Selasa, 06 Juni 2017

Konsumsi teh & hubungannya dengan ibu hamil

Ibu hamil
Di kalangan masyarakat mengkonsumsi teh merupakan hal yang biasa dilakukan setiap hari. Tetapi, teh juga memiliki potensi sebagai penyebab anemia dikarenakan teh bisa mengabsorpsi mineral menjadi zat besi. Hal ini dikaitkan dengan peran tanin yang terdapat dalam kandungan teh. Mineral yang terdapat pada makanan merupakan pembentuk zat besi dan bila bereaksi dengan tanin yang ada pada teh, akan membentuk ikatan yang tidak larut dalam sistem pencernaan. 

Tanin ini dapat mengikat beberapa logam seperti zat besi, kalsium, dan aluminium, lalu membentuk ikatan kompleks secara kimiawi. Karena dalam posisi terikat terus, maka senyawa besi dan kalsium yang terdapat pada makanan sulit diserap tubuh sehingga menyebabkan penurunan zat besi (Fe) dan menyebabkan penyerapan zat besi di dalam tubuh menjadi tidak adekuat.

Konsumsi teh

Pada saat hamil terjadi perubahan fisiologis pada sistem pencernaan. Perubahan ini membuat produksi salivasi meningkat dan menimbulkan mual muntah. Untuk menghilangkan mual dan muntah ibu sering mengkonsumsi makanan atau minuman yang hangat, seperti teh. Konsumsi teh dilakukan ibu karena teh bisa menghilangkan mual dan muntah. Selain itu, konsumsi teh juga bisa membuat badan ibu menjadi rileks.

Faktor jarak kehamilan juga bisa mempengaruhi kejadian anemia. Pengaturan jarak yang baik minimal 3 tahun menjadi penting diperhatikan karena cadangan zat besi wanita berkurang ketika wanita hamil. Padahal perlu waktu untuk badan ibu menerima kembali janin dan mengisi kembali cadangan zat besi yang hilang pada saat kehamilan. Kehamilan dengan jarak di atas 24 bulan atau kurang dari 59 bulan sangat baik bagi ibu karena kondisi ibu sudah kembali normal.

Pengaturan jarak kehamilan sangat penting bagi ibu hamil dan pada anak yang lahir sebelumnya. Hal ini karena jarak kehamilan yang berdekatan dapat beresiko terjadi anemia dan anak merasa terabaikan karena kehamilan ibu. Selain itu ibu beresiko mengalami anemia. Hal ini dikarenakan terjadi peningkatan volume darah yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.

Hal ini sejalan dengan teori Amiruddin (2004) jarak kehamilan berdekatan adalah kurang dari 9 bulan hingga 24 bukan dari kehamilan pertama. Jarak kehamilan terlalu dekat sangat berbahaya karena organ-organ reproduksi belum kembali seperti keadaan sebelum hamil, selain itu kondisi ibu juga belum memungkinkan untuk menerima kehamilan berikutnya. Selain itu sesuai dengan teori Manuaba (2004) bahwa cadangan besi wanita akan berkurang setiap hamil. cadangan besi yang telah hilang selama hamil tersebut membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Hubungan konsumsi teh dengan kejadian anemia pada ibu hamil

Konsumsi teh
Terdapat beberapa penyebab anemia pada ibu hamil diantaranya jarak kehamilan, status gizi, penyakit sebelumnya, perdarahan, malnutrisi, dan gangguan penyerapan (malabsorpsi). Pada kondisi hamil, ibu harus mencukupi kebutuhan gizi, terutama kebutuhan zat besi. Zat besi pada ibu hamil sangat penting karena pada saat kondisi hamil Hb ibu harus tetap normal sesuai dengan usia kehamilannya. 

Zat besi yang dibutuhkan oleh ibu bisa didapat dari makanan yang dikonsumsi ibu. Tidak semua makanan yang mengandung zat besi bisa masuk dengan baik ke dalam tubuh ibu. Hal ini bisa disebabkan karena adanya gangguan penyerapan (malabsorpsi) di dalam tubuh ibu. Salah satu contoh faktor yang menghambat proses penyerapan zat besi yaitu konsumsi minuman yang dikonsumsi oleh ibu. Minuman yang dapat menghambat penyerapan zat besi adalah teh.

Dalam teh terdapat salah satu kandungan yaitu tanin. Tanin yang ada di dalam kandungan teh inilah yang berperan untuk menghambat proses penyerapan zat besi. Selama ini teh digunakan ibu hamil untuk menghilangkan rasa mual dan muntah yang dialami ibu pada kehamilannya. Padahal konsumsi teh tidak diajurkan untuk ibu hamil dikarenakan bisa menganggu penyerapan zat besi yang dikonsumsi ibu. 

Pada kondisi hamil inilah zat besi sangat berperan penting bagi kehamilan ibu. Pada kondisi hamil kebutuhan zat besi meningkat 2 kali lipat. Jika kondisi Hb tidak tercukupi dan ini terjadi secara terus menerus maka ibu hamil bisa beresiko terkena anemia. Dampak yang diakibatkan dari anemia tidak hanya terjadi pada ibu hamil tetapi juga pada pertumbuhan dan perkembangan janinnya. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Proverawati (2011).

Kondisi tertentu mempengaruhi penyerapan zat besi dari makanan pada saluran gastrointestinal (GI) dan dari waktu ke waktu dapat menyebabkan anemia. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan, seperti meningkatkan resiko terjadinya kematian janin di dalam kandungan, melahirkan secara prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah, dan juga angka kematian bayi setelah dilahirkan. Di samping itu, perdarahan sebelum dan setelah melahirkan lebih sering dijumpai pada wanita yang anemia dan hal ini dapat berakibat fatal, sebab wanita yang anemia tidak dapat menoleransi kehilangan darah (Soebroto, 2009).

Hasil penelitian tidak semua ibu hamil yang mengkonsumsi teh mengalami anemia. Sebanyak 3 ibu hamil tidak mengalami anemia walaupun mengkonsumsi teh. Berdasarkan wawancara tidak terstruktur, konsumsi teh memang dilakukan oleh ibu tetapi ibu masih mengimbangi dengan mangkonsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti tempe, tahu dan kacangkacangan. Selain itu ibu juga teratur mengkonsumsi tablet Fe. Ibu hamil beranggapan konsumsi makanan yang baik dan bergizi bisa membuat kehamilannya menjadi baik dan kondisi janin dan ibu juga sehat. Ini sejalan dengan teori Almatsier (2010).

Sumber baik besi adalah makanan hewani seperti daging, ayam, dan ikan dan sumber baik lainnya adalah telur, kacang-kacangan, sayuran hijau dan beberapa jenis buah. Pada umumnya besi di dalam daging, ayam, ikan mempunyai ketersediaan biologic tinggi, besi dalam kacang-kacangan mempunyai ketersediaan biologic sedang dan besi didalam sebagian besar sayuran, terutama yang mengandung oksalat tinggi seperti bayam mempunyai ketersediaan biologic rendah.


Referensi:
Luh Seri Ani, SKM, M. Kes., (2013). Buku Saku Anemia Defisensi Besi Masa Prahamil dan Hamil. Jakarta: EGC.
Proverawati, Atikah, SKM., MPH. (2011). Anemia dan Anemia Kehamilan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Istiyowati, N (2012). Hubungan Jarak Kehamilan Dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Di Poli KIA RS. Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo (Skripsi). Program S1 Keperawatan STIKES YARSIS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar