Rabu, 21 Juni 2017

6 Mitos berhubungan dengan alu dan lesung

menumbuk padi
Pada zaman dahulu biasanya seorang kepala desa pasti mempunyai lesung yang paling besar. Oleh karena itu pada waktu menumbuk padi, tanpa diundang warganya langsung datang membantu menumbuk padi, dan biasanya warganya lebih dari 4 orang. Selain sebagai alat untuk menumbuk padi, dahulu lesung juga berfungsi untuk memanggil anggota keluarga yang berada dari luar rumah. Masing-masing keluarga mempunyai kode sendiri dan selalu berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan suara lesung terjadi karena bahan dan ukuran yang berbeda-beda, sehingga suara yang dihasilkan berbeda pula.

Lesung berfungsi untuk menghasilkan beras yang siap dikonsumsi, sehingga harus benar-benar dirawat, karena merupakan satu-satunya alat produksi beras sebelum teknologi mesin (selep). Agar lesung awet cara penyimpanannya adalah disimpan di sebuah rumah lesung agar selalu kering dan tidak lembab, maka lesung yang basah tidak berfungsi baik ketika digunakan untuk menumbuk padi karena mengakibatkan lengket.

Selain itu juga lesung yang lembab jika digunakan untuk kothekan suaranya tidak bisa nyaring. Rumah lesung biasanya berukuran 3 x 5 meter (tergantung besar kecilnya lesung) yang terletak di luar rumah. Segala aktivitas yang berhubungan dengan lesung biasanya dilakukan di luar rumah lesung ini, karena fungsi sentral ini maka sebagian masyarakat menganggap lesung sebagai benda yang bertuah.

Relasi antar mitos
Di dalam setiap masyarakat dan di berbagai suku bangsa, keberadaan mitos sangatlah penting. Setiap ritual ataupun aktivitas kebudayaan seringkali mitos menyertainya. Mitos sebagai science of concrete yang didukung secara kolektif oleh masyarakat yang seolah-olah merupakan sebuah proses historis yang secara nyata terjadi. Seperti yang dikatakan Roland Barthez bahwa mitos adalah suatu sistem komunikasi, sesuatu yang memberi pesan. Baginya mitos bukanlah benda, bukan pula suatu konsep atau gagasan.

Antara lain mitos-mitos yang terkait dengan lesung adalah kisah Joko Tarub, kisah Naga Baru Klinthing, kisah Desa Pasir Kujang, kisah Bandung Bondowoso, kisah Sangkuriang, kisah Tengger, dan sebagainya. Kemudian dari beberapa cerita tersebut di atas, dapat diambil benang merah yang terkait dengan mitos tentang lesung. Ternyata dari beberapa cerita atau legenda terciptanya suatu tempat, secara langsung maupun tidak langsung melibatkan lesung sebagai medianya. Kisah Naga baru Klinthing berakhir dengan terjadinya Rawa Pening yang berada di daerah Ambarawa Jawa Tengah. 

Kemudian tentang Candi Prambanan di Yogyakarta tercipta dari usaha Bandung Bondowoso untuk meminang Roro Jonggrang. Begitu juga Sangkuriang yang terkutuk menjadi Gunung Tangkuban Perahu karena mencintai ibu kandungnya yang hendak dinikahi. Sehingga dari kisah-kisah tersebut perempuan sebagai peran utama di dalamnya yaitu ada Roro Jonggrang, Dayang Sumbi, Nawang Wulan, dan sebagainya. Sekilas mengenai mitos-mitos dan hubungannya dengan lesung adalah sebagai berikut.

1. Kisah joko tarub
Dahulu di desa Tarub Tuban Jawa Timur, ada seorang laki-laki perjaka bernama Joko Tarub. Ia punya kesenangan berburu di hutan. Pada suatu ketika Joko Tarub sedang berburu, terdengar olehnya suara perempuan yang ramai becanda-canda. Ternyata ada 7 bidadari sedang mandi di telaga yang jernih. Joko Tarub kagum melihat kecantikan para bidadari, dan telah jatuh cinta dengan salah seorang bidadari tersebut. Pada akhirnya Joko Tarub mempunyai akal untuk dapat berkenalan dengan bidadari tersebut, maka dicurilah salah satu pakaian bidadari itu. Secara kebetulan bidadari yang cantik bernama Nawang Wulan, telah kehilangan pakaiannya. Akhirnya Joko Tarub berhasil berkenalan dan sampai kepada pernikahan.

Kehidupan Nawang Wulan dan Joko Tarub hidup berbahagia dalam rumah tangga dan dikaruniai seorang anak perempuan. Ada satu rahasia yang harus ditaati oleh Joko Tarub terhadap apa yang dikatakan Nawang Wulan. Bahwa setiap masak nasi Joko Tarub dilarang untuk membuka dandang penanak nasi sebelum Nawang Wulan yang membuka. Suatu ketika Joko Tarub merasa heran karena padi di lumbung tidak pernah berkurang bahkan berlimpah. Kemudian disaat Nawang Wulan pergi, maka kesempatan Joko tarub untuk mengetahui kenapa Nawang Wulan selalu melarang membuka dandang penanak nasi sebelum dibukanya. Terjadilah Joko Tarub membuka dandang, maka terkejutlah Joko Tarub karena ternyata Nawang Wulan hanya memasukkan setangkai padi saja, dan belum masak ketika dibuka Joko Tarub.

Akhirnya Nawang Wulan menangis, karena sejak itu ia harus menumbuk padi menjadi beras baru bisa dimasak dan lama memasaknya sampai benar-benar matang baru bisa dimakan. Oleh karenanya sejak itu lesung menjadi alat untuk menumbuk padi menjadi beras. Setelah sekian lama menumbuk padi maka lumbung padi menjadi berkurang bahkan nyaris habis karena belum panen. Disaat Nawang Wulan mengambil padi di tumpukan terakhir, ia sangat kaget ternyata pakaian bidadari miliknya ada di bawah padi tersebut. Ternyata selama ini pencurinya adalah suaminya sendiri yaitu Joko Tarub. Tamatlah sudah kehidupan Nawang Wulan bersama Joko Tarub, karena setelah menemukan pakaian bidadarinya, Nawang Wulan pun kembali ke alamnya yaitu terbang ke kerajaan di langit bersama bidadari lainnya. Sejak itulah dikisahkan bahwa manusia harus menumbuk padi menjadi beras dengan menggunakan alu dan lesung.

2. Kisah naga baru klinthing
Dikisahkan ada seorang laki-laki bernama Baru Klinthing yang gagah, tinggi, besar, dan sakti. Atas kesaktian itu Baru Klinthing menjadi sombong dan kesombongannya sampai terdengar oleh gurunya. Akhirnya ditantanglah Baru Klinthing oleh gurunya bahwa bila Baru klinthing mampu melingkari Gunung Merbabu, maka gurunya akan mengakui kesaktiannya. Akhirnya baru klinthing dengan kesaktiannya m,erubah dirinya menjadi ular naga raksasa yang akan melingkari gunung Merbabu. Alhasil baru klinthing tidak sampai tubuh naganya melingkari Gunung Merbabu, dengan akalnya maka dijulurkanlah lidah agar supaya Gunung Merbabu berhasil dilingkarinya. Ketika itu pula oleh gurunya lidah Baru klinthing dipotong, menangislah Baru Klinthing, lidah terpotong dan tubuh tidak dapat berubah menjadi manusia lagi, dan mohon ampun pada gurunya atas kesombongannya. Kemudian oleh gurunya Baru Klinthing untuk bertapa di Gunung Merbabu sampai tubuhnya kembali menjadi manusia, Baru Klinthing pun menjalankannya.

Suatu ketika penduduk Merbabu sedang mencari kayu, ketika itu ada sebuah kayu bersisik ditebang, namun mengeluarkan seperti lendir. Akhirnya penduduk mengetahui bahwa yang ditebang itu adalah seekor naga raksasa, maka beramai-ramai penduduk memotong-motong naga tersebut, dan dagingnya dimakan. Tanpa disadari salah satu daging yang dipotong tadi berwujud menjadi manusia bajang, cebol, dan tua, itulah wujud manusia Baru Klinthing yang sudah sekian lama bertapa di gunung Merbabu. Kemudian karena lapar Baru Klinthing meminta makan pada penduduk, namun penduduk semua sedang memasak daging naga dari gunung Merbabu yang tidak lain adalah tubuh Baru Klinthing pada saat menjadi naga raksasa tersebut. Baru Klinthing menolak dan akhirnya dia kelaparan sendiri, datanglah seorang nenek yang memberikan makan nasi dengan sayuran. Setelah makan selesai Baru Klinthing menyuruh nenek tadi untuk membuat lesung dan alu, yang kelak berguna untuk menghasilkan nasi yang sebelumnya adalah padi menjadi beras. Pada akhirnya manusia pun menggunakan alu dan lesung untuk mendapatkan padinya menjadi beras, dan baru bisa dimasak untuk dimakan.

3. Kisah desa pasir kujang
Kisah ini berasal dari daerah Pasundan tepatnya di desa Cidadap atau yang sekarang dikenal dengan nama Desa Pasir Kujang, terdapatlah suatu gubug bertingkat yang dipakai seorang laki-laki perjaka untuk menjaga ladangnya. Pada suatu malam terjadi hujan yang lumayan deras, datanglah segerombolan 7 harimau mendekati gubug sang perjaka, semula dianggap hendak menyerangnya ternyata harimau-harimau tersebut hanya hendak menumpang berteduh dari hujan. Tak disangka harimau-harimau tadi berubah menjadi wanita-wanita cantik berpakaian harimau, karena basah terkena air hujan, maka ditanggalkanlah pakaian harimaunya.

Kejadian ini jelas dilihat oleh sang perjaka, dengan melotot melihat gadis-gadis cantik tanpa busana. Kisah ini mirip dengan kisah Joko Tarub dan Nawang Wulan, sedangkan ini seorang laki-laki dan perempuan harimau yang cantik. Akhir ceritanya pun sama, laki-laki perjaka tadi ketahuan isterinya yang tidak lain perempuan harimau bahwa suaminya yang telah mencuri pakaian harimau yang disimpan di rumah padi. Akhirnya mulai menumbuk padi untuk menjadi beras, yaitu dengan menggunakan alu dan lesung. Kemudian sang isteri pun pergi kembali kepada bangsanya dengan memakai kembali pakaian harimaunya hingga berubah menjadi seekor harimau dan lari kembali ke hutan.

4. Kisah bandung bondowoso
Dikisahkan pada zaman dahulu di daerah pinggir selatan Jawa Tengah terjadilah perang besar antara Prabu Boko dengan Bandung Bondowoso, dan peperangan dimenangkan oleh Bandung Bondowoso dengan tewasnya Prabu Boko di tangannya. Tinggallah seorang putri Prabu Boko bernama Roro Jonggrang yang akhirnya hendak diperisteri oleh Bandung Bondowoso, namun ditolaknya dengan syarat harus membuatkannya seribu candi dalam waktu satu malam, dan sebelum ayam jantan berkokok pertanda pagi hari, maka Bandung Bondowoso harus segera berhenti dari pekerjaannya. Ternyata dengan kesaktiannya Bandung Bondowoso hampir sanggup menyelesaikan pekerjaannya membuat seribu candi dengan separuh malam. Hal inilah membuat Roro Jonggrang panik menghadapinya.

Akhirnya Roro Jonggrang menemukan akal untuk menggagalkan pekerjaan Bandung Bondowoso yang telah membunuh ayahnya. Roro Jonggrang akhirnya memanggil para dayang untuk beramai-ramai ke rumah lumbung padi dan memukul lesung dengan alu untuk memancing ayam jantan berkokok pertanda hari sudah pagi, dan Bandung Bondowoso harus berhenti bekerja. Akhirnya kotekan lesung yang dimainkan para dayang Roro Jonggrang mampu memancing ayam jantan berkokok. Maka berhentilah Bandung Bondowoso dari pekerjaannya yang ternyata belum selesai dengan seribu candinya. Bandung Bondowoso marah dan berkata bahwa Roro Jonggrang yang akan menjadi batu, sehingga genaplah jumlah candi menjadi seribu candi, maka jadilah Roro jinggrang menjadi arca candi hingga saat ini ada di Candi Prambanan.

5. Kisah sangkuriang
Dikisahkan seorang raja dari Priangan Jawa Barat bernama Prabu Barmawijaya yang tidak mempunyai putra dan senang berburu ke hutan. Suatu ketika sedang berburu, Prabu mendengar tangisan seorang bayi perempuan yang dilahirkan oleh seekor babi putih (bidadari yang terkena kutuk), akhirnya diangkatlah menjadi putrinya dan dinamakan Dayang Sumbi. Setelah dewasa Dayang Sumbi ingin bertempat tinggal di hutan, dengan berat hati Prabu Barmawijaya mengijinkannya dan dibuatkanlah rumah pohon bertingkat di hutan. Hari- hari Dayang Sumbi menghabiskan waktu dengan menenun kain.

Suatu ketika alat tenunnya jatuh ke bawah dan Dayang Sumbi malas untuk mengambilnya, kemudian Dayang Sumbi bersumpah jika ada seorang perempuan yang mau mengambilkan alat tenunnya maka akan diangkat menjadi saudara, namun jika laki-laki maka akan menjadi suami. Akhirnya yang berhasil mengambilkan alat tenunnya adalah seekor anjing jantan, sesuai sumpahnya maka Dayang Sumbi menikahlah dengan anjing tersebut yang sebenarnya adalah jelmaan seorang Dewa. Dikaruniailah Dayang Sumbi seorang anak laki-laki bernama Sangkuriang, yang setelah besar suka berburu seperti kakek angkatnya. Berburulah Sangkuriang bersama anjingnya yang sebenarnya adalah ayahandanya, namun Dayang Sumbi tidak pernah memberitahunya.

Suatu ketika pada saat berburu, Sangkuriang melihat seekor babi putih dan ia hendak memburunya dengan menyuruh anjingnya mengejar, namun sang anjing mogok tidak mau mengejar karena tahu bahwa babi putih itu adalah ibu kandung Dayang Sumbi atau nenek kandung Sangkuriang. Akhirnya Sangkuriang marah pada anjingnya dan dibunuhlah anjingnya dan diambil jantungnya untuk diberikan kepada ibunya. Sesampai di rumah Sangkuriang bercerita pada ibunya, marahlah Dayang Sumbi maka dipukulnya kepala Sangkuriang dan diusirnya.

Setelah beberapa tahun Sangkuriang pergi, kembalilah ia ke hutan dan sudah beranjak dewasa. Demikian Dayang Sumbi pun bertambah usia semakin tua, namun wajahnya atau jasmaninya tidak pernah menjadi tua, sehingga Sangkuriang tidak mengenali lagi dengan ibunya yang sangat cantik jelita, begitu pula Dayang Sumbi tidak pernah bertemu lagi dengan Sangkuriang yang semasa remaja diusirnya. Bertemulah mereka berdua dalam kondisi laki-laki jatuh cinta dengan seorang wanita, begitu sebaliknya. Pada akhirnya Dayang Sumbi mengenal siapa Sangkuriang sebenarnya dengan tanda luka di kepalanya. Dayang Sumbi tidak mungkin menikahi anak kandungnya sendiri, sementara Sangkuriang tidak percaya bahwa ia ibu kandungnya. Dibuatlah syarat oleh dayang Sumbi, ia mau dinikahi Sangkuriang jika dapat membuatkan perahu dalam waktu satu malam sebelum ayam jago berkokok pertanda pagi hari.

Sangkuriang menyanggupi dengan kesaktiannya dibuatlah sebuah perahu untuk Dayang Sumbi. Namun Dayang Sumbi tetap berusaha untuk menggagalkan keinginan Sangkuriang, maka berlarilah Dayang Sumbi menuju rumah lumbung padi di desa terdekat di mana Sangkuriang sedang membuat perahunya. Kemudian dipukullah lesung dengan alu berkali-kali sampai ayam-ayam jantan terbangun dan berkokok yang dikira hari sudah menjelang pagi. Akhirnya gagallah pekerjaan Sangkuriang karena ayam jago sudah berkokok pertanda hari sudah pagi. Alhasil Sangkuriang marah kepada Dayang Sumbi sembari ia berada di atas perahunya yang baru setengah jadi, maka terbaliklah perahu tersebut, dan Sangkuring mati tenggelam dibalik perahunya yang terbalik.

6. Kisah tengger
Suatu ketika di lereng gunung Pananjakan, berdiam seorang maha guru yang sangat beriman, dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat menyenangkan, diberilah nama Joko Seger. Pada saat yang hampir bersamaan lahirnya dengan Joko Seger, lahir pula seorang bayi perempuan yang cantik serta pendiam, yang mempunyai Roro Anteng. Setelah dewasa Roro Anteng banyak yang melamar tapi selalu ditolak, karena Roro Anteng sudah menjalin cinta dengan Joko Seger. Akhirnya ada seorang perampok yang sakti memaksa Roro Anteng untuk mau menjadi isterinya. Terpaksa Roro Anteng menyanggupi dengan syarat yang harus dipenuhi.

Syarat yang Roro Anteng ajukan kepada perampok sakti tersebut adalah harus membuatkan lautan yang berada di antara dua pegunungan dalam waktu satu malam yaitu setelah matahari terbenam dan sebelum ayam jantan berkokok yang pertama di pagi hari, maka pekerjaan membuat lautan harus sudah selesai. Perampok sakti itu membuat laut dengan sebuah batok kelapa atau tempurung kelapa. Roro Anteng pun mencari akal untuk memancing ayam jago lebih awal berkokoknya sehingga lautan itupun tak akan selesai dibuat. Alhasil Roro Anteng membunyikan kothekan lesung sampai ayam jantan pun berkokok terkecoh dikiranya sudah pagi, gagallah perampok sakti itu membuat lautan ditengah antara dua pegunungan untuk Roro Anteng. Kegagalan yang dialami perampok sakti itu membuat ia marah dan melemparkan batok kelapanya, hingga saat ini batok kelapa itu menjadi Gunung Batok. Roro Anteng akhirnya menikah dengan Joko Seger, hingga saat ini keturunannya disebut dengan orang Tengger, yaitu singkatan dari Anteng dan Seger.

Dari beberapa mitos yang disampaikan, maka dapat ditarik benang merah yang terkait dengan pembahasan utama yaitu lesung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar