Minggu, 11 Juni 2017

4 Mitos etnik nusantara yang hilang ribuan tahun

Mitos di nusantara yang hilang ribuan tahun yang lalu

 Penelitian dan mitos legenda nusantara yang hilang ribuan tahun yang lalu

Dapat dihipotesakan bahwa kisah-kisah mitos agaknya berasal dari peristiwa sejarah yang sebenarnya pernah terjadi jauh di masa silam. Kisah-kisah mitos tersebut sangat mungkin memiliki tema cerita yang benar adanya, bukanlah rekaan belaka. Kisah-kisah pasti akan berkembang sejalan dengan perkembangan zaman, sebab sebagaimana diketahui bahwa cerita-cerita mitos itu dituturkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam penuturan yang berulang dari generasi ke generasi itulah terbuka peluang adanya penambahan bumbu penyedap cerita, sehingga kisah-kisah mitos tersebut mendapatkan legitimasi akan kekeramatannya. Dengan demikian peristiwa sebenarnya yang pernah terjadi diselimuti berbagai kisah tambahan yang membungkus peristiwa sejarah di zaman purbakala, zaman yang paling awal dalam perkembangan umat manusia.

Apabila kisah-kisah tambahan yang membungkus dan yang memperkaya narasi mitos dapat diurai, diharapkan ditemukan inti cerita yang mungkin dapat dikembalikan kepada upaya untuk mengenang peristiwa yang benar-benar telah terjadi jauh di masa yang purba. Dapat kiranya diinterpretasikan bahwa di masa silam memang pernah terjadi banjir besar yang melanda wilayah Asia Tenggara. Belakangan ini telah ada para ahli yang mengemukakan pendapatnya, bahwa pernah ada banjir besar yang melanda dataran rendah di wilayah Asia Tenggara, atau yang sekarang dikenal dengan Dangkalan (Paparan) Sunda dan juga dataran rendah yang dahulu menghubungkan benua Australia dengan Pulau Papua yang dikenal dengan nama Dangkalan (Paparan) Sahul.

Pada masa Tersier akhir (zaman Pliosen) yang berkembang sekitar 12 juta-2 juta tahun yang lalu keadaan muka bumi telah seperti sekarang, namun di beberapa wilayah masih ditutupi lapisan es dan salju yang tebal. Masa berikutnya adalah Kuarter yang terbagi menjadi dua periode: (1) Pleistosen (2 Juta-11.000 tahun yang lalu) dan (2) Holosen mulai 10.000 tahun lalu. Pada akhir zaman es Pleistosen dan awal Holosen, diperkirakan terjadi pemanasan bumi sehingga berangsur-angsur es dan salju mulai mencair dan mengisi dataran yang lebih rendah. Masa tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar 11.600 tahun yang lalu. Dalam pada itu manusia modern (homo sapiens-sapiens) telah berkembang biak di muka bumi pada sekitar 50.000 tahun yang lalu (Howell 1977: 45-49, Santos 2010: 64, 74, Oppenheimer 2010: 100).

Setelah memperhatikan berbagai kisah mitos dan legenda, serta keadaan geologi wilayah Asia Tenggara pada akhir zaman es Pleistosen, maka para ahli menyimpulkan bahwa telah terjadi banjir bandang yang disebabkan meluapnya air laut akibat melelehnya es dan salju yang menutupi dunia. Banjir bandang itulah yang menenggelamkan Paparan Sunda di bagian barat Indonesia (Santos 2010; Oppenheimer 2010).

Menurut ahli bahasa, manusia sudah bertutur kata sejak sekitar 40.000 tahun yang lalu, dalam pada itu simbol-simbol suara prabahasa mulai berkembang sejak 10.000-40.000 tahun lalu. Jadi pada kurang lebih 40.000 tahun yang lalu bahasa yang sesungguhnya telah terbentuk. Komunikasi dengan menggunakan bahasa tersebut menandai bahwa homo sapiens sapiens telah berkembang dan mengisi muka bumi (Keraf 1991: 16).

Pada masa itulah manusia juga telah mengalami revolusi kebudayaannya yang pertama. Mereka telah berhasil mengembangkan cara perolehan makanan, tidak hanya sebagai pengumpul makanan yang bergantung kepada alam, akan tetapi juga telah mengenal cara bercocok tanam yang paling awalnya, akibatnya mereka harus menetap untuk menjaga tanamannya. (Childe 1958: 55-57).

Dalam upaya mencari negeri asal Bahasa-Bahasa Austronesia, Gorys Keraf melakukan kajian melalui pendekatan Linguistik Historis Komparatif. Ia telah mempunyai gagasan akibat naiknya air laut yang menenggelamkan paparan Sunda, para penutur bahasa Austronesia purba menjadi tersebar seperti sekarang ini (1991).

Berdasarkan teori landasan migrasi bahasa Keraf mencoba menjelaskan migrasi yang terjadi dalam zaman prasejarah, dari suatu tempat yang dinamakan negeri asal ke daerah-daerah baru tempat bahasa-bahasa kerabat sekarang berada Bahasa dihipotesakan berkembang dari prabahasa yang dituturkan oleh homo sapiens sapiens pada permulaan perkembangannya, kemudian berkembang menjadi protobahasa dan akhirnya menjelma menjadi bahasa. Keraf juga menyatakan:

“Teori migrasi dikembangkan pada dua dalil utama, yaitu pertama, wilayah asal
atau negeri asal bahasa-bahasa kerabat haruslah merupakan suatu daerah yang
bersinambung. Kedua, jumlah migrasi bahasa yang mungkin direkonstruksi akan
berbanding terbalik dengan jumlah gerak perpindahan yang terjadi.
Dalil pertama memberi suatu dasar untuk menemukan suatu daerah asal yang
merupakan daerah kesatuan bagi bahasa-bahasa yang terpisah letaknya, daripada
menerima semua daerah itu secara bersama-sama sebagai wilayah asal. Dalil kedua
dapat dianggap sebagai “gerak yang paling minimal”. Manusia tidak akan
berpindah tempat kalau tidak karena terpaksa. Karena itu bila dari sejumlah daerah
yang dapat dicalonkan sebagai negeri asal, maka daerah dengan jumlah gerak
perpindahan yang paling sedikit mempunyai peluang yang paling besar sebagai
negeri asal, tempat asal mula gerak perpindahan” (Keraf 1991: 17).

Keraf menyatakan bahwa dengan berpegangan pada dalil ke-2 sulit kiranya untuk menerima pendapat A.H.Keane (1889) yang menyatakan bahwa negeri asal bangsa Austronesia adalah daratan Asia. Begitupun juga sulit untuk menerima pendapat H.Kern (1889) bahwa orang-orang Austronesia awalnya bermukim di daerah Yunnan (Cina Selatan) yang kemudian menyebar ke Asia Tenggara. Keraf juga meragukan pendapat Slamet Mulyana (1964) yang menyatakan adanya pengaruh bahasa-bahasa dari daratan Asia dalam bahasa Austronesia. Juga menolak pendapat Isidore Dyen (1965), intinya hipotesa Dyen menyatakan bahwa daerah Papua Newguinea dan Melanesia sebagai negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia (Keraf 1991: 8-9, 17-18).

Dengan memperhatikan data geologi di Asia Tenggara pada akhir masa Pleistosen sekitar 15.000 tahun yang lalu ketika Indonesia barat dan daratan Asia Tenggara masih dihubungkan oleh Paparan Sunda, dan dengan memperhatikan perkembangan prabahasa protobahasa bahasa yang dituturkan oleh homo sapiens sapiens (orang-orang penutur bahasa Austronesia); Keraf menyimpulkan bahwa negeri asal bangsa dan bahasa-bahasa Austronesia adalah Indonesia sendiri. Ketika es dan salju mulai mencair di akhir zaman Pleistosen dan awal periode Holosen, air laut pun naik menggenangi Paparan Sunda, para penutur bahasa Austronesia pun mundur ke daerah-daerah yang lebih tinggi seperti ke wilayah daratan Asia Tenggara, Kalimantan, pegunungan di Filipina, dan Asia Timur. Tempat-tempat pengungsian orang-orang Austronesia itulah kemudian menjadi pulau-pulau yang dikelilingi laut yang terjadi akibat naiknya permukaan laut. Paparan Sunda sebagai tempat awal penutur Austronesia pun tenggelam ke dasar laut baru (Keraf 1991: 18-19).

Pendapat Gorys Keraf yang telah dikemukakan pada tahun 1991 itupun berlalu begitu saja, tidak dipedulikan para ilmuwan Indonesia lainnya. Mungkin pada tahun 1990-an pemikiran tentang adanya area yang tenggelam akibat naiknya permukaan laut belum diperhatikan orang. Begitupun kajian tentang perubahan iklim akibat naiknya suhu bumi belum meluas sebagaimana sekarang ini. Sehingga dapat dikatakan pendapat Gorys Keraf tersebut telah mendahului zamannya. Ketika Arysio Santos (buku Santos dalam bahasa Inggris pertama terbit tahun 1997) menyatakan bahwa telah menemukan Atlantis yang hilang di Indonesia akibat naiknya permukaan laut, dan Stephen Oppenheimer (karya Oppenheimer dalam bahasa Inggris pertama terbit tahun 1998) pun dengan kajian tersendiri telah menyatakan bahwa ada surga yang hilang di AsiaTenggara akibat naiknya permukaan laut, maka pendapat Gorys Keraf pun harus ditempatkan setara dengan hasil kajian dari para ahli tersebut.

Kembali kepada pertanyaan-pertanyaan yang telah dikemukakan sebelumnya tentang makna air bah, pohon hayat, pemujaan kepada gunung dan dataran tinggi yang dikenal dalam mitos dan legenda etnik Nusantara, kiranya dapat dijelaskan bahwa:

1. Memang benar dahulu pernah terjadi air bah yang datangnya dari laut.
Ketika pada akhir masa pleistosen salju dan es yang menutupi sebagian muka bumi mencair, mengakibatkan naiknya permukaan laut antara 130-150 m. Naiknya air laut itu telah menggenangi Paparan Sunda di barat Indonesia dan juga Paparan Sahul yang menghubungkan Australia dan Papua. Peristiwa dahsyat tersebut senantiasa dikenang oleh mereka yang selamat dan kemudian menurunkan berbagai etnik Nusantara. Kenangan itu kemudian disaput dengan kisah-kisah mitos dan legenda. Narasi yang menjelaskan adanya hamparan laut yang tenang, dan sepi jelas merujuk kepada peristiwa setelah tenggelamnya dataran luas karena digenangi oleh air laut yang naik. Kemudian kekuatan supernatural dengan berbagai namanya mulai menciptakan kehidupan baru.

2. Pohon Hayat
Pohon kehidupan, pohon dunia atau pohon besar lainnya yang dipuja dapat menyelamatkan manusia dapat ditafsirkan secara sederhana bahwa memang pohon- pohon besar dan tinggi itulah yang menyelamatkan manusia dengan cara memanjatinya ketika air laut naik tiba-tiba menggenangi dataran rendah. Pohon-pohon besar tersebut jelas menyelamatkan manusia, oleh karena itulah kemudian dikenang dengan cerita mitos adanya pohon suci dengan berbagai namanya (Kalpataru, Parijata, Kalpadruma, Toro’a, pohon hayat, Beringin), pohon-pohon itu kemudian dipandang dapat menjadi penghubung antara dunia manusia dan dewa-dewa, sebuah legitimasi kesakralan dalam mitologi.

3. Penghormatan kepada gunung
Bukit, dataran tinggi dapat dijelaskan secara mudah pula dalam kaitannya dengan peristiwa banjir besar. Jelaslah orang-orang yang ingin selamat dari terjangan banjir besar harus mengungsi ke dataran tinggi, terutama di puncak-puncak gunung. Selanjutnya dapat diterangkan ketika mitos menyatakan bahwa leluhur etnik X berasal dari puncak gunung Y, atau Gunung Z sangat keramat karena di puncaknya bersemayam arwah nenek moyang suku tertentu. Orang Melayu pun menyebutkan dalam kitab Sejarah Melayu dengan pernyataan: “…Melayu bangsanya, dari Bukit Siguntang Mahamiru…”.

Di puncak suatu gunung, leluhur etnik dahulu menyelamatkan diri dari banjir besar. Akibat adanya tafsiran itu maka tampillah pemikiran yang harus ditambahkan sekarang tentang monumen megalitik, bahwa bangunan megalitik yang didirikan di puncak-puncak atau lereng gunung, sangat mungkin awalnya didirikan oleh nenek moyang yang selamat dari banjir besar, bangunan itu sebagai sarana memuja kekuatan adikodrati. Monumen-monumen megalitik itu memang sengaja dibangun di daerah yang tinggi agar tidak terkena air bah, pada masa selanjutnya terdapat tradisi membangun monumen megalitik untuk memuja arwah leluhur yang telah mangkat dan bersemayam di puncak-puncak gunung.

Jika saja air bah itu pernah melanda seluruh permukaan bumi pada masa purba, maka dapat dipahami sekarang, dengan banyaknya peninggalan arkeologi yang terdapat di daerah ketinggian yang sukar didatangi. Monumen-monumen megalitik, serta permukiman penduduk masa kuno itu sengaja dibangun di daerah ketinggian agar tidak diterjang banjir besar, jika saja di masa kemudian datang lagi air bah dari laut yang mungkin akan menenggelamkan muka bumi.

4. Tema perahu
Dalam pada itu Stephen Oppenheimer (2010) telah menemukan tema perahu di berbagai situs arkeologi wilayah Asia Tenggara. Ada yang digambarkan dalam bentuk lukisan goa prasejarah dan ada pula yang dibentuk sebagai ragam hias pada motif kain. Di Wilayah Kalimantan Utara dikenal adanya sejarah lisan yang dituturkan oleh penduduk setempat adanya perahu-perahu arwah. Etnik Daya Berawan yang tinggal di sekitar Goa Niah yang kaya dengan lukisan goa dengan berbai coraknya, mempunyai mitos tentang sungai suci yang mengalir menyusuri daerah kematian.

Konon dataran kematian dan sungai tersebut terletak jauh di daerah Paparan Sunda yang sekarang telah menjelma menjadi laut. Mitologi yang sama juga dimiliki oleh Etnik Daya Kayan yang hidup di wilayah Kalimantan Timur. Hal yang menarik penggambaran perahu arwah juga dikenal sebagai motif hias kain tenun di wilayah Nusa Tenggara, dan wilayah Indonesia barat lainnya. Pada nekara-nekara perunggu dari Dong-son (Vietnam) juga ditemukan motif hias perahu arwah di dinding tubuhnya (Oppenheimer 2010: 112).

Kiranya dapat dimengerti jika hiasan tema perahu dengan berbagai bentuknya dikenal menyebar di wilayah Asia Tenggara. Motif hias perahu tersebut sejatinya adalah bentuk kenangan akan masa purba, ketika penduduk yang menghuni Paparan Sunda harus menyelamatkan diri dengan menaiki perahu-perahu ketika permukaan air laut naik menggenangi daratan. Perahu adalah sarana penyelamat mereka, oleh karena itu tema perahu sebagai hiasan cukup dikeramatkan dan dinamakan dengan “perahu arwah”.

Satu hal lagi berkenaan dengan mitos Samuderamanthana yang termaktub dalam kitab Adiparwa Jawa Kuno. Mitos tersebut cukup menarik untuk ditafsirkan, sebab inti kisahnya adalah pencarian benda-benda yang dianggap penting dari dalam laut, apapun namanya. Agaknya di masa purba setelah Paparan Sunda tenggelam, para penghuni paparan itu yang selamat berupaya mencari barang-barang penting yang tertinggal dalam laut yang masih dangkal dan masih keruh tersebut (Samudera Susu), karena awalnya daratan yang baru digenangi air laut.

Para dewa dapat ditafsirkan sebagai penghuni Paparan Sunda yang lebih maju peradabannya, sedangkan para daitya adalah simbol dari penduduk pedalaman yang bergunung dan masih berhutan rimba lebat, hidup dalam kebudayaan yang masih sederhana (dalam berbagai mitos dinarasikan para daitya masih menggunakan peralatan dari batu). Penduduk Paparan Sunda yang tenggelam itu kemudian dibantu oleh penduduk pedalaman mencari-cari benda-benda berharga dari dalam dataran yang telah digenangi oleh air laut.

Dalam kisah Samuderamanthana ditemukan berbagai laksana yang kemudian dimiliki oleh para dewa serta benda-benda lainnya yang penting bagi para dewa. Adapun air amerta awalnya didapatkan oleh para daitya, walaupun dengan tipu muslihat amerta itu akhirnya berhasil dimiliki oleh dewa-dewa. Hal itu menunjukkan bahwa memang pemikiran para daitya (penduduk pedalaman) masih lugu mudah dibodohi oleh para dewa (penduduk Paparan Sunda). Hal penting yang harus ditafsirkan adalah air amerta, apakah sebenarnya air tersebut? Mungkinkah hanya simbol upaya melanjutkan peradaban yang telah tenggelam?, penelitian masa mendatang yang lebih dalam mungkin dapat mengungkapkannya.

Berdasarkan kajian ringkas ini dapat diketahui bahwa memang benar terdapat kaitan yang erat antara mitos, legenda dan dongeng dengan peradaban masa silam. Kisah-kisah tersebut jangan semata-mata dianggap sebagai kisah suci yang harus diterima secara dogmatis, melainkan dapat ditelisik lebih lanjut secara mendalam. Kisah-kisah keramat tersebut agaknya menyimpan uraian kejadian sebenarnya di masa purba, jauh sebelum penduduk Asia Tenggara memasuki zaman sejarah antara abad ke 2-4 M. Karena peristiwa-peristiwa dalam mitos atau legenda itu sangat jauh di belakang masa sejarah, maka entah disengaja atau tidak lalu dibalut dengan narasi yang ajaib, luar biasa, di luar batas akal, dengan berbagai kekuatan Adikodrati lainnya.

Dengan adanya uraian tentang kekuatan adikodrati itulah maka kisah-kisah dari masa purba yang intinya kejadian sebenarnya lalu menjelma menjadi kisah mitos dan legenda. Di masa mendatang sebaiknya diadakan inventarisasi dan kajian terhadap kisah-kisah mitos dan legenda yang disimpan dalam ingatan bersama (collective memory) etnik-etnik Nusantara, karena sangat mungkin di dalamnya terkandung kisah-kisah sejarah, kemajuan peradaban, bencana alam, akulturasi, dan sebagainya. Kajian seperti itu mendesak untuk segera dilakukan, sebelum banyak kisah sejenis yang dilupakan atau terlupakan karena banyak warga etnik yang tidak peduli lagi kepada dongengan yang diturunkan oleh nenek moyang tersebut.


Referensi:
Santos, Arysio, 2010. Atlantis The Lost Continent Finally Found, The Definitive Localization of Plato’s Lost Civilization. Indonesia Ternyata Tempat Lahir Peradaban Dunia. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Ufuk Press.
Childe, V.Gordon, 1958. Man Makes Himself. New York: The American Library.
Keraf, Gorys, 1991. Penetapan Negeri Asal Bahasa-bahasa Austronesia. Pidato pada Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, Rabu 8 Mei. 
Oppenheimer, Stephen, 2010. Eden in The East, Surga di Timur: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Ufuk Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar