Minggu, 11 Juni 2017

9 Mitos kehidupan etnik nusantara jaman dulu

Mitos peradaban di nusantara

Setiap etnik di Indonesia mengenal adanya mitos atau legenda tentang asal-usul penciptaan dunia dan alam semesta. Etnik-etnik di Indonesia barat hingga timur senantiasa mengenal adanya berbagai mitos tentang asal-usul terjadinya alam semesta dan penciptaan leluhur mereka. Berikut diuraikan secara ringkas mitos-mitos yang dikenal di berbagai etnik Indonesia baik di Indonesia barat atau timur berdasarkan kajian yang telah dilakukan oleh Harun Hadiwijono dalam bukunya Religi Suku Murba di Indonesia (1977):

1. Mitos dalam kehidupan masyarakat Suku Daya Ngaju
Dikenal adanya dua tokoh dewa yang tertinggi, yaitu Mahatala dan Jata. Mahatala disebut juga Hatala, Lahatala, Mahatara dan juga Bahatara Guru, namun sebutan aslinya adanya adalah Tingang (burung enggang atau rangkong yang sangat mungkin simbol dari Garuda). Mahatala bersemayam di alam atas yang keadaan jauh lebih baik dari alam kehidupan manusia. Adapun Jata, mempunyai julukan lain Tambon, Bawin, Jata Balawang Bulau artinya “wanita Jata yang berpintukan permata”. Jata bersemayam di alam bawah, alam yang ada di bawah alam kehidupan manusia, Ia hidup bersama-sama rakyatnya para buaya. Bagi suku Daya Ngaju buaya adalah binatang suci yang tidak boleh dibunuh, kecuali jika buaya itu telah membunuh manusia.

Alam semesta terjadi karena perbuatan kedua dewata tersebut dengan cara menabrakkan dua bukit/gunung yang masing-masing dihuni oleh mereka. Manusia tercipta akibat perkelahian dua burung enggang jantan (Bahatara Guru) dengan enggang betina (Jata) yang memperebutkan sebatang pohon kehidupan (pohon hayat), dari kulit pohon yang dipatuk enggang betina terciptalah seorang perempuan, sedangkan burung jantan mematuk lumut untuk menciptakan seorang lelaki. Perempuan dan lelaki itu lalu terapung-apung di dalam perahu dari batang pohon hayat di samudera yang pertama. Selanjutnya mereka kawin dan hidup di benua yang diciptakan oleh Mahatala, akibat perkawinan itu lalu muncul kehidupan lain, manusia, hewan dan tumbuhan.

2. Mitos dalam kehidupan Etnik Batak
Dikenal adanya dewa-dewa penting, yang terpenting disebut Debata Mula Jadina Bolon, kemudian terdapat dewa Tritunggal yang terdiri dari Batara Guru, Soripada dan Mangalabulan. Mula Jadi bersemayam di alam atas yang terdiri dari 7 lapisan, Ia tiada berawal dan tiada berakhir, Mula Jadi didampingi oleh dua ekor burung layang-layang dan seekor ayam. Kedua burung layang-layang berfungsi sebagai kendaran perahu Mula Jadi, ayam menjadi permaisurinya. Mula Jadi lah yang menciptakan Tritunggal dengan tokoh penting Batara Guru, Ia juga menciptakan pohon dunia yang dinamakan Pohon Harihari sundung di langit yang tumbuh di Tanah Angkola Jula (Batak selatan) dan puncaknya hingga langit.

Awal penciptaan manusia terjadi setelah Debata Mulajadi menciptakan seorang perempuan bernama Sideak Parujar, ia diperintahkan kawin dengan anak lelaki Mangalabulan. Ia tidak mau karena lelaki itu, bernama Siraja Uhum, buruk rupa. Sideak Parujar turun ke bumi dengan pura-pura mencari ikalan benang yang sengaja dijatuhkan. Dia terapung-apung di lautan yang sepi dan tidak mau kembali ke alam atas. Mula Jadi melemparkan segenggam tanah ke bawah lalu menjadi tanah yang luas, akan tetapi Naga Padoha yang berada di bawah tanah tidak nyaman ia berguling-guling supaya melepaskan beban tanah di atas kepalanya. Tanah mulai hancur dan menjadi lunak karena bercampur air lautan.

Naga Padoha berhasil dikalahkan oleh Sideak Parujar dan merantainya dengan besi, Mula Jadi mengirimkan tanah lagi sehingga layak untuk dihuni. Akhirnya Sideak Parujar kawin dengan Siraja Uhum yang wajahnya telah dicipta lebih baik. Dari perkawinan itulah dilahirkan umat manusia, dan desa awal yang dibangun bernama Si Anjur Mula-mula di lereng bukit suci Pusuk Bukit, sebelah barat Danau Toba.

3. Mitos dalam kehidupan Etnik Nias
Dalam mitologi Nias dikenal adanya dua dewa yang dianggap penting, yaitu Lowalangi sebagai dewa alam atas, sumber berbagai kebajikan dan Lature Danö, dewa alam bawah yang memperlihatkan aspek-aspek negatif. Lowalangi adalah dewa yang terpenting, Ia ada di mana-mana dan dapat menghukum orang jahat, ia yang mengetahui segala sesuatu. Adapun Lature Danö menyebabkan penyakit, kematian, gempa bumi, angin ribut dan berbagai bencana.

Sebenarnya terdapat kepercayaan bahwa sebelum kedua dewa itu ada telah ada dewa-dewa lain yang muncul setelah alam semesta berbentuk kekacauan, kabut dan kegelapan. Dewa yang pertama muncul adalah Tuha Sihai yang tinggal di alam yang besarnya seukuran rumah dan didukung ke mana-mana oleh angin. Tuha Sihai tinggal di alam yang pertama, alam paling atas, ketika Ia tiada dari napasnya tercipta Aloloa N’angi yang kemudian tiada, dari kepalanya timbullah pohon dunia yang disebut Toro’a. Di pohon itu lalu berkembang 3 taruk, dari taruk paling atas dilahirkan Lowa Langi’ dan Lature Danö dan dua roh jahat yang dinamakan dengan Nadayo dan Aföha, dari Taruk tengah dilahirkan satu roh baik dan satu roh jahat, sedangkan dari taruk yang bawah tidak dilahirkan sesuatu pun. Lowalangi berhasil menciptakan manusia yang bernama Sirao, ia hidup di langit lapisan langit ke delapan yang tepat berada di atas dunia manusia. Sirao dipandang yang menurunkan manusia, ia adalah nenek moyang manusia di dunia.

Adapun mitos dari wilayah Nias selatan menjelaskan bahwa masa yang paling awal alam semesta belum ada, yang ada hanyalah kabut tebal, kemudian kabut itu memecah diri sehingga dilahirkan Inada Samihara Luwo (Ibu alam semesta), ialah yang menyebabkan adanya penjadian dunia. Samihara Luwo kemudian memecahkan diri, dari tubuhnya tercipta Inada Samadulo Hosi, seorang perempuan yang tidak bersuami tetapi dapat melahirkan anak, yaitu Lature Danö Towe dan Sabolo Luwe Gögömi, nama lain dari Lowa Langi’. Uraian selanjutnya sama dengan mitos di Nias utara, hal yang membedakannya adalah bahwa dalam mitos di Nias selatan tidak dikenal adanya Pohon Dunia dan dipercaya adanya Ibu awal dari alam semesta, yaitu Inada Samihara Luwo.

4. Mitos yang dikenal di Sumba
Di kalangan penduduk Sumba mitos berkaitan erat dengan kepercayaan kepada dunia supernatural. Disumba dikenal adanya konsep Marapu yang dijelaskan sebagai segala sesuatu yang termasuk dalam dunia gaib atau alam supernatural. Marapu dijelaskan dengan bermacam peringkat, yang paling tinggi dinamakan dengan Marapu Lyangita (Marapu langit), atau Marapu awange (Marapu awan) yang tidak bersemayam di alam manusia, melainkan di alam atas. Marapu dunia atas ini berkuasa atas kehidupan dan nasib manusia.

Marapu lainnya adalah di Sumba barat dinamakan Ina-Kalada dan Ama-Kalada (nenek kakek) yang dipercaya sebagai pencipta manusia dalam alam semesta. Di bawahnya terdapat Marapu pemerintah yang mengawasi dan melaksanakan tata tertib dalam alam, semua tunduk padanya. Menyusul kemudian adalah Marapu Pengawas para dewa yang melaksanakan segala yang direncanakan oleh Marapu pemerintah. Marapu lainnya adalah Putera Bapa dan Ibu yang berhubungan dengan segala sesuatu dengan dunia manusia, disebut juga Marapu yang datang dan pergi, Marapu ini ada di mana-mana. Marapu penting lainnya adalah Marapu kampung yang menjaga kampung dan mengizinkan orang-orang tinggal dengan baik di Kampung.

5. Mitos di Flores
Di lingkungan suku Riung Flores barat terdapat mitos penciptaan awal alam semesta bahwa pada awalnya terdapat seorang perempuan yang bernama Te’ze. Ia menjadi ada dengan sendirinya, ia juga mempunyai kuasa atas dirinya, dan Ia dipercaya sebagai penyebab dari segala sesuatu. Te’ze berdiam di puncak batu karang raksasa, dimana terdapat sebuah pohon besar yang tumbuh dan mempunyai kuasa. Pada waktu Te’ze sedang tidur di bawah pohon, jatuhlah sekuntum bunga yang dihembus angin. Te’ze dibuahi oleh bunga yang jatuh tersebut, ia mengandung dan melahirkan anak lelaki yang diberi nama Lena. Ketika anak itu dewasa ia kawin dengan ibunya, dari perkawinan itu berkembanglah banyak manusia yang mengisi muka bumi.

6. Mitos di lingkungan Etnik Minahasa
Diceritakan pada mula pertama adalah seorang dewi yang terjadi dari bumi atau keluar dari batu sangat besar yang terbelah, dinamakan dengan Empung Lumimuut. Ia dibuahi oleh angin Barat, lalu melahirkan Dewa Matahari yang disebut Toar. Mereka lalu berpisah mengembara hingga keduanya bertemu kembali dan menikah, dari perkawinan itu dilahirkan para dewa dan umat manusia.

Lumimuut melahirkan banyak anak, anak terakhir adalah kembar 3 orang, salah seorang menjadi pemimpin di alam langit dan 2 orang lainnya menjadi nenek moyang yang menurunkan manusia. Ketika manusia bertambah banyak Lumimuut mendirikan 4 rumah untuk tempat tinggal manusia di 4 penjuru mata angin.

7. Mitos di kalangan Etnik Toraja
Etnik Toraja terdiri dari 3 subetnik, mempunyai dewa-dewa dengan nama dan berbeda, begitu pun tugas dewata itu bermacam-macam. Akan tetapi terdapat mite penjadian yang dikenal secara umum oleh etnik Toraja, yaitu bahwa bumi (Lino) merupakan dataran rata berbentuk lingkaran yang ditelungkupi oleh lengkung langit (Langi). Semula bumi menghampar terlalu luas dan lengkung langit kekecilan untuk menutupi hamparan bumi, maka bumi pun berkerut menyesuaikan diri dengan lengkungan langit, terjadilah gunung, pegunungan, lembah, ngarai dan bentuk muka bumi lainnya akibat perkerutan tersebut. Hubungan antara langit dan bumi dapat terjadi, para dewa dapat turun ke bumi dan jiwa orang-orang baik dapat naik ke langit melalui pelangi (bianglala), melalui puncak-puncak gunung, pohon tinggi, atau susunan teras batu.

Sebenarnya banyak cerita mite awal terciptanya bumi dan manusia dalam kehidupan etnik Toraja, namun berikut diuraikan salah satu saja di antara kisah mite yang dikenal oleh mereka. Alatala sebagai sebagai Topeteru (sang Pembentuk) membuat sepasang manusia dari tanah liat, setelah ia membuatnya dari kayu dan besi, namun gagal. Patung tanah liat sepasang manusia itu pada awalnya belum hidup. Kemudian Alatala mengutus tawon untuk menyengat patung-patung tadi, karena terkejut patung-patung itu bergerak dan berbicara. Manusia diberi makan dengan beras yang diturunkan dari langit, mereka tinggal menanaknya. Di antara beras itu masih terdapat gabah, dari gabah itulah kemudian ditanam dan dibudidayakan tanaman padi.

Alatala juga menciptakan dewa tertinggi Lai (lelaki) yang tinggal di langit dan nDara (anak dara) yang berdiam di bawah bumi. Lai dinamakan juga Bapa Langit dan nDara disebut pula Ibu Bumi. Menurut salah satu cerita mitos Toraja Bare’e, semula nDara bersemayam di alam atas bersama-sama dengan tokoh-tokoh dewa lainnya, tetapi karena ia melakukan perbuatan hina, lalu diusir ke alam bawah oleh Pue mPalaburu (dewa Matahari). nDara diturunkan oleh Pue mPalaburu dengan melalui seutas tali, hingga sampai di lautan yang luas dan sepi. Ia diombang-ambing di lautan itu sehingga timbul banyak buih menutupi tubuhnya. Buih itu membeku dan menjadi tanah yang menutupi nDara.

Lapisan tanah itu makin lama-semakin luas dan tebal. Ditutupi pohonan dan semak belukar sehingga menjelma menjadi permukaan bumi. Para dewa kemudian menurunkan sepasang manusia yang ditugaskan untuk membersihkan bumi dan bercocok tanam, kemudian manusia berkembang biak di sana. Selain mitos-mitos etnik di Nusantara yang telah dikaji oleh Harun Hadiwijono (1977) masih terdapat mitos etnik lainnya yang dikenal di Pulau Jawa. Berikut diuraikan secara ringkas perihal mitos penciptaan yang dikenal dalam lingkungan kehidupan etnik Kanekes (Baduy) di Banten Selatan dan juga mitos dalam masyarakat Jawa Kuno menurut uraian karya sastra.

8. Mitos Penciptaan Alam dalam lingkungan Etnik Kanekes
Tuhan yang maha tinggi disebut dengan Sang Hiyang Keresa atau disebut juga Nu Ngersakeun atau Batara Tunggal yang menurunkan 7 Batara leluhur orang Kanekes, yang paling sulung disebut Batara Cikal. Sang Hiyang Keresa walaupun menurunkan 7 batara, namun bukanlah orang tua dari mereka (Danasasmita 1986: 73). Batara Tunggal menciptakan bumi yang berawal dari benda besar yang kental dan bening, yang kemudian melebar dan berangsur-angsur mengeras. Pusat bumi terletak di Sasaka Pusaka Buana tempat turunnya 7 batara yang bertugas untuk menyebarkan dan mendidik manusia. Tempat itu adalah kampung Tantu tempat berkembangnya nenek moyang, merupakan tempat inti kehidupan manusia (Garna 1993: 140).

Mengenai buana atau dunia kehidupan, orang-orang Baduy mengenal adanya 3 buana, yaitu (1) Buana Luhur atau Buana Nyuncung, adalah angkasa yang luas tak terbatas, tempat bersemayaman para batara dan leluhur, (2) Buana Tengah atau Buana Panca Tengah tempat tinggal manusia yang hidup dengan keadaan suka dan duka, dan (3) Buana Handap atau Buana Larang merupakan dunia di bawah tanah yang tiada terbatas luasnya, tempat orang yang disiksa karena waktu hidup di dunia berkelakuan jahat (Danasasmita 1986: 77, Garna 1993: 141).

Walaupun terdapat bukti-bukti agama Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh orang Kanekes terpengaruh oleh agama Hindu dari Kerajaan Sunda Kuno, namun ini ajaran dan penciptaan alam semesta berbeda uraiannya dengan agama Hindu.

9. Mitos Asal-usul manusia dan Pulau Jawa
Dalam kitab Tantu Panggelaran yang bernapaskan agama Hindu di akhir masa perkembangannya (abad ke-15 M) dikisahkan bahwa pada mulanya Pulau Jawa kosong tiada berpenghuni dan selalu bergetar dan bergerak-gerak karena gempa serta hantaman gelombang samudera. Bhatara Jagatpramana memerintahkan Dewa Brahma untuk menciptakan manusia lelaki dan Wisnu mencipta perempuan. Mereka kemudian dikawinkan dan diturunkan di tanah Jawa, maka lahirnya banyak manusia yang mulai hidup di pulau itu.

Akan tetapi mereka masih hidup seperti hewan, tidak berpakaian, tidak mengenal peralatan, dan juga rumah, belum mengenal bahasa yang dapat dimengerti, tinggal dalam hutan dan masih sederhana kehidupannya. Para Dewa kemudian diperintahkan turun oleh Jagatpramana untuk mengajari berbagai kepandaian kepada penduduk Jawa masa purba. Manusia Jawa pun berangsur-angsur mencapai kehidupan yang maju dan sejahtera (Pigeaud 1924: 58-60).

Walaupun manusia telah mulai banyak menghuni Jawa, namun pulau itu seringkali digoncang dan bergetar tidak tenang karena tidak ada yang pemberatya. Sehingga seringkali gelombang samudera membuat Jawa berconcang-goncang dan menyebabkan bencana bagi penduduknya. Bhatara Wisnu telah turun ke Jawa dan menjadi raja pertama bergelar Prabhu Kandiawan, ia kemudian naik kembali ke kahyangan setelah mempunyai 5 orang anak yang akan menurunkan manusia selanjutnya.

Akibat Pulau Jawa sering sekali bergoyang-goyang, maka pendudukanya tidak dapat mengembangkan peradaban dengan baik, padahal kelak penduduk pulau itu yang akan memimpin dunia manusia. Para dewa kemudian bersepakat untuk memindahkan setengah Gunung Mahameru dari India ke Jawadwipa. Gunung itu pun dipotong bagian tengahnya, setengah hingga puncak digotong beramai-ramai oleh para dewa terbang melayang menyeberangi samudera menuju ke Jawa.

Setelah sampai di Jawa sebagian dari tubuh gunung itu rontok dan menjelma menjadi gunung-gunung dari wilayah barat hingga timur, antara lain menjadi Gunung Wilis, Kelud (Kampud), Kawi, Arjuna, dan Kemukus (Welirang). Bagian tubuhnya menjadi Gunung Semeru (Su + Meru = Meru yang indah) yang berdiri miring agak ke utara ditopang oleh Gunung Brahma (Bromo). Adapun puncaknya dipenggal oleh para dewa dan dihempaskan ke bawah menjadi Gunung Pawitra (Penanggungan), demikianlah puncak Mahameru menjadi Gunung Pawitra hingga masa kemudian (Pigeaud 1924: 65-66).

Beberapa cerita mitos dan kepercayaan kepada kekuatan gaib tersebut hanyalah sekedar contoh saja bahwa dalam kebudayaan etnik-etnik di Indonesia terdapat kisah turun-temurun yang menguraikan asal-usul terjadinya kehidupan dan manusia di muka bumi. Sudah barang tentu masih banyak kisah mitos lainnya yang masih belum diketahui dan diinventarisasi oleh para peneliti, kisah-kisah tersebut sebenarnya adalah khasanah peradaban etnik yang tidak bisa dipandang sebagai kisah sejarah masa lalu, melainkan juga harus dimaknai lain dalam peradaban di luar makna kekeramatannya.


Referensi:
Hadiwijono, Harun, 1977. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK.Gunung Mulia.
Danasasmita, Saleh & Anis Djatisunda, 1986. Kehidupan Masyarakat Kanekes. Bandung: Proyek Sundanologi, Depdikbud.
Garna, Judhistira, 1993. “Masyarakat Baduy di Banten”, dalam Koentjaraningrat (Penyunting), Masyarakat Terasing di Indonesia.
Pigeaud, Theodoor Gauter Thomas, 1924. De Tantu Panggelaran: Een Oud-Javaanch Prozageschrift, uitgegeven, vertaald en toegelicht. s’-Gravenhage: H.L.Smits.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar