Kamis, 15 Juni 2017

Inilah mitos tentang ikan lele

Ikan lele

 Mitos dan Kepercayaan Ikan Lele di Desa Medang

Agama merupakan suatu sistem kesatuan dari keyakinan dan praktek-praktek keagamaan ter-hadap hal-hal yang sifatnya sacred, yakni segala sesuatu yang dihindari atau dilarang oleh keyakinan-keyakinan dan praktek-praktek yang mengajarkan moral yang tinggi ke dalam komunitas.

Modernisasi akan berdampak pada pola pikir masyarakat. Hal ini seharusnya berbanding lurus dengan derajat rasionalnya. Namun kenyataannya, masih banyak masyarakat modern meyakini mitos-mitos seperti di Desa Medang, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan yang percaya mitos ikan lele. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kegiatan observasi dan wawancara mendalam menggunakan teori religi Koentjaraningrat, dan teori perkembangan kebudayaan van Peursen. 

Hasil penelitian ini menunjukkan masyarakat masih mempercayai mitos ikan lele, karena faktor faktor agama, faktor kepercayaan yang diyakini masyarakat, faktor keluarga yang sejak lahir sudah diperkenalkan dengan mitos ikan lele, dan faktor masyarakat melakukan ritual ziarah kubur setiap hari Jum’at Pon. Masyarakat, juga memaknai mitos sebagai mitos untuk lebih mendekatkan diri pada yang kuasa; selain itu mitos ikan lele juga dimaknai sebagai media edukatif untuk menghormati jasa-jasa tokoh-tokoh dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam.

Penelitian
Penelitian yang serupa Minsarwati ditulis Puji (2013) tentang fenomena mitos di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan. Konon terdapat telaga yang memiliki cerita mistis yang sangat dipercaya masyarakat. Namanya “Telaga Rajeng” telaga yang dibangun tahun 1924, berada di kaki Gunung Slamet dan merupakan bagian dari kawasan cagar alam milik Perhutani Pekalongan Timur.

Cagar alam memiliki luas empat puluh delapan setengah hektar terdiri dari hutan damar dan pinus yang mengelilingi telaga, yang sebelumnya merupakan tempat mandi para tokoh kerajaan di Jawa. Ada suatu hal yang sama dari telaga ini, yaitu telaga ini dihuni oleh ribuan ikan lele. Telaga ini bukanlah tempat penakaran lele atau pun sebuah kolam peternakan ikan lele. Tapi ikan-ikan lele di telaga ini, berkembang biak begitu saja tanpa ada perawatan (Puji, 2013).

Beberapa penelitian yang ada, terdapat hubungan yang hampir sama, ya-itu mitos ikan lele. Penduduk Lamongan keturunan Mbah Boyo patih dilarang memakan atau menjual ikan lele; apabila melanggar maka ia akan mengalami gatal-gatal serta kulit melupas dan belang-belang putih seperti kulit ikan lele dan mungkin tidak bisa disembuhkan oleh obat dan medis, kecuali berziarah kemakam Mbah Boyopatih untuk tawasul dan membasuh dengan air jublangan pada bagian yang sakit (Nn, 1883).

Asal usul mitos
Dahulu ada seorang santri bernama Boyo patih beliau diutus oleh kyainya, untuk mengambil sebuah pusaka yang di pinjam oleh Mbok Rondo, seorang santri tersebut tidak berhasil meminta dengan cara yang baik, sehingga Mbah Boyopatih mengam-bil dengan menyerupa sebagai kucing, akan tetapi cara tersebut diketahui oleh Mbok Rondo dan akhirnya Mbok rondo berteriak memanggil semua orang untuk mengejarnya, Boyopatih lari hingga sam-pai pada tempat Jublangan tempat ikan lele, Boyopatih bersembunyi dilorong ju-blang tersebut. Warga yang mengejar tidak berhasil menemukannya, Boyopatih merasa telah diselamatkan oleh ikan lele dari kejaran masa, akhirnya Boyopatih berkata bahwa anak turun temurunnya dilarang untuk memakan ikan lele, apabila ada yang melanggarnya akan terkena kutukan penyakit gatal-gatal. 

Beliau juga di makamkan di tempat tersebut dan di muliakan oleh masyarakat setempat, bagi penduduk Lamongan yang masih mempunyai keturunan dari Mbah Boyopatih apabila melanggar memakan atau menjual ikan lele dia akan mengalami gatal-gatal serta kulit melupas dan juga ada yang belang putih seperti kulit Ikan lele dan mungkin tidak bisa di sembuhkan oleh obat dan medis kecuali datang ziarah ke makam Waliyulloh Mbah Boyopatih untuk Tawassul yaitu berdoa memohon di beri kesembuhan atas penyakit yang dideritanya, dan membasuh yang sakit dengan air kolam makam Mbah Boyopatih.

Pantangan tersebut tidak berlaku bagi orang Lamongan yang bukan asli keturunan Mbah Boyopatih. Tapi meski be-gitu banyak orang dari luar Lamongan yang sembuh dari penyakit kulitnya sehabis tawassul dan ziarah ke makam.

Makna mitos ikan lele
Masyarakat Desa Medang dapat dengan mudah mengintepretasikan makna tersebut sesuai dengan apa yang ada dalam pemikiran mereka dengan bebas dan dari sinilah muncul istilah keanekaan makna. Makna religi tampak menonjol pada aktifitas masyarakat Desa Medang yang memepercayai adanya Mitos ikan lele. Hal ini dapat di lihat dengan awalan doa-doa yang diucapkan seperti pembacaan Surat Al- Fatihah, Surat Yaasin, dan Tahlil, serta permohonan doa-doa yang dikehendaki. Bagi masyarakat surat Al-fatiha, surat Yaasin dan Tahlil memiliki arti yang berbeda dan makna yang berbeda pula.

Makna edukatif dalam aktifitas ziarah ke makam Mbah Boyopatih ini juga tampak menonjol pada keseluruhan ritual tersebut. Beberapa masyarakat Desa Medang secara sadar bahwa dalam beberapa hal mereka tidak dapat menyelesaikan persolan hidup mereka tanpa bantuan pihak lain, dan pihak lain yang dimaksudkan di sini adalah bantuan Allah SWT lewat karomah Makam Mbah Boyopatih yang terkandung dalam mitos ikan lele.

Masyarakat percaya bahwa “kedekatan” wali yullah dengan Allah SWT yang berakibat pada diberikannya karomah kepada beliau yang kemudian dapat dirasakan lewat doa-doanya dan air jublangan. masyarakat menjadikan doa-doa itu sebagai sebuah ritual ketika mereka datang berziarah ke makam Mbah Boyopatih, mereka tidak sadar bahwa itu adalah sebuah pembelajaran buat mereka yang dilakukan sebagai wujud untuk menghormati jasa-jasa tokoh-tokoh tersebut dan mengenang mereka dalam menyebarkan ajaran Islam.

Kebudayaan yang terus berkembang tidak serta menghapuskan semua kebudayaan lama yang telah ada, secara filosofis kebudayaan Mitos ikan lele ini, sudah berlangsung secara turun temurun (terinkulturasi) dalam jangka waktu yang panjang. Meskipun beberapa masyarakat Desa Medang sudah banyak yang sudah mengenal pendidikan, namun masyarakat Desa Medang ini masih memegang teguh dengan adanya mitos ikan lele, bahwa orang Medang dilarang memakan ikan lele, tidak dapat di pungkiri bahwa masyarakat sudah mengalami perkembangan seiring dengan pola pikir sekarang.

Mitos, kepercayaan, dan kebudayaan
Setiap kebudayaan mempunyai mitos yang dipercaya sebagai suatu kebenaran oleh masyarakat. Meskipun mitos merupakan cerita yang dipertanyakan kebenarannya, tetapi mitos tetap dibutuhkan agar manusia dapat memahami lingkungan dan dirinya.

Mitos ikan lele tidak hanya dipercaya oleh masyarakat Desa Medang saja melainkan dari berbagai daerah seperti Gresik, Tuban dan Surabaya. Mitos-mitos tentang larangan memakan ikan lele tersebut dianalisis melalui tiga tahap perkembangan kebudayaan, tahap pertama yaitu tahap mitis, kedua tahap ontologis, ketiga tahap fungsional. Pada tahap mitis menjelaskan sikap manusia yang merasakan dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, seperti kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi-mitologi yang dinamakan bangsa-bangsa primitif.

Namun, dalam kebudayaan modern pun sikap mitis masih terasa banyak dilakukan. Pada masyarakat Desa Medang masih mempercayai mitos ikan lele, meskipun masyarakat Desa Medang sudah mengikuti budaya modern, akan tetapi kepercayaan mengenai mitos ikan lele masih melekat.

Pada tahapan ontologis masyarakat Desa Medang sudah mengenal pendidikan, dengan begitu masyarakatnya telah berpikir realistis akan tetapi mereka masih memegang kepercayaan mitos ikan lele walaupun ada masyarakat yang beranggapan bahwa mitos ikan lele itu tidak rasional. Akan tetapi pada kenyataannya masyarakat Desa Medang masih memegang teguh kebudayaan mitos ikan lele.

Pada tahapan fungsional ini masyarakat Desa Medang masih mempercayai mitos ikan lele dengan melakukan ritual-ritual seperti pada hari Jum’at Pon mereka melakukan ziarah kubur di makam Mbah Boyopatih, ziarah kubur dilakukan dengan membaca doa-doa seperti membaca surat Yaasin, Tahlil, dan sholawat-sholawat.

Secara umum, agama merupakan kepercayaan kepada Tuhan. Agama selalu melibatkan komunitas manusia. Selain itu, agama juga sering disebut universal. Hal tersebut nampak pada agama pada masyarakat Desa Medang. Berbagai macam munculnya kepercayaan dikarenakan oleh banyak hal seperti dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, dikontruksikan secara sosial atau kultural, melalui determinan adat tradisi, negara dan agama. Ajaran agama mempunyai peranan penting dalam membentuk kepercayaan di masyarakat.

Kepercayaan merupakan bagian terpenting dalam mitos ikan lele, dengan adanya kepercayaan, masyarakat percaya dunia supranatural. Dunia tersebut merupakan unsur dari dunia gaib, masyarakat Desa Medang memiliki suatu kepercayaan dengan meminum atau berwudlu air pada jublangan tersebut, akan diberi kesembuhan penyakit yang diderita, terutama penyakit gatal-gatal yang berkaitan dengan mitos ikan lele. Air jublangan merupakan bentuk dari sebuah kepercayaan. Masyarakat Desa Medang percaya dengan meminum air jublangan, segala penyakit akan dapat disembuhkan. Dengan adanya kepercayaan, masyarakat juga banyak yang merasa diberi kesembuhan setelah berziarah dan berwudlu air jublangan.

Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat. Dari keluarga seorang anak belajar tentang nilai-nilai budayanya. Agar kehadiran setiap individu diterima oleh lingkungannya, maka dia harus berperilaku sesuai norma-norma budayanya. Demikian halnya dengan anak-anak Desa Medang, mereka mengetahui nilai-nilai tentang mitos ikan lele melalui keluarga. Pengenalan nilai-nilai mitos ikan lele, seperti larangan memakan ikan lele di dapat melalui orang tua dan kerabat yang lainnya misalnya nenek.

Keharusan warga Desa Medang untuk tidak memakan ikan lele di mulai sejak lahir. Oleh karena itu orang tua mulai membiasakan untuk mengenalkan budaya yang ada pada masyarakat Desa Medang. Beberapa larangan pada masyarakat Desa Medang yang berkaitan dengan mitos ikan lele seperti tidak boleh memakan ikan lele, memelihara ikan lele, menjual belikan ikan lele bahkan masyarakat harus berhati-hati dan selektif memilih makanan yang tidak mengandung unsur ikan lele.

Seperti diketahui bahwa kebudayaan cenderung dipertahankan masyarakat pendukungnya, jika dianggap cocok atau masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Jika kebudayaan yang ada dapat menciptakan suatu kondisi yang tenang dan harmonis yang merupakan idaman setiap individu maka ia akan tetap dijaga dan dipertahankan eksistensinya,

Pada masyarakat Desa Medang masih memegang dan mempertahankan kebudayaan mitos ikan lele, masyarakat percaya bahwa mitos tersebut memiliki kekuatan gaib atau supranatural, walau pun masyarakat Desa Medang menyadari bahwa mereka sudah ada dalam kehidupan modern akan tetapi masyarakat Desa Medang masih mempercayai adanya mitos menurut Peursen, (1988: 34) mengatakan manusia yang merasakan dirinya terkepung kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, seperti kekuasaan dewa-dewa alam raya atau kekuasaan kesuburan, seperti dipentaskan dalam mitologi bangsa primitif. Namun, kebudayaan modernpun sikap mitis masih banyak terasa.

Masyarakat percaya bahwa mitos ikan lele memiliki kekuatan-kekuatan gaib, dengan kekuatan gaib itu, mitos ikan lele dipercaya mampu menyembuhkan segala macam penyakit, lewat perantara berziarah, berdoa dan air jublangan yang dipercaya sebagai obat kesembuhan. Masyarakat melakukan ritual sesaji dengan menggunakan peralatan seperti tumpengan, yang terdiri dari nasi putih yang berbentuk kerucut, dengan dilengkapi lauk pauk, seperti ikan bandeng, ayam, dan tahu tempe, ada juga dengan membawa bunga. Dengan melakukan ritual tersebut masyarakat percaya diberi kesembuhan.


Referensi:
Roland Robeston (1988), Agama: dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologi. Ed: Penerjemah Achmad Fedyani Saifuddin. Edisi 1. Cetakan 3. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada.
Puji (2013), Mitos Telaga Rajang (http:// artikel penelitian.co.id)
N.n. (1883), Naskah Riwayat Hari Jadi La- mongan. Lamongan: Dinas Kebuda-yaan dan Pariwisata.
van Peursen, C. A. (1988), Strategi Kebu-dayaan. Yogyakarta: Kanisus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar