Jumat, 16 Juni 2017

Kepercayaan & fenomena santet dalam kehidupan

Boneka santet
Fenomena santet
Santet adalah bagian dari ilmu dan ngelmu yang berasal dari budaya lokal di nusantara ini. Fenomena santet ini telah menggejala sejak jaman Hindu. Hal itu seiring dengan kebiasaan masyarakat untuk olah diri dan rasa agar mempunyai kemampuan untuk bertahan dan berjaga-jaga menghadapi musuh dan menegakkan kebenaran. Hal itu seiring dengan kondisi masyarakat dan alam yang pada waktu itu masih alami, masih banyak hutan, untuk mencapai dari satu daerah ke daerah lain memerlukan waktu yang panjang.

Santet merupakan ilmu yang dikembangkan oleh masyarakat lokal yang bersifat merusak. Orang yang dikenai ilmu santet tersebut biasanya sangat menderita. Namun demikian kadang-kadang orang Justru tidak memahami atau sengaja tidak mau memahami bahwa yang menyebabkan penderitaan tersebut adalah santet. Pada orang yang tidak mau memahami bahwa yang diderita tersebut adalah santet, biasanya akan mengalami penderitaan ganda, sebab orang tersebut akan menjadi uji coba terapi medis, seperti misalnya berulangkali dioperasi bagian-bagian tubuhnya sehingga justru mengalami disfungsi organ tubuh.

Ilmu hitam dari santet yang sangat merugikan dan membahayakan orang lain yang dapat dilakukan dari jarak jauh dan jarak dekat yang biasanya berakibat fatal terhadap korban, yaitu terjangkitnya penyakit aneh dan kematian. Santet tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi Juga berkembang di negara-negara lain. Keberadaan santet sudah ribuan tahun, dan pertumbuhannya sejajar dengan peradaban manusia. Santet berkembang di Indonesia dengan nama yang beragam, seperti misalnya untuk Jawa Barat dar Banten disebut teluh, ganggaong dan sogra. Untuk Bali disebut sebagai desti, teluh, atau, terang jana. Untuk Sumatera Barat disebut biring, dan tinggam. Pada daerah papua disebut dengan suangi. Pada daerah Minahasa disebut sandoti.

Kepercayaan orang Jawa terhadap kehidupan metafisik sudah mengakar selama berabad-abad. Dalam kehidupan saat ini, kepercayaan pada benda-benda ghaib masih sangat tinggi. Salah satunya adalah kepercayaan tentang adanya santet. Fenomena santet pernah menjadi masalah yang serius pada tahun 1993, pasca turunnya Presiden Soeharto dari panggung kekuasaan (Kompas, 23/11/1998). Masalah tersebut terkait dengan pembunuhan kyai-kyai yang diduga sebagai dukun santet di Banyurvangi dan daerah-daerah lain.

Kegelisahan akhirnya meluas pada profesi-profesi keagamaan lain. Para guru mengaji merasa takut dan terancam jiwanya. Mereka khawatir menjadi korban tuduhan dukun santet. Secara umum, keberadaan santet memang sangat dekat dengan dunia perdukunan Timbulnya ilmu perdukunan disebabkan karena sebagian besar orang Jawa butuh mencari hakikat alam semesta, intisari kehidupan dan hakekat Tuhan Soemardjan (1974), berpendirian bahwa orang Jawa pada umumnya cenderung untuk mencari keselarasan dengan lingkungannya dan hati nuraninya, yang sering dilakukan dengan cara-cara me1afisik.

Sistem pemerintahan dan hukum belum begitu menjangkau daerah-daerah pedesaan, karena itu banyak perampok, penyamun dan orang yang mengganggu penduduk dengan meminta upeti atau hasil bumi untuk imbalan supaya tidak menganggunya. Pada saat itu banyak bermunculan orang sakti yang mampu menjadi penyelamat penduduk dari gangguan perampok dan pengacau tersebut.

Ilmu kesaktian yang dimiliki oleh masyarakat tersebut berasal dan pengetahuan-pengetahuan tradisional dan olah energi yang berasal dari energi alam menggunakan pola yang sudah ditentukan dalam tradisi seperti mantra dan doa. Di samping itu, sebagian masyarakat memanfaatkan pusaka dan jimat sebagai sarana untuk memperkuat diri. Semua pengetahuan-pengetahuan tradisional tersebut disebut sebagai kearifan lokal.

Dukun santet
Dukun yang melakukan ilmu gaib agesif atau destruktif adalah dukun santet. Mereka merupakan suatu kategori khusus dalam masyarakat. Orang-orang yang mempunyai maksud baik tidak akan pergi kepada seorang dukun santet. Para dukun yang melakukan ilmu gaib produktif dan protektif tidak melakukan ilmu hitam. Para dukun ilmu santet biasanya melayani orang-orang yang mempunyai maksud yang tidak baik, seperti misalnya keinginan agar musuh atau saingannya disakiti atau dirugikan.

Para dukun, termasuk dukun santet, selalu menggunakan waktu atau petangan sebagai bahan pertimbangan dalam bertindak. Petangan adalah cara menghitung saat-saat serta tanggal-tanggal yang baik, dengan memperhatikan kelima hari pasaran, tanggal-tanggal penting yang ditentukan pada sistem-sistem penanggalan yang ada, yang memang dimanfaatkan oleh orang Tawa untuk berbagai tujuan.

Para dukun, termasuk mereka yang melakukan praktek ilmu santet, dalam kehidupan sehari-hari biasanya adalah orang biasa, yang hidup bergaul dengan warga desa lainnya. Beberapa di antara mereka bahkan tidak khusus bekerja sebagai dukun. Namun jelas bahwa aktivitas sebagai dukun yang berhubungan dengan penyembuhan, peramalan, serta yang dapat berperan sebagai medium dan sebagainya, menuntut suatu kemampuan yang khusus. Kemampuan khusus ini mungkin sebagian diperoleh karena mempunyai bakat, tetapi sebagian besar didapatnya dengan belajar.

Untuk menjadi dukun tentu tidak ada sekolah formal. para calon dukun mula-mula bekerja sebagai pembantu dari seorang dukun, yang biasanya adalah orang tua mereka sendiri. Dengan demikian ada kesan seakan-akan keahlian itu diwariskan kepada keturunannya. Kecuali mampu meramal masa depan dan mengobati orang sakit, yaitu keahliannya dianggap sudah ada dalam diri seorang dukun, orang yang ingin menjadi dukun harus belajar berbagai teknik khusus untuk melakukan ritual-ritual untuk menyembuhkan dan ritual-ritual ilmu gaib, ia juga harus mengetahui khasiat dan berbagai tumbuh-tumbuhan, menghafal mantera mantera, dan tentu saja Juga mempelajari buku-buku primbon. terutama mereka yang ingin memiliki kepandaian ilmu gaib petangan. mereka yang ingin memiliki kepandaian untuk mengobati orang harus mempelajari buku-buku usada dan sebagainya.

Orang Jawa sangat yakin bahwa kemampuan serta ketrampilan yang dimiliki oleh seorang dukun santet hanya dapat diperoleh dengan melakukan disiplin yang ketat dan bertapa. Karena itu orang yang menjadi dukun santet sering menjalankan puasa, bersemedi dan melakukan latihan-latihan kebatinan lainnya. Cara-cara inilah yang terutama membuat orang percaya bahwa seorang dukun memiliki kekuatan yang luar biasa. Berbagai cerita yang kemudian beredar mengenai kekuatan sakti seorang dukun tertentu, membuatnya terkenal

Pengkajian secara mendalam mengenai seluk-beluk santet perlu dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berujung pada kekacauan sosial atau penderitaan. Sementara itu masyarakat dapat langsung mengantisipasi jika fenomena penyakit bukan disebabkan oleh penyakit medis. Di samping itu pula, perlu dideskripsikan antara fenomena santet dengan kearifan lokal budaya Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar