gunungan (tumpengan yang besar berwarna kuning) dan sepasang temanten ke perkampungan nelayan yang berakhir di pelabuhan Baru Sendang Biru, dan selanjutnya siap mengikuti upacara tersebut. 
  • Selesai upacara, simbol-simbol temanten dan gunungan di atas perahu gitik dan getek dilarung.
  • Perahu “Gitik Sesaji” berangkat menuju tempat lokasi Pelarungan (di tengah laut) dan diawali dengan memotong tali perahu yang tertambat di pelabuhan. Selanjutnya sesaji apapun diperebutkan oleh nelayan-nelayan yang hadir ditengah laut.
  • Malam hari, sebagai penutup Ritual Petik Laut diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk untuk menandai berakhirnya ritual tersebut
Proses ritual Petik Laut berlangsung sekitar 4 hari, ditandai dengan kegembiraan dan sukacita masyarakat nelayan Sendang Biru atas kesejahteraan serta bekerja selama melaut. Suasana pantai Sendang Biru sangatlah meriah. Di pelabuhan Pondok Dadap dilangsungkan berbagai atraksi bagi masyarakat, seperti lomba permainan, pameran hasil kelautan, pertunjukan musik, barongsai dan sebagainya. Sehari sebelum ritual itu dilangsungkan, biasanya masyarakat nelayan melakukan upacara doa, baik secara Islam maupun secara Kristen, dan dilakukan di masing-masing tempat ibadah.

Sebenarnya kata “Petik laut” berasal dari kata “Petik”(bahasa Jawa) dan laut. Petik diartikan sebagai “ambil pungut” yang merupakan kependekan dari memetik, memungut, mengambil, dan secara harafiah berarti memetik hasil usaha dari laut, atau dalam bahasa Jawa dapat berarti “ngunduh”, yang berarti memetik hasil dari kelestarian kehidupan dari laut.

Sebagai sebuah ritual, Petik Laut erat dengan pandangan hidup masyarakat nelayan Sendang Biru mengenai pentingnya laut atau perairan bagi mereka. Laut adalah sebagai bagian dari alam, yang harus dihormati, dirawat dengan baik, karena dari laut para nelayan mendapatkan sumber kehidupan. Manusia dan alam (laut) merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Oleh karenanya sebagian masyarakat nelayan masih percaya bahwa ada penguasa laut, yaitu Nyi Lara Kidul.

Pemahaman ini muncul karena sebagian besar nelayan pantai Selatan Sendang Biru (yang berasal etnik Jawa dan Madura) menganggap Nyi lara Kidul adalah pelindung para keluarga nelayan. Hal ini mirip seperti pada masyarakat agraris yang mempercayai bahwa dewi Sri adalah pelindung bagi para petani. Mitos tentang Nyi Lara Kidul mengalami pergeseran arti atau makna. Nyi Lara Kidul bukan sebagai tokoh yang ditakuti atau yang selalu minta “korban” apabila orang berada di laut Selatan. Bagi masyarakat nelayan Sendang Biru, Nyi Lara Kidul adalah pelindung para nelayan, melindungi dari mara bahaya ketika para nelayan melaut, bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Dengan demikian ritual Petik Laut memiliki simbol tertentu, dan Nyi Lara Kidul merupakan simbol sentral pada Petik Laut. Simbol –simbol itu diwujudkan melalui pemberian sesuatu (sesaji) kepada Penguasa Laut dengan melarung sesaji tersebut. Sesaji tersebut berupa gunungan, yaitu panen hasil bumi yang disusun sedemikian rupa menyerupai gunung, dan boneka sepasang pengantin, makanan dan buah-buahan. Semua sesaji tersebut diletakkan pada getek (sampan) yang kemudian diletakkan pada kapal yang siap untuk melarungkan getek ke tengah laut. Simbol Petik Laut yaitu Nyi Lara Kidul diartikan sebagai ibu yang mengayomi keluarga nelayan dalam kesehariannya bekerja sebagai nelayan. Oleh karenanya keluarga nelayan disimbolkan sebagai sepasang pengantin, bahkan dalam proses ritual Petik Laut didahului dengan prosesi sepasang pengantin yang mengenakan baju pengantin Jawa.

Simbol-simbol Petik Laut mengisyaratkan bahwa di balik simbol terdapat arti atau makna yang kadang-kadang memiliki multitafsir. Oleh karenanya awal pemaknaan diperoleh makna yang bersifat etimologis, seperti misalnya simbol gunungan yang diartikan sebagai persembahan kepada Nyi Lara Kidul dan simbol pengantin yang diartikan sebagai keluarga nelayan (laki-laki dan perempuan). Seperti yang dikutip dari pendapat Dillistone (1986:14-15), simbol adalah kata atau citra atau konstruksi yang umum dan dipahami oleh akal budi dan dianggap sebagai kebenaran dan bahwa simbol sebagai bagian dari keinginan manusia dalam mencapai cita-cita atau tujuan hidupnya.

Di dalam perkembangan serta kemajuan cara berpikir manusia, berkembang pula proses hubungan dalam melihat simbol. Simbol tidak hanya sekadar “tanda” saja tetapi menjadi sistem simbol yang sarat dengan tranformasi untuk menemukan kreatifitas dan bahkan menjadi simbol yang lebih komunikatif (Meliono-Budianto, 2004:26).

Oleh karenanya, dari makna yang sifatnya literal atau harafiah, maka dapat ditarik pula makna yang lebih mendalam atau secondary meaning serta figuratif dan itu hanya akan terjadi apabila ‘menembus” makna pertama. Hal ini sejalan dengan pendapat Ricoeur bahwa ekspresi simbol selalu bermakna ganda dalam kajian hermeneutik (Ricoeur, 1988: 12).

Simbol gunungan dan simbol pengantin pada Petik Laut memiliki pula makna yang mendalam (secondary meaning) yaitu pengharapan akan kebahagiaan bagi kehidupan para nelayan dalam melaut (untuk simbol gunungan) sedang simbol pengantin memiliki makna akan perlindungan terhadap umat manusia khususnya para nelayan dan keluarganya dalam menjalani kehidupan ini.

Nyi Lara Kidul menjadi perantara atau media bagi masyarakat nelayan Sendang Biru dalam menjalani dinamika kehidupan melaut yang kadangkala tidak menentu dan hal itu diwujudkan dalam ritual Petik Laut. Menjaga agar Nyi Lara Kidul tidak “marah” maka ritual Petik Laut harus diadakan setiap tahun (tanggal 27 September) oleh masyarakat Sendang Biru dan perairan Sendang Biru harus dijaga dan dirawat agar perairan itu tetap terjaga lingkungan dan menjadi tempat “berkumpulnya” sumber daya ikan yang melimpah. Ritual Petik laut dengan mitos Nyi Lara Kidul telah memiliki makna lain yaitu konservasi lingkungan.


Referensi:
Cahyono, Dwi. (2007). Malang, Yogyakarta:Aditya Media:2007
Kusnadi. 2000. Nelayan strategi adaptasi dan jaringan sosial, Bandung:HUP
Ricoeur, paul (1988). The Conflict of Interpretation,essays in hermeneutics, cet ke 6, edited by Don Ihde, USA; North Weatern University Press.
Meliono-Budianto, Irmayanti (2004). Ideologi Budaya, Jakarta: Kota Kita.
Peursen, C.A. van.(1988). Strategi Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius.

Inilah sejarah penemuan planet neptunus

Planet neptunus
Dari Matahari, Neptunus menempati urutan planet kedelapan. Planet ini ditemukan oleh Johann Gotfried Galle pada tanggal 23 September 1846. Johann Gotfried Galle adalah asisten kepala pada Observatorium Berlin. Galle mengarahkan teleskopnya ke posisi langit seperti yang disarankan oleh perhitungan John Couch Adams dan Joseph Leverrier dan mendapati Saturnus berada sangat dekat dengan posisi yang diperkirakan Leverrier.

Penemuan planet kedelapan ini dimungkinkan karena Observatorium Berlin baru menerima peta baru dan lengkap tentang bintang-bintang dalam daerah langit itu. Pemberian nama Neptunus mengikuti nama dewa laut Romawi, dipersamakan dengan dewa Yunani Poseidon.

Dalam penemuan Neptunus ini, terdapat perselisihan yang kurang menyenangkan. Akhirnya telah disetujui bahwa Adams dan Leverrier pantas menerima penghargaan yang sama atas perhitungan yang mengarah pada penemuan Neptunus. Bagi Galle, dia mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang mengenali planet itu di langit.

Data Neptunus
Neptunus berupa bola gas raksasa yang sangat mirip dengan Uranus. Planet yang berjarak 4.500 juta km ini mempunyai diameter 49.500 km dan massanya 17,2 kali massa Bumi. Jika Neptunus adalah sebuah rongga kosong, maka dapat menampung 60 Bumi.

Neptunus memerlukan waktu selama 17 jam 6 menit untuk satu kali rotasi. Waktu yang diperlukan untuk mengelilingi Matahari adalah 165 tahun Bumi. Neptunus masuk dalam kelompok planet besar. Seperti Uranus, Neptunus berbentuk sebuah cakram kehijau-hijauan yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Menggunakan teleskop, bentuk cakram tersebut dapat terlihat jelas. 

Neptunus merupakan planet yang sangat dingin dan tempat berangin dengan awan yang sangat menarik. Suhu di permukaan sekitar -190 derajat C. Planet ini mempunyai kerapatan rata-rata 1,64 g/cm3.

Bagian-bagian Neptunus
Atmosfer Neptunus mirip dengan Uranus. Atmosfer Neptunus terutama terdiri atas 85% hidrogen, 13% helium, dan 2% metana. Di bagian mantel terdapat air, amonia, dan metana dalam bentuk es atau padat. Bagian paling dalam Neptunus adalah inti yang padat dan keras kira-kira sebesar ukuran Bumi.

Berdasarkan kerapatan rata-rata yang dimilikinya, dan perbandingan inti dengan ukuran planet, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penyusun Neptunus berupa gas.


Panas di dalam, dingin di luar
Meskipun permukaan Neptunus sangat dingin, tetapi bagian dalam planet sangat panas. Neptunus menerima panas dari Matahari dan hanya sedikit dari panas tersebut yang dilepaskan.

Neptunus berotasi dengan sangat cepat. Rotasi ini menyebabkan angin di permukaan planet bertiup kencang. Tiupan angin yang sangat kencang ini menghasilkan awan yang sangat menarik 


Mengapa Neptunus berwarna biru
Neptunus nampak berwarna biru indah. Warna biru ini disebabkan karena atmosfer Neptunus mengandung gas metana. Gas metana menyerap warna merah dari sinar Matahari dan memantulkannya sebagai warna biru.

Satelit-satelit alam Neptunus
Neptunus memiliki 13 satelit alam. Menggunakan teleskop, kita dapat melihat dua satelit alam yang mengelilingi Neptunus, yaitu Nereid dan Triton. Enam satelit alam lainnya ditemukan oleh Voyager 2 saat melakukan kunjungan ke planet itu.

Triton merupakan satelit alam terbesar yang dimiliki oleh Neptunus. Lassell menemukan triton beberapa minggu setelah penemuan Neptunus. Triton mempunyai ukuran sedikit lebih besar dari Satelit alam. Arah gerak Triton mengelilingi Neptunus adalah dari timur ke barat, berlawanan dengan arah rotasi Neptunus. Oleh karena itu gerak Triton disebut gerak mundur. Orbit Triton condong 40 derajat terhadap orbit Neptunus.

Voyager 2 menemukan bahwa Triton mempunyai atmosfer, terutama tersusun oleh nitrogen dan mengandung sedikit metana. Suhu permukaan Triton mencapai -235 derajat C. Nereid ditemukan oleh Kuipe, yang juga merupakan penemu satelit alam Miranda. Ukurannya jauh lebih kecil daripada Triton. Nereid bergerak mengelilingi Neptunus dari barat ke timur dan condong sekitar 5 derajat terhadap ekliptika. Proteus merupakan satelit alam yang sangat gelap dan bentuknya tidak beraturan. Proteus mempunyai diameter 418 km (436 x 416 x 402). Dari ukurannya, diketahui bahwa Proteus merupakan satelit alam terbesar kedua yang mengelilingi Neptunus. Seperti Proteus, Larissa mempunyai bentuk yang tidak teratur. Diameternya 193 km (208 x 178). Naiad, Thalassa, Despina, dan Galatea juga mempunyai bnetuk yang tidak teratur.

GDS adalah bintik gelap yang muncul di atmosfer Neptunus. Bintik gelap ini merupakan badai besar di atmosfer yang kecepatan berputarnya lebih cepat daripada badai yang terjadi di Bumi. lembaran awan putih yang memisahkan antara daerah gelap dan daerah berwarna biru pada bintik gelap. Bentuk spiral yang terlihat pada kedua daerah itu menunjukkan perputaran badai yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Kunjungan Voyager 2
Neptunus baru dikunjungi oleh satu pesawat ruang angkasa, yaitu Voyager 2 pada tanggal 25 Agustus 1989. Pesawat ruang angkasa yang diluncurkan pada tanggal 20 Agustus 1977 ini melintas sekitar 5.000 km di atas puncak awan Neptunus.

Cincin Neptunus
Sejak tahun 1984, ahli astronomi telah menduga adanya cincin pada Neptunus. Dugaan itu terbukti setelah pesawat ruang angkasa Voyager 2 berhasil mendekati Neptunus. Dari hasil pengamatan, dapat dipastikan Neptunus mempunyai sedikitnya 3 cincin.

Kamis, 29 Juni 2017

Investigasi & pandangan kuno planet mars

Planet mars

Planet Mars adalah planet luar yang paling dekat dengan Bumi. Pada malam hari kadang kita melihat sebuah ”bintang” cemerlang yang bercahaya kemerahan. Itulah Mars atau planet merah. Namanya berasal dari nama dewa perang Romawi. Planet ini memiliki diameter kira-kira 6.800 km atau sekitar setengah diameter Bumi. Masa rotasi Mars adalah 24 jam 37 menit dan masa revolusinya 687 hari. Mars memiliki dua buah satelit, yaitu Deimos dan Phobos, temperaturnya lebih rendah dibandingkan dengan temperatur di Bumi. Meskipun begitu, planet mars diduga memiliki kehidupan dan misteri lainnya.

Investigasi

Sejarah penelitian planet Mars
Pada saat rakyat Indonesia masih disibukkan oleh peperangan di daerah-daerah melawan penjajah, jauh di negeri seberang para peneliti telah peduli untuk mengungkap rahasia ilmu pengetahuan alam khususnya ilmu antariksa.  Seperti halnya fenomena alam dari penampakan wajah planet Mars pada jarak dekat menjadi satu semangat bagi para astronomer sebagai bahan penelitian. 

Hal ini sudah dirintis beberapa abad yang lalu tepatnya awal abad 17. Pada awal abad 17, Galileo merancang teleskop pertama untuk penelitian Mars. Beberapa tahun kemudian, tahun 1636 ilmuwan Italia bernama Fransisco Fontana membuat sket permukaan Martian (nama lain planet Mars) kemudian diperbaiki oleh fisikawan Jerman Christian Huygens, oktober 1659.

Pada tahun 1666 G.D. Cassini dkk. menentukan periode rotasi Mars mendekati 24 jam dengan mengamati obyek permukaan Martian. Sesungguhnya rotasi Mars lebih lambat dibanding rotasi Bumi yaitu : 24 jam, 37 menit, 23 detik (=1 hari di planet Mars). Pada awal abad 18 (tahun 1719),

Giacomo Mar aid i membuat perubahan catatan tentang Mars dengan menemukan awan dan daerah gelab di sekitar kutub. Astronomer berkebangsaan Inggris, Willian Herschel menyatakan bahwa pita hitam di sekitar kutub disebabkan oleh peleburan es dan salju. Peta global pertama dari Mars dibuat tahun 1869 (Kaufmann J. W., 1978) oleh dua astronomer Jerman, Wilhelm Beer dan Johann Madler,   Hasil sket ini dibuat berwarna pertama kali oleh Pietro Angelo Secchi, tahun 1869.


Misi Viking ke planet mars
Minat, kemampuan teknologi serta dana yang tersedia membuat suatu titik kecil di benua Amerika menjadi pusat perhatian orang. Jelasnya, pusat ruang angkasa John Kennedy Cape Canaveral di Miami Amerika Serikat. Tumpunan dan harapan diletakkan pada puncak 70 ahli dan ribuan teknisi yang ada di sana. Planet Mars, planet yang menarik perhatian planet yang menjadi objek dalam proyek Viking.

Suatu misi dan diharapkan kemudian mendarat di planet Mars, merupakan era baru bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Kedua pesawat selain membawa kamera lapangan dan peralatan ilmiah lainnya (diantaranya, alat peramal cuaca dan alat pencatat gempa), juga dilengkapi dengan seperangkat alat pencari kehidupan. Masalah utama yang diemban oleh misi ini adalah menyelidiki dan mengamati fenomena fisik atau pun kimia yang terjadi di sana.

Dari kedua gejala alamiah ini, ahli biologi mencoba menelusuri jejak-jejak kehidupan yang terjadi di sana, bentuknya tidak menjadi persoalan dan ber"mimpi" namanya, kalau kita mengharapkan bahwa di sana terdapat makhluk-makhluk seperti manusia di Bumi. Komposisi udaranya saja sudah tidak memungkinkan kita untuk tinggal di sana. Pengamatan dari Bumi, dengan bantuan teropong dan analisa spektral telah dapat ditentukan gas apa yang terdapat di sana. Karbondioksida adalah unsur yang dominan di atmosfer Mars. Kita hanya cocok menggunakan oksigen sebagai konsumsi sehari-hari.

Sepuluh tahun sebelum Viking diluncurkan, Marinir 4 sudah mengamati planet Mars, pesawat ini berhasil mendekati permukaannya pada tahun 1965. Apa yang dilihatnya mensirnakan segala kesan yang spektakuler tentang planet ini. Gambar yang dikirimkannya, begitu mengecilkan hati dan "mematikan" interpretasi kuno. Permukaan tandus dan kawah-kawah yang berserak di sana-sini, tak ubahnya seperti permukaan bulan, terlihat jelas menyelubungi permukaan planet.

Misi ini kemudian diikuti oleh Marinir 5, 6, dan 7 pada tahun 1969, ketiganya memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda dari data-data yang dikirimkan oleh Marinir 4. Pada tahun 1971, Mars dikunjungi lagi oleh Marinir 9, ada kemajuan baru dalam misi ini ternyata proses geologi dan meteorologi masih aktif di sana, mungkin juga biologi. Melihat kemungkinan ini Amerika Serikat mulai bersiap-siap untuk mendarat Viking di sana.

Pandangan kuno tentang planet Mars
Planet merah Mars, sejak zaman dulu telah menarik perhatian orang, pengembara di padang pasir, atau pun nelayan di tengah lautan, orang-orang Yunani kuno melihatnya sebagai suatu hal yang berhubungan dengan kekerasan. Merah Mars lambang peperangan.

Penemuan teleskop pada abad ke 17 membuat orang yang hidup pada zaman itu, berfikir lebih maju. Dari konsep mitologi, mereka kemudian mencoba memformulasikan, dengan data dan pengamatan yang lebih teliti dan teratur. Mars, bila diamati dengan teropong, memperlihatkan warna yang berubah-ubah; topi putih menyelubungi daerah kutubnya, pada suatu saat membesar dan pada kesempatan lain menjadi lebih kecil. Es di daerah kutub itu, bukan berasal dari air yang membeku, tetapi CO2 yang telah menjadi es.

Dari fenomena ini, kita telah dapat menaksir betapa rendahnya temperatur di sana. Hal lain yang menarik ialah perubahan warna pada permukaannya, yang berlangsung secara periodik. Orang mencoba menghubungkan perubahan warna ini dengan gejala biologis yang sedang berlangsung di sana, lumut atau pun sejenis padang tundra seperti yang terdapat di Siberia, menyebabkan perubahan ini. Demikian konsep pada saat itu.

Kesan yang diperhatikan oleh planet merah tersebut, menggugah perasaan orang astronom Amerika, yang bernama Percival Lowell, untuk mengetahui lebih jauh tentang Mars. Pada tahun 1894, sebuah observatorium khusus untuk mempelajari planet merah ini, didirikan oleh beliau di Arizona Amerika Serikat. Pada saat ia mengarahkan teropongnya, terlihat jaring-jaring geometris, yang menutupi permukaan, berawal dari daerah kutub dan bermuara ke equator planet. Begitu teraturnya jalur tersebut, seolah-olah merupakan kanal yang dibuat, untuk mengalirkan air dari tempat yang lebih tinggi ke bagian lain yang lebih rendah, karya teknologi produk makhluk berintelegen tinggi. Keseluruhan konsep bahkan masih dipercaya orang sampai penghujung tahun 1963.


Referensi:
David Baker., 1977, Space Flight, 19, 109, 1977
Kelly  Beatty. J., 1976, Sky and Telescope, 52, 156
Robert Sheaffer., 1975, Space Flight, 17, No 12, 421

Rabu, 28 Juni 2017

Mitos & kepercayaan pada kehidupan manusia

Mitos dan kekinian dalam kehidupan
Bagi masyarakat tradisional, alam dan segala materinya baik makhluk hidup, benda mati, dan segala energi yang ada adalah semesta dunia religi mereka. Dalam konstruksi batin yang demikian, maka kerap kali terdapat kepercayaan bahwa sesuatu yang terdapat di alam adalah perpanjangan tangan Dewa-dewa, Roh leluhur, atau Sang Maha Kuasa. Sehingga segala bentuk aktivitas religi masyarakat tradisional begitu dekat dengan lingkungan alamnya. Biasanya, konsepsi kepercayaan tersebut mereka rangkumkan dalam sebuah inskripsi, pustaha, atau pembukuan tradisionil lainnya, bahkan hanya tradisi lisan saja yang bekerja dalam pewarisan khasanah kebatinan mereka. Dalam konsepsi kebatinan masyarakat tradisional seringkali hadir mitos-mitos tentang asal mula kehidupan, penciptaan manusia pertama, hukum karma, ajaran moral kehidupan, mesianisme, dewa-dewi kehidupan, Hari Penghabisan, hingga adanya negeri impian, ideal atau surga pasca kehidupan di dunia.

Mitos dan kekinian dalam kehidupan manusia
Bagi masyarakat tradisional, yang disebut sebagai manusia religius arkhais oleh Mircia Eliade, mitos merupakan dasar kehidupan sosial dan kebudayaannya yang mengungkapkan cara beradanya di dunia ini. Mitos merupakan realitas kultural yang kompleks dan karena itu sulit untuk memberikan batasan-batasan yang definitif terhadap mitos. Eliade memandang mitos sebagai usaha manusia arkhais untuk melukiskan lintasan yang supra-natural ke dalam dunia dan memiliki makna yang esensial. Sehingga mitos menjadi suatu kebenaran yang pasti dan menetapkan kebenaran absolute yang tak bisa diganggu gugat. Dalam hal ini akan dibicarakan mitos kosmogoni yang jelas selalu ada dalam seluruh segi kehidupan, sebagai contoh soal untuk mempermudah sebuah pemahaman tentang mitos dan kekinian.

Mitos kosmogoni mengisahkan terjadinya alam semesta secara keseluruhan, dan merupakan contoh model yang paling utama dari segala macam bentuk penciptaan dan pembangunan (dunia). Bagi manusia religius, istilah dunia tidak mencakup seluruh alam raya sebagaimana dimengerti oleh ilmu zaman sekarang, melainkan terbatas pada pengertian dunia kita yaitu dunia yang sudah dikenal, yang dihuni atau didiami, yang teratur dan berbentuk sebagai kosmos. Sedangkan segala sesuatu di luar wilayah itu masih merupakan dunia lain, dunia yang kacau atau khaos. Namun daerah yang termasuk khaos dapat dijadikan daerah kosmos, dengan jalan menduduki dan menjadikannya tempat tinggal. Dunia yang akan didiami atau diduduki pertama-tama haruslah diciptakan kembali. Penciptaan tersebut membutuhkan contoh model sebagai tindakan yang harus dilakukan untuk menjamin kesuksesannya, yaitu dengan peniruan dan peragaan kembali kosmogoni (penciptaan semesta alam oleh para „dewa‟). 

Oleh karena itu, dunia yang akan menjadi daerah baru dan akan diduduki perlu disucikan dan diciptakan, dari khaos menjadi kosmos dengan suatu upacara religius, agar tempat tersebut menjadi kawasan suci secara dominan dan merupakan simbolisme kota suci atau pusat dunia, teori geomantik sebagai ritus konstruksi mengatur pondasi kota, konsep yang membenarkan ritus menyertai bangunannya. Objek atau tindakan yang menjadi real hanya sejauh hal itu meniru atau mengulangi arketipe. Dengan demikian, realitas itu diperoleh hanya melalui pengulangan atau partisipasi; segala sesuatu yang tidak memiliki model yang ditiru itu “tidak bermakna”: dalam keadaan “menjadi”, sehingga tidak memiliki realitas dan manusia berkecenderungan untuk menjadi arketipis dan paradigmatik. 

Dalam kasus ini, Plato dapat dipandang sebagai pemikir yang berhasil memberikan nilai dan validitas filosofis bagi cara hidup dan perilaku manusia kuno. Dengan mengakui struktur Platonik pada ontologi kuno itu, yang penting adalah pembebasan waktu profane dan proyeksi individu di dalam waktu mistik tentunya tidak terjadi kecuali pada periode yang esensial, yaitu periode ketika individu benar-benar merupakan dirinya sendiri. Hegel menyatakan bahwa di dalam alam segala sesuatu mengulangi dirinya sendiri untuk selama-lamanya dan bahwa “tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari ini”. Namun pengulangan ini memiliki makna yang semata-mata memberikan realitas atas peristiwa; peristiwa mengulangi dirinya sendiri karena peristiwa tersebut meniru arketipe. 

Pada hakikatnya, kehidupan manusia, dari sekian banyak suku bangsa dengan etnik tertentu dan kebudayaannya masing-masing di Indonesia, masih mengikuti pertumbuhan dan perkembangan dari suku bangsanya sendiri, Jawa misalnya. Kehidupan orang Jawa di mana pun ia berada, akan membawa kekhasan Jawanya, baik dari segi bahasa, sikap, pandangan, dan tindakannya dalam bertingkah laku mengikuti mitos-mitos dan pola-pola yang tumbuh dan berkembang dalam kebudayaannya. Kalau pun terdapat sebuah pengecualian, adanya asimilasi atau alkulturasi misalnya, tidak akan mengubah 100 % kesejatian yang telah mengakar dalam kehidupannya. Dengan demikian, mitos akan terus tetap ada selama kehidupan itu masih berlangsung.

Meskipun dalam kehidupan manusia modern dicirikan oleh ketidakpercayaan akan mitos-mitos, namun di lain pihak, manusia modern masih membutuhkan mitos-mitos dan kenyataannya dalam masyarakat modern sekarang ini masih terdapat sisa-sisa sikap mitologis. Hanya saja di luar kesadarannya; manusia modern sesungguhnya telah mengalami dan menerima transformasi informasi yang diberikan secara turun menurun tentang segala aspek yang seharusnya dilaksanakan dalam seluruh segi kehidupan di dunia ini, baik berdasarkan agama yang dianut oleh keluarganya, adat istiadat, pranata, tradisi, maupun nilai-nilai atau norma-norma yang berkembang di dalam masyarakatnya. 

Namun karena merasa tidak memperoleh kebebasan bertindak dan bertingkah laku dalam menjalani kehidupan, maka manusia modern „seolah‟ menciptakan dunia baru, di luar dunia yang dianggap sebagai mitos. Oleh karena itu, dalam masyarakat modern, mitos cenderung merosot menjadi legenda, epos, dan balada atau roman. Padahal bila kita amati tindakan atau tingkah laku yang dijalankan manusia modern, mereka secara tidak langsung mengikuti apa-apa yang telah terbentuk dalam masyarakatnya. Dengan kata lain, tindakan manusia modern memiliki kecenderungan melakukan apa yang dikatakan orang lain dari orang-orang yang terdahulu atau segala sesuatu yang berkembang dari budaya yang melingkupinya, dalam selamatan kelahiran, perkawinan, dan kematian misalnya. 

Berarti kesemuanya merupakan tindakan dan tingkah laku budaya dari masa lalu. Apa-apa yang dilaksanakan berdasarkan dari masa lalu itulah yang disebut mitos. Walaupun di lain pihak, hal itu dinyatakan sebagai sesuatu yang mentradisi, tetapi dari tindakan tradisi yang terus berlangsung tersebut nyata terlihat di dalamnya sebagai tindakan yang terpola sebagai pengulangan kosmogonik. Apapun yang dilakukan oleh manusia telah dilakukan oleh manusia sebelumnya. Hidupnya merupakan pengulangan yang terus-menerus atas sikap yang diawali oleh orang lain.

Memang mitologi manusia arkhais sedikit demi sedikit akhirnya mengalami desakralisasi. Namun sebagai ganti mitologi kudus tersebut, manusia modern mempunyai mitos-mitos sekular dan mitos-mitos politik. Menurut Eliade, pergeseran mitologi itu terjadi karena pengaruh-pengaruh pemikiran yang rasionalistis. Meskipun demikian, mitos-mitos sekular yang baru itu mempunyai fungsi asasi yang sama seperti mitos dalam masyarakat arkhais, sekalipun mungkin mempunyai makna-makna yang berbeda. Kini jika kita perhatikan lebih seksama, dalam semua konsep kosmiko-mitologis terjadi gerakan kembali yang abadi. Di sini ditemukan motif pengulangan isyarat arketipe, yang diproyeksikan pada seluruh bidang kosmik, biologis, historis, dan manusia, serta struktur waktu siklis, yang diregenerasikan pada setiap “kelahiran baru” pada bidang apa pun. 

Eliade mengungkapkan bahwa gerakan kembali yang abadi ini mengungkapkan ontologi yang tidak terkontaminasi oleh waktu dan menjadi (becoming). Segala sesuatu mulai dan mulai lagi pada permulaannya, pada setiap saat. Masa lampau tidak lain merupakan prefigurasi bagi masa depan. Walaupun tidak ada kejadian yang tidak dapat diubah, namun tidak ada transformasi yang bersifat final. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada sesuatu yang baru yang terjadi di dunia, karena segala sesuatu tidak lain merupakan pengulangan atas arketipe primordial yang sama. Waktu tidak memiliki pengaruh akhir pada eksistensi waktu itu sendiri, karena waktu terus-menerus mengalami regenerasi.

Eliade pun menggambarkan bahwa dalam kehidupan manusia religius mengenal tiga dunia, yaitu pertama dunia atas: dunia ilahi, surga, tempat para dewa, para pahlawan, dan nenek moyang; kedua, dunia yang didiami manusia; dan ketiga, dunia bawah: dunia kematian. Pola kehidupan tersebut hingga saat ini ternyata masih ada. Dalam kehidupan masyarakat Jawa misalnya, juga dikenal pola konsep tiga dunia tersebut, yakni alam wasana, madya, purwa. Dalam kehidupan Islam dikenal dengan baitul makmur, baitul mukharam, baitul muqaddas. Dan kemungkinan besar pola semacam itu terdapat pula dalam kehidupan masyarakat-masyarakat lain, tentunya diperlukan penelitian lebih lanjut. 

Pada dasarnya, Eliade mengungkapkan bahwa ketiga dunia itu membentuk tiga lapisan yang dihubungkan oleh satu poros yang disebut axis mundi. Poros dunia ini sering dilambangkan dengan tiang, tangga, pohon, dan gunung. Melalui axis mundi ini manusia religius dapat mengadakan hubungan dengan dunia atas dan dunia bawah. Karena hubungan antara ketiga dunia itu terletak pada pusat dunia, maka dunia yang sejati selalu terdapat pada pusat dunia. Dengan demikian, pusat itu merupakan zona suci, zona realitas mutlak.

Sama halnya dengan semua simbol yang lain tentang realitas mutlak (pohon kehidupan dan keabadian, Sumber Remaja, dan sebagainya) ditempatkan sebagai pusat. Jalan yang mengarah pada pusat merupakan “jalan yang sulit”, dan hal ini diverifikasikan pada setiap tingkat realitas: lilitan yang sulit dari sebuah candi (seperti pada Borobudur); ziarah ke tempat suci (Mekkah, Hardwar, Jerusalem); petualangan yang berbahaya pada ekspedisi heroik dalam mencari Rampasan Emas, Apel Emas, Jamu Hidup; petualangan dalam labirin; kesulitan pencari jalan menuju diri, menuju “pusat” keberadaannya, dan sebagainya. Jalan tersebut sulit, penuh dengan bahaya, dalam kenyataannya merupakan ritus perjalanan dari yang profan ke yang sakral, dari yang sementara dan khayal menuju realitas dan keabadian, dari kematian menuju kehidupan, dari manusia menuju ilahi. Pencapaian pusat itu ekuivalen dengan pentahbisan, inisiasi; eksistensi yang profan dan khayal kemarin memberi tempat pada yang baru, pada hidup yang nyata, abadi, dan efektif. 

Jika aksi Penciptaan mewujudkan jalan dari yang tidak berwujud menuju yang berwujud, atau menurut bahasa kosmologis, dari khaos (kekacauan) menuju kosmos (keteraturan); jika Penciptaan berlangsung dari pusat; jika, akibatnya, segala macam yang ada, dari yang tidak hidup hingga yang hidup, dapat mencapai eksistensi hanya dalam kawasan yang suci secara dominan semua keterangan yang indah ini bagi kita merupakan simbolisme kota suci (pusat dunia), teori geomantik yang mengatur pondasi kota, konsep yang membenarkan ritus yang menyertai bangunannya. Kita mempelajari ritus konstruksi ini, dan teori yang diimplikasikan, dalam karya sebelumnya. Kita dapat mempelajari pada apa yang ditekankan oleh Eliade pada dua proposisi yang penting, yaitu: 1) setiap ciptaan mengulangi aksi kosmogonis yang lebih tinggi (pre-eminent), Penciptaan dunia; 2) akibatnya, apa pun yang didirikan fondasinya berada di pusat dunia (karena, seperti yang kita ketahui, Penciptaan itu sendiri berlangsung dari pusat).

Guna meneguhkan realitas dan pengabadian konstruksi, pada dasarnya terjadi pengulangan aksi ilahi tentang konstruksi yang sempurna: Penciptaan dunia dan manusia. Sebagai langkah pertama, “realitas” situs yang dilindungi melalui pentasbihan bumi, ialah melalui transformasinya ke dalam pusat; kemudian validitas aksi konstruksi dikonfirmasikan melalui pengulangan pengorbanan ilahi. Secara hakiki, pentasbihan pusat terjadi di dalam ruang yang secara kualitatif berbeda dengan ruang profan, melalui paradoks ritus, setiap ruang yang ditasbihkan sama persis dengan pusat dunia, sebagaimana halnya dengan waktu ritual itu sama persis dengan waktu mitis, bila pendasaran dunia terjadi. 

Dengan demikian ralitas dan keabadian konstruksi dijamin bukan hanya oleh transformasi ruang profan menjadi ruang transenden (pusat), melainkan juga oleh transformasi waktu konkret menjadi waktu mitis. Ritual dalam bentuk apa pun tersingkap bukan hanya dalam ruang yang ditasbihkan. Candi Borobudur misalnya, merupakan citra kosmos dan dibangun seperti gunung buatan. Dengan mendakinya, peziarah mendekati pusat dunia, dan di terasnya yang paling tinggi perubahan dari satu taraf ke taraf yang lain, melampaui yang profan, ruang heterogen dan memasuki “wilayah suci” berbagai kota dan tempat suci diasimilasikan dengan puncak gunung kosmik. Di luar prototipe mitis bagi semua kegiatan manusia pun mengalami hal serupa. Dalam kenyataan tentang keadilan manusia misalnya, yang didasarkan atas ide tentang “hukum”, memiliki model selestial dan transenden di dalam norma kosmik (tao, artha, rta, tzedek, themis, dan lain-lain), juga sangat kita kenal sehingga harus dipertahankan. “Karya seni manusia merupakan tiruan karya seni ilahi” (Aitareya Brahmana, VI, 27), juga merupakan leitmotiv estetika kuno.

Yang ditekankan di sini adalah struktur kosmogonik. Pada dasarnya hingga kini semua itu masih berlangsung, mitos dan kekinian pun masih terus bergerak mengikuti perkembangan zaman dan tetap mengarah pada pandangan tentang simbolisme pusat. Di mana ritual konstruksi juga mengasumsikan peniruan yang kurang lebih eksplisit atas aksi komogonik. Telah kita lihat bahwa semua ritual meniru arketipe ilahiah dan senantiasa reaktualisasinya yang terus-menerus berlangsung dalam saat mitis atemporal yang sama. Simbolisme Tahun Baru misalnya, mengandung motif pembaruan bagi setiap manusia. Meskipun fungsi eskatologis Tahun Baru (pembebasan masa lampau dan pengulangan Penciptaan) tidak dinyatakan secara eksplisit, namun dapat diasumsikan bahwa Tahun yang telah dilampaui manusia sebagai sebuah “kematian”, dan Tahun Baru merupakan “kebangkitan kembali”, “kelahiran baru” “manusia baru” atau “kehidupan”. 

Kematian dan kehidupan dan atau kehidupan dan kematian selalu beriringan mengikuti pola kosmogonik. Dan hal itu masih dilakukan terus-menerus pada masyarakat modern sebagai perayaan akhir dan awal tahun. Setiap penghancuran, pasti diikuti dengan penciptaan kembali, kematian dan kehidupan baru. Penghancuran dan penciptaan dunia kembali ini masih terus berlangsung mengikuti pola kosmogoni, yaitu kembali pada keadaan khaos dan kemudian diikuti dengan penciptaan kembali. Dunia baru yang terjadi sesudahnya itu merupakan dunia yang murni, segar dan penuh daya. Dengan kata lain, seperti dunia yang baru diciptakan untuk pertama kalinya.

Oleh karena itu, menurut Eliade mitos bukan hanya merupakan pemikiran intelektual dan bukan pula hasil logika, tetapi terlebih merupakan orientasi spiritual dan mental untuk berhubungan dengan yang ilahi. Bagi masyarakat arkhais, mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga, karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. Mitos menceritakan suatu sejarah kudus yang terjadi pada waktu primordial, pada awal-mula. Mitos menceritakann bagaimana suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan makhluk supra-natural. Mitos selalu menyangkut suatu penciptaan. 

Dan mitos dianggap sebagai jaminan eksistensi dunia dan manusia. Dalam perkembangannya kemudian, ternyata struktur mitos dan ritus tetap tidak berubah. Di dunia modern, Tahun Baru masih menyimpan wibawa akhir masa lampau dan permulaan yang segar bagi hidup yang baru, dan seluruh manusia di belahan bumi mana pun masih mengalami hal ini. Dengan atau tanpa kesadaran, perlakuan terhadap perayaan Tahun Baru tersebut merupakan pola struktur kosmogonik. Dan akhirnya dapat dinyatakan bahwa mitos menjadi contoh model bagi semua kegiatan manusia yang bermakna hingga saat ini.


Sumber Referensi:
MIRCEA ELIADE

Selasa, 27 Juni 2017

Inilah asal-usul & fakta menarik permen karet

Permen karet
Mengapa permen karet tidak habis meskipun dikunyah berjam-jam lamanya? Hal ini dikarenakan zat karet yang disebut basis gusi. Asal-usul permen karet modern dapat ditemukan dalam resin pohon yang digantikan oleh lilin parafin untuk sementara. Kemudian datang chicle, jenis getah dari pohon sawo Meksiko dan Amerika Tengah. Chicle akhirnya digantikan dengan bahan sintetis yang lebih murah. 

Selain rasa alami dan buatan ke dalam permen karet, minyak nabati yang membuat permen karet lebih lembut, serta gliserin yang menjaga kelembaban permen karet. Pewarna dan pengawet menemukan jalan mereka ke dalam permen karet, dan gula, mint, atau perasa lainnya menambah selera dengan tekstur kenyal. Permen karet bebas gula menggunakan pemanis seperti aspartam. Xylitol, manitol, sorbitol dan adalah gula alami yang sering digunakan dalam "gula" gusi karena mereka tidak bisa dipecah oleh bakteri di mulut kita. Jika mereka tidak bisa dipecah, mereka tidak dapat membuat asam yang akan merusak gigi.

Fakta permen karet dalam kehidupan
Ketika Anda menelan permen karet, apakah yang akan terjadi pada tubuh? Perasa, pengawet, gula, dan kalori dicerna secara normal oleh tubuh. Meski tubuh kita tidak dapat memecah basis gusi dari permen karet, namun ini akan keluar dari tubuh pada kecepatan normal. Tidak seperti sifatnya yang menempel pada benda-benda, permen karet justru kehilangan daya lekatnya setelah masuk di tubuh. Jadi, menelan permen karet tidak akan menyebabkan penyumbatan pencernaan dan sembelit. Kecuali, jika Anda menelan terlalu banyak permen karet pada satu waktu. Apakah Permen Karet Memiliki Sisi Negatif? Jawabannya, tergantung bagaimana Anda memperlakukannya.

Terkadang, saking asiknya, seseorang sulit berhenti mengunyah permen karet. Lalu, rahang mereka menjadi sakit. Otot-otot rahang yang terlalu stres dapat memicu suatu kondisi yang dinamakan disfungsi sendi temporomandibular atau TMJ. Jika Anda mulai melihat ketegangan atau rasa sakit di rahang Anda, berhentilah mengunyah permen karet. Menghabiskan terlalu banyak waktu mengunyah juga bisa membuat Anda meneguk banyak udara. Udara tambahan tersebut menciptakan gas yang dapat menyebabkan sendawa dan perut kembung. 

Ketika Anda mengunyah permen karet, gula menempel pada gigi dan menyebabkan kerusakan gigi. Permen karet tanpa gula pun hadis sebagai jawaban atas kekhawatiran tersebut. Manfaat Apa yang Bisa Diperoleh dengan Mengunyah Permen Karet?Nenek moyang kita mengunyah getah karet untuk menangkis rasa haus, membersihkan gigi, dan menyegarkan napas. Sejak saat itu, mengunyah permen karet dipercaya dapat memuaskan dahaga atau menyegarkan mulut yang kering. Permen karet juga sangat berguna untuk meminimalisir tekanan pada telinga yang disebabkan perubahan ketinggian. 

Zat aditif yang terkandung dalam permen karet seperti ekstrak kulit magnolia dapat memerangi bau mulut yang disebabkan oleh bakteri. Kini produsen permen karet malah membuat terobosan yang dapat membantu mencegah gigi berlubang. Ketika kita mengunyah makanan kita, proses ini menghasilkan zat asam yang dapat mengikis enamel gigi. Dengan mengunyah permen karet tanpa gula selama setengah jam setelah makan, asam akan dibersihkan, melakukan perlindungan terhadap gigi dan mengurangi risiko sakit maag dari refluks asam.

Fakta manfaat permen karet yang mengandung xylitol

Xylitol adalah gula alternatif golongan polialkohol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk plak. Xylithol juga mampu mengurangi sintesa polisakarida ekstra seluler yang dapat mengakibatkan perlekatan bakteri plak. Mengunyah permen karet yang mengandung xylitol mulai banyak dilakukan di beberapa negara untuk melindungi gigi.

Permen karet yang mengandung xylitol dapat digunakan sebaga alat pembersih gigi dan gusi. Konsumsi karbohidrat yang tinggi pada anak-anak menyebabkan bakteri berkembang biak lebih cepat di dalam mulut. Bakteri menyebabkan suasana asam dalam mulut dan mempermudah terjadinya karies. Mengunyah permen karet yang mengandung xylitol akan mengurangi terjadinya demineralisasi akibat karbohidrat. (Susanto,2011).

Xylitol adalah gula alternatif golongan polialkohol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk plak. Xylithol juga mampu mengurangi sintesa polisakarida ekstra seluler yang dapat mengakibatkan perlengketan bakteri plak. Mengunyah permen karet yang mengandung xylitol dilakukan untuk mengurangi plak. Efeknya dalam mulut dapat mengurangi jumlah plak yang dilihat berdasarkan kerja bakteri terhadap xylitol untuk memproduksi asam, tidak seperti pada jenis gula lainnya (Donna Pratiwi,2009). 

Xylitol tidak menghasilkan asam sama sekali pada plak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa xylitol meningkatkan pH dan karenanya gula jenis ini dianggap sangat aman bagi gigi, meskipun adaptasi bakteri pada plak tetap masih mungkin terjadi.

Kandungan xylitol dalam permen sangat bermanfaat bagi orang yang mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Xylitol dapat mengurangi gigi berlubang, plak, dan dengan sendirinya akan menghambat perkembangan bakteri streptococcus mutans.


Referensi:
Susanto G, 2011. Terapi Untuk Kesehatan dan Kecantikan Gusi, Penerbit Erlangga.
Pratiwi D, 2009. Gigi Sehat Dan Cantik, PT. Kompas Media Nusantara, Jakarta.

Senin, 26 Juni 2017

Berhati-hati, ponsel bisa terkena kanker otak

Hubungan radiasi ponsel dengan penyakit kanker otak


Ponsesl atau handphone merupakan alat canggih yang dapat digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan mudah. Selain bisa mengobrol, ponsel pun dibekali dengan layanan SMS atau pesan singkat dan aplikasi-aplikasi yang lainnya yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dibalik kecanggihan ponsel ternyata ada dampak negatifnya pula, seperti radiasi elektromagnetik dari ponsel. Terutama yang diserang adalah kanker otak yang harus kita waspadai karena itu bom waktu dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa orang-orang sangat cuek atau tidak memperhatikan bahaya radiasi ponsel yang sewaktu-waktu bisa terkena. Gejalanya seperti kepala pusing karena menelepon terlalu lama. Biasanya orang-orang kalau tidur dekat dengan ponsel, itu pun sangat berbahaya. Maka dari itu, jauhkanlah ponsel kalau ingin tidur atau jangan terlalu dekat mungkin itu lebih baik.

Penelitian
Kemungkinan ponsel dapat menyebabkan kanker otak pertama kali muncul di tahun 1993, ketika David Perlmutter seorang dokter ahli saraf dari Florida melakukan observasi pasiennya dengan tumor otak di lokasi yang sesuai dengan tempat radiasi RF dari antena ponsel yang digunakan. Ia kemudian membuat hipotesis yang disiarkan melalui CNN (Cable News Network) pada acara Larry King’s Live Show, bahwa penggunaan ponsel merupakan penyebab tumor di otak pasiennya. 

Dasar dari hipotesis Perlmutter berasal dari studi yang dilakukan oleh Stephen Clery dari Virginia Medical College, Richmond, yang membuktikan bahwa terdapat proliferasi selsel tumor yang dibiak in vitro setelah terpajan pada radiasi radio frekuensi.

Pada saat itu para ilmuan berpendapat bahwa sinyal rendah yang dihasilkan ponsel tidak cukup kuat untuk dapat meningkatkan suhu jaringan biologis, sehingga tidak mungkin menyebabkan kelainan. Hasil temuan Perlmutter dan Cleary di tanggapi dengan skeptis karena Cleary tidak dapat menghitung besar tingkat pemanasan pada percobaannya sehingga hasilnya dianggap sebagai artefak atau gangguan yang tidak mempunyai arti.

Tanpa dukungan data biologis maka observasi Perlmutter dianggap oleh para ahli sebagai faktor kebetulan saja. Tetapi walaupun demikian observasinya menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat dan mengejutkan beberapa anggota Kongres Amerika Serikat sehingga perlu dilakukan penelitian selama 7 tahun dengan biaya sebesar US$ 27 juta dan dikenal sebagai program WTR (Wireless Technology Research).

Lai & Singh melaporkan bahwa tikus yang seluruh badannya terpajan dengan gelombang mikro 2 jam tiap hari yang sesuai intensitasnya dengan radiasi dari antena ponsel menunjukkan gangguan satu rantai DNA. Tahun berikutnya percobaan yang serupa mereka laporkan dan terdapat hasil berupa gangguan dua rantai DNA. Lai dan Singh mengadaptasikan percobaan in vitro satu sel ke dalam keadaan bioassay in vivo. Adaptasi ini masih belum di validasi pada laboratorium lain sehingga sulit untuk diinterpretasikan hasilnya. Selain itu percobaan seluruh badan jelas berbeda dengan radiasi pada daerah kepala yang terpajan radiasi RF antena ponsel.

Adanya masalah-masalah pada standarisasi temuan tersebut, maka dicari hubungan antara keterpajanan in vivo dan in vitro dalam kaitannya dengan akibat penggunaan ponsel. Usaha ini termasuk adaptasi untuk pemajanan pada pemanasan percobaan in vitro dan pemajanan daerah kepala pada binatang percobaan.

Repacholi melaporkan bahwa percobaan pada mencit transgenik yang rentan terhadap timbulnya limfoma yang terpajan RF pada seluruh badannya selama 1 jam setiap hari selama 18 bulan didapatkan 2 kali peningkatan terjadinya limfoma. Tetapi temuan ini di tanggapi dengan skeptis pula oleh para ilmuan karena tak jelas dosis RF yang diberikan dan sulit kaitannya pada manusia. 

Beberapa studi eksperimen yang dilakukan in vivo dan in vitro tentang potensi efek biologis dari sinyal ponsel masih sulit diterima oleh para ilmuan karena tidak adanya temuan yang jelas untuk menyimpulkan adanya hubungan antara ponsel dengan kanker otak.

Bermacam-macam teknologi semakin canggih, tapi dibalik kecanggihan itu ada efek negatifnya seperti radiasi elektromagnetik. Untuk mencegah radiasi yang paling efektif salah satunya adalah membuat orgonite. Jadi, pesan saya buatlah orgonite dan taruh di tempat barang elektronik yang memiliki radiasi. Selain ponsel, masih banyak alat-alat elektronik yang harus diserap radiasinya dengan orgonite.

Saya sendiri heran, mengapa pabrik pembuat ponsel tidak diberi alat anti radiasi atau peredam radiasi agar kesehatan manusia tidak terganggu. Terus juga barang-barang elektronik yang lainnya pun tidak di pasang anti radiasi. Tower seluler juga mengeluarkan radiasi elektromagnetik juga, kenapa orang yang pasang tower tersebut tidak diberi alat peredam radiasi semacam orgonite? Saya pun heran, sudah jelas radiasi sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.


Referensi:
Repacholi MH. Low-level exposure to radiofrequency electromagnetic fields: health effects and sesearch needs. Bioelectromagnetic 1998;19:1-19.
Lai H, Singh NP. Acute exposure to a 60 Hz magnetic field increases DNA strand breaks in rat brain cells. Bioelectromagnetic 1997;18: 156-65.
Hardell L, Nasman A, Pahlson Al. Casecontrol Study on Radiology Work, Medical Xray Investigation, and Use of Cellular Telephones as Risk Factors for Brain Tumors. Medscape General Medicine May 4, 2000.