Kamis, 29 Juni 2017

Investigasi & pandangan kuno planet mars

Planet mars

Planet Mars adalah planet luar yang paling dekat dengan Bumi. Pada malam hari kadang kita melihat sebuah ”bintang” cemerlang yang bercahaya kemerahan. Itulah Mars atau planet merah. Namanya berasal dari nama dewa perang Romawi. Planet ini memiliki diameter kira-kira 6.800 km atau sekitar setengah diameter Bumi. Masa rotasi Mars adalah 24 jam 37 menit dan masa revolusinya 687 hari. Mars memiliki dua buah satelit, yaitu Deimos dan Phobos, temperaturnya lebih rendah dibandingkan dengan temperatur di Bumi. Meskipun begitu, planet mars diduga memiliki kehidupan dan misteri lainnya.

Investigasi

Sejarah penelitian planet Mars
Pada saat rakyat Indonesia masih disibukkan oleh peperangan di daerah-daerah melawan penjajah, jauh di negeri seberang para peneliti telah peduli untuk mengungkap rahasia ilmu pengetahuan alam khususnya ilmu antariksa.  Seperti halnya fenomena alam dari penampakan wajah planet Mars pada jarak dekat menjadi satu semangat bagi para astronomer sebagai bahan penelitian. 

Hal ini sudah dirintis beberapa abad yang lalu tepatnya awal abad 17. Pada awal abad 17, Galileo merancang teleskop pertama untuk penelitian Mars. Beberapa tahun kemudian, tahun 1636 ilmuwan Italia bernama Fransisco Fontana membuat sket permukaan Martian (nama lain planet Mars) kemudian diperbaiki oleh fisikawan Jerman Christian Huygens, oktober 1659.

Pada tahun 1666 G.D. Cassini dkk. menentukan periode rotasi Mars mendekati 24 jam dengan mengamati obyek permukaan Martian. Sesungguhnya rotasi Mars lebih lambat dibanding rotasi Bumi yaitu : 24 jam, 37 menit, 23 detik (=1 hari di planet Mars). Pada awal abad 18 (tahun 1719),

Giacomo Mar aid i membuat perubahan catatan tentang Mars dengan menemukan awan dan daerah gelab di sekitar kutub. Astronomer berkebangsaan Inggris, Willian Herschel menyatakan bahwa pita hitam di sekitar kutub disebabkan oleh peleburan es dan salju. Peta global pertama dari Mars dibuat tahun 1869 (Kaufmann J. W., 1978) oleh dua astronomer Jerman, Wilhelm Beer dan Johann Madler,   Hasil sket ini dibuat berwarna pertama kali oleh Pietro Angelo Secchi, tahun 1869.


Misi Viking ke planet mars
Minat, kemampuan teknologi serta dana yang tersedia membuat suatu titik kecil di benua Amerika menjadi pusat perhatian orang. Jelasnya, pusat ruang angkasa John Kennedy Cape Canaveral di Miami Amerika Serikat. Tumpunan dan harapan diletakkan pada puncak 70 ahli dan ribuan teknisi yang ada di sana. Planet Mars, planet yang menarik perhatian planet yang menjadi objek dalam proyek Viking.

Suatu misi dan diharapkan kemudian mendarat di planet Mars, merupakan era baru bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Kedua pesawat selain membawa kamera lapangan dan peralatan ilmiah lainnya (diantaranya, alat peramal cuaca dan alat pencatat gempa), juga dilengkapi dengan seperangkat alat pencari kehidupan. Masalah utama yang diemban oleh misi ini adalah menyelidiki dan mengamati fenomena fisik atau pun kimia yang terjadi di sana.

Dari kedua gejala alamiah ini, ahli biologi mencoba menelusuri jejak-jejak kehidupan yang terjadi di sana, bentuknya tidak menjadi persoalan dan ber"mimpi" namanya, kalau kita mengharapkan bahwa di sana terdapat makhluk-makhluk seperti manusia di Bumi. Komposisi udaranya saja sudah tidak memungkinkan kita untuk tinggal di sana. Pengamatan dari Bumi, dengan bantuan teropong dan analisa spektral telah dapat ditentukan gas apa yang terdapat di sana. Karbondioksida adalah unsur yang dominan di atmosfer Mars. Kita hanya cocok menggunakan oksigen sebagai konsumsi sehari-hari.

Sepuluh tahun sebelum Viking diluncurkan, Marinir 4 sudah mengamati planet Mars, pesawat ini berhasil mendekati permukaannya pada tahun 1965. Apa yang dilihatnya mensirnakan segala kesan yang spektakuler tentang planet ini. Gambar yang dikirimkannya, begitu mengecilkan hati dan "mematikan" interpretasi kuno. Permukaan tandus dan kawah-kawah yang berserak di sana-sini, tak ubahnya seperti permukaan bulan, terlihat jelas menyelubungi permukaan planet.

Misi ini kemudian diikuti oleh Marinir 5, 6, dan 7 pada tahun 1969, ketiganya memperlihatkan hasil yang tidak jauh berbeda dari data-data yang dikirimkan oleh Marinir 4. Pada tahun 1971, Mars dikunjungi lagi oleh Marinir 9, ada kemajuan baru dalam misi ini ternyata proses geologi dan meteorologi masih aktif di sana, mungkin juga biologi. Melihat kemungkinan ini Amerika Serikat mulai bersiap-siap untuk mendarat Viking di sana.

Pandangan kuno tentang planet Mars
Planet merah Mars, sejak zaman dulu telah menarik perhatian orang, pengembara di padang pasir, atau pun nelayan di tengah lautan, orang-orang Yunani kuno melihatnya sebagai suatu hal yang berhubungan dengan kekerasan. Merah Mars lambang peperangan.

Penemuan teleskop pada abad ke 17 membuat orang yang hidup pada zaman itu, berfikir lebih maju. Dari konsep mitologi, mereka kemudian mencoba memformulasikan, dengan data dan pengamatan yang lebih teliti dan teratur. Mars, bila diamati dengan teropong, memperlihatkan warna yang berubah-ubah; topi putih menyelubungi daerah kutubnya, pada suatu saat membesar dan pada kesempatan lain menjadi lebih kecil. Es di daerah kutub itu, bukan berasal dari air yang membeku, tetapi CO2 yang telah menjadi es.

Dari fenomena ini, kita telah dapat menaksir betapa rendahnya temperatur di sana. Hal lain yang menarik ialah perubahan warna pada permukaannya, yang berlangsung secara periodik. Orang mencoba menghubungkan perubahan warna ini dengan gejala biologis yang sedang berlangsung di sana, lumut atau pun sejenis padang tundra seperti yang terdapat di Siberia, menyebabkan perubahan ini. Demikian konsep pada saat itu.

Kesan yang diperhatikan oleh planet merah tersebut, menggugah perasaan orang astronom Amerika, yang bernama Percival Lowell, untuk mengetahui lebih jauh tentang Mars. Pada tahun 1894, sebuah observatorium khusus untuk mempelajari planet merah ini, didirikan oleh beliau di Arizona Amerika Serikat. Pada saat ia mengarahkan teropongnya, terlihat jaring-jaring geometris, yang menutupi permukaan, berawal dari daerah kutub dan bermuara ke equator planet. Begitu teraturnya jalur tersebut, seolah-olah merupakan kanal yang dibuat, untuk mengalirkan air dari tempat yang lebih tinggi ke bagian lain yang lebih rendah, karya teknologi produk makhluk berintelegen tinggi. Keseluruhan konsep bahkan masih dipercaya orang sampai penghujung tahun 1963.


Referensi:
David Baker., 1977, Space Flight, 19, 109, 1977
Kelly  Beatty. J., 1976, Sky and Telescope, 52, 156
Robert Sheaffer., 1975, Space Flight, 17, No 12, 421

Tidak ada komentar:

Posting Komentar