8 Fakta tentang penyakit malaria

Nyamuk malaria

Fenomena perubahan iklim ditengarai berdampak terhadap peningkatan populasi vektor nyamuk malaria. Sehingga, perubahan iklim menyebabkan eliminasi malaria menjadi semakin sulit untuk dilakukan. Di tingkat masyarakat, pengetahuan mereka tentang malaria yang sudah cukup baik belum sejalan dengan perilaku pencegahan yang sebaiknya dilakukan. Pemahaman masyarakat perdesaan mengenai perubahan iklim kaitannya dengan malaria juga masih relatif terbatas. 

Sementara, di tingkat pemerintah daerah, implementasi surveilans migrasi bagi penduduk yang baru pulang dari wilayah endemis malaria masih belum berjalan dengan baik. Masyarakat lebih memilih membayar denda daripada harus memeriksakan sampel darah mereka ke Puskesmas. Kasus malaria yang relatif kecil juga berdampak pada penangan kasus di tingkat pemerintah daerah. Malaria tidak lagi menjadi prioritas, sehingga penanganannya dianggap sebagai tanggung jawab sektor kesehatan saja.

Obat anti malaria yang dapat digunakan untuk memberantas malaria diantaranya malaria falcifarum adalah artemisinin dan deriviatnya, chinchona alkaloid, meflokuin, balofantrin, sulfadoksinpirimetamin, dan proguanil. Sedangkan untuk mengobati malaria vivax dan malaria ovale, menggunakan obat anti malaria klorokuin. Namun bila digunakan sebagai terapi radikal pemberian klorokuin diikuti dengan pemberian primakuin, tidak terkecuali infeksi yang disebabkan plasmodium malariae, jenis obat klorokuin tetap digunakan.

Berikut ini adalah fakta tentang penyakit malaria:

1. Melaria membunuh lebih dari 30,000 orang Indonesia dan menyebabkan antara 10 sampai 12 juta orang jatuh sakit setiap tahunnya. Penyakit ini disebabkan oleh parasit yang disebar oleh nyamuk.

2. Anak-anak dengan malaria biasanya menderita demam, muntah-muntah dan menderita sakit kepala dan gejala seperti flu. Jika tidak ditangani dengan tepat bisa berlanjut dengan kejang, koma dan kematian. Mereka yang selamat dari serangan malaria yang akut dapat mengalami gangguan belajar atau kerusakan otak. Kasus malaria yang kambuh berulang kali dapat menyebabkan anemia, lesu dan pertumbuhan anak yang tidak sempurna.

3. Ibu hamil dan bayi di kandungan mereka yang terkena malaria beresiko terkena maternal anemia, infeksi plasenta, dan berat bayi yang rendah, yang adalah resiko utama tertinggi pada minggu-minggu pertama kehidupan bayi.

4. Sekitar 50 persen dari populasi Indonesia rawan terkena malaria, terutama di daerah pedesaan dan antara masyarakat miskin. Daerah yang paling rawan malaria terletak di luar Jawa, terutama daerah timur Indonesia, dari Nusa Tenggara Timur ke Maluku dan Papua. Daerah-daerah di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi mempunyai tingkat transmisi malaria yang sedang, dengan beberapa daerah sangat rendah tingkat transmisinya. Jakarta dan Bali mempunyai tingkat penyebaran malaria antara nol sampai rendah.

5. Kekebalan obat: Di Indonesia, malaria kebal terhadap obat tradisional seperti chloroquine dan
sulphadoxine-pyrimethamine. Pengobatan yang lebih efektif yang mengandung artemesinin (ACTs) biayanya 10 kali lebih tinggi pada 1 USD per dosis orang dewasa. Sejak 2004, ACT telah menjadi pengobatan standar di Indonesia.

6. Kelambu bisa mencegah: Penggunaan kelambu tempat tidur yang sudah dicelupkan ke dalam
insektisida di daerah-daerah yang penyebaran malarianya tinggi dapat mengurangi kematian anak dari semua sebab hingga 30 persen dan dari malaria hingga 50 persen. Pada akhir 2008, kurang dari 10 persen dari anakanak Indonesia di daerah endemik malaria tidur di bawah kelambu. Kebanyakan keluarga tidak mampu membeli kelambu yang harganya sekitar 5 USD.

7. Biaya merawat malaria: Malaria, seperti HIV/AIDS dan TB, adalah salah satu dari tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama bagi masyarakat di pedesaan dan daerah-daerah terpencil. Sekitar 400 juta USD setiap tahun diperlukan untuk membiayai secara utuh pencegahan dan perawatan penyakit ini di Indonesia, dan 100 juta USD di antaranya untuk menunjungan sistem dan operasional kesehatan. Pada 2008, pengeluaran untuk malaria sebesar 40 juta USD, dan ini hanya memenuhi 10 persen dari total kebutuhan.

8. Daerah-daerah miskin adalah daerah endemik malaria di Indonesia. Tapi terlepas dari konsekuensi kemiskinan, malaria juga salah satu faktor utama penyebab kemiskinan. Seorang keluarga yang terkena malaria mengeluarkan rata-rata seperempat dari pemasukannya untuk perawatan malaria, selain dari pengeluaran untuk pencegahan serta berkurangnya pendapatan karena sakit ini. Ini sebabnya pencegahan malaria adalah bagian yang penting dalam pemberantasan kemiskinan.


Sumber: UNICEF

0 Response to "8 Fakta tentang penyakit malaria"

Posting Komentar