5 Mitos belajar bahasa inggris pada anak

Mitos pembelajaran bahasa asing
Bagi bangsa Indonesia, pembelajaran bahasa Inggris diposisikan sebagai pembelajaran bahasa asing (English as Foreign Language) sehingga baik pengajar maupun pembelajar sudah tentu memiliki kendala tersendiri dalam interaksi belajar-mengajar. Proses pembelajaran yang terbatasi oleh dinding kelas menghambat penguasaan bahasa yang memang sangat asing bagi pembelajar. Kealamiahan pembelajaran bahasa melalui proses pembiasaan dan pengulangan sangat sulit tercipta, karena pemelajar hanya „dipaksa‟ untuk berbicara Bahasa Inggris di ruang kelas, dengan catatan gurunya memberikan dorongan dan contoh yang benar. Setelah interaksi KBM berakhir, maka berakhir pulalah „petualangan‟ siswa di dunia asing tadi. Siswa kembali pada lingkungannya yang dipenuhi dengan interaksi bahasa ibu (mother tongue)nya. Kondisi ini membuat penguasan siswa terhadap bahasa asing selalu kembali pada posisi nol lagi. Guru tentu saja memiliki peran yang sangat penting untuk mengatasi permasalahan ini.

Kasus yang sama terjadi pula di Amerika Serikat. Guru menghadapi tantangan saat ia harus mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa-siswi yang tidak terbiasa dengan bahasa tersebut. Oleh karena itu, sejatinya para guru harus mengetahui tentang bagaimana para siswa mempelajari bahasa selain bahasa ibunya. Adalah menjadi kekeliruan, saat guru memasang target dan harapan yang tidak realistis dalam pembelajaran bahasa asing. Hal inilah yang sebenarnya akan membahayakan para siswa. Bahkan dalam beberapa kasus menyebabkan peserta didik mengalami frustasi.

Terlebih lagi jika kasus seperti ini menimpa anak-anak dengan segala karakteristiknya yang unik. Secara alamiah, kondisi anak sangat berbeda dari orang dewasa. Anak sangat senang bermain dan bergerak bebas, sedangkan orang dewasa akan merasa rikuh jika harus banyak bergerak dan menganggap bahwa bermain itu sangat kekanak-kanakan. Anak menyerap informasi dengan sangat cepat, tapi secepat itu pula ia bisa melupakannya. Di lain pihak, orang dewasa justru sulit dan lamban dalam menyerap informasi, tapi sekali terserap, informasi itu bisa sangat bertahan lama di benaknya. Pola pikir anak masih sederhana, baginya lebih mudah memahami satu hal pada satu waktu. Pola pikir orang dewasa lebih berkembang, ia akan sangat tertarik untuk belajar banyak hal pada satu waktu.

Dari sisi perkembangan emosi, anak-anak cepat merasa bosan terhadap sesuatu. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki rentang atensi dan konsentrasi yang relatif pendek. Orang dewasa sebaliknya, ia bisa menghabiskan waktu sangat lama untuk melakukan suatu hal, terlebih jika hal tersebut sangat diminatinya.

Dalam kasus pembelajaran Bahasa Inggris, jelas kita sadari bahwa anak-anak tidak memiliki pemahaman sebelumnya tentang bahasa asing, sedangkan orang dewasa sudah memiliki beberapa informasi sebelumnya mengenai Bahasa Inggris baik itu dari sekolah formal atau dari sumber-sumber lain. Fakta-fakta di atas tidak bisa dinafikkan oleh seorang guru bahasa ketika akan mengajarkan bahasa asing pada kedua objek yang sangat berbeda karakteristik ini. Berikut dipaparkan beberapa mitos tentang pembelajaran bahasa asing khususnya yang melibatkan anak sebagai subjeknya, sebagai panduan untuk para guru bahasa asing dalam menentukan model pengajaran, materi, metode maupun tekniknya.

1. Anak mempelajari bahasa asing secara cepat dan mudah
Anggapan bahwa anak-anak lebih mudah mempelajari bahasa asing sering sekali kita dengar. Anak-anak dapat mempelajari bahasa secara cepat dibandingkan anak dewasa; bahkan anak-anak imigran dapat dengan mudah menerjemahkan bahasa asing yang dipelajari di sekolah kepada orang tuanya.

Kalangan yang menganggap bahwa anak-anak memiliki keunggulan dalam pembelajaran dikarenakan adanya teori “waktu kritis” (critical period). Argumentasinya adalah bahwa anak-anak lebih unggul daripada orang dewasa dalam pembelajaran bahasa asing dikarenakan otak mereka masih fleksibel (Lenneberg, 1967; Penfield dan Robert, 1959). Mereka dapat belajar dengan mudah karena korteks mereka lebih elastis dibandingkan pembelajar yang sudah dewasa.

Teori critical period ini banyak dipertanyakan oleh peneliti dan dianggap cukup kontroversi (Geneses, 1981; Harley, 1989; Newport, 1990). Bukti critical period yang berdasarkan fisik otak ini cukup mendapatkan tantangan. Bahkan terdapat argumentasi yang menyatakan bahwa perbedaan tingkat penyerapan dalam pembelajaran bahasa lebih disebabkan faktor psikologi dan sosial, ketimbang faktor fisik. Hal ini diperkuat dengan melihat realitas motivasi belajar anak-anak yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak dewasa. Bahkan, semangat komunikasi yang terjadi dalam play group atau sekolah dasar lebih tinggi dibandingkan dengan yang terjadi di komunitas anak-anak dewasa (sekolah menengah) atau dewasa (di dunia kerja). Pembelajaran bahasa di tingkat anak-anak lebih berhasil memposisikan anak-anak dalam situasi yang dipaksa untuk bicara dibandingkan dengan anak-anak dewasa.

Namun, penelitian eksperimental yang membandingkan pembelajaran antara anak-anak dengan anak-anak dewasa telah menunjukkan bahwa ternyata proses pembelajaran di tingkat dewasa lebih dapat dikendalikan, dibandingkan di tingkat anak-anak. Bahkan metode pengajaran yang dilakukan di tingkat dewasa lebih dapat berkembang dibandingkan di tingkat anak-anak (Asher dan Proce, 1967). Salah satu pengecualian adalah terletak di masalah pengucapan (pronounciation). Anak-anak lebih dapat mengimitasi cara pengucapan yang benar ketimbang orang dewasa. (Snow dan Hoefnagel-Hoehle, 1978).

Oleh karena itu, bagi banyak orang yang masih meyakini bahwa anak-anak dapat dengan cepat mempelajari bahasa dibandingkan orang dewasa, maka apakah ini semata-mata karena struktur otak yang masih elastis? Salah satu kesulitan dalam menjawab pertanyaan ini disebabkan penerapan kriteria yang sama dalam penguasaan bahasa bagi anak-anak dan dewasa. Persyaratan dalam berkomunikasi bagi anak-anak tentu saja tidak sama dengan persyaratan komunikasi orang dewasa. Konstruksi kalimat dan ekspresi anak-anak jauh lebih pendek dan sederhana dibandingkan orang dewasa. Kosakatanya pun relatif terbatas dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak belum perlu mempelajari kompetensi komunikasi dalam berbahasa yang sangat kompleks sebagaimana orang dewasa. Oleh karena itu adalah sebuah mitos apabila terjadi anggapan bahwa anak-anak dapat mempelajari bahasa lebih cepat dibandingkan orang dewasa, padahal dalam penelitian yang dilakukan ternyata menghasilkan bahwa situasi pembelajaran baik formal maupun informal, mengindikasikan bahwa pembelajar dewasa lebih baik daripada anak-anak.

Salah satu implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa guru jangan memiliki harapan yang berlebihan saat pembelajaran bahasa di kelas. Para guru harus menyadari bahwa pembelajaran di kelas anak-anak memiliki tingkat kesulitan yang sama dengan di tingkat dewasa. Bahkan bisa jadi mengajarkan bahasa di tingkat anak-anak jauh lebih sulit, mengingat tingkat abstraksi anak-anak masih sangat terbatas. Oleh karena itu, para guru harus lebih sensitif dan merasakan bagaimana proses pembelajaran di kelas itu dapat berlangsung.

2. Semakin muda anak, semakin ahli ia menguasai bahasa asing
Mitos kedua ini berhubungan dengan waktu yang paling tepat untuk memulai belajar bahasa. Cara yang paling optimal untuk mempelajari bahasa asing adalah dimulai saat lahir dan mempelajari bahasa asing. Namun, saat kapan anak-anak harus mempelajari bahasa asing? Banyak peneliti menyatakan bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang paling tepat untuk mempelajari bahasa asing (Krashen, Long dan Scarcella, 1979).

Penelitian menunjukkan 17.000 anak-anak Inggris yang mempelajari bahasa Prancis, setelah mengalami proses pembelajaran selama lima tahun dan dilakukan pengujian maka hasilnya menunjukkan, anak-anak yang berusia sebelas tahun ternyata mendapatkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan anak-anak usia delapan tahun (Stern, Burstall dan Harley, 1975).

Para peneliti dibidang ini menyatakan, semakin banyak siswa yang mempelajari bahasa asing dalam kelas formal, dapat disimpulkan bahwa anak-anak dewasa lebih baik dalam penguasaan bahasa dibandingkan anak-anak. Hasil yang sama dapat ditemukan dalam penelitian di Eropa, yaitu penelitian tentang anak-anak Swedia yang mempelajari bahasa Inggris (Gorosch dan Axelsson, 1964), anak-anak Swiss yang mempelajari bahasa Prancis (Buehler, 1972) dan anak-anak Denmark yang mempelajari bahasa Inggris (Florander dan Jansen, 1968).

Hal ini mungkin saja mencerminkan pembelajaran bahasa yang hanya terjadi di negara Eropa, dimana kulturnya lebih mengedepankan masalah analisis grammar. Anak-anak dewasa sebenarnya memiliki keahlian yang lebih berhubungan dengan pendekatan instruksional dan diharapkan mendapatkan hasil yang lebih baik. Namun sayangnya, argumentasi ini tidak dapat menjelaskan penemuan program bahasa Prancis di Kanada, dimana lebih menekankan sisi formal grammar. Pronounciation merupakan salah satu aspek dalam pembelajaran bahasa dimana semakin muda usia, maka semakin fasih ia melafalkan kata-kata dengan aksennya. (Asher dan Garcia, 1969, Oyama, 1976). 

Hal ini disebabkan pronounciation melibatkan fungsi motorik yang ada dalam bahasa pertamanya dan dapat digunakan saat dalam usia tertentu untuk melafalkan kata-kata bahasa asing. Namun kembali lagi, argumentasi yang menyatakan bahwa pronounciation dapat dijadikan alasan bahwa semakin muda usia anak, semakin mudah ia memahami keterampilan bahasa tidak memiliki alasan empiris. Para peneliti menyatakan bahwa faktor usia peserta didik sebenarnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan dalam proses pembelajaran bahasa asing.

Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa para guru sebaiknya menyadari anak-anak yang berusia sangat muda perlu diperlakukan dengan treatment yang wajar, sebagaimana peserta didik yang berusia di atasnya. Guru pun tidak perlu akhirnya menargetkan harapan yang sangat tinggi saat ia mengajarkan bahasa asing kepada peserta didik yang berusia sangat muda, dan sebaliknya tidak menargetkan harapan yang sangat rendah terhadap peserta didik yang berusia dewasa. Mereka memiliki potensi yang sama. Namun memang perlu disadari, untuk keahlian pronounciation, peserta didik yang muda memiliki keuntungan untuk menguasai cara pelafalan dengan cepat dan akurat.

3. Semakin lama siswa menghabiskan waktu dalam konteks bahasa asing, semakin cepat mereka mempelajari bahasa tersebut
Bagi banyak pendidik, semakin cepat dan langsung mereka mengajari anak didiknya bahasa asing, keluar dari latar belakang bahasa pertamanya, maka diharapkan anak didik akan lebih terbiasa menggunakan bahasa asingnya. Inilah alasan mengapa banyak guru yang akhirnya menggunakan bahasa asing dalam melakukan perintah-perintah di dalam kelas. Strategi instruksional merupakan salah satu cara dimana peserta didik menerima berbagai macam instruksi berdasarkan bahasa asing dan mendapatkan dukungan dari situasi kelas.

Program seperti ini sesungguhnya menguntungkan karena menyediakan banyak waktu untuk pembelajaran bahasa asing. Oleh karena itu maka muncullah anggapan, semakin banyak peserta didik mendengar dan menggunakan bahasa asing, maka semakin cepatlah mereka mengembangkan keahlian bahasa asingnya. Namun, penelitian menyebutkan hal lain. Disebutkan, selama program berlangsung, peserta didik yang berada dikelas dua bahasa, dimana mereka terlibat banyak menggunakan bahasa rumahnya dan bahasa asingnya, ternyata memiliki keahlian yang relatif sama dengan peserta didik yang hanya menggunakan bahasa asing saja di kelasnya (Cummins, 1981;Ramirez, Yuen dan Ramey, 1991). 

Hal ini menyiratkan bahwa waktu sesungguhnya tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam proses pembelajaran bahasa. Oleh karena itu, para peneliti menolak adanya usulan agar bahasa ibunya tidak digunakan sama sekali saat proses pembelajaran bahasa asing. Alasannya, meski untuk bisa menguasai keahlian komunikasi lisan dalam bahasa asing membutuhkan waktu selama dua atau tiga tahun, namun untuk proses pemahaman terhadap berbagai kegunaan setiap instruksi memerlukan waktu yang lebih lama lagi dan tentu saja membutuhkan keberadaan bahasa pertama (Collier, 1989; Cummins, 1981).

Para guru harusnya menyadari bahwa mengajarkan bahasa asing tetap harus melibatkan bahasa pertama (bahasa rumah). Hal ini ditujukan untuk tetap menjalin suasana saling menguatkan antara pembelajaran bahasa dengan rumah, dan bahasa rumah difungsikan sebagai jembatan yang menghubungkan proses pembelajaran bahasa asing dengan pemahaman yang dapat ditangkap secara keliru oleh peserta didik.

Bahkan penelitian menemukan indikasi bahwa peserta didik yang diajarkan dengan program dua bahasa di dalam kelas ternyata dapat menyerap pembelajaran bahasa asing lebih daripada kelas yang menggunakan bahasa asing. Oleh karena itu, apabila terdapat peserta didik yang dapat menyerap berbagai keahlian berbahasa dengan menggunakan bahasa pertamanya, maka alangkah baiknya bila guru menggunakan dua bahasa saat proses pembelajaran bahasa terjadi.


4. Anak-anak dapat menguasai bahasa asing hanya dengan sekali ucap
Seringkali para guru mengasumsikan bahwa peserta didik yang berusia kanak-kanak dapat bercakap-cakap secara nyaman dalam bahasa asing yang baru diterimanya. Namun bagi siswa yang tengah bersekolah di tingkat menengah merasakan bahwa mereka sangat begitu terlibat dalam pembelajaran bahasa asing dibandingkan dengan pembelajaran bagaimana kita berucap. Seorang anak yang sangat mahir dalam melakukan komunikasi langsung bisa jadi belum dikatakan mampu dan mahir menggunakan bahasa dalam konsep abstrak atau bahasa akademik yang cenderung kompleks dan berbelit. Sebagai ilustrasi, seorang anak nampaknya harus belajar mengenai apa itu kata benda (noun) dan kata kerja (verb), atau apa itu sinonim dan apa itu antonim. Kegiatan ini mengharuskan siswa ini terlepas dari bahasa yang digunakan secara kontekstual kepada pembelajaran bahasa yang sangat abstrak.

Penelitian kemudian dilakukan untuk membuat persepsi yang sama tentang keahlian linguistik. Akhirnya ditemukan bahwa anak-anak mengalami kesulitan (di usia lima hingga tujuh tahun) dalam memahami pembelajaran bahasa asing yang bersifat abstrak, namun menguasai bahasa asing untuk berkomunikasi. Cummins (1980) menyatakan bahwa anak-anak nampaknya terlihat fasih dalam melakukan komunikasi lisan, namun mengalami permasalahan dalam penguasaan aspek bahasa yang abstrak dan tidak kontekstual.

Implikasi yang seharusnya diperhatikan oleh para guru adalah para guru harus lebih perhatian bila banyak peserta didiknya meminta berhenti dari proses pembelajaran bahasa asing dimana mereka memiliki dukungan dari bahasa pertamanya di rumah. Berhentinya sang anak dari proses pembelajaran kedua sebenarnya sangat membahayakan si anak ditinjau dari aspek kesuksesan prestasi akademisnya.
Para guru harus pula menyadari bahwa sebenarnya anak yang sedang mempelajari bahasa asing memiliki masalah dengan membaca dan menulis yang mungkin tidak akan terlihat ketika ia memiliki kemampuan berkomunikasi lisan dengan baik. Oleh karena itu, guru sebaiknya memberikan banyak perhatian dalam pembelajaran membaca dan menulis. Serta menyadari bahwa pembelajaran bahasa asing itu bukanlah hal yang sederhana dan mudah yang hanya dapat diselesaikan dalam satu atau dua tahun.

5. Semua anak mempelajari bahasa asing dengan cara yang sama
Percaya atau tidak, bila guru ditanya tentang bagaimana anak-anak mempelajari bahasa asing ditinjau dari cara, maka guru akan menyatakan bahwa anak-anak biasanya mempelajari bahasa asing dengan cara yang sama. Sesungguhnya ada dua masalah di sini yang menyangkut cara penguasaan anak-anak dalam pembelajaran bahasa asing. Pertama berhubungan dengan linguistik dan kebiasaan kelompok dan kedua perbedaan siswa yang belajar.

Penelitian dalam masalah budaya menyatakan bahwa kebanyakan keluarga di Amerika Serikat dan keluarga dari latar belakang minoritas memiliki cara berbicara yang berbeda (Heath, 1983; Och, 1982). Kebanyakan cara berbicara anak-anak adalah gaya analitis, dimana kebenaran dalam berargumentasi menjadi anggapan utama. Namun banyak juga anak-anak yang secara budaya terbiasa dengan cara bicara induktif dengan menggunakan asumsi mendasar dan melakukan inferensi dari pernyataan-pernyataan konkret.

Sekolah-sekolah di Amerika Serikat menekankan pada fungsi bahasa dan gaya bicara dalam keluarga sebagai pertimbangan dalam pembelajaran bahasa asing. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi yang memiliki arti, untuk menyampaikan informasi, untuk mengendalikan prilaku dan untuk memecahkan masalah. Di kelas yang lebih tinggi, gaya bicara anak-anak adalah analitik dan deduktif. Anak-anak akan mendapatkan penghargaan saat mereka menggunakan pemikiran yang logis dan jelas. Makanya tidaklah aneh apabila anak-anak yang datang ke sekolah terbiasa dengan menggunakan bahasa dan sikap tertentu yang berbeda sekali dengan apa yang ada di sekolah, maka frustasi akan segera menghinggapi.


Oleh karena itu, terdapat perbedaan kelas sosial. Dalam masyarakat perkotaan, masyarakat yang melek teknologi akan mendidik anak-anak dengan bahasa. Perintah diberikan secara verbal dan jelas. Namun sangat berbeda dengan proses pendidikan yang didapat oleh anak-anak dari yang dilahirkan di keluarga yang tidak mengerti ilmu pengetahuan. Instruksi biasanya dilakukan secara tidak verbal (Rogoff, 1990). Keahlian teknis, seperti memasak, menyetir, atau membangun rumah akan dipelajari dengan cara pengamatan, partisipasi dan pengulangan.

Anak-anak biasanya belajar sesuatu dari kebiasaan yang ada di tengah-tengah mereka, bahkan dari teman-temannya. Mereka mempelajarinya dari usia bayi hingga dewasa. Mereka mempelajarinya bahkan ketika dalam keadaan diam. Saat mereka bersekolah, mereka akan lebih senang memperhatikan apa yang sedang dikerjakan oleh teman-temannya dan apa yang dikatakan oleh guru. Di titik inilah, anak-anak yang lain (teman-temannya) memegang peranan yang lebih penting pada penguasaan berbahasa anak.

Disamping perbedaan budaya tiap kelompok, terdapat pula perbedaan bagaimana anak-anak bereaksi terhadap sekolah dan belajar. Beberapa anak dapat bergaul dan belajar bahasa asing dengan cepat karena mereka ingin seperti teman-temannya. Mereka tidak khawatir dan takut salah, namun menggunakan sumber yang terbatas. Anak-anak yang lain terlihat pemalu dan penakut. Mereka belajar menyimak dengan melihat apa yang sedang terjadi dilingkungan mereka. Mereka sedikit berbicara, karena takut membuat kesalahan. Namun penelitian menunjukkan bahwa jenis peserta didik itu dapat berpengaruh kepada kesuksesan pembelajaran bahasa asing. Di dalam kelas, anak yang secara sosial aktif biasanya akan lebih sukses. 

Namun dalam pengajaran tradisional, teacher oriented, justru anak-anak yang diam dan mendengarkan akan lebih sukses dibanding yang aktif. Oleh karena itu, guru harus lebih menyadari dan memahami gaya belajar siswa yang berbeda dengan latar belakang budaya yang berbeda pula. Secara budaya dan bahasa, anak-anak belajar di sekolah dengan norma dan kebiasaan yang berbeda. Perbedaan inilah yang seharusnya membawa kepada harapan guru yang berbeda pula. Maka, guru pun harus secara bijak melakukan proses pembelajaran dengan pendekatan yang sangat mungin berbeda antara satu siswa dengan siswa lain.

Baiknya, guru pun saat dalam proses pembelajaran bahasa di kelas, mengenal pula latar belakang keluarga, kebiasaan dan status sosialnya. Hal ini penting untuk mengembangkan dan menemukan pendekatan yang tepat untuk pembelajaran bahasanya, agar siswa dapat menerima pembelajaran secara baik dan mampu berkomunikasi secara benar pula.

0 Response to "5 Mitos belajar bahasa inggris pada anak"

Posting Komentar