Menguak misteri dan hal mistis di gunung kawi

Gunung kawi

Gunung Kawi terletak di Kecamatan Wonosari, sekitar 14 kilometer dari kota Malang. Selama bulan September, media massa banyak memberitakan salah satu bangunan yang ada di sana, yang disebut Kraton Gunung Kawi terbakar dengan penyebab yang cukup aneh. Menurut artikel di Majalah Misteri, Nomor 279, di Gunung Kawi terdapat beberapa titik keramat, terutama sekitar Kraton dan Pesarean Gunung Kawi. Juga dikatakan, Gunung Kawi merupakan salah satu lokasi yang sangat terkenal bagi mereka yang ingin mencari pesugihan.

Gunung Kawi adalah tempat yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menjadi kaya raya. Bahkan beberapa konglomerat besardi Indonesia seperti pemilik Gudang Garam dan Sampoerna, Liem Sie Liong, sesuai informasi pernahjuga datang ke sana dan termasuk pengunjung reguler. Oleh karena itu, saya sangat tertarik untuk mengunjunginya, melihat dari dekat apasajayang dilakukan pengunjung di sana.

Malam senin pahing di pesarean gunung kawi
Gunung Kawi sangat terkenal sebagai salah satu tempat ritual yang dapat mengabulkan permohonan. Kesohorannya itu membuat banyak sekali pengunjung yang datang, bahkan dari seluruh dunia. Salah satu lokasi yang sangat terkenal di sana adalah Pesarean. Di Pesarean ini ada dua makam tokoh penyebar agama Islam, yang dipercayai memiliki kekuatan penyembuhkan penyakit. Mereka hidup sekitar abad ke-18. Kedua tokoh ini bernama Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono (yang adalah nenek moyang Juru Kunci Pesarean yang saya kenal), dipercaya memiliki sifat-sifat luhur dan jiwa kepahlawan. Eyang Djoego adalah keturunan Kerajaan Surakarta yang berkuasa pada abad ke-18 dan Imam Soedjono adalah keturunan Kerajaan Yogyakarta yang berkuasa di era yang sama.

Dua tokoh ini memiliki wasiat agar jika meninggal, jenazahnya dimakamkan di Gunung Kawi. Jadi, sesudah kemangkatannya, mereka dimakamkan tepat di titik atau puncak Gunung Kawi, yang dianggap keramat. Eyang Djoego dan Imam Soedjono dipercaya memiliki wasilah Tuhan. Dengan demikian, setiap permohonan yang diajukan di makamnya sangat mungkin terwujud atau terkabul. Ada tiga permohonan utama yang diajukan peziarah saat mengujungi makam tersebut. Permohonan ini adalah keselamatan, sehat dan sembuh dari penyakit serta banyak rezeki.

Selain pemakaman itu, di Pesarean Gunung Kawi ada lokasi yang juga menarik perhatian, yaitu bangunan Cina, Dewa Ciam Si dan Dewi Kwan Im. Tempat ini dipergunakan bagi mereka yang ingin meramalkan atau menentukan nasib dengan bersembahyang. Kemudian, ada sebuah pohon keberuntungan yang disebutkan pohon Dewa Daru (Dewandaru, dalam Bahasa Jawa). Buah pohon ini dipercaya membawa banyak rezeki. Dan yang terakhir adalah Pemandian Sumber Urip, yang dijadikan tempat mandi.

Hari ini, saya naik ke Gunung Kawi bersama dengan Abah. Apa yang saya lihat berbeda dengan kunjungan pertama. Ketika menuju rumah Abah, kami melewati jalan kecil yang indah sekali pemandangannya, kanan kiri dipenuhi tanaman ubi. Sesudah makan, saya diantar berkeliling melihat keadaan. Pertama-tama kami naik ke Pesarean. Saya mengunjungi Pesarean sebentar saja. Sarean atau makam Eyang Djoego dan Imam Soedjono ditempatkan di dalam ruang besar. Ruang itu wangi dengan kemenyan dan penuh dengan bunga, payung dan banyak sekalijam baikjam dinding dan kira kira ada tiga puluh jam salon. Tampak ada beberapa peziarah berlutut di depan sarean sambil memanjatkan do 'a. Kami akan kembali ke sini nanti malam untuk upacara Malam Senin Pahing, sehingga kami meneruskan perjalanan menuju bangunan Cina, Dewi Kwan Im dan Dewa Ciam Si.

Letak bangunan Cina, yang terdiri dari tiga bangunan, berdekatan dengan makam Eyang Djoego dan Imam Soedjono. Yang pertama adalah bangunan Dewa Ciam Si, di mana para pengunjung dapat meramal nasibnya. Ramalan ini memperbolehkan seseorang melihat nasib dan peruntungannya. Yang dapat dilihat adalah jodoh, karir, kehidupan sosial dan kehidupan pribadi. Seorang yang mencari nasib akan diberikan selembar kertas yang menjelaskan ramalan itu. Kertas itu seharusnya dibakar dalam pembakaran khusus yang terletak di dekat bangunan Cina ini. Jika kertas itu dibakar, dipercaya ramalan akan terjadi.

Bangunan kedua yang disebut bangunan Dewi Kwan Im adalah tempat peribadatan untuk orang yang hendak berdo'a. Bangunan ketiga juga merupakan tempat peribadatan yang dihiasi dengan lilin-lilin raksasa. Lilin ini berwarna merah dan dicat dengan gambar naga dan huruf Cina. Juga ada kemenyan bakar dan patung Buddha. Bangunan ini dibangun khusus untuk orang keturunan Cina yang mendatangi Pesarean Gunung Kawi. Akan tetapi dalam kenyataannya, bangunan ini juga dikunjungi orang lain, dengan bermacam keyakinan.

Saya memasuki bangunan Dewa Ciam Si dan mencoba meramal nasib. Saya disuruh memegang sebuah kotak dan mengocoknya sampai salah satu batang keluar. Di batang itu ada nomor tertentu yang ditandai dengan cat. Nomor itu dicocokkan dengan isi ramalan yang ada dalam bukuyang telah tersedia. Saya diberitahu ramalan saya baik sekali, tetapi saya sedikit kurang mengerti penjelasannya. Secara garis besar, tempat ini sangat indah. Ada banyak lilin yang menyala terus-menerus, patung-patung Buddha yang berwarna emas dan wangi kemenyan. Di sini agak ramai.

Setiap malam Senin Pahing di Pesarean Gunung Kawi ada upacara atau selamatan khusus. Saudara Juru Kunci dan semua karyawan harus memakai pakaian adat Jawa. Jadi, malam itu saya, pertama kali memakai kebaya.

Saya dibantu berpakaian dan dirias. Kebaya saya berwarna perak dan kainnya batik Untuk jalan kaki memang agak sulit. Perempuan lainjuga memakai kebaya atau baju Islam dan semua laki-laki memakai blangkon dan jarik. Saya mengikuti Abah dan beberapa orang lain ke ruang kecil. Kami duduk di sana dan minum teh Jawa sambil menunggu yang lain siap melakukan upacara. Setelah siap, semua diatur dalam barisan didepan gerbangpesarean. Saya bertugas membawa sajen bunga mawar. Pemandangan ini mengingatkan saya pada upacara yang diadakan Kraton Yogyakarta. Kami berbaris. Di depan ada Abah, dengan beberapa laki-laki. Kemudian ada barisan perempuan, yang saya ikut, dan belakang kami berdiri kira-kira lebih dari seratus orang lagi. Semua orang membawa sajen. Pemandangan ini tak terlupakan.

Di pintu pesarean, semua orang harus menunggu sampai sajen-sajen dimasukkan. Sedikit gelisah, saya masuk dan duduk berdiam diri di pojok menunggu selamatan dimulai. Semua sajen diletakkan di lantai menuju sarean untuk dipersembahkan kepada Eyang Djoego dan Imam Soedjono. Di depan, ada seorang Kyai yang sedang berlutut. Kyai memulai membaca do'a dalam Bahasa Jawa dan semua peziarah menundukkan kepala. Setelah selesai berdo 'a, sajen-sajen yang sudah diberkahi dan disebut "berkat", diambil dan dimakan.

Sajen ini biasanya dipersembahkan dengan permohonan atau ucapan terima kasih atas permohonan tertentu yang sudah dikabulkan. Misalnya, yang pertama kali dimohon adalah kesehatan dan terlepas dari penyakit. Sesudahnya sajen dipersembahkan sebagai ungkapan terima kasih.

Selamatan terus dilaksanakan sampai malam hari. Keramaian timbul karena yang datang peziarah dari desa tetangga atau daerah lainnya. Pada akhirnya, saya ikut Abah, saudaranya dan tamu ke ruang belakang. Dari sajen itu, kami memakan apem, ayam, hati ayam, nasi kuning, sambal tempe goreng, mie goreng dan macam-macam lain. Enak!

Malam jumat legi di pesarean gunung kawi
Malam Jumat Legi adalah satu malam yang sangat penting di Pesarean Gunung Kawi. Akibatnya, setiap tanggal ini, pesarean sangat ramai. Selain dianggap sebagai hari keberuntungan dalam kalendar Jawa, juga ini bertepatan dengan pemakaman Eyang Imam Soedjono yang terjadi malam Jumat Legi di abad ke-18. Sehingga, malam Jumat Legi, sampai sekarang dianggap malam paling bersejarah dan dianggap lebih mendatangkan keberuntungan bagi mereka yang berkunjung ke Gunung Kawi.

Jalan menuju pesarean malam ini dibanjiri peziarah dan orang-orang yang datang untuk menikmati suasana malam Jumat Legi. Malam ini di jalan (kira-kira sejauh satu kilometer) terasa seperti pasar malam. Jalannya terang oleh nyala lampu minyak tanah. Udaranya berbau gorengan, sate, bunga mawar dan kemenyan. Dari bagian bawah jalan datang musik dangdut dan dari atas datang suara dalang yang memimpin pertunjukan wayang. Selama saya berjalan kaki dari bawah sampai ke atas, terlihat banyak sekali orang berjualan bermacam-macam barang termasuk baju, kaset, mainan, tanaman, jamu, kerajinan dan daun bunga mawar serta buah tanah untuk sajen.

Ada beberapa pengemis di sana dan ada satu yang suka menjanjikan keselamatan bagi orang yang memberinya uang. Saya sempat heran karena bertabrakan dengan seorang band. Ternyata, ada banyak band di sini. Saya diberitahu mereka juga datang berdo 'a, antara lain agar mendapat pekerjaan. Selain band, pengemis dan pedagang, saya juga menemui remaja yang sedang berpacaran, bahkan ada juga yang mabuk Malam ini memang sangat ramai dan berbeda dari hari biasa.

Di atas juga ramai, meskipun tetap tenang. Ada petani dari desa di Gunung Kawi, keluarga beserta anak kecil yang datang dari luar Gunung Kawi dan tentu saja pengusaha dari jauh. Di dalam pesarean juga ramai sehingga lalu lintas orang harus dikendalikan oleh dua orang satpam. Di luar juga ramai. Orang antri menunggu giliran masuk untuk berdoa. Banyak juga orang tidur di tanah sekitar makam dan ada juga yang tidur di bawah pohon Dewa Daru.

Selain berdo'a dan membuat permohonan kepada makam Eyang Djoego dan Imam Soedjono, orang juga menunggu buah jatuh dari pohon Dewa Daru yang terletak di sekitar pemakaman. Bibit pohon itu, yang dikatakan pohon keberuntungan, berasal dari daerah lain, yang sangat jauh letaknya. Pohon itu diyakini bisa mendatangkan banyak rezeki. Oleh karena itu, banyak sekali orang yang berdiri di bawah pohon menunggu buah yang jatuh. Sehingga tempat ini, hampir tidak pernah kosong dari pencari rezeki. Mereka rela duduk lama menunggu buah yang jatuh. Selama menunggu buah jatuh, mereka berdo'a atau melakukan kegiatan sesuai kepercayaannya masing-masing. Kalau ada buah yang jatuh, orang akan berlari untuk mendapatnya. Kejadian ini kadang-kadang menimbulkan konflik, peziarah sama-sama mengaku buah yang jatuh adalah miliknya.

Pada malam Jumat Legi, selamatan dilakukan sampai pagi. Orang yang ingin mengikuti selamatan harus memesan sajen dulu. Sajen ini isinya bermacam-macam, boleh kecil seperti seekor ayam yang harganya kira kira Rp 20 ribu, boleh besar yaitu seekor sapi yang harganya mencapai Rp 3 juta. Sesudah semua pengikut berdo'a di makam, Kyai akan memulai selamatan. Dia membaca do'a, dalam Bahasan Jawa atau secara Islam. Pada akhirnya do'a ini, Kyai membaca nama semua pengikut selamatan, jabatan atau perusahaan serta alamat mereka. Hal ini dengan harapan orang yang namanya disebut akan menerima kelancaraan rezeki dalam usaha dan dagang, serta selamat dalam
perjalanan. Setelah do'a diucapkan oleh Kyai, kemudian, sajen yang dipersembahkan dan setelah diberkati, dibawa dan dimakan.

Sesudah mengunjungi pesarean, saya diantar untuk melihat Pemandian Sumber Urip yang berdekatan dengan pesarean. Saya diberitahu, Sumber Urip berarti sumber hidup. Ada bangunan dengan kira-kira sepuluh kamar mandi yang mempergunakan air yang diperoleh langsung dari sumber alami di Gunung Kawi. Rupanya, kepercayaan tentang pemandian ini bermacam-macam.

Konon, airnya mampu merontokkan penyakit lahir dan batin. Ada juga yang percaya dengan mandi di Sumber Urip, cara terbaik untuk mensucikan diri sebelum berziarah ke pesarean di atas. Juga ada yang menyakini permohonan yang dibuat sambil mandi di sini sangat manjur dan mudah terwujud.

Sesudah melihat Pemandian Sumber Urip, saya diantar ke dapur di mana semua makanan untuk sajen dimasak Saya melihat di sini kondisinya luar biasa. Ada beberapa ibu tua, memasak 1800 ekor ayam. Ayam ini dimasak bersama dengan nasi kuning, mie, daging kambing, hati ayam dan apa pun yang dipesan, dimasak di dapur ini, dengan hanya memakai kompor tradisional, kayu bakar. Pemandangan ini sangat mengherankan. Sambil saya duduk dan minum teh Jawa di dapur, saya diberitahu bahwa sebelum krisis moneter terjadi, pada malam Jumat Legi biasanya ayam yang dimasak mencapai angka 5 000 ekor. Luar biasa!

Para pengusaha di gunung kawi
Hari ini, saya sedang menonton selamatan di pesarean. Saya berkenalan dengan seorang lelaki dan empat temannya. Dia adalah pengusaha dari Kalimantan, dua dari temannya adalah dokter dari Surabaya dan yang dua lagi adalah pengusaha dari Jakarta. Ketika selamatan selesai, mereka mengajak saya ikut makan sajen. Mereka mengaku mendatangi Pesarean Gunung Kawi setiap tahun pada bulan Oktober dan itu sudah dilakukan selama lima belas tahun.

Khasiat yang dirasakannya sangat hebat. Tidak mengherankan jika banyak pengusaha yang ikut berziarah di Pesarean Gunung Kawi. Para pengusaha ini datang dari seluruh Indonesia, terutama dari Singapura, Malaysia dan Cina. Kedatangan mereka dengan satu tujuan, melancarkan usahanya. Begitu kuat kepercayaan mereka, sehingga mereka akan kembali melakukan ritual di Gunung Kawi. Bahkan ada yang mengaku, karena hebatnya, ada yang mau datang sampai lebih dari sekali dalam sebulan. Yang menarik juga adalah konsepnya sumbangan. 

Seorang pengusaha yang mencapai keberhasilan sesudah kunjungan ke Gunung Kawi atau yang terkabul permohonannya, sering memberikan sumbangan. Biasanya sebagai tanda keberhasilan, mereka memberikanjam salon yang menutup dinding ruang makam. Jam salon dijadikan pemberian karena diyakini waktu yang menentukan keberhasilan. Sumbangan yang juga menarik adalah Masjid Agung Imam Soedjono terletak di Gunung Kawi, yang dibangun pada tahun 80-an. Masjid ini dibangun oleh Liem Sioe Liong. Om Liem, panggilannya, sering datang ke Pesarean Gunung Kawi. 

Awalnya ia hanya sebagai penjual kacang tetapi saat ini ia menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Om Liem juga membangun bangunan Dewi Kwan Im dan Dewa Ciam Si. Disamping juga, perwujudan ungkapan terima kasih dengan memberikan lilin raksasa yang menyala terus menerus. Diyakini jika nyala lilin mati maka usahanya tidak akan berhasil.

Selama di atas, sepanjang malam saya berusaha belajar cara membungkus bunga mawar. Saya tidak bisa sama sekali tetapi saya mengetahui apa saja yang terjadi dengan bunga yang dipersembahkan.

Bunga mawar yang dipersembahkan dibawa ke ruang belakang. Di sana, bunga itu dibungkus. Sesudah berdo'a, peziarah diberikan tiga bungkusan bunga ini yang terlebih dahulu diberi asap kemenyan. Bungkusan ini diambil oleh peziarah dan dianggap sebagai jimat yang ampuh. Ada orang yang menaruh bungkusan itu di atas pintu untuk menjaga rumahnya dari gangguan. Sementara, ada juga yang memasukkan bunga ke dalam air putih dan sesudah cukup lama, air itu diminum untuk keselamatan diri. Yang juga menarik tentang pembungkusan bunga ini adalah kertas yang dipergunakan membungkus dicetak dengan do'a restu dari berbagai perusahaan.

Ritual dan kejadian mistis di pesarean gunung kawi
Pada kunjungan ini, saya menjadi lebih mengerti tentang ritual Gunung Kawi. Walau kegiatan ini merupakan rutinita dan bukan hal yang baru, tetapi kondisi ini benar-benar membuka mata saya, sehingga lebih mengerti.

Tepat jam tujuh malam, saya bersama Abah dan beberapa pengikut lagi, naik ke pesarean. Sebagai biasanya, sambil berjalan mendekati pesarean yang terselimuti kabut, orang-orang menyalami Abah yang memang dihormati di sini (dan dimana-mana). Di atas, Abah membuka kunci pintu dan kami masuk Kemenyan dinyalakan dan wanginya menyebar ke seluruh pesarean dan sekitarnya. Abah duduk di sebelah makam Imam Soedjono. 

Karyawan memulai membungkus bunga mawar dan saya melihat sesuatu dipasang dinding. Yang terlihat adalah formulir pendaftaran untuk Abah dan Pesarean Gunung Kawi yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Malang Seksi Intelijen sebagai "pratek pengobatan secara non-medis". Di bawah "praktek pengobatan secara nonmedis", dalam kurung ada istilah "kebatinan, perdukunan, ketabiban, keagamaan". Ketika saya bertanya yang mana prakek yang dilakukan Gunung Kawi, saya diberitahu termasuk di dalam "kebatinan". Setelah lama berusaha menemukan klasifikasi kegiatan-kegiatan di Gunung Kawi, di dinding ada penjelasan. Kebatinan.

Abah kemudian bercerita tentang seorang lelaki asal Yogyakarta yang mohon bantuannya. Laki-laki ini sudah lama mencari pekerjaan sebagai insinyur dan memang pandai tetapi sampai saat ini, pekerjaan belum juga didapat. Jadi, laki-laki itu datang ke Gunung Kawi, lalu oleh Abah diminta tidur di berbagai tempat di sekitar pesareannya. Misalnya saja, dia harus tidur langsung di lantai (tanpa kasur atau alas) dan makan hanya sehari sekali. Ini dilakukan terus-menerus selama sepuluh hari dan pada hari terakhir, laki-laki itu disuruh pulang ke Yogyakarta. Uangnya hampir habis, jadi Abah memberinya sedikit ongkos. Jika harus jalan kaki, sebenamya tidak apa-apa, tetapi dia harus pulang malam itu juga. Tiga hari, setelah pulang dari Gunung Kawi, laki-laki itu mendapat tawaran pekerjaan dengan jabatan yang bagus sekali dan sampai sekarang menjadi orang yang berhasil.

Malam itu, Abah menjelaskan bahwa orang yang membuat permohonan di pemakaman, harus disertai dengan kemauan dan bersedia mengorbankan waktu dan energi untuk sesuatu yang ingin dicapainya. Misalnya, ada cukup banyak orang yang tidur di sekitar pemakaman sampai tiga bulan untuk memperkuat permohonan mereka. Penguatan ini yang saya amati tetapi belum mengerti secara lengkap pada malam Jumat Legi yang lalu.

Setelah turun, saya disuruh teman berdo 'a di makam untuk mendapatkan suami yang terbaik cakep, kaya dan jujur. Saya diberitahu tidak apa-apa karena saya bukan orang Islam. Saya boleh berdo'a kepada Tuhan siapa saja. Saya menunggu sampai malam Jumat Legiyang akan datang dan pada waktu itu saya memohon agar teman saya yang sakit bisa disembuhkan juga agar saya sukses dalam pelajaran saya.

Pada kunjungan ke Gunung Kawi kali ini, saya juga mengetahui sesuatu yang sangat menarik. Saya pernah membaca tentang rombongan mahasiswa yang mengunjungi Pesarean Gunung Kawi. Mereka sudah dilarang memotret makam dan sekitarnya. Menurut artikel yang saya baca, enam mahasiswa ini mati dalam tabrakan pada jalan pulang dari Gunung Kawi karena melanggar larangan itu. Pada awalnya, saya khawatir tentang ini tetapi saya sudah diizinkan memotret makam dan sekitarnya oleh Abah.

Tadi malam saya bertemu beberapa murid dari Surabaya yang mau belajar tentang peziarahan di Gunung Kawi. Mereka sedikit kecewa karena tidak boleh memotret apapun di dalam gerbang pesarean. Saya tanya, "Kenapa saya boleh memotret tetapi orang lain tidak boleh?"Saya diberitahu, orang harus dapat izin dulu dari Abah karena tanpa izin, kadang-kadang fotonya terjadi kosong. "Kosong?" "Ya, tidak ada gambar sama sekali." Pertemuan ini juga mengingatkan saya tentang cerita mahasiswa yang mati sesudah memotret di pesarean. Saya tanya tentang ini juga dan ternyata cerita itu memang benar. Apakah karena mereka memoret tanpa izin atau alasan lain, saya tidak tahu tetapi kematiannya terasa misterius.

Keberhasilan ritual dan praktek ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama yang harus dirumuskan adalah apa saja tujuan yang diinginkan. Walaupun sering dikatakan orang-orang yang melakukan kegiatan ini ingin menjadi kaya mendadak, sebenamya jarang kegiatan dan permohonan seperti itu langsung diungkapkan. Ternyata, yang jauh lebih umum adalah ritual dan praktek dengan tujuan misalnya mendapat rezeki, keselamatan, keberhasilan atau kelancaran usaha.


Referensi: Misteri "Gunung Kawi dan Mitos Pesugihan Tanah Jawa" Majalah. no. 279.

0 Response to "Menguak misteri dan hal mistis di gunung kawi"

Posting Komentar