Senin, 26 Juni 2017

Berhati-hati, ponsel bisa terkena kanker otak

Hubungan radiasi ponsel dengan penyakit kanker otak


Ponsesl atau handphone merupakan alat canggih yang dapat digunakan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan mudah. Selain bisa mengobrol, ponsel pun dibekali dengan layanan SMS atau pesan singkat dan aplikasi-aplikasi yang lainnya yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dibalik kecanggihan ponsel ternyata ada dampak negatifnya pula, seperti radiasi elektromagnetik dari ponsel. Terutama yang diserang adalah kanker otak yang harus kita waspadai karena itu bom waktu dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa orang-orang sangat cuek atau tidak memperhatikan bahaya radiasi ponsel yang sewaktu-waktu bisa terkena. Gejalanya seperti kepala pusing karena menelepon terlalu lama. Biasanya orang-orang kalau tidur dekat dengan ponsel, itu pun sangat berbahaya. Maka dari itu, jauhkanlah ponsel kalau ingin tidur atau jangan terlalu dekat mungkin itu lebih baik.

Penelitian
Kemungkinan ponsel dapat menyebabkan kanker otak pertama kali muncul di tahun 1993, ketika David Perlmutter seorang dokter ahli saraf dari Florida melakukan observasi pasiennya dengan tumor otak di lokasi yang sesuai dengan tempat radiasi RF dari antena ponsel yang digunakan. Ia kemudian membuat hipotesis yang disiarkan melalui CNN (Cable News Network) pada acara Larry King’s Live Show, bahwa penggunaan ponsel merupakan penyebab tumor di otak pasiennya. 

Dasar dari hipotesis Perlmutter berasal dari studi yang dilakukan oleh Stephen Clery dari Virginia Medical College, Richmond, yang membuktikan bahwa terdapat proliferasi selsel tumor yang dibiak in vitro setelah terpajan pada radiasi radio frekuensi.

Pada saat itu para ilmuan berpendapat bahwa sinyal rendah yang dihasilkan ponsel tidak cukup kuat untuk dapat meningkatkan suhu jaringan biologis, sehingga tidak mungkin menyebabkan kelainan. Hasil temuan Perlmutter dan Cleary di tanggapi dengan skeptis karena Cleary tidak dapat menghitung besar tingkat pemanasan pada percobaannya sehingga hasilnya dianggap sebagai artefak atau gangguan yang tidak mempunyai arti.

Tanpa dukungan data biologis maka observasi Perlmutter dianggap oleh para ahli sebagai faktor kebetulan saja. Tetapi walaupun demikian observasinya menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat dan mengejutkan beberapa anggota Kongres Amerika Serikat sehingga perlu dilakukan penelitian selama 7 tahun dengan biaya sebesar US$ 27 juta dan dikenal sebagai program WTR (Wireless Technology Research).

Lai & Singh melaporkan bahwa tikus yang seluruh badannya terpajan dengan gelombang mikro 2 jam tiap hari yang sesuai intensitasnya dengan radiasi dari antena ponsel menunjukkan gangguan satu rantai DNA. Tahun berikutnya percobaan yang serupa mereka laporkan dan terdapat hasil berupa gangguan dua rantai DNA. Lai dan Singh mengadaptasikan percobaan in vitro satu sel ke dalam keadaan bioassay in vivo. Adaptasi ini masih belum di validasi pada laboratorium lain sehingga sulit untuk diinterpretasikan hasilnya. Selain itu percobaan seluruh badan jelas berbeda dengan radiasi pada daerah kepala yang terpajan radiasi RF antena ponsel.

Adanya masalah-masalah pada standarisasi temuan tersebut, maka dicari hubungan antara keterpajanan in vivo dan in vitro dalam kaitannya dengan akibat penggunaan ponsel. Usaha ini termasuk adaptasi untuk pemajanan pada pemanasan percobaan in vitro dan pemajanan daerah kepala pada binatang percobaan.

Repacholi melaporkan bahwa percobaan pada mencit transgenik yang rentan terhadap timbulnya limfoma yang terpajan RF pada seluruh badannya selama 1 jam setiap hari selama 18 bulan didapatkan 2 kali peningkatan terjadinya limfoma. Tetapi temuan ini di tanggapi dengan skeptis pula oleh para ilmuan karena tak jelas dosis RF yang diberikan dan sulit kaitannya pada manusia. 

Beberapa studi eksperimen yang dilakukan in vivo dan in vitro tentang potensi efek biologis dari sinyal ponsel masih sulit diterima oleh para ilmuan karena tidak adanya temuan yang jelas untuk menyimpulkan adanya hubungan antara ponsel dengan kanker otak.

Bermacam-macam teknologi semakin canggih, tapi dibalik kecanggihan itu ada efek negatifnya seperti radiasi elektromagnetik. Untuk mencegah radiasi yang paling efektif salah satunya adalah membuat orgonite. Jadi, pesan saya buatlah orgonite dan taruh di tempat barang elektronik yang memiliki radiasi. Selain ponsel, masih banyak alat-alat elektronik yang harus diserap radiasinya dengan orgonite.

Saya sendiri heran, mengapa pabrik pembuat ponsel tidak diberi alat anti radiasi atau peredam radiasi agar kesehatan manusia tidak terganggu. Terus juga barang-barang elektronik yang lainnya pun tidak di pasang anti radiasi. Tower seluler juga mengeluarkan radiasi elektromagnetik juga, kenapa orang yang pasang tower tersebut tidak diberi alat peredam radiasi semacam orgonite? Saya pun heran, sudah jelas radiasi sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.


Referensi:
Repacholi MH. Low-level exposure to radiofrequency electromagnetic fields: health effects and sesearch needs. Bioelectromagnetic 1998;19:1-19.
Lai H, Singh NP. Acute exposure to a 60 Hz magnetic field increases DNA strand breaks in rat brain cells. Bioelectromagnetic 1997;18: 156-65.
Hardell L, Nasman A, Pahlson Al. Casecontrol Study on Radiology Work, Medical Xray Investigation, and Use of Cellular Telephones as Risk Factors for Brain Tumors. Medscape General Medicine May 4, 2000.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar