Senin, 05 Juni 2017

15 Gangguan tidur yang harus anda tahu

Macam-macam gangguan tidur
Kualitas tidur seseorang sangat bergantung pada gangguan tidur yang dialaminya. Gangguan tidur umumnya yang dialami oleh seseorang disebabkan oleh gangguan psikis atau stress yang menyebabkan gangguan pada keseimbangan metabolisme tubuh seseorang. Stress seseorang dapat menyebabkan keadaan tidak bisa tidur. Hal itu disebabkan oleh terhambatnya metabolisme asam tripofan sehingga pembentukan hormon serotonin juga terhambat yang dapat menyebabkan keadaan jaga atau tidak bisa tidur. 

Peran hormon adrenalin, norepinephrin, dan kortisol juga sangat berpengaruh pada stress yang menyebabkan seseorang tidak bisa tidur atau mengalami gangguan tidur. Ketiga hormone tersebut bertanggung jawab atas keadaan stress seseorang, termasuk membuat seseorang tetap fokus dan terjaga pada saat mengalami stress sehingga dapat menyebabkan gangguan tidur dan akhirnya menurunkan kualitas tidur seseorang. Efek dari stress tersebut dapat membuat otot menjadi lebih tegang. Kontraksi otot yang sering dan terus menerus akan memicu rasa sakit pada kepala, migrain, dan kondisi lainnya. Selain itu, efek dari stress dapat meningkatkan frekuensi nafas, peningkatan detak jantung, dan aliran darah.

Inilah gangguan-gangguan tidur yang harus anda tahu, seperti dilansir dari berbagai sumber.

1. Imsomnia
Insomnia adalah gangguan tidur yang kesulitan untuk tidur atau mempertahankan tidur pada malam hari). Ini akan menjadi gangguan jangka pendek jika berakhir hanya dalam waktu beberapa malam, namun akan menjadi kronik jika sampai berbulanbulan atau semakin lama. Insomnia sementara dapat disebabkan oleh stress, perasaan yang terlalu gembira, atau perubahan pola tidur selama melakukan perjalanan. Pola tidur akan kembali normal ketika rutinitas kegiatan kembali seperti biasanya. Insomnia kronik mungkin disebabkan karena medikasi, perilaku atau masalah psikologi.

2. Hiperinsomnia
Hipersomnia kebalikan dari insomnia, yaitu terjadi kelebihan waktu tidur, terutama pada siang hari. Hipersomnia dapat disebabkan karena kondisi media, seperti adanya kerusakan pada sistem saraf pusat, gangguan metabolik (asidosis diabetik dan hipotiroidisme). Seseorang tertidur selama 8-12 jam dan mengalami kesulitan untuk bangun di pagi hari (kadang-kadang dikenal sebagai tidur dengan keadaan mabuk). Gangguan tidur ini bisa terjadi karena infeksi virus terutama virus mononukleosis, ensafalitis atau hidrosefalus. Sedangkan hipersomnia sendiri yaitu gangguan tidur yang berupa rasa kantuk yang menyerang si penderita secara berlebihan dan mengakibatkan si penderita tertidur. Biasanya masalah tidur ini akan hilang jika sipenderita tidur selama 10 menit.

3. Gangguan Irama Sirkadian
Gangguan tidur irama sirkadian terjadi karena tidak tepatnya jadwal tidur seseorang dengan pola normal tidur sirkadiannya. Seperti seseorang tidak dapat tidur ketika orang tersebut berharap untuk tidur, ingin tidur, atau pun pada saat membutuhkan tidur. Sebaliknya, seseorang mengantuk di saat waktu yang tidak diinginkan.

4. Sleep Apnea
Sleep apnea adalah kondisi di mana seseorang akan berhenti napasnya dalam periode singkat selama tidur. Ada tiga tipe sleep apnea: obstruktif, sentral dan mixedcomplex. Apnea obstruktif disebabkan oleh jaringan halus yang berelaksasi, dimana membuat sebagian sampai seluruhnya tersumbat di saluran napas. Sindrom sleep apnea obstruktif merupakan faktor resiko terjadinya hipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya. SzentkiráLyi, MadaráSz, dan NováK, berpendapat bahwa kondisi somatik lainnya seperti sindrom metabolik, diabetes dan penyakit ginjal kronik juga dikaitkan dengan sleep apnea obstruktif. Apnea sentral terjadi karena kegagalan otak untuk berkomunikasi dengan otot respiratori. Apnea mixed-complex merupakan kombinasi dari apnea obstruktif dan apnea sentral.

Di indonesia sendiri apnea tidur sudah sering terjadi hanya saja si penderita tidak menyadari atau tidak mengerti bahwa itu adalah apnea tidur mereka pikir tidak bisa bernafas ketika tidur karena pilek dan hidung mampet. Cara mendiagnosis gangguan tidur ini menggunakan cara polysomnography. Yang berbahaya dan harus diwaspadai adalah ketika apnea dan dyspnea terjadi bersamaan ini bisa menyebabkan kematian mendadak pada si penderita.

5. Narkolepsi
Narkolepsi adalah disfungsi mekanisme yang mengatur keadaan bangun dan tidur. Narkolepsi terjadi secara tiba-tiba ketika seseorang sedang dalam keadaan terjaga, dapat terjadi secara berulang dan tidak terkontrol. Periode tidur singkat ini bisa terjadi setiap waktu dan durasinya dari beberapa detik sampai lebih dari 30 menit. Sebagai contoh, seseorang dapat jatuh tertidur saat sedang membaca buku, menonton televisi, maupun menyetir. Narkolepsi terjadi pada wanita dan pria di berbagai usia, meskipun gejala ini dirasakan pertama kali pada saat remaja atau dewasa muda. Narkolepsi merupakan gangguan tidur yang dikarakteristikan oleh abnormalnya pengaturan tidur rapid eye movement.

6. Deprivasi Tidur
Deprivasi tidur meliputi kurangnya tidur pada waktu tertentu atau waktu tidur yang kurang optimal. Deprivasi tidur dapat disebabkan oleh penyakit, stress emosional, obat-obatan, gangguan lingkungan dan keanekaragaman waktu tidur yang terkait dengan waktu kerja. Seseorang yang bekerja dengan jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam kerja cenderung mengalami deprivasi tidur. Deprivasi tidur melibatkan penurunan kuantitas dan kualitas tidur serta ketidakkonsistenan waktu tidur. Apabila pola tidur mengalami gangguan maka terjadi perubahan siklus tidur normal. Deprivasi tidur mengakibatkan daya ingat yang melemah, sulit membuat keputusan dan gangguan emosional seperti respon interpersonal yang memburuk dan meningkatnya sikap agresif.

7. Parasomnia
Parasomnia sebagai suatu aktivitas yang normal di saat seseorang terjaga tetapi akan menjadi abnormal jika aktivitas tersebut muncul di saat seseorang sedang tertidur. Masalah tidur ini lebih banyak terjadi pada anak-anak daripada orang dewasa, aktivitas tersebut meliputi somnambulisme (berjalan dalam tidur), terjaga malam, mimpi buruk, enuresis nocturnal (mengompol), dan menggeratakkan gigi.

8. Mendengkur
Gangguan tidur yang kelima adalah mendengkur yang sangat keras dan sangat mengganggu. Anda pikir mendengkur bukan sebuah gangguan tidur? Mendengkur adalah salah satu masalah tidur yang terjadi karena getaran jaringan pada saluran udara atas. Masalah tidur ini secara umum muncul karena sebuah gejala sindrom obstruletif apnea cara mengatasi gangguan tidur ini bisa anda lakukan dengan cara tidur miring dan hindari tidur telentang.

9. Teror malam
Bisa dibilang teror malam adalah gangguan tidur yang sangat menakutkan di antara yang lain sebab penderita yang terkena nightmare pada sepertiga malam mendadak terbangun dari tidurnya dan disertai dengan teriakan, tangisan dan ketakutan yang berlebih. Umumnya nightmare akan terjadi saat penderita mengalami mimpi buruk yang sangat mempengaruhi jiwanya.

Berteriak, meronta-ronta, panik, dan mondar-mandir umumnya dilaporkan orang dengan kondisi night terror. Tidak seperti mimpi buruk yang timbul di fase REM, teror malam terjadi selama tidur non REM, biasanya di awal fase tidur. Paling umum terjadi pada anak-anak. Orang yang mengalami teror malam tiba-tiba duduk tegak, mata terbuka, meskipun mereka tidak benar-benar melihat. Orang tersebut sering berteriak atau menjerit, dan tidak dapat dibangunkan atau ditenangkan.

Dalam beberapa kasus, teror malam bercampur dengan tidur sambil berjalan. Orangtua melaporkan anak berkeliaran rumah dalam keadaan panik. Setelah 10 atau 15 menit, orang tersebut biasanya mengendap kembali tidur, menurut National Institutes of Health. Kebanyakan orang dengan masalah ini tidak ingat apa pun yang mereka lakukan ketika teror malam terjadi di keesokan harinya. Penyebab teror malam adalah sebuah misteri, tetapi demam, tidur tidak teratur, dan stres dapat menjadi pemicu. Untungnya, teror biasanya memudar setelah usia bertambah.

10. Mimpi buruk
Orang dengan gangguan mimpi buruk sering terbangun dengan kenangan mimpi yang mengerikan. Efek dari mimpi buruk yang berulang dan parah umumnya akan mengganggu kehidupan nyata. Sering mengalami mimpi buruk pun sering membuat penderitanya takut tidur.

Untuk kasus-kasus umum, mimpi buruk bisa dienyahkan dengan menghilangkan/menyelesaikan penyebab utama stres, atau dengan memberi kesempatan diri untuk bersantai, juga mencukupi kebutuhan durasi tidur. Sementara untuk yang mengalami masalah mimpi buruk yang parah, disarankan untuk melakukan konseling dengan terapis atau menemui dokter untuk mendapatkan obat penenang.

11. Halusinasi Mengantuk
Halusinasi mengantuk atau halusinasi hypnagogic terjadi selama transisi dari terjaga tidur (begitu kepala menyentuh bantal). Halusinasi ini terjadi selama proses bangun. Orang-orang melaporkan mendengar suara-suara, merasakan sensasi hantu, dan orang-orang melihat atau benda aneh di kamar mereka. Serangga atau binatang merayap di dinding adalah visi umum.

Tidur yang berhubungan dengan halusinasi paling umum terjadi pada orang dengan narkolepsi. Jadi penglihatan fantasi yang sesekali ini tidak perlu dikhawatirkan. Apabila halusinasi disertai dengan kantuk di siang hari dan hilangnya kendali otot saat gembira atau terkejut.

12. Ketindihan (Sleep Paralysis)
Selama fase REM, aktivitas bermimpi akan meningkat dan otot-otot berdiam seakan lumpuh. Kelumpuhan sementara ini sebenarnya mengamankan diri supaya tidak bertindak seperti aktivitas yang ada di mimpi. Namun, kelumpuhan bisa tetap terjadi setelah terbangun. Ini yang sering dikira dengan "ketindihan".

Seringnya, masalah Sleep Paralysis ini terjadi bersamaan dengan halusinasi. Dalam satu penelitian yang diterbitkan 1999 dalam Journal of Sleep Research, 75 persen dari mahasiswa yang telah mengalami kelumpuhan tidur secara simultan melaporkan halusinasi. Bentuk "favorit" halusinasinya adalah merasakan kehadiran sesuatu yang jahat, bersama dengan perasaan tercekik. Paduan sleep paralysis dan halusinasi itu kemudian menjadi banyak cerita rakyat di seluruh dunia.

13. Seksomnia
Ini gangguan yang lebih parah dari pada Sleep Walking atau Nocturnal Eating Disorder. Sexsomnia adalah gangguan saat di mana seseorang melakukan aktivitas seks, padahal masih tidur. Seks ketika tidur atau seksomnia kali pertama dijelaskan dalam studi kasus kepada tujuh orang di tahun 1996. Seksomnia dapat berkisar dari hanya mengganggu (dengan serangan seksual yang keras), berbahaya (masturbasi yang berbahaya), sampai kriminal (kekerasan seksual atau pemerkosaan). Dalam setidaknya lima kasus kontroversial, pria telah dibebaskan dari penyerangan seksual dengan menyatakan bahwa mereka tertidur selama serangan itu.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada tahun 2007 oleh jurnal Psychiatry Social dan Psychiatric Epidemiology menunjukkan, kurang tidur, stres, alkohol, obat-obatan, dan kontak fisik dengan pasangan tidur cukup berperan dalam gangguan ini.

14. Gangguan Makan Nokturnal
Orang dengan gangguan makan yang terkait dengan gangguan tidur terus makan di malam hari. Keesokan paginya bisa ingat sedikit atau tidak ingat sama sekali tentang kejadian itu. Gangguan ini bisa membahayakan diri sendiri dengan memotong bahan masakan, menyalakan kompor, atau menelan bahan baku mentah. Kelainan ini masih belum dipahami secara menyeluruh, tetapi, terjadinya selama masa tidur non REM.

15. Gangguan Perilaku REM
Salah satu fase tidur adalah REM (Rapid Eye Movement). Gangguan perilaku REM adalah kondisi otak tidak bisa mengirim sinyal tubuh untuk tetap diam selama tidur. Pengidap gangguan ini mimpi dalam tidurnya. Namun mereka tak hanya mimpi tapi juga bisa bertindak keluar dari mimpianya. Berteriak, memukul, menendang dan bahkan berlari-lari. Ketika terbangun, mereka biasanya akan ingat mimpinya, tapi tidak ingat aksi brutalnya.

Jarang yang mengalami kondisi ini. Umumnya menyerang orang tua. Gangguan ini diduga merupakan gejala dari penyakit Parkinson, gangguan saraf degeneratif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar