Efek merokok & upaya penanggulangannya

Rokok
Jika dilihat secara sepintas, kebiasaan mengisap rokok dalam jangka waktu tertentu, nampaknya tidak memiliki efek yang sangat bermakna terhadap pembentukan karakter. Tetapi jika kita kembali mengurai peran penting faktor organis dalam pembentukan karakter, maka tidak berlebihan jika kita menarik satu premis bahwa segala sesuatu yang mempengaruhi normal tidaknya fungsi suatu organ, dalam hal ini otak, pada akhirnya akan mempengaruhi performa organ tersebut. Sebagai contoh, rokok mengandung senyawa nikotin yang bersifat toksik. 

Salah satu efek toksik yang membahayakan kesehatan manusia adalah pengaruhnya pada integritas struktur pembuluh darah, meningkatkan viskositas (kekentalan) darah dan menjadi salah satu faktor resiko timbulnya penyakit jantung dan pembuluh darah. Studi dalam bidang neurosains menyebutkan bahwa fungsi otak sangat bergantung pada kualitas dan kuantitas suplai darah pada wilayah otak yang sedang aktif.

Satu riset dengan menggunakan metode pencitraan otak memperlihatkan terjadinya peningkatan aliran darah pada wilayah korteks prefrontalis (pusat pengaturan fungsi luhur dan penilaian moral) pada saat seseorang sedang berfikir dan berusaha menilai baik buruknya satu tindakan yang akan dilakukan, dan sebaliknya. Dengan demikian, jika terjadi gangguan pada pembuluh darah dan atau pada sel-sel darah, maka secara langsung atau tidak langsung akan mempengaruhi kualitas kerja sistem pembuluh darah otak dan pada akhirnya akan mempengaruhi kerja otak secara keseluruhan.

Beberapa efek lain yang dapat timbul dari kebiasaan merokok, antara lain:
 
1. Wajah keriput
Merokok dapat mengurangi aliran oksigen dan zat gizi yang diperlukan sel kulit wajah dengan jalan menyempitkan pembuluh darah di sekitar wajah sehingga dapat menyebabkan wajah keriput.

2. Gigi berbercak dan nafas bau
Partikel dari rokok dapat memberikan bercak kuning hingga cokelat pada gigi, hal ini juga akan menyebabkan bakteri penghasil bau akan terperangkap. Selain itu kelainan pada gusi dan gigi tanggal juga akan lebih sering terjadi pada perokok.

3. Lingkungan akan menjadi bau
Rokok sigaret memiliki bau yang tidak menyenangkan dan dapat menempel pada segala sesuatu, mulai dari kulit, rambut, pakaian, hingga barang-barang di sekitar anda.

4. Menjadi contoh yang buruk bagi anak
kebiasaan anak untuk menjadikan orang tua sebagai contoh dalam hidupnya menyebabkan anak akan mengikuti dan menjadi ketagihan karena melihat orangtuanya.

5. Menjadi gerbang penggunaan narkoba
Nikotin mempunyai sifat mempengaruhi otak yang sama dengan efek pada obat-obatan terlarang. Dalam urutan sifat adiktif (ketagihan), nikotin lebih menimbulkan ketagihan dibandingkan alkohol, dan kafein sehingga akan lebih membuka peluang penggunaan obat-obatan terlarang di masa yang akan datang.

Upaya Penanggulangan Masalah Rokok
Penanggulangan masalah rokok memerlukan kerjasama yang baik dari semua pihak. Negara yang mempunyai program penanggulangan rokok adalah Australia, Kanada, Finlandia, Perancis, Hongkong, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Swedia, Sudan, dan Thailand. (Aditama, 1995). Upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan harga rokok dengan menaikkan pajak rokok. 

Tingginya pajak rokok dapat mempengaruhi kegiatan merokok dari golongan anak-anak dan remaja serta perokok dari golongan menengah ke bawah. Upaya lain adalah memasang peringatan pada bungkus rokok. Peringatan untuk tidak merokok diberlakukan pada lingkungan-lingkungan tertentu, seperti lingkungan sekolah, gedung pemerintah, fasilitas kesehatan, atau dalam penerbangan tertentu. Mendirikan klinik berhenti merokok, seperti Yayasan Kanker Indonesia, Yayasan Jantung Indonesia, dan lain-lain.

Secara umum dikenal tiga aspek dari merokok, yaitu:
1. Ketagihan secara fisik atau kimia, yaitu ketagihan terhadap nikotin.
2. Automatic habit, berupa kebiasaan dalam merokok, ritual habit seperti membuka
bungkus rokok, menyalakannya, menghisapnya dalam-dalam, merokok sehabis makan,
merokok sambil minum kopi, dan lain-lain.
3. Ketergantungan secara psikologis atau emosional yaitu kebiasaan menggunakan rokok
dalam mengatasi masalah yang bersifat negatif, seperti rasa gelisah, kalut atau frustasi.

Penanganan pada perokok berat tidak hanya ditujukan terhadap efek balik yang ditimbulkan, tetapi juga memberikan bekal kepada perokok keterampilan khusus agar dapat menolak keinginan merokok yang muncul sewaktu-waktu. Mulyono (1995) mengemukakan upaya yang dapat ditempuh dalam menanggulangi pengaruh rokok terhadap kesehatan manusia, yaitu:

1. Metode penghentian merokok secara bertahap
Penghentian merokok dapat dilakukan dengan cepat (metode langsung), dimana perokok diharuskan langsung berhenti merokok dalam waktu singkat, yaitu 5 sampai 10 hari, sedangkan metode lambat dilakukan secara bertahap, yaitu selama beberapa minggu. Metode ini menekankan pada aspek psikologis, yaitu keinginan kuat dari setiap perokok untuk berhenti merokok. Pelayanan klinik berhenti merokok Yayasan Jantung Indonesia menerapkan program berhenti merokok selama 4 hari. Hasil penelitian menunjukkan program tersebut memberikan hasil maksimal, yaitu 88,8% perokok berhenti merokok selama 1 tahun.

2. Metode pemakaian obat-obatan (nicotine replacement therapy).
Penggunaan nikotin dosis rendah dalam bentuk gum (permen) atau bentuk patch (plester) adalah salah satu upaya yang dilakukan dalam menanggulangi pengaruh rokok dengan metode obat-obatan. Penggunaan nikotin dengan cara mengunyah permen nikotin atau menempelkan plester nikotin pada kulit dimaksudkan untuk mengatasi efek balik akibat penghentian merokok bila timbul rangsangan ingin merokok. Hasil penelitian pada beberapa klinik berhenti merokok menunjukkan keberhasilan yaitu 58% perokok berhenti merokok setelah pemakaian permen nikotin selama 3 sampai 6 bulan.

Filtrasi merupakan salah satu upaya penanggulangan pengaruh asap rokok terhadap kesehatan manusia dengan cara melewatkan udara yang mengandung asap rokok melalui media tertentu. Bahan filter akan menangkap asap rokok kemudian udara bersih diloloskan dari filter tersebut. Penyaringan atau filtrasi digunakan untuk memisahkan pengotor (asap rokok) dari udara. Secara umum karbon aktif digunakan sebagai filter untuk menangkap asap rokok tersebut. 

Penanggulangan pengaruh rokok dan asap rokok merupakan tanggung jawab semua pihak. Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi profesi dokter, media massa, alim ulama, dan masyarakat luas memiliki tanggung jawab bersama dalam mengatasi masalah rokok. Dalam pelaksanaan program penanggulangan tersebut, pemerintah dapat menjalin kerjasama dengan organisasi internasional World Health Organization (WHO), Asia Pacific Association for The Control of Tobacco, dan lain-lain. Masalah rokok bukan persoalan mudah tetapi semua pihak harus mendapat informasi yang lengkap tentang pengaruh negative rokok, memahami peran, dan memberikan kontribusi terhadap penanggulangan pengaruh rokok tersebut.


Referensi:
Aditama, Tjandra Yoga., 1995. Rokok Masalah Dunia, Jurnal Kedokteran dan Farmasi, No.9 Tahun XXI, PT. Grafiti Medika Pers, Jakarta
Mulyono, Djoko., 1995. Merokok dan Penyakit Kardiovaskuler, Jurnal Kedokteran dan Farmasi, No.9. Tahun XXI, PT. Grafiti Medika Pers, Jakarta.

0 Response to "Efek merokok & upaya penanggulangannya"

Posting Komentar